<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549</id><updated>2012-02-15T17:05:37.476+01:00</updated><title type='text'>another try</title><subtitle type='html'>Just comments on daily life or thoughts that come out from my little tiny brain.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>177</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116800175675855498</id><published>2007-01-05T13:50:00.000+01:00</published><updated>2007-01-05T13:57:34.400+01:00</updated><title type='text'>Pindahan</title><content type='html'>Berhubung blog ini semakin gado-gado, akhirnya saya dengan sangat berat hati harus pindah ke 'rumah baru'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang masih mau berkunjung, silahkan intip &lt;a href="http://bla3x.wordpress.com"&gt;Another try&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berkenan :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116800175675855498?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116800175675855498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116800175675855498&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116800175675855498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116800175675855498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2007/01/pindahan.html' title='Pindahan'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116791752534112949</id><published>2007-01-04T14:19:00.000+01:00</published><updated>2007-01-04T14:33:27.716+01:00</updated><title type='text'>Baru</title><content type='html'>Satu tahun lagi hidup yang bisa dimasukkan dalam kotak masa lalu. Ternyata banyak sekali pengalaman dalam satu tahun kemarin, dari yang membuat saya tersenyum simpul, merenung, sampai menangis deras. Tempat baru yang dikunjungi, teman baru yang didapat, kehilangan emosional berbagai manusia yang terlalu dekat di hati, bekerja sampai 200%, mendapatkan bonus gaji yang membuat saya menangis haru, sampai akhirnya menemukan kembali semangat untuk meraih impian lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru semuanya. Telat memang, maafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau teman baik saya sudah pusing dengan berbagai proyek dan keputusan hidup yang akan dia ambil, tahun ini saya mulai dengan sebuah janji pendek dan hati yang lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bahagia dalam sebuah kesederhanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata dialog kegemaran saya dari the Fellowship of The Ring:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;"There is nothing wrong to celebrate a simple life."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116791752534112949?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116791752534112949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116791752534112949&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116791752534112949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116791752534112949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2007/01/baru.html' title='Baru'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116678693299211912</id><published>2006-12-22T09:41:00.000+01:00</published><updated>2006-12-25T10:09:06.540+01:00</updated><title type='text'>Masih tentang Paris</title><content type='html'>Menyambung cerita saya minggu lalu, saya masih akan curhat tentang kesan saya akan Paris. Mumpung masih segar dalam ingatan. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoran dan budaya gastronomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya bilang, di Paris restoran dan kafe bertebaran di mana-mana. Saling bersebelahan dan berdempetan di jalanan kecil. Serunya, jenis makanan, harga, dan pelayanan yang ditawarkan sangat beraneka ragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya berwisata gastronomi kecil-kecilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sampai langsung bersantap di restoran yakitori. Kecil, semi fast-food, dan cukup terjangkau. Yakitori itu sate-nya Jepang. Kalau di Indonesia biasanya sate hanya untuk daging sapi, kambing dan ayam, untuk yakitori bisa macam-macam. Saya akhirnya mencicipi sate jamur, sate sayap ayam, sate daging bebek, sate daging sapi dan keju, dan sate bakso ayam. Rasanya...ya mirip-mirip sate kecap. (Bumbu yakitori hanya kecap, tidak pakai bumbu kacang seperti sate kambing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk santap malam, saya mencicipi restoran Italia di Paris. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Chez Alexandro&lt;/span&gt;. Restoran ini terletak di pusat kota, di jalan kecil yang penuh dengan berbagai restoran dan pub. Suasana di lingkungannya sangat ramai dan meriah! Manusia yang berjubel ditambah dengan hiasan luar restoran dengan lampu dan gaya macam-macam membuat saya mengerti kenapa "kehidupan malam" di Paris sangat terkenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Chez Alexandro&lt;/span&gt; benar-benar tipikal restoran Paris. Sempit, penuh dengan ornamen personal yang menua, familiar dan hangat. Kursi dan mejanya penuh dengan guratan umur, terkesan usang dan antik. Setiap sudut ruangan berusaha digunakan semaksimal mungkin, membuat meja dan kursi diatur saling berdempetan, dan sudut sempit di bawah tangga masih digunakan untuk satu meja. Tidak jarang antar konsumer bisa beradu sikut. Untuk duduk di atau keluar dari kursi dekat tembok, meja harus digeret-geret dahulu untuk memberikan ruangan gerak dan yang lain harus berdiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Acara makan jadi ajang latihan mengendalikan organ tubuh. Sikut harus menempel ke sisi badan, kaki harus diatur sedemikian rupa untuk tidak menendang kaki teman yang duduk di depan saya, mengambil minuman atau garam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati jangan sampai menyenggol botol anggur. Saya merasa sesak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya ngedumel, pantas saja orang Perancis senang makan malam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tête-à-tête&lt;/span&gt; (arti literal: kepala beradu kepala, maksudnya: makan malam romantis dengan candle light dinner, dimana sang pasangan bergenggaman tangan dan memelototi si pasangan dengan lekat ketika kepala hampir beradu), wong memang mejanya kecil banget, cukup mencondongkan badan sedikit ke depan, kepala sudah beradu dengan kepala sang pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat berbeda dengan Jenewa adalah fleksibelnya waktu makan di Paris. Ada pelanggan yang datang jam 11 malam, dan masih dilayani. Kalau di Jenewa, sudah diusir dengan halus. Di Jenewa jam makan sangat teratur dan restoran yang buka setiap saat sangat jarang, paling restoran siap saji atau restoran Asia. Di Jenewa, jangan harap bisa santap siang setelah jam 2 siang dan makan malam setelah jam 10 malam di restoran. Di Paris, kita bisa makan siang sampai jam 4 sore dan makan malam sampai jam 11.30 malam. Restoran tetap akan melayani. Satu hal yang sangat saya hargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata gastronomi saya pun berlanjut dari hari ke hari selama saya di sana. Selama   4 hari kunjungan saya di sana, selain masakan Jepang dan Italia, saya sempat mencicipi masakan Libanon, Cina, India, dan Yunani. Lucunya, tidak sekali pun kami ke restoran Perancis. Lagipula, seperti Xaf bilang, saya kemungkinan besar tidak akan suka dengan masakan Perancis yang penuh dengan saus krim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi, saya sempet mencicipi crêpe dengan saus Nutella. Enak banget! Crêpe itu makanan ringan yang cukup populer di Paris, semacam serabi tipis. Kalau disamakan dengan Indonesia mungkin semacam gorengan. Crêperie ada di berbagai sudut kota, dan kita bisa dengan santai menikmati crêpe sambil jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang ingin mencicipi coklat panas, harus mampir ke &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Angelina&lt;/span&gt;. Saya sudah sering mencicipi segelas coklat panas di Swiss, dan saya menurut saya segelas coklat panas di Angelina benar-benar jauh lebih nikmat! Coklat panas yang sangat kental, dibuat dari coklat yang dilelehkan, disajikan dengan krim natural. Nikmat! Tapi sangat mengenyangkan. Saya bahkan tidak bisa menghabiskan satu gelas. Apalagi ketika si coklat panas ditemani dengan kue coklat tiga lapis... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paris, seni, dan museum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ini tidak mengerti seni sama sekali, tapi dari dulu kepengen banget bisa masuk ke Musée Louvre. Gara-gara si Da Vinci Code sebenarnya. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Louvre, saya tercengang. Besar banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedungnya sendiri bisa dibilang sebagai karya seni. Piramida pintu masuk sungguh menakjubkan, apalagi di malam hari. Masuk ke dalam, pengunjung dikumpulkan ke ruangan penerimaan, Napoleon Hall, pas di bawah piramida. Dari situ, kita bisa milih mau ke ruangan galeri yang mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galeri dibagi ke dalam tiga bagian besar:&lt;br /&gt;1. Sayap Richelieu, dengan koleksinya: &lt;br /&gt;   Lukisan perancis abad 14-17&lt;br /&gt;   Lukisan Jerman, Flemish dan Belanda serta Northern Schools&lt;br /&gt;   Abad Pertengahan, Renaissance, dan Seni dekoratif abada 17 dan 19&lt;br /&gt;   Apartemen Napoleon III&lt;br /&gt;   Patung karya seniman Perancis&lt;br /&gt;   Mesopotami dan Iran kuno&lt;br /&gt;   Seni Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sayap Sully, dengan koleksinya:&lt;br /&gt;   Lukisan perancis abad 17, 18 dan 19&lt;br /&gt;   Gambar dan sketsa pastel abad 17, 18 dan 19&lt;br /&gt;   Seni dekoratif abad 17 dan 18&lt;br /&gt;   Yunani, Etruscan, dan Romawi kuno&lt;br /&gt;   Mesir kuno (Pharao)&lt;br /&gt;   Iran, Arabia dan Levant kuno&lt;br /&gt;   Sejarah Louvre dan jaman pertengahan Louvre&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sayap Denon, dengan koleksinya:&lt;br /&gt;   Lukisan seniman Itali dan Spanyol&lt;br /&gt;   Lukisan seniman perancis abad 19&lt;br /&gt;   Galery Apollo dan perhiasan kerajaan&lt;br /&gt;   Patung karya seniman Itali, Spanyol dan Eropa Utara&lt;br /&gt;   Yunani, Etruscan, dan Romawi kuno&lt;br /&gt;   Roman Egypt, Coptic Egypt&lt;br /&gt;   Seni Afrika, Asia, Oceania dan Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebayang dong banyaknya karya seni yang harus dikagumi. Sialnya, kami datang agak terlambat dan hanya punya waktu sekitar 4 jam untuk mengunjungi Louvre. Paling tidak saya bisa mengunjungi bagian mesir kuno, Mesopotamia, seni Islam, dan tentunya bagian lukisan seniman Itali dimana terdapat lukisan tenar Monalisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang tidak akan bisa mengunjungi Louvre hanya dalam satu hari. Paling tidak diperlukan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar bisa menghayati karya seni yang terkumpul di salah satu museum terbesar di dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain indah dan uniknya karya seni yang terpampang di hampir setiap sudut ruangan, saya juga sangat tertarik akan pengorganisasian museum tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Louvre sangat ramai! Dari yang turis biasa, kelompok turis, kelompok pelajar dengan guru sejarahnya masing-masing, dan pelajar seni yang membuat sketsa di pojokan museum. Seperti yang saya bilang ke Xaf, Louvre adalah museum yang paling bising yang pernah saya kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik bagi saya adalah kelompok pelajar yang sedang dalam kunjungan museum. Lucu sekali melihat kelompok anak TK dengan gurunya masing-masing mencoba untuk menghargai karya seni dan mendengarkan penjelasan gurunya. Sistem pintar yang diciptakan oleh museum adalah sebuah buku penuh dengan gambar objek penting atau menarik untuk anak-anak kecil tersebut yang dikalungkan ke leher setiap anak. Berhubung mereka mungkin tidak akan tertarik akan unik dan antiknya suatu karya seni, mereka dipancing untuk konsentrasi dengan tugas menemukan obyek-obyek tertentu. Jadi di setiap ruangan, setiap anak harus berusaha untuk menemukan obyek tertentu, entah patung, lukisan, atau obyek peralatan rumah tangga. Kemudian sang guru akan menjelaskan pentingnya obyek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kelompok pelajar remaja, biasanya para guru akan memilih obyek penting dan kemudian menerangkan dengan detil. Di mana-mana akan terlihat segerombolan pelajar duduk di lantai mendengarkan penjelasan guru masing-masing akan obyek di depan mereka. Ramai sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal penting, berhubung karya seni itu tidak ternilai dan umurnya sudah berabad-abad, ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para pengunjung. Pertama, tidak boleh menyentuh karya seni, termasuk patung dan obyek seni yang terbuat dari batu sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping berbagai obyek ada tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"do not touch works of art"&lt;/span&gt; yang di beberapa bagian terhapus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan pihak museum:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Works of art are unique and fragile. They have survived centuries and must be preserved for future generations. Touching, even lightly, a painting, object, sculpture or piece of furniture causes damage. Especially when this gesture is repeated thousands of times. Help us protect our common heritage."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sangat tidak dianjurkan untuk memotret dengan flash. Di beberapa galeri lukisan, memotret bahkan dilarang sama sekali. Jadi sewaktu seorang turis meminta saya untuk memotret dia dan temannya di salah satu galeri lukisan saya pun dengan agak ketus menolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"It is forbidden to take pictures here"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si turis kaget dan menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"I think we just cannot use the flash."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih keukeuh, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Nope, everything is forbidden!"&lt;/span&gt; Dan ngeloyor meninggalkan si turis terbengong-bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, lima langkah dari tempat si turis mejeng sama temannya, ada banner besar yang memperingatkan kalau photo dan video dilarang di galeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xaf cuma senyum-senyum simpul melihat sikap tanpa kompromi saya akan peraturan, dan komentar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Are you from the police?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau saya boleh menyarankan, ketika masuk museum atau gedung-gedung penting lainnya, perhatikan peraturan. Flash kamera bisa merusak karya seni yang sudah sangat tua. Lagipula dengan pengaturan cahaya di galeri, poto yang dihasilkan tidak akan memuaskan! Lebih baik membeli buku khusus yang menampilkan koleksi tersebut. Kita pun bisa menikmati keindahan karya seni tersebut tanpa harus ikut andil merusak warisan bersama baik dengan sengaja atau tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116678693299211912?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116678693299211912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116678693299211912&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116678693299211912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116678693299211912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/12/masih-tentang-paris.html' title='Masih tentang Paris'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116618688501633661</id><published>2006-12-15T12:59:00.000+01:00</published><updated>2006-12-15T22:17:05.436+01:00</updated><title type='text'>Pipit di Paris</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/3052/640/1600/593329/IMG_0955.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/3052/640/200/404655/IMG_0955.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya..akhirnya, bisa juga saya berkunjung ke kota Paris di negara tetangga. Sudah hampir enam tahun, baru akhir minggu kemarin saya menjejakkan kaki di kota cahaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan deg-degan, memeriksa visa di paspor setiap 5 menit. Nunggu di antrian loket imigrasi sambil ngedumel melihat kenyataan abadi dimana Xaf cuma perlu 2 detik (serius...petugas imigrasi cuma lihat sampul paspor merah langsung ngangguk) sedangkan saya terhenti di depan loket, membuat laju antrian terhambat, ketika petugas imigrasi memeriksa paspor dan visa dengan amat teliti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya..akhirnya, kesampean juga naik TGV. Dari dulu saya sangat ingin mencicipi pengalaman naik kereta cepat macam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Excusez-moi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;excusez-moi&lt;/span&gt;, sampai juga ke tempat duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti layaknya kereta api di Indonesia, di TGV karcis menentukan nomor tempat duduk. Tidak seperti di CFF, kereta api Swiss. Karcis CFF (antar kota di dalam Swiss) tidak ada jam dan nomor tempat duduk, jadi kita bisa naik kereta jam berapa pun dan bisa duduk di mana saja, sesuai dengan kelas tiket tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam pertama perjalanan si TGV belum tancap gas, masih melaju seperti kecepatan kereta normal lainnya. Setelah sampai Belle Garde, barulah kereta cepat ini memberikan bukti bahwa dia bisa melaju sampai 220 km/jam! Perjalanan dari Jenewa ke Paris pun cuma memakan waktu 3 setengah jam, mirip-mirip dari Jakarta-Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap stopan kereta, masinis sibuk berkoar-koar mengingatkan kalau tujuan kereta adalah langsung ke Paris, Gare de Lyon (Stasiun Lyon). Si pipit yang setengah budek dan kurang berpengalaman dalam hal perkeretaan di Eropa dengan polosnya nyeletuk, "Ahh...so after Paris this train will go to Lyon. I heard about the centralisation of train in France." (Lyon adalah nama kota di Perancis) Xaf sambil ketawa kecil mengelus kepala istrinya, "no..it's gare de lyon, not lyon".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*malu*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai-sampai di Paris, satu perbedaan menyolok antara Jenewa dan Paris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paris jauh lebih besar dari Jenewa, lebih banyak orang, lebih banyak kemacetan lalu lintas, tata kota lebih megah dengan bangunan dan monumen à la romawi bertebaran di mana-mana, banyak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;paven road&lt;/span&gt; yang sempit dihiasi dengan lampu-lampu jalan tinggi langsing yang membuat malam terang dan romantis, banyak jalan sempit yang semakin dipersempit dengan deretan mobil yang diparkir di kedua sisi jalan, dan lebih berpolusi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koper diparkir di kamar hotel, kamera dikalungkan di leher, payung dan botol air minum sudah dipak dengan manis di tas ransel, kaki pun siap menelusuri rute turistik dan menikmati pemandangan kota di Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paris dan belanja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Paris hari Sabtu, dua minggu menjelang Natal membuat siapapun bisa mengerti kenapa Paris sering disanjung sebagai salah satu pusat belanja dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan Paris dipenuhi oleh deretan toko dan butik. Tidak hanya di jalan besarnya saja, bahkan di jalan kecil yang membuat orang non-Paris ragu untuk menapakkan langkah. Inilah uniknya kota Paris, banyak jalan tikus yang menyembunyikan kejutan menarik. Butik dengan desain toko yang sangat menarik, etalase toko dihias dengan berbagai gaya dan dihiasi dengan tudung berbagai bentuk dan warna, membuat acara lihat-lihat menjadi sangat menyenangkan dan kultural. Produk yang dijual sangat beraneka ragam dan orisinil dengan harga yang terjangkau oleh pelajar sekali pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahnya saya tiba di hari Sabtu. Jalanan penuh dengan mereka yang berbelanja, baik sebagai bagian dari tradisi turis atau mencari kado natal. Saya pun tidak bisa menikmati berbagai etalase antik sangking banyaknya manusia. Setiap tikungan selalu terjadi kemacetan arus manusia yang disebabkan dengan rampingnya trotoar di Paris. Untuk pasangan yang suka bergandengan tangan, harap siap-siap untuk melepas gandengan karena harus memberikan jalan bagi mereka yang di depan atau di belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan lain Paris adalah imutnya para butik (kecuali untuk butik merek-merek mahal seperti Armani atau Prada). Ini mungkin yang membuat para pemilik atau pengurus butik untuk sangat memperhatikan desain dan pengaturan produk di dalam butik. Pengaturan produk dan ruang di dalam butik tak jarang menjadi bagian dari desain interior, yang tidak hanya berhasil memanfaatkan ruang tapi juga menonjolkan produk unggulan. Tapi kadang saya merasa seperti gajah di tengah-tengah toko porselen, karena jarak antara produk display kadang sangat sempit bagi para konsumer. Terlepas dari minimnya ruang gerak, permainan warna dan ruang berhasil membuat "tumpukan" menjadi berseni. Kreatif. Saya tidak pernah merasa sumpek di butik sekecil apapun, yang ada hanyalah kekaguman akan kreatifitas manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah toko, ada dua macam toko yang mendominasi wajah kota paris: kafe, restoran, atau toko roti dan kue; dan toko buku atau perusahaan percetakan. Berbeda sekali dengan Jenewa yang didominasi oleh apotek dan bank. Ini, menurut saya, menunjukkan ciri masyarakatnya yang terkenal dengan budaya gastronomi dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi manusia pecinta buku seperti saya, sungguh kejutan yang menyenangkan ketika tiba-tiba bertemu sebuah toko buku atau percetakan di tengah-tengah pertualangan di jalan-jalan tikus kota. Tidak jarang toko buku memiliki spesialisasi sendiri. Antik, bekas, sastra, seni (ini masih bisa dibagi-bagi lagi), karya pengarang tertentu, pegunungan Alpen, komik, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan dari balik etalase sebuah toko buku antik yang tidak akan saya lupakan: sebuah ruangan sempit dengan buku antik berlapiskan kulit yang berganti warna memenuhi hampir setiap inci dinding toko, tumpukan buku yang tersusun rapi yang membentuk pilar mengikuti anak tangga, di setiap sudut dan tengah-tengah ruangan, di balik pintu sebuah meja kecil terdapatlah si penjaga toko, bapak setengah baya berkaca mata, menundukkan kepala membaca sebuah buku yang menguning. Si Bapak seperti tidak perduli akan hampanya pengunjung, menikmati buku sebagaimana layaknya dan tenggelam di dalam dimensi sastra yang hening namun tidak pernah membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan narsis: Belanja apa aja di Paris, kota pusat mode dan belanja? (dengan nada mupeng)&lt;br /&gt;Jawaban: Buku :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bersambung&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116618688501633661?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116618688501633661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116618688501633661&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116618688501633661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116618688501633661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/12/pipit-di-paris.html' title='Pipit di Paris'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116525356392891585</id><published>2006-12-04T17:20:00.000+01:00</published><updated>2006-12-04T18:38:30.443+01:00</updated><title type='text'>To be or not to be</title><content type='html'>One miserable person condemned me being an Asian who discarded the Asianness just because I can integrate myself in European society. With outmost arrogance and narrow mindedness polished with identity articulation, she claimed to be a superior Asian than me, a shallow Asian leaving in Europe, because she thinks to be prouder of her region as she chooses not to live elsewhere. For this self-proclaimed-true-Asian, a person like me has mental problem of identity denial in embracing European norms and enjoying my life in Europe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To cap it all, this "supposedly-intelectual" conclusion was drawn after 15 minutes talk during the rush to bus ride! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Complete rubbish! I am not threatened by European norms, belief, or culture like she is, so who has the identity crisis? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is there any such thing as sanctity of identity? Is there any essentials of one identity? The one that guide them all, the one that rules them all? Is identity inevitably in clash with one another? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A societal inferiority complex, is, ironically strengthened by its own members. A premature and immature defensive mode, preparing oneself to defend a superiority discourse by the "other", is based, first of all, by a &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perception&lt;/span&gt; on the others' belief of superior and inferior relation. Doesn't this "I defend myself first, before the other attack me" strategy remind you of preventive intervention?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To move from this packaging-oriented abstraction, I give you other comments that doubt my identity. It is from my own parents, who are very concern seeing how much I love my life in Geneva. For them, even a story of how good the infrastructure in Geneva was taken as an offense to their own pride. They suddenly felt the need to scold me and to "remind" me of the grandeur part of Indonesia. Being a woman and having a civic discussion with others made my mother complain on how I have become "European" and less "Indonesian". When I reminded her that I still, kiss my parents hands, respectful to elders and neighbors, visit and talk to my old friends, help my mother to clean the house and to do laundry by hands, serve my dad and family, go to traditional market with &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sendal jepit &lt;/span&gt;as I always used to, she was dumbfounded and couldn't really sure of the "Europeanness" label that she just gave me. Even a simple moving away from expected women-theme discussion and articulation of idea has potentially invited a suspicion of identity-transformation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am not psychologist and will not pretend to be one, but I have a shrewd idea about this reaction. It is, probably, my too-well-integration in a new society that disconserted them. To enjoy my life in this society probably perceived as a regret or rejection of my  life back home. To love one oblige hating the other? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe people wish to hear my tearful story of how I miss home and how I want to go back home as a prove of my identity and love for Indonesia. How sad! I refuse to enter this zero-sum-logic. I refuse to contemplate on how good life back home and how sad my present and future life must be. I choose to love Geneva and to make it my second home. I choose to enjoy both life and will be enriched by it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I do feel sorry for those who cannot understand what having two homes means.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116525356392891585?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116525356392891585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116525356392891585&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116525356392891585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116525356392891585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/12/to-be-or-not-to-be.html' title='To be or not to be'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116435861635961156</id><published>2006-11-24T09:50:00.000+01:00</published><updated>2006-11-24T09:56:56.386+01:00</updated><title type='text'>Another birthday</title><content type='html'>Again, another year passed by. Another birthday to celebrate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today birthday is very special in a sense that I am too tired to think about it. Have been working like a mad woman and crossed my physical limit too often.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy birthday to me. May I be able to rest this week-end before having another project meeting and glued to my computer, calming myself every 5 minutes while struggling to keep my head above the water. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am 28 and am going back to sleep.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116435861635961156?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116435861635961156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116435861635961156&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116435861635961156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116435861635961156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/11/another-birthday.html' title='Another birthday'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116240206260863106</id><published>2006-11-01T18:00:00.000+01:00</published><updated>2006-11-01T18:30:54.563+01:00</updated><title type='text'>Kisah upik abu</title><content type='html'>Apa hubungannya makan di rumah orang dengan event organizer? Tidak ada rasanya. Tapi dulu waktu mama hamil saya katanya dia hanya mau makan di rumah orang lain, dan saya kok selalu ditawarkan pekerjaan untuk mengurusi acara: seminar, loka karya, konferensi.  Semua acara yang tidak ada unsur seneng-senengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk yang sempet mampir dan tidak disuguhkan postingan baru, ini disebabkan karena saya sudah menjelma jadi upik abu. Seperti tahun lalu, tahun ini saya kembali pasrah mengurusi lokakarya internasional yang mengundang 13 makhluk cerdas dari tiga benua. Persiapan 5 bulan paruh waktu, pelaksanaan satu minggu lembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang pekerjaannya persis seperti sekretaris dicampur sopir dilengkapi dengan tukang katering dan office girl. Saya sendirian, benar-benar sendirian berpusing ria dengan berbagai masalah kecil (tapi menyita waktu) logistik, bersabar ria menunggu keputusan bos, dan bertabah profesional dalam menghadapi berbagai permintaan, pertanyaan, atau konfirmasi dari para peserta lokakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak tahun ini saya merasa jauh lebih siap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu saya dibentak sama sekretaris direktur karena ruangan welcoming ceremony belum siap. Tahun ini saya malah sampai merelakan pergelangan tangan kiri setengah keseleo karena harus membawa rangkaian bunga cantik oranye ketika tangan yang lain harus menggeret kotak berisi map informasi dan laptop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu saya dibentak petugas kafetaria karena makanan banyak terbuang dan selalu terlambat. Tahun ini saya bertanya sampai tiga kali ke peserta untuk cari tahu siapa yang herbivora dan siapa yang omnivora. Tadi sudah sempet mau dibentak, tapi akhirnya dengan ilmu ngeles yang sudah semakin canggih, saya malah dihadiahi kecupan di kening!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu saya dibentak sama petugas kantor akuntan dan harus tergopoh-gopoh mengumpulkan uang yang harus disuguhkan kepada para peserta. Tahun ini, tanda terima sudah siap. Uang pun sudah selesai diamplopkan sebelum hari Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu saya selalu disuguhi, "why didn't you ....." setiap hari sama bos saya yang sangat tidak bertanggung jawab dan memiliki ingatan bersumbu pendek. Tahun ini, sebelum mereka sempat bilang "why don't you ...", saya sudah bertanya duluan "Professor, why don't you.....? I have done ...., ...., ..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu saya sempat hampir meledak dan senyum ramah sempat hilang dari wajah cemas saya. Tahun ini saya beberapa kali dibuai oleh pujian para peserta yang kagum akan efisiennya pelaksanaan lokakarya dan profesionalisme saya yang selalu tersenyum terlepas dari nafas saya yang ngos-ngosan karena harus bolak-balik antara gedung atau antara lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...hari ini saya pun mendapatkan pelajaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil makan siang sambil kular-kilir (memang bisa?), saya pun sibuk memastikan kalau semua peserta yang punya janji profesional siang ini tahu bagaimana harus mencapai tempat pertemuan mereka masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peserta Asia, yang seumuran dengan saya, yang selalu tampak muram dengan dinginnya bertanya kalau bis no 1 bisa dipakai sampai Rive. Saya yang masih dalam situasi ingin membantu sampai mati kemudian bertanya, memang mau kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rive"&lt;br /&gt;"Iya, saya tahu. Memang bisa. Tapi kamu mau kemana?"&lt;br /&gt;"Kota tua"&lt;br /&gt;"Tapi kalau dari Rive mau ke kota tua agak ribet. Soalnya kamu harus....(upik abu berusaha berat menerangkan jalan yang paling gampang)"&lt;br /&gt;"Nggak perlu, saya sudah tahu. Saya sudah pernah ke sana kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duegggg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk yang lain, apakah kalian punya janji? Kalau punya sudah tahu bagaimana harus ke sana?" (upik abu masih keukeuh seperti induk ayam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenang aja. Kami bisa kok cari jalan sendiri" Kata si Mbak yang tahu segalanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang sudah kesabaran saya. Sambil berusaha mengontrol volume dan tekanan suara saya pun menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu kalian semua manusia dewasa dan bisa mencari tahu jalan sendiri. Saya hanya ingin memberi tahu kalau saya akan pergi ke ruang komputer untuk menunjukkan alamat yang mau dituju oleh salah satu teman kalian. Menurut saya, kalau memang ada yang juga harus mencari alamat, kenapa tidak sekalian saja? Saya hanya bermaksud untuk mempermudah hidup anda sekalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran si Mbak yang dueegggg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kayaknya cukup peka dan kemudian bilang..."it is really appreciated."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capek saya. Sudahlah saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka, membantu lebih dari seharusnya, malah disepet seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ajaran penting, kadang terlalu baik bisa menjadi tidak profesional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116240206260863106?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116240206260863106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116240206260863106&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116240206260863106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116240206260863106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/11/kisah-upik-abu.html' title='Kisah upik abu'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116073322160553237</id><published>2006-10-13T11:03:00.000+02:00</published><updated>2006-12-07T11:40:09.846+01:00</updated><title type='text'>Comments: The Devil Wears Prada</title><content type='html'>Do your eyes enjoy the dazzling fashion-life? Does your mind need to be convinced of &lt;br /&gt;the superficiallity of fashioned-driven beauty? Does your sinister belief on the impossible combination of physical appearance and inner-beauty need to be refreshed or fed? Then you want to watch &lt;a href="http://www.diableenprada-lefilm.com/"&gt;The Devil Wears Prada.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is fun, it is not that shallow, it is entertaining, and it is full of &lt;span style="font-style:italic;"&gt;haut couture&lt;/span&gt; that makes even a fashion-blind person like me wish to have a 'better' wardrobe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The story is simple. It is about Andy, an intelligent, beautiful, and yet fashion-ignorant person, who got a job as personal assistant to the chief editor of the most important fashion magazine. It's like watching Alice in Wonderland, but this time the wonderland is filled with creatures drapped in Gucci, Armani, Prada, Channel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy's adventure presents the 'dark-side' of the glamour fashion life. The dark side that is superbly portrayed by Meryl Streep. The cynical and sarcastic comments on fashion from the other side of the table are so witty, you cannot stop but chuckle. Twisted lessons on fashion and identity inject fresh and smart humour to the simple story. The triumph of good conscience over well-dressed essentialism was like a pat on my back saying, "It is alright to dress like s**t, as long as you got your two feet on the ground." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All in all, it was an excellent saturday night movie. It's not the movie of the year, but it made my night and it should make yours. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipit, the devil who wears Promod ;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116073322160553237?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116073322160553237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116073322160553237&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116073322160553237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116073322160553237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/10/comments-devil-wears-prada.html' title='Comments: The Devil Wears Prada'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116056270205755767</id><published>2006-10-11T11:53:00.000+02:00</published><updated>2006-10-11T12:31:42.483+02:00</updated><title type='text'>Pagi</title><content type='html'>Pagi ini saya bangun kepagian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenewa masih diselimuti kabut tebal musim gugur. Lembab, dingin, tapi sangat segar. Dulu saya menyangka kalau embun itu tidak beraroma, tapi saya salah. Pagi ini saya kembali dimanjakan oleh aroma pagi kota. Wangi sejuk dicampur dengan semilir aroma bunga liar. Saya pun berjalan menuju kantor sambil tersenyum. Menikmati dingin dan memenuhi indera penciuman saya dengan semerbak keharuman alami yang melenakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapangan rumput yang dipenuhi dengan bunga liar di samping jendela kantor pun menyebarkan harum pagi yang tidak bisa tersaingi oleh bayfresh merek bunga apapun. Jendela terbuka lebar, saya siap menghadapi hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...sungguh saya cinta kota ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116056270205755767?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116056270205755767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116056270205755767&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116056270205755767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116056270205755767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/10/pagi.html' title='Pagi'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-116003510616345699</id><published>2006-10-05T09:33:00.000+02:00</published><updated>2006-10-05T10:13:01.490+02:00</updated><title type='text'>Ketika puasa adalah suatu minoritas</title><content type='html'>Sudah lima tahun saya tidak dimanjakan oleh suasana puasa massal di Indonesia. Berpuasa di negeri ini rasanya sangat amat berbeda dengan di rumah orang tua. Dari jam berpuasa, suasana berpuasa, sampai hikmah yang dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti di Indonesia yang jam berpuasa selalu sama dari tahun ke tahun, di sini waktu berpuasa bisa sangat berbeda. Di musim dingin, hari lebih pendek, sedangkan di musim panas, matahari terus bersinar sampai jam 9 malam lebih. Banyak yang bilang, enak dong kalau puasa musim dingin, puasanya jadi lebih pendek. Pernah mencoba berpuasa dan tetap harus ke kantor atau ke kampus ketika cuaca minus 10 derajat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini puasa jatuh di akhir musim panas. Hari berakhir jam setengah delapan malam, sedangkan suhu udara sudah mulai dingin dengan tibanya musim gugur. Saya pun dengan sabar harus menunggu sampai jam tujuh malam lebih untuk akhirnya bisa berbuka puasa. Tapi paling tidak akhirnya suhu udara memungkinkan saya untuk berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana berpuasa pun berbeda, karena puasa di sini adalah sebuah minoritas. Tidak ada azan atau mama yang membangunkan saya untuk sahur, dan tidak ada azan magrib yang mengundang saya untuk minum segelas air. Akhirnya, saya pun jarang sekali sahur dan sampai sekarang sering tidak sadar kalau sudah magrib, karena masih sibuk dengan berbagai kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau sahur pun harus mengendap-ngendap, seperti kucing mengintai daging rendang. Kan saya tinggal di rumah susun. Jam lima pagi belum boleh melakukan berbagai kegiatan yang berisik (legalnya kita baru boleh mulai melakukan 'keributan' setelah jam 6 atau 7 pagi). Menghangatkan makanan pelan-pelan, membuka keran sambil deg-degan karena takut bunyi air yang mengalir membuat tetangga sebelah terbangun, dan makan pun dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi kelontang-kelontang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi paling tidak ada satu hikmah yang sangat berarti bagi saya. Saya di sini puasa tanpa dimanjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang di kantor tahu kalau saya berpuasa, dan memang tidak ada perlakuan khusus untuk mereka yang berpuasa. Bekerja seperti biasa, tanpa ada tuntutan perlakuan istimewa seperti kata teman saya &lt;a href="http://www.nananias.com/archives/bicara_esensi.php"&gt;nana&lt;/a&gt;. Saya pun tetap menghadiri acara makan siang dengan teman-teman untuk sekedar berdiskusi. Mereka santap makan siang, saya hanya duduk manis sambil tersenyum. Meeting jam makan siang pun tidak saya tolak dengan alasan puasa. Habisnya, hanya ketika jam makan sianglah, teman-teman yang bekerja di berbagai tempat yang berbeda bisa bertemu, dan profesor yang sibuk bisa punya waktu untuk diskusi tentang proyek. Hari pertama saya puasa pun jadi diperpanjang sampai jam delapan malam lebih, karena profesor memutuskan untuk mengadakan meeting jam enam sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengsara? Pasti. Tapi saya bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang belum bisa menghilangkan rasa marah, benci, dan berbagai sifat negatif lainnya, seperti yang diharapkan dari kegiatan berpuasa. Tapi paling tidak saya sudah bisa melaksanakan kewajiban agama saya secara mandiri, tanpa dorongan, dukungan, atau tekanan dari masyarakat di sekitar saya. Saya tidak memerlukan berbagai keringanan untuk berpuasa, dan bisa dengan nyaman menjalankan kepercayaan saya tanpa membebani atau mengkondisikan yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-116003510616345699?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/116003510616345699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=116003510616345699&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116003510616345699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/116003510616345699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/10/ketika-puasa-adalah-suatu-minoritas.html' title='Ketika puasa adalah suatu minoritas'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115970994125366614</id><published>2006-10-01T13:44:00.000+02:00</published><updated>2006-10-05T10:15:17.173+02:00</updated><title type='text'>Women, film,  and social critics</title><content type='html'>Being assistant and one among few Asians in the university awards me with opportunities to have thoughtful, challenging, cultural, discussion with some professors. One professor who has curious nature from time to time would knock at my door and gave me a print out news, report, or document about Indonesia. Ranging from historial account of East Timor, Indonesian military violence in West Papua, the 1965 massacre, the deforestation in Borneo, competition between Indonesian restaurers in New York, to the increasingly highlighted debate on polygamy in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That afternoon, he came with a copy of english speaking media on Berbagi Suami, a new movie from Nia Dinata. The movie is special not because it wins some awards, but mostly because of its theme, polygamy reality in Indonesian society! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear oh dear, I complained silently. Should I go to that shameful discussion again about Islam and men's justification on polygamy? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(I have to endure this kind of discussion at least once per year with another professor (Mr.) who cannot accept the idea as civilised nor just. At that very moment, I always found it hard to be proud of my religion. We always ended the discussion with a declaration that I do not and will not accept polygamy for whatever reason and that my husband knows that perfectly. A declaration that invited a nod from him.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To go back to the article, I then read it quickly as my professor gave me few minutes to read while looking at me with a look saying "what do you think?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, what do you think?" he asked&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It's very interesting. I didn't know about this movie before. Thank you, sir." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was indeed interesting, as the article explained how the movie was taken as critic that was hard to swallow by important men supporting actively, meaning doing it, polygamy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The movie is a critic as it shows a 'side' of the polygamy that has been swept under the carpet of religous right or, dear God, duty. Mark you, I have not yet watched the movie. But if the movie is really about the polygamy life seeing through the eyes of women who have had to agree on the practice due to the social, economic, or ideologial pressure, no wonder those polygamists were reacting like their house was on fire!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The later discussion with the professor reminded me of another discussion I had long time ago with my fellow high school friends. A discussion in which I claimed that a willingness to accept polygamy can be a no-choice type of willingness. When a housewife with three little children without source of income knows perfectly that she will have to raise her children by herself if she refused to have her husband re-marry again and then accepts the husband's decision, can we really say that she is willingly and unconditionally accept (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;rela&lt;/span&gt; in Indonesian) her husband decision?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus, I argue, one way for woman to shield herself from polygamy is to avoid dependent-on-man societal trap. To love and appreciate a man does not mean that a woman has to be dependent on him and cannot, literally, cannot live without him. Being able to stand on her own feet, a woman CAN refuse to receive the 'first wife' title instead of accepting it for the sake of the children's stomach and education. An independent woman can also escape from the persuasion of marry-him-to-help-your-family or marry-him-to-have-a-better-life despite of his already-married status. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the article, Nia Dinata also implies that in Indonesia some women have to endure polygamy because it is better than getting a divorce. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is perceived that a family with complete parents (no matter how many the mothers are) is better for the children than single parent. Who cares if one of the mother cries inside, the most important thing is that the children will be brought up well, suppossedly, and that none will have to gain the (perceived) worst title a woman can have: widow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the fear of being widow makes a woman accept another woman in the household, can we regard this acceptance as an unconditional acceptance?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is about time a society open its eyes and see how its custom, norms, and structure have prisoned and condemned women. It is, thus, not surprising to have women, who have been wronged, to voice and lift the normality veil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speaking about widow, another woman from completely different society has raised her voice and challenged a Hindu old traditional practice that assigned widow to live in penitence and casted away from the society. Deepa Mehta and her movie, &lt;a href="http://water.mahiram.com/"&gt;Water&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Water depicts an old reality in India that regarded woman, especially widow, as a burden. Widows were then punished for being widows and had to live the rest of their life contemplating for their sin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The movie shows the harsh reality of old tradition and challenges the logic behind the long-life torture of widow. Living their wasted life in poor residence, without money, food, support, and means to support themselves, the widows' faith helps them to accept their destiny. They beg forgiveness for their sin in their non-stop pray, but yet sacrifice one among them to prostitute herself to feed the whole house. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The picture is colorful, the play is superb, the dialogue is simple yet deep and rich, and most of all the story is striking. It is about strong and painful faith, self-sacrifice, societal injustice, religious and class manipulation, and embedded women degradation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To see women thrown away to live a living hell and still able to praise those who sacrificed them, made me shiver. The hypocracy of those who arbitrarily interpret religion and faith for their own advantage, a reality can still be found in daily life, filled me with anger. A bitter pray from Shakuntala for her dead friend, "Let her be re-born as a man," stroke me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was breathless when Shakuntala, the devout widow, asked her priest, "when one's heart contradicts one's faith, what should one do?" It was not answered.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A question that, I think, our world still cannot answer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115970994125366614?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115970994125366614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115970994125366614&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115970994125366614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115970994125366614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/10/women-film-and-social-critics.html' title='Women, film,  and social critics'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115748771181040815</id><published>2006-09-05T21:58:00.000+02:00</published><updated>2006-09-05T22:25:15.823+02:00</updated><title type='text'>PhD = Permanent Head Damage</title><content type='html'>Yup...untuk kebanyakan orang (terutama para PhDs) PhD itu kepanjangan dari permanent head damage! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ditanya mengenai status dan saya jawab mahasiswa PhD, kebanyakan yang nanya komentar...wow. Mungkin kagum, tapi bagi saya penderita, si phd, si wow berbunyi "wow, I am &lt;span style="font-style:italic;"&gt;that&lt;/span&gt; crazy to take this path".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya kenapa saya ngotot ngelanjutin kuliah ketika banyak teman saya yang sudah memilih kehidupan nyaman di dunia karir atau keluarga, terus terang jawabannya sudah lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena kebanggaan status? Enggak juga. Bangga mana status pelajar, terserah seberapa banyak S-nya, atau kartu nama dengan title manajer atau kepala ini itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan PhD, seperti halnya berbagai gelar sarjana juga nggak menjamin pekerjaan dan hidup layak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah lima tahun menyiksa kepala dengan berbagai pertanyaan yang nggak penting tapi dipenting-pentingkan, setelah lulus malah dapat jawaban: "I'm sorry, you're too qualified for the job."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ya benar, kuliah PhD itu benar-benar merusak kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;High opportunity cost, identity crisis, low self esteem, 24 hours thinking, uncertainties, to end up in another uncertainty.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi yang pertama kali muncul di kepala bukan "terima kasih Tuhan saya masih bisa bangun dan menikmati matahari", tapi "dear God, what have I done for my PhD?!" Setiap menit dipenuhi dengan penyesalan akan kemalasan atau hampanya ide di kepala. Kebiasaan menunda-nunda, baik dengan menenggelamkan diri ke berbagai pekerjaan, membalas email, sekedar menulis blog, atau mentertawakan diri sendiri dengan menyimak &lt;a href="http://www.phdcomics.com/comics.php"&gt;buku suci&lt;/a&gt; para PhDs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punggung dan bahu sering kaku karena membungkuk terlalu lama membaca berbagai bahan yang 90% membosankan, sambil menahan kantuk bergumam, "why in the hell that I am reading this?" Sedangkan sepuluh persennya adalah bahan yang sudah membahas tema yang sedang lagi diusahakan mau ditulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, HOW ABOUT THE ORIGINALITY QUESTION?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*another month of finding justification and added value*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca...baca...bikin catatan...ganti topik...baca bahan baru...bikin catatan...ide buntu...depresi...exit-strategy...penyesalan...baca...baca...dan akhirnya bertanya, selama tiga tahun ini saya sudah nulis apa aja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak mau jawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115748771181040815?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115748771181040815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115748771181040815&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115748771181040815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115748771181040815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/09/phd-permanent-head-damage.html' title='PhD = Permanent Head Damage'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115680032003061455</id><published>2006-08-28T22:24:00.000+02:00</published><updated>2006-08-31T15:29:33.830+02:00</updated><title type='text'>Masih tentang surat menyurat</title><content type='html'>Berhubung ada pesan positif tentang tips menulis surat dalam bahasa Inggris, saya ingin menyambung &lt;a href="http://bla3x.blogspot.com/2006/05/surat-resmi-dalam-bahasa-inggris.html"&gt;tulisan&lt;/a&gt; saya tentang menulis surat pendek dan formal dalam bahasa Inggris. Kali ini saya mau memberikan sedikit tips tentang bagaimana membalas surat dalam bahasa Inggris.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sering saya 'keluhkan', salah satu tugas utama saya dalam pekerjaan adalah koresponden, dalam bahasa Inggris tentunya. Berhubung saya adalah salah satu orang dibalik pengorganisasian suatu acara, saya wajib untuk menjawab semua surat yang berhubungan dengan si acara dengan santun dan jelas. Setelah membalas ratusan surat dengan berbagai permintaan dan urusan, saya pun akhirnya mengerti pola pembalasan surat formal dalam bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan pola membalas surat, saya ambil contoh surat di tulisan saya yang lalu saja ya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dear Madam, Dear Sir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am X, from Y. I am interested in Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will be very grateful if you could inform me the application deadline and eligibility. I wonder if you could also send me the application form. If it is not possible, I will be thankful if you could inform me where I can find it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am looking forward to hearing from you. Thank you very much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerely yours,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita harus menjawab surat sejenis ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips pertama:&lt;br /&gt;Temukan dan tentukan kata kunci dalam surat. Apakah surat itu meminta informasi, memberikan informasi, berterima kasih, mengeluh, dsb. Dalam surat ini, kata kunci di surat: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;inform me&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;application deadline and eligibility&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;application form&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung surat ini meminta informasi, kita pun cukup membalas dengan memberikan informasi yang diminta. Informasi yang diminta adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;application deadline and eligibility, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;application form&lt;/span&gt;. Jadi pastikan kita menjawab permintaan si penulis surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips kedua:&lt;br /&gt;Gunakan kembali kata kunci dalam surat. Ini tidak hanya mempermudah tugas kita dalam membalas surat, tapi juga memastikan kita menjawab semua pertanyaan dan permintaan si penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips ketiga:&lt;br /&gt;Jangan lupa untuk menggunakan kata pembuka dan penutup yang sopan. Jadi gunakanlah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dear Mr. X&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dear Ms. X&lt;/span&gt; di awal surat. Kita pun bisa menambahkan kalimat ucapan terima kasih, contohnya: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Thank you for your letter&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Thank for your interest in ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk salam penutup, saya tetap anjurkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sincerely yours,&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Best regards,&lt;/span&gt;. Sopan, formal, dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips keempat:&lt;br /&gt;Ingatkan bahwa surat anda adalah sebuah surat balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan kalau kita sudah membaca surat si penulis dan menyatakan kalau surat kita adalah sebuah balasan, saya anjurkan untuk menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;In response to your email (or letter), I would like ...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Kalimat singkat ini cukup penting, tidak hanya untuk lebih luwesnya sebuah surat balasan tapi juga untuk mengingatkan si penulis surat awal kalau dia pernah mengirim surat ke kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan bahwa kita hanya menjawab apa yang pernah dikirim ke kita kadang bisa menghindarkan kita dari kesalahpahaman. Apalagi ketika surat menyurat berhubungan dengan sebuah negosiasi, dimana kedua pihak harus mengingat dan memahami dengan penuh semua informasi yang berkaitan dengan negosiasi tersebut. Dalam situasi dimana ada pemberian informasi dua arah, bisa juga menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Following your email/letter on..., I would like&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips kelima:&lt;br /&gt;Pastikan jalur komunikasi tetap terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang penulis surat akan memiliki pertanyaan baru sebagai reaksi dari jawaban kita. Untuk itu, sangat dianjurkan untuk memberikan nuansa ramah dan informatif di jawaban kita. Di akhir surat, saya biasanya selalu menggunakan: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;If you need any additional information, please do not hesitate to contact me. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat singkat ini menunjukkan keterbukaan kita akan pertanyaan dan membuat penulis surat tidak akan enggan untuk bertanya. Dengan memberikan undangan untuk bertanya kita pun akan menjaga komunikasi yang baik dengan yang lain. Menurut saya, komunikasi yang baik bisa menghasilkan hubungan yang baik, termasuk dalam bisnis atau pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tips di atas saya gunakan, maka balasan untuk si contoh surat akan tampak seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dear Ms. X,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank you for your interest in Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In response to your email, I would like to inform you that the application deadline is .... Regarding the application form, you may download it from the Z's website at .... Detailed information regarding application's eligibility is also provided on the website. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you need any additional information, please do not hesitate to contact me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerely yours,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah kan? Surat tetap singkat, padat, dan tepat sasaran. Penggunaan kata kunci akan mempermudah penulisan surat, sedangkan kalimat kesopanan akan memberikan sentuhan manusiawi pada email. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal yang paling penting, usahakan menjawab email dengan cepat. Untuk email formal, mendapatkan email yang mengingatkan kita untuk membalas email sebelumnya bisa memberikan citra yang kurang baik di mata penulis surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selamat berkorespondensi dalam bahasa Inggris. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115680032003061455?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115680032003061455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115680032003061455&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115680032003061455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115680032003061455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/masih-tentang-surat-menyurat.html' title='Masih tentang surat menyurat'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115658377921088501</id><published>2006-08-26T10:02:00.000+02:00</published><updated>2006-08-26T11:43:25.080+02:00</updated><title type='text'>Sterilisasi: kejam atau mencegah kekejaman?</title><content type='html'>Minggu kemarin, teman saya Jennifer menyapa saya dengan wajah penuh kemelut. Ternyata kucingnya, Bidon, hamil! Biasanya si Bidon dikasih pil KB sebelum musim kawinnya kucing, tapi kali ini Jen lengah dan akhirnya terjadilah 'kecelakaan' itu. Haduh...saya yang mendengarnya turut berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok berduka? Kok kecelakaan? Bukannya harus disyukuri kalau bakal dapat anak kucing yang lucu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berduka dong, karena kalau Jen tidak berhasil menemukan rumah untuk si anak kucing, kemungkinan besar anak-anak kucing itu akan 'ditidurkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho..kok segitu drastisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum para pembaca sekalian menghujat, saya mau menekankan kalau masyarakat di sini sangat cinta binatang, jauh lebih sadar akan hak binatang dari masyarakat Indonesia. 'Peniduran' anak binatang yang tidak diinginkan dipandang sebagai suatu kebijakan yang lebih manusiawi daripada menelantarkan anak kucing/anjing itu di jalan atau tanah kosong dan membiarkannya mati kelaparan, kedinginan, atau tertabrak mobil. Rumah sakit hewan dan dokter hewan pun biasanya menganjurkan para pemilik hewan yang menderita penyakit kronis seperti kanker, paru-paru, ginjal, atau jantung, untuk 'menidurkan' si hewan kesayangannya daripada membiarkannya sengsara menunggu kematiannya pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya terus terang nggak bisa memahami kebijakan ini. Tapi ketika Frimousse, kucing kesayangan keluarga suami saya yang berusia 15 tahun menderita sakit parah dan tidak bisa disembuhkan karena usianya, saya pun bisa memahami keputusan ibu mertua saya untuk 'menidurkan' teman setianya itu. Dengan mata berkaca-kaca, maman menerangkan kalau lebih baik Frimousse pergi dalam tidur tanpa kesakitan. Maman terus terang nggak tega melihat penderitaan Frimousse dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bukannya orang sini berhati batu. Jen pun sibuk menahan tangis sewaktu bercerita ke saya, dan sangat berharap saya mau menampung salah satu anaknya Bidon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, biasanya para dokter hewan menganjurkan para pemilik hewan, terutama yang tinggal di apartemen dan tidak mengkehendaki anak kucing atau anjing, untuk mensterilisasi para hewan kesayangannya. Sterilisasi akan menghindari penelantaran hewan pada kemudian hari, dan lebih baik untuk kesehatan para kucing atau anjing yang tinggal di apartemen dan memiliki ruang gerak yang terbatas. Para hewan pun akan lebih 'tenang' sewaktu masa birahinya muncul. Lagipula, dengan sterilisasi kucing atau anjing betina biasanya akan berumur lebih panjang, karena tidak harus mengalami proses hamil dan melahirkan yang sangat melelahkan bagi para hewan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengetahuan inilah saya membawa kucing kesayangan saya, Blony, yang sewaktu itu sudah melahirkan tiga kali ke dokter hewan untuk disteril. Blony, terlepas dari perawatan saya yang cukup telaten, terlihat jauh lebih tua dibandingkan umurnya yang baru 3 tahun. Kekhawatiran saya semakin memuncak ketika Blony mengalami kesulitan sewaktu melahirkan terakhir kalinya. Tidak seperti kucing lainnya, Blony selalu minta ditemani sewaktu melahirkan, dan dulu saya selalu menemani proses melahirkan kucing saya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa kata bu dokter? "Maaf, saya tidak bersedia melakukan operasi sterilisasi karena bertentangan dengan agama saya (Islam, red)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang mendengar cuma bisa bengong. Terus terang saya tersinggung sekali. Saya dianggap pembunuh apa? Dianggap tidak sayang binatang dan mau menghalangi rencana alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menahan amarah saya pun hanya bisa menggendong Blony yang masih deg-degan sehabis periksa kesehatan dan disuntik. Niat baik saya untuk menjaga kesehatan kucing saya dan untuk menghindari penganiayaan anak kucing malah dipandang hina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung, kejam mana mensterilisasi kucing atau menelantarkan anak kucing? Mama saya penyayang binatang, tapi mana bisa rumah menampung 20 anak kucing? Kalau anak kucing itu tidak ada yang mau menampung bagaimana? Untung Blony kucing campuran, jadi sampai sekarang anaknya selalu mendapat rumah baru. Tapi bagaimana dengan kucing-kucing kampung lainnya? Tidak jarang saya mendengar diskusi 'ringan' tentang membuang kucing, berbagai teknik dan tempat tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu sering saya menangis dalam hati melihat anak kucing jalanan, kurus dan tidak terurus. Belum lagi mereka sering dijadikan obyek penyiksaan anak-anak kecil ataupun orang dewasa. Disiram air, diusir-usir, diusilin pakai ranting kayu, dsb. Saya pun pernah menyaksikan anak kucing tergilas mobil, sampai sekarang saya tidak akan lupa. Sampai sekarang saya tidak akan memaafkan lambatnya saya untuk bertindak, untuk berusaha menangkap anak kucing itu sebelum lari ke tengah jalanan. Si pengendara mobil mewah besar itu, langsung melaju tanpa menoleh. Saya pun hanya bisa meraih tubuh rapuh makhluk kecil itu yang sedang menuju ajalnya. Menaruhnya di pinggir jalan, seperti disarankan oleh orang yang kebetulan juga berada di pinggir jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah neng, ditinggal saja. Udah nggak bisa diapa-apain lagi." Begitu kata si bapak melihat saya termangu dan tidak tahu harus berbuat apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu batin saya memberontak dan balik lagi untuk melihat keadaan kucing kecil itu dan mau membawanya pulang, walau sekedar untuk menguburkannya, tubuh kecil itu sudah tidak ada lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing jalanan apalagi, tidak hanya mereka harus mengais sampah di sana sini, mereka pun sering jadi sasaran timpukan batu, dimaki-maki, dikejar-kejar, dan kalau perlu diracun! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya masih bermimpi untuk bisa membangun penampungan hewan di rumah saya di Indonesia nanti. Untuk menampung semua kucing dan anjing jalanan, untuk akhirnya bisa berbuat sesuatu dan tidak hanya memalingkan muka dan berharap kenyataan penderitaan para hewan itu akan lenyap seperti lenyapnya mereka dari mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejamkah sterilisasi? Tidak! Sterilisasi, menurut saya, adalah bentuk pencegahan kekejaman. Sterilisasi adalah salah satu bentuk solidaritas manusia sebelum akhirnya dunia ini benar-benar menjadi milik bersama, dimana para hewan akan memiliki tidak hanya tempat untuk bernaung tapi juga di hati manusia, si 'penguasa dunia'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak &lt;a href="http://www.thaiwave.com/atigaro/"&gt;mereka&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.soidog.org/Post_Tsunami.htm"&gt;mereka&lt;/a&gt; mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Sampai sekarang Blony tetap hamil setiap tahun, dan menurut laporan mama saya, kucing kesayangan saya itu semakin kurus dan layu. Saya hanya bisa berdoa untuk bisa tetap bertemu sewaktu saya pulang nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115658377921088501?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115658377921088501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115658377921088501&amp;isPopup=true' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115658377921088501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115658377921088501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/sterilisasi-kejam-atau-mencegah.html' title='Sterilisasi: kejam atau mencegah kekejaman?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115626854135593665</id><published>2006-08-22T18:39:00.001+02:00</published><updated>2006-08-26T11:28:04.830+02:00</updated><title type='text'>Ambition equals wealth?</title><content type='html'>Ambition equals wealth is one perception that is shared by most of Indonesians, according to me, still an Indonesian. Being a developing nation and suffered from a contradictory hate-and-love relationship with the West due to the past colonialism, Indonesian society gives enormous significant to appearance, which most of the time linked to money or material wealth. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Money rules. Not only to get what you want, but also (more importantly) to create what you are. Money will not only buy objects of comfort, it will also create a status and prestige along with perceived (by self and others) superiority from others in many (if not all) spheres of life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The superimposing society that endows itself a right to control and judge its members takes its 'court' function very seriously. Each member has been trained to see others and themselves from a certain framework in which money plays important role. Material wealth sometimes become the only identification of oneself, and being not as wealthy as the neighbors would create an impression that one has been or would be casted down by the society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is sad that this society traps its numerous subjects with potentials into a narrow path of money-seeking and money-stacking. It has imprisoned the mind from the search of alternative meaning of want and ambition, and enhanced a culture of money-hunger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This conclusion is a wrap-up of five years experience being abroad and still look 'normal'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Indonesia, to live abroad will create certain expectation from others on how you should look. According to many of my friends and family, I should look trendy, cool, branded, and rich. The fact that I still wear t-shirt, jeans and old snickers, and have dark hair without any sign of dye has given me look of pity and worried, a look by a mind thinking: "dear oh dear, what a shame. After being abroad all of these years and not a slight of (material) improvement whatsoever".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A short discussion with a friend enhanced my conclusion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Long explanation on my perception of material wealth as something useful but not necessarily essential awarded me this comment "well, you don't sound like a woman. Your idealist husband must have influenced you, since it is completely normal that one, especially woman wanting more and more."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, I am not an idealist. Far from it. I am a pragmatist who always feels guilty knowing that the same amount of money for fancy bag or shoes can feed one family for a week.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And suddenly she gave me an advice that having ambition will give motivation to work hard and achieve a better life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmm...but then is ambition always equal to wealth and material gain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I must say that I want something beyond that. I am not saying that I do not want money. I want a comfortable life. But physical comfort is not enough for a troubled mind like mine. I want to taste personal and professional achievement in which money comes second as mental balance, good consience, understanding of the world around me, comprehension of others and myself, and mature mind are my first priorities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No, I don't lack ambition. It's just that my ambition does not have money-o-meter. If I don't have a strong ambition, I won't be here, working my arse off to start my life from zero in a totally strange and different society. I would be back home, enjoying every bit of comfort that my parents or my education can provide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*A conclusion by a middle class Indonesian with her own subjectivity and contextual relationship&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115626854135593665?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115626854135593665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115626854135593665&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115626854135593665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115626854135593665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/ambition-equals-wealth_22.html' title='Ambition equals wealth?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115624161447088042</id><published>2006-08-22T10:23:00.000+02:00</published><updated>2006-08-22T18:38:37.266+02:00</updated><title type='text'>Genjot, potret, dan merenung (2)</title><content type='html'>Pertengahan kedua dari rute Slow Up ternyata melewati daerah pertanian dan peternakan. Walaupun sama-sama hijau, ladang di sini berbeda sekali dengan di Indonesia. Tidak cuma jenis tanamannya yang berbeda, tapi juga organisasi ladang. Di sini ladangnya benar-benar rapi jali, selalu berbentuk segi empat dan entah kenapa terlihat jauh lebih bersih dari ladang nenek di kampung. Yang namanya lumpur tetap ada, tapi tidak ada sampah non-biologis yang bertebaran di sana sini. Bahkan tumpukan jerami yang sudah dilewati mesin dan menjadi gelondongan jerami pun tersusun dengan rapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Picture%201%20173.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Picture%201%20173.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pun dimanjakan oleh pemandangan kebun anggur yang berbaris rapi, kebun bunga matahari, dan pohon-pohon tua yang berderet dengan anggun di pinggir jalan desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani yang ladangnya dilewati rute Slow Up pun ikutan memeriahkan suasana dengan mendirikan berbagai stand makanan atau membuka pintunya untuk para pengunjung.  Mereka yang sudi mampir pun dimanjakan oleh hasil ladang yang segar dan jauh lebih nikmat dari yang biasa disajikan oleh supermarket. Penghuni ladang seperti ayam, sapi, kambing, domba, bebek, babi, kuda, dan keledai pun ikut memeriahkan suasana, menjadi hiburan buat para anak-anak yang sudah dengan sangat perkasa menggenjot sepeda mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana dimeriahkan oleh celotehan dan pertanyaan anak-anak kecil yang sangat antusias melihat binatang yang termasuk langka di perkotaan. Orang tua dengan sabar memberikan keterangan setiap nama binatang, kenapa si binatang berjalan seperti itu, kenapa tidak boleh terlalu dekat-dekat ke binatang, kenapa tidak boleh mengganggu para sapi yang sedang sibuk merumput, atau cara mengelus kepala keledai yang menonjol dari balik pagar. Bagi si anak, sepertinya lelah menggenjot sepeda berjam-jam terhapus setelah berhasil memberikan wortel ke keledai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini renungan saya muncul. Coba kalau banyak acara sambilan yang bisa dinikmati anak-anak, pasti tidak perlu itu gembar gembor heboh tentang TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok jadi ke TV?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersepeda, membaca, jalan-jalan di pinggir danau, piknik di taman kota, berkunjung ke museum, berkunjung ke peternakan, dan menonton TV sama-sama jenis hiburan. Sama-sama kegiatan yang dimaksudkan untuk terlepas dari rutinitas keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya di Indonesia, alternatif hiburan murah yang bisa dinikmati seluruh keluarga itu terbatas sekali. Semakin terbatas kalau tidak punya uang banyak. Mau ke taman hiburan atau pantai pasti tempatnya kurang bisa terjangkau oleh angkutan umum. Harus punya mobil, dan sampai di sana masih harus banyar uang masuk. Mau jalan-jalan di kota, taman kota hampir dibilang tidak ada, sudah begitu trotoar sudah disulap menjadi tempat jualan pedagang asongan, atau terlalu panas karena pohon-pohon kota sudah ditebang karena 'mengganggu' pejalan kaki. Lahan kosong tempat anak-anak bisa bermain sudah diisi dengan berbagai bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti di sini, dimana setiap taman kota selalu mempunyai sudut khusus untuk anak-anak. Tidak punya uang, kalau hari cerah cukup jalan-jalan ke taman dan anak-anak pun bisa riang gembira main pasir atau ayunan. Perjalanan ke taman pun kadang penuh dengan pendidikan. Orang tua bisa memberikan pengetahuan tentang pohon yang dilihat, burung yang lagi terbang, atau bebek yang lagi sibuk mandi di kolam kecil taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang saya melihat group anak pra-TK atau TK yang lagi kunjungan turis. Paling heboh, karena bis pun jadi penuh dengan celotehan mereka. Sewaktu saya tanya ke teman saya yang bekerja di salah satu play group, dia cerita memang dua kali seminggu ada jalan-jalan bersama ke taman atau tujuan lainnya di dalam kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi merenung, kalau banyak alternatif kegiatan seperti di sini, mungkin tidak akan terlalu parah ketergantungan keluarga dan anak-anak akan TV. Kalau tidak ada alternatif, koar-koar anti TV pun tidak akan merubah banyak. Bagi mereka yang hidupnya pas-pasan, menonton TV jauh lebih murah daripada pergi ke mall. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula saya rasa ada yang kurang dalam kampanye anti TV. Harusnya ada juga kampanye penonton kritis. Menonton TV bisa jadi ajang pendidikan yang sangat dashyat kalau tahu bagaimana menggunakannya. Acara TV yang penuh dengan pembodohan bangsa bisa jadi alat untuk mendidik dan membuka mata akan kenyataan sosial yang memang nyata atau yang sedang lagi dibentuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau ada adegan sinetron yang penuh kemewahan dan pergeseran nilai, adegan ini didiskusikan. Pasti seru dan sangat mendidik. Kalau ada indoktrinasi gaya konsumsi yang terselubung maupun terang-terangan, acara minum teh pun bisa jadi ajang diskusi yang bisa menghasilkan skripsi sosiologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya yang disuruh kampanye, saya akan teriak: Matikan TV, ciptakan taman kota, dirikan perpustakaan kota, rimbunkan jalanan kota, dan cintailah diskusi dan membaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115624161447088042?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115624161447088042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115624161447088042&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115624161447088042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115624161447088042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/genjot-potret-dan-merenung-2.html' title='Genjot, potret, dan merenung (2)'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115585010213153945</id><published>2006-08-17T22:22:00.000+02:00</published><updated>2006-08-17T23:57:14.513+02:00</updated><title type='text'>Genjot, potret, dan merenung (1)</title><content type='html'>Minggu tanggal 6 Agustus, akhirnya saya memberanikan diri untuk ikutan acara &lt;a href="http://www.slowUp.ch"&gt;Slow Up&lt;/a&gt;, yang merupakan bagian dari acara pesta kota Jenewa tahun ini. Inti dari acara Slow Up ini adalah untuk memenangkan para pejalan kaki, penggenjot sepeda, peluncur sepatu roda, dan siapa pun yang memakai jalan tanpa menggunakan motor bantuan. Jadilah, sebagian jalan kota ditutup bagi para pengendara mobil dan motor untuk kami, para ratu dan raja jalanan sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal sepeda sewaan tapi gratis dan helm alien pinjaman saya pun menggenjot sepeda bersama dengan guide pribadi dan setia, Manu. Teman baik yang dalam kehidupan sehari-hari selalu bersepeda dan mengetahui dengan baik cara bersepeda di dalam kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dong. Kalau situ tidak mau diklakson sama tram dan bus (yang bunyi klaksonnya bisa bikin hati saya yang masih bisa dibilang muda ini kejang-kejang) atau diserempet mobil atau motor, naik sepeda tidak hanya modal dengkul tapi juga modal mata dan pemahaman akan lalu lintas. Jalanan di sini dibagi-bagi untuk para pemakainya. Banyaknya jalur dan aturan lalu lintas ini telah membuat saya keder untuk belajar menyetir. Wong di Indonesia saja yang jalurnya cuma satu atau dua dengan aturan lalu lintas yang bisa 'dilupakan' dengan hati ringan, gaya menyetir saya telah membuat sepupu, Xaf, dan beberapa teman baik trauma naik mobil dengan saya dibalik setir; dan saya pun berhasil membuat satu abang somay dan dua tukang duren hampir sakit jantung dan terbirit-birit menghindari mobil saya yang seperti sapi lepas kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Picture%201%20147.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Picture%201%20147.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Jadi, bersepeda harus di jalur sepeda seperti terlihat pada photo yang saya ambil di dekat pemberhentian bis di samping rumah pada hari minggu pagi. Kalau mau belok kanan kiri harus memberikan tangan. Bagi mereka yang memakai celana panjang dianjurkan untuk mengikat bagian bawah celana untuk menghindarkan keserimpet geligi sepeda selama bersepeda. Ketika cuaca buruk atau malam hari, diharuskan menempelkan lampu dan lambang spotlight di punggung, pantat, atau belakang kepala, agar bisa dilihat oleh para pemakai jalan lainnya. Sewaktu bersepeda di tengah jalan pun harus tahu ambil jalur kiri atau kanan...saya lupa; dan sebagainya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke Slow Up. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah saya ke tempat start si Slow Up. Lumayan rame, orangnya juga macem-macem. Turis nyasar (seperti saya), pasangan yang sportif (iya...ada lho makhluk yang namanya pasangan cinta yang sportif. Hobinya olah raga berdua. Hebat! Cinta dapat, badan pun jadi sehat), para olah raga mania, dan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan si acara lucu banget deh. Lucu karena menekankan kalau Slow Up itu bukan acara kompetisi. Siapapun boleh ikut, bisa melaju dengan kecepatan masing-masing, boleh mulai darimana saja (asal sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan), dan boleh berhenti kapan saja. Ahh...akhirnya ada acara olah raga yang tidak memberikan tekanan mental dan pelototan seseorang berpakaian kaos dan training, berkalungkan peluit dan menggenggam stop watch!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita saya pun menggenjot sepeda bersama dengan yang lainnya. Setiap orang dikasih peta gratis (dalam hati saya bersyukur seribu bahasa datang bersama Manu, karena saya tidak bisa membaca peta sama sekali!), diberi senyum dan dorongan semangat dari para panitia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bon route!&lt;/span&gt; (selamat menikmati perjalanan), begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slow Up tahun ini rutenya sepanjang 26 km, tapi serasa 50 km karena rutenya naik turun bukit; melewati 7 desa di pinggiran kota Jenewa, yaitu Cologny, Vandoeuvres, Choulex, Meinier, Corsier, Collonge-Bellerive dan Vesenez. Judulnya sih desa, tapi 'desa' di sini kebanyakan adalah kawasan elit tempat orang kaya bermukim di dalam rumah besarnya yang dikelilingi pekarangan seluas hutan kecil dengan jendela yang memberikan pemandangan menakjubkan ke danau Leman. Kawasan elit! Saya yang ngos-ngosan menggenjot sepeda sibuk celingak celinguk kiri kanan, terpesona oleh mewahnya rumah para aristokrat atau makhluk maha kaya di Jenewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingan info: rumah kediaman resmi duta besar Indonesia di Jenewa terletak di salah satu kawasan elit ini lho. 'Bangga' rasanya menyadari 'kebesaran' dan 'kemegahan' negara saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengsaranya, kawasan elit ini di dataran tinggi, yang artinya setengah rute awal adalah tanjakan! Saya pun sibuk berkeluh kesah, menyemangati diri sambil meminta maaf ke kedua paha saya yang tersiksa sampai rasanya otot mau lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjakan pertama masih duduk di sadel, walaupun pinggul sudah ogal ogel dan pipi sudah kembang kempis. Istirahat setelah 5 menit di tengah-tengah tanjakan. Manu dengan sabar ikut berhenti, dan menyemangati untuk mencoba menyelesaikan tanjakan tahap pertama. Sambil menggerutu saya pun kembali ke posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goes satu, goes dua, goes tiga...lho kok nggak mau maju ini, kok malah mundur? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang melintas pun tersenyum simpul, termasuk sepasang kakek nenek yang masih dengan megahnya menggenjot sepedanya. Yang tersenyum pun semakin banyak ketika akhirnya Manu dengan sabar turun dari sepedanya dan mendorong saya dari belakang, agar saya bisa balik naik sepeda di tengah-tengah tanjakan nista itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dohhh...masak kalah sama mereka yang umurnya sudah pasti lebih dari 50 tahun sih?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Picture%201%20166.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Picture%201%20166.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Untung tak disangka, sepuluh menit kemudian kami pun sampai ke tempat peristirahatan pertama. Tempat peristirahatan semacam ini ternyata memang disiapkan setiap beberapa kilometer, untuk memastikan tidak ada yang pingsan kehausan atau karena kurang darah karena lupa sarapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disajikan macam-macam. Kebanyakan memang tipe makanan untuk sarapan, seperti roti, pancake, teh dan kopi. Tapi ada juga stand yang didirikan oleh para petani yang kebetulan daerahnya dilewati jalur Slow Up. Stand mereka lebih meriah, karena diisi berbagai produk lahan masing-masing. Ada keju, madu, buah-buahan dan bahkan sarapan berat seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bacon&lt;/span&gt; (yang kalau mau diartikan irisan tipis daging babi yang digoreng kering di minyak atau mentega). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu stand yang saya lewati dengan penuh sesal, stand para pemadam kebakaran! Aduh...padahal yang melayani para pemadam kebakaran yang gagah, tampan dan menawan (malah mungkin ada para model kalender &lt;span style="font-style:italic;"&gt;torse nue&lt;/span&gt; yang selalu membuat saya mengucapkan puji syukur akan ciptaan Tuhan). Lagian salah sih, kok masang stand di belokan jalan menurun. Mau balik lagi malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia memang sangat teroganisir. Setiap beberapa ratus meter ada petugas dengan overall warna oranye yang bertugas menunjukkan jalan. Tahu begini nggak perlu peta, cukup mengikuti telunjuk si petugas oranye. Ambulan pun siap sedia. Di awal salah satu turunan terjal, seorang petugas memberikan saran untuk hati-hati karena ada kecelakaan di bawah. Dan benar, sampai di akhir turunan, saya pun melihat mobil ambulan dengan tim kesehatan yang sedang sibuk mengobati pengendara sepeda yang lupa mengerem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya sibuk mengambil poto sebuah gereja di salah satu desa, saya pun menyempatkan diri beramah-tamah dengan salah satu petugas oranye ini. Si petugas dengan sendu melaporkan kalau mereka itu bertugas dari awal sampai akhir acara (9 pagi sampai 5 sore). Saya langsung jatuh kasihan, karena mereka harus berdiri berjam-jam hanya dengan dibekali sebuah sandwich dan sebotol air minum. Lebih kasihan lagi ketika tahu bahwa para petugas itu adalah para pemuda yang menolak untuk melaksanakan wajib militer dan memilih program perlindungan sosial (bakti sosial tepatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115585010213153945?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115585010213153945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115585010213153945&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115585010213153945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115585010213153945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/genjot-potret-dan-merenung-1.html' title='Genjot, potret, dan merenung (1)'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115522969157865443</id><published>2006-08-10T18:39:00.000+02:00</published><updated>2006-08-11T09:50:25.060+02:00</updated><title type='text'>Kesopanan: tameng rasisme</title><content type='html'>Banyak teman dan keluarga saya di Indonesia yang sangat kuatir akan masalah rasisme ketika saya memutuskan untuk tinggal di negeri orang. Biasa, mereka sudah termakan berbagai bahasan media tentang masyarakat Eropa (kulit putih) yang kadang kurang obyektif atau berat sebelah. Atau sudah menelan bulat-bulat "apa kata orang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saya pulang, saya pun ditodong bertubi-tubi untuk cerita tentang bagaimana orang Swiss memperlakukan saya, seorang Indonesia yang berkulit coklat, berambut hitam, dan bermata hitam. Sepertinya mereka semangat sekali untuk membuktikan kepercayaan mereka kalau para kulit putih itu pasti rasis terhadap orang Asia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sewaktu saya dengan polosnya bilang kalau saya tidak pernah menerima perlakuan rasis dari orang Swiss atau orang Eropa lainnya selama saya tinggal di Jenewa, penonton langsung kecewa. Ada yang ngotot dan menuduh saya bohong, mau menutup-nutupi "kejelekan" masyarakat di sini; tapi ada juga yang akhirnya mau berusaha menerima kenyataan kalau yang namanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;prejudice&lt;/span&gt; itu tidak selamanya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, sewaktu saya ngobrol-ngobrol dengan orang Indonesia di sini, kebanyakan dari mereka mengeluhkan sikap dingin dan ketus para orang Swiss. Bahkan ada yang mengutarakan "kerasisan" orang Swiss terhadap orang Asia. Kembali, sewaktu saya dengan manisnya bilang kalau masyarakat Swiss memperlakukan saya lebih baik dari masyarakat di Indonesia, semua langsung terpana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lima tahun pengamatan saya sehari-hari, akhirnya saya mendapatkan satu kesimpulan. Itu karena orang Asia enggan mau mencoba untuk berbahasa perancis dengan baik dan benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Halah...kayak EYD aja.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah. Kalau di Indonesia tidak ber-EYD tidak akan mengurangi kesopanan. Kalau di sini, salah menggunakan konjugasi atau kata ganti persona bisa sangat kurang ajar. Banyak dari orang Indonesia yang saya kenal di sini malas mau untuk belajar etika berbahasa. Alasan mereka, yang penting saya bisa dimengerti, masalah kehalusan atau kekromo-inggilan bahasa itu urusan buncit. Dan kadang di antara mereka, kesadaran akan etika bahasa tidak ada, karena tidak ada yang memberi tahu, atau karena tidak diberitahu di tempat les bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini saya sangat beruntung. Saya memiliki ibu mertua yang dididik secara keras sewaktu kecil dan memiliki standar kesopanan yang sangat tinggi. Ada yang bilang kolot dan konservatif, kalau saya bilang elegan dan berkelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mertua saya ini yang melatih saya berbagai penuturan salam, terima kasih, permohonan maaf, dan berbagai etika bahasa dalam berbicara dengan orang asing. Suami saya pun sangat memperhatikan masalah penuturan, dan tidak segan-segan mengkoreksi saya dalam setiap penuturan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya pun terlatih untuk mengucapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bonjour&lt;/span&gt; dalam memulai pembicaraan dengan pegawai toko, sopir bis, atau siapa pun yang akan bertukar cakap dengan saya. Dalam membeli, meminta informasi, memilih barang, memesan makanan di restoran atau memberikan pilihan saya selalu menggunakan kalimat conditional &lt;span style="font-style:italic;"&gt;J'aimerais&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Je voudrais&lt;/span&gt;. Tidak pernah saya menggunakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Je veux ça&lt;/span&gt; yang sebenarnya adalah penuturan kasar yang kalau di Indonesiakan hampir sama rendahnya dengan preman yang menodong uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu menerima tawaran pun, seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Désirez-vous de la sauce?"&lt;/span&gt; (Anda mau sausnya?) Saya pun tidak hanya menjawab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oui&lt;/span&gt; tapi dibumbuhi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Si c'est possible. Merci beaucoup."&lt;/span&gt; (Bila memungkinkan, terima kasih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu, tidak lupa saya mengucapkan,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; bon après midi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;, bonne journée&lt;/span&gt;, dan berbagai ucapan kesopanan penutup lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal kecil seperti ini yang sering diabaikan oleh para mereka yang bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;francophone&lt;/span&gt;. Saya sering mendengar orang Asia atau Amerika di depan saya yang memberikan perintah singkat ke pelayan atau penjual. Saya yang mendengarnya sampai malu hati. Sewaktu saya makan siang dengan teman Indonesia saya yang tinggal di sini tiga tahun lebih dulu dari saya, pelayan kafetaria jauh lebih ramah ke saya dan mau meladeni semua permintaan saya. Teman saya itu sampai tercengang mendengar "kefasihan" saya dalam berbahasa Perancis. Terdengar lebih fasih, karena saya tidak hanya memesan makanan, tapi juga berbincang pendek, bertukar phrase kesopanan yang sangat wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat pendek kesopanan tidak akan hanya membuat orang asing lebih ramah, tapi juga membuktikan keinginan kita untuk menghormati budaya tempat kita menumpang. Etika bahasa juga membantu saya untuk lebih berintegrasi dalam sebuah masyarakat asing, karena saya mau berusaha berbahasa seperti mereka. Yang lain pun jadi tidak enggan untuk melupakan "warna kulit" saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi, saya sering mendapat croissant gratis atau diskon kecil-kecilan. ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kalau sempat, baca juga &lt;a href="http://bla3x.blogspot.com/2005/04/tolong-permisi-dan-terima-kasih.html"&gt;ini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115522969157865443?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115522969157865443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115522969157865443&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115522969157865443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115522969157865443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/kesopanan-tameng-rasisme.html' title='Kesopanan: tameng rasisme'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115512032498648097</id><published>2006-08-09T12:12:00.000+02:00</published><updated>2006-08-09T12:45:25.666+02:00</updated><title type='text'>Pipit = serius = membosankan</title><content type='html'>"Pit, kok blog eloe kayak kuliah sih? Serius amat! Nggak berubah nih, pelajaran melulu." Begitu komentar singkat salah satu teman baik saya sewaktu akhirnya berhasil saya paksa membaca tulisan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang dikomentarin cuma bisa merenung dan menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi jalan-jalan ngalor ngidul sambil jelalatan melihat-lihat etalase toko yang dipenuhi dengan tulisan "Soldes" (diskon, red), teman Philipina saya tiba-tiba nyeletuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Look at that suit, it's so you." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It's so you, serious, sharp and formal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi inget waktu teman baik saya di Indonesia dengan semangat menunjuk sepasang sepatu formal, sederhana, dengan hak rendah sambil bilang, "Pit, sepatu eloe banget nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga sewaktu mama sibuk memilih model kebaya untuk saya untuk acara keluarga, pacar adik saya yang kebetulan nganterin dengan santainya bilang, "Kak pipit dipilihin model yang paling sederhana aja. Kan dia senengnya yang sederhana."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Duh..kenapa sih saya selalu diidentikkan dengan kata serius, pelajaran, formal, sederhana (plain would be in English) yang sangat bisa diinterpretasikan sebagai membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang pengen bisa dianggap sebagai seorang yang lucu, menghibur, menyenangkan, dan santai. Pengen bisa menulis hal yang ringan-ringan, atau menjalani hidup dengan ringan. Pengen bisa berada di kerumunan tanpa secara otomatis melihat sekeliling dengan kaca mata pengamat sosial. Atau sekedar mengikuti arus tanpa mempertanyakan darimana arus itu berasal dan mengapa saya harus mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi salah saya juga mungkin. Saya memilih untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang tidak bisa dibilang santai atau menghibur, tapi lebih ke kegiatan yang membuat saya lebih tahu dan akhirnya membuat kepala saya semakin penuh dengan berbagai pertanyaan dan renungan yang tidak ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, musim panas seperti ini bukannya diisi dengan liburan, saya malah sibuk berpartisipasi di &lt;a href="http://www.ohchr.org/english/issues/indigenous/groups/groups-01.htm"&gt;acara diskusi&lt;/a&gt; yang membuat saya jadi tahu tentang berbagai masalah yang menimpa para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;indigenous people&lt;/span&gt; di seluruh dunia. Hari-hari saya pun dipenuhi dengan membaca berbagai laporan tentang penderitaan dan penyiksaan yang dialami oleh para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;indigenous people&lt;/span&gt;, mendengarkan permohonan mereka akan penghormatan hak asasi mereka, atau melihat gambar dan rekaman yang membuat siapa pun mempertanyakan kemanakah rasa kemanusiaan telah terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...mungkin sudah nasib saya untuk menjadi orang yang membosankan dan menjalani hidup yang 'membosankan' pula.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115512032498648097?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115512032498648097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115512032498648097&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115512032498648097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115512032498648097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/08/pipit-serius-membosankan.html' title='Pipit = serius = membosankan'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115403464903749043</id><published>2006-07-27T22:27:00.000+02:00</published><updated>2006-07-27T23:10:49.270+02:00</updated><title type='text'>Acara Kantor: Keharusan atau Kebetulan?</title><content type='html'>Selesai bikin presentasi gombal untuk kantor magang gombal otak langsung gatal untuk berkeluh-kesah. Keluh kesah tentang pekerjaan tentunya. Tentang acara 'pesiar' kantor di luar kantor yang menunjukkan bahwa dunia kantor sebenarnya bukan hanya tempat cari duit, tapi kadang lebih sebagai suatu ruang sosialisasi. Acara pesiar kantor yang saya maksud macam-macam, dari makan malam bersama, pesta kecil-kecilan atau pesiar betulan dengan berbagai anak buah dan bos besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dari dulu sering melihat atau terpaksa terlibat dalam acara kantor orang tua saya. Waktu itu sebal rasanya melihat orang tua saya memakai 'topeng' kantornya dan saya harus memakai 'topeng' anak bapak x dan ibu y. Sebal melihat orang tua saya berbicara nunduk-nunduk dengan bos besarnya, dan kikuk melihat para bawahan orang tua saya berbicara dengan sangat hati-hati kepada saya, anak atasan. Saya ingat berbagai omelan yang saya utarakan dalam perjalanan pulang atau protes diam saya setelah menyaksikan bagaimana pekerjaan, status, dan jabatan telah membentuk 'kepalsuan' hubungan antar manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa biasanya cuma menghela napas dan meminta saya untuk mengerti. Mama biasanya langsung mengeluarkan kalimat ajaib "Memang sudah seharusnya begitu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang setengah kaki saya sudah menapak di dunia kerja, dan ternyata saya 'disodorkan' berbagai undangan acara kantor. Percaya tidak percaya, tidak satu pun yang saya terima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lima tahun saya bekerja di kampus, tidak satu pun undangan makan resmi (a.k.a gratis) yang saya terima. Terlepas dari kenyataan bahwa biasanya makan malam tersebut diadakan di restoran bintang empat yang tidak akan mampu teraih oleh dompet tipis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman sekantor saya pernah bertanya kenapa saya tidak mau datang. Bukannya undangan tersebut adalah suatu 'keistimewaan' dan harusnya saya bangga diundang.  Bukannya kita harus bangga bisa makan 'bersama' dengan direktur kampus yang cuma kita lihat setahun sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung menjawab, undangan tersebut bukan diajukan ke Mme. Y tapi ke Mme. Assistante. Undangan fungsional yang sangat tidak personal. Naif sekali kalau kita merasa diundang oleh si direktur, yang diundang adalah fungsi asisten saya, bukan diri saya pribadi. Lagipula, saya tidak pernah merasa nyaman atau tertarik untuk berada di tengah-tengah mereka yang punya kekuasaan dan kemewahan. Untuk apa hadir ke acara makan malam ketika saya tahu saya tidak bisa 'istirahat mental' selama acara. Bagaimana lidah bisa menikmati hidangan mahal di atas meja ketika kepala sibuk mengingatkan diri untuk bersikap dan terdengar pintar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu langsung terhenyak mendengar jawaban sinis saya. Dia pun cuma bisa senyum kikuk, komentar "kita lain sekali ya" dan kemudian diam seribu bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, capek rasanya kalau saya harus kembali meladeni para teman kerja saya yang sibuk membanggakan dirinya. Sudah harus mendengarkan bualan mereka di jam kantor, masak kuping saya masih harus diisi dengan berbagai omong kosong? Kecacatan saya dalam menjual diri kemudian membuat saya selalu menjadi obyek penderita. Dan saya rasa, diamnya saya membuat mereka yang sibuk membual untuk mengobati krisis kepercayaan dirinya menjadi semangat. Tidak mustahil rasanya kalau dalam hati mereka bersyukur ada yang lebih tidak 'berprestasi' dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas begini pasti banyak sekali undangan acara kantor. Di sini musim panas selalu diisi dengan acara panggang-memanggang. Saya pun sudah menolak 4 undangan kantor untuk panggang-memanggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas rasanya harus menjelaskan setiap saat kalau saya harus memanggang daging bekal dari rumah sebelum yang lain memulai memanggang berbagai bentuk daging babi. Malas rasanya menerima pandangan aneh dari mereka ketika saya panik melihat ada garpu orang lain yang menyentuh ayam panggangan saya. Malas juga rasanya ketika yang lain selalu bertanya, kok saya tidak menyiapkan bumbu sate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa kali ini saya jadi merenungi sifat anti-sosial saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah pada akhirnya saya harus membayar sikap sosial saya ini? Apakah sikap 'anti-sosial' saya akan menghambat saya dalam 'naik tangga'? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Will a nice work be shadowed by a nice presence?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah susahnya saya. Saya ingin menaiki tangga seperti yang lainnya, tapi lebih suka berada di balik layar. Saya tidak keberatan bergadang seminggu untuk mengerjakan proyek profesor, tapi sangat keberatan kalau harus menghadiri makan malam bersama dengan para anggota loka karya yang saya organisir. Saya lebih senang mempersiapkan berbagai acara kampus, tapi paling enggan kalau harus maju ke depan dan menyambut para tamu acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ambisius yang enggan berbangga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap tertinggal dan terinjak? Mungkin. Tapi saya tetap enggan memasang 'topeng sosial' yang sudah sering saya caci.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115403464903749043?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115403464903749043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115403464903749043&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115403464903749043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115403464903749043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/07/acara-kantor-keharusan-atau-kebetulan.html' title='Acara Kantor: Keharusan atau Kebetulan?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115384338377545676</id><published>2006-07-25T17:34:00.000+02:00</published><updated>2006-07-25T18:05:52.943+02:00</updated><title type='text'>Me...me...and me</title><content type='html'>Being dragged by my dear friend &lt;a href="http://www.silver-lines.blogspot.com"&gt;silverlines&lt;/a&gt;, now it is my turn to reveal something about myself (like it has not done enough already?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four jobs I've had:&lt;br /&gt;1. Research assistant&lt;br /&gt;2. Personal assistant&lt;br /&gt;3. Event organizer&lt;br /&gt;4. Graduate student (it is a job, trust me!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four movies that could watch hundreds of times:&lt;br /&gt;1. All Kurozawa and Mifune samurai movies&lt;br /&gt;2. Lord of the Ring&lt;br /&gt;3. You've Got Mail&lt;br /&gt;4. All Miyazaki animation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four places I've lived in:&lt;br /&gt;1. Bandarlampung (it is a small city at the very south of Sumatra, nothing fancy but it has tons of delicious sea food)&lt;br /&gt;2. Bandung &lt;br /&gt;3. Fribourg &lt;br /&gt;4. Geneva&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four TV shows I love or loved:&lt;br /&gt;1. Friends&lt;br /&gt;2. CSI&lt;br /&gt;3. Monk&lt;br /&gt;4. BBC house, garden, and anthique related shows&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four places I have been on vacation:&lt;br /&gt;1. West Sumatra&lt;br /&gt;2. Jambi &lt;br /&gt;3. Bandung&lt;br /&gt;4. Roma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four favorite dishes (why only four?):&lt;br /&gt;1. Meatballs&lt;br /&gt;2. Pempek&lt;br /&gt;3. Sayur pare made by my mom&lt;br /&gt;4. Pizza Truli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four websites I visit daily:&lt;br /&gt;1. BBC&lt;br /&gt;2. Yahoo Mail&lt;br /&gt;3. Google &lt;br /&gt;4. My blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four places I'd rather be right now:&lt;br /&gt;1. Near the lake&lt;br /&gt;2. Bandung in 1997-1999&lt;br /&gt;3. My parent's house&lt;br /&gt;4. City park&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am supposed to tag other people along, but I cannot make up my mind. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*going back to email ping-pong with one of the most annoying person I know*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why did I involve myself into this unpaid slavery and humiliation?!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*Unpaid intern realizes her big mistake* &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115384338377545676?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115384338377545676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115384338377545676&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115384338377545676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115384338377545676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/07/memeand-me.html' title='Me...me...and me'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-115105643416093995</id><published>2006-06-23T11:53:00.000+02:00</published><updated>2006-06-25T12:23:18.850+02:00</updated><title type='text'>Women and choice</title><content type='html'>After reading &lt;a href="http://afsyuhud.blogspot.com/2006/06/blogger-indonesia-of-week-44-rieke.html"&gt;this&lt;/a&gt; I can no longer avoid my blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My questions, what SHOULD a woman do and become? Why do we need to justify our choice? What is the ideal life and role for woman? Who should set that ideal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be honest, I was not dumbfounded that a woman choose to be a mother, I was more dumbfounded by the implicit idealization of woman. The writing I cite (if this is the correct term for grabbing one's article and putting it on my own page) here, in my opinion, tries to provide a counter-argument for 'feminist' woman-independence arguments. The article &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;proudly&lt;/span&gt; argues that a-could-be-carrier-woman CAN choose to be a mother. Be it. But shouldn't the availability of choices is more important than what a person choose? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is my problem. The author idealization of woman somehow presents (or should I say imposes?) an idea what a woman should choose? Don't you think we should ask the women on what they want to do in their lives, instead of deciding for them on what they SHOULD do?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, is a well educated woman doomed to be a carrier woman? I never and will never say that! But does our society ever try to listen to the voice of women who are felling 'trapped' in their family routine and wish to accomplish something outside the family boundary and shadow? I don't think so. Everybody has the right to choose, although not all of us have choices. I don't think the could-be-carrier-women who choose to be mothers and housewives should be regarded more highly than the should-be-mothers-and-housewives who choose to be carrier women, and vice versa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But I do think that all women should have all choices available to them. Most importantly, we should not need to justify ourselves when we choose to break away from the social expectation of woman. Social expectation is constructed throughout time, it is not and will never be in the absolut term.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, give us education, give us opportunities, give us choices, give us freedom, give us voices and congratulate us for WHATEVER choice we will make in our life. Self-fulfilment choices are not comparable to one another, as 'the self' should never be compared and judged! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is woman independence that scary and unwanted?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the way, I wonder if you are aware that one main policy advice to solve rural chronic poverty and population pressure is actually women education? Women empowerement is not an empty slogan, it is actually the remedy of many social problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As my favorite advertisement says &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Derrière les progrès, il y a toujours des femmes"&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-115105643416093995?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/115105643416093995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=115105643416093995&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115105643416093995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/115105643416093995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/06/women-and-choice_23.html' title='Women and choice'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114811973210627843</id><published>2006-05-20T11:36:00.000+02:00</published><updated>2006-05-20T12:10:34.093+02:00</updated><title type='text'>Retreat</title><content type='html'>Another identity crisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I never thought that writing can be such an identity revealing  (searching?) activity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are what you write?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just feeling numb and disoriented. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A professor said one day, you write to an audience. Choose your audience and then you got your writing orientation. But when the audience is a frentic mind with no interest nor being an interesting one, the retrospective reinterpretation can be a painful path to take.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, let me retrieve myself behind my so darling defensive wall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114811973210627843?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114811973210627843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114811973210627843&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114811973210627843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114811973210627843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/retreat.html' title='Retreat'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114751895288400629</id><published>2006-05-13T12:18:00.000+02:00</published><updated>2006-05-15T13:15:14.770+02:00</updated><title type='text'>Bahasa saya, bahasa kamu</title><content type='html'>Ah..seandainya ada mesin waktu doraemon, saya ingin kembali ke tahun 1996. Kembali ke bangku kayu butut salah satu ruangan di ITB dan melingkari jurusan sastra dengan pensil 2B di lembaran formulir UMPTN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama saya berkutat dengan dunia ilmu politik dan memandangi berbagai tulisan tentang pemerintahan dan masyarakat, saya pun semakin jatuh cinta dengan yang namanya bahasa, atau politik bahasa untuk lebih tepatnya. Kalau yang cinta akan teori kelompok, pasti cinta juga akan politik bahasa. Politik bahasa karena bahasa diciptakan oleh manusia, untuk kepentingan manusia, dan berkembang bersama dengan manusia pencipta dan penggunanya. Terlepas dari ketidakaliman saya, saya percaya yang namanya ciptaaan pasti dilandasi oleh suatu ideologi atau tujuan. Begitu juga dengan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang manusiawi tidak terlepas dari kebutuhan manusia akan sosialisasi dan ambisi manusia untuk menguasai yang lain. Sayang, terlalu sering bahasa dianggap sebagai normalitas, dan penggunaannya pun dilakukan tanpa dasar pemahaman. Bahasa dianggap sebagai paket kehidupan yang memang sudah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dari sononya&lt;/span&gt;, dan ketika suatu bahasa disisipi oleh ideologi tertentu, para penggunanya pun menelan si ideologi tanpa mengecap terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh...sok intelek loe pit. Kok cara orang ngomong aja eloe pikirin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya lah gue pikirin, wong cara orang ngomong itu sangat mencerminkan identitas orang tersebut. Baik identitas yang memang melekat, yang ingin diperlihatkan, ataupun identitas yang sedang dia bangun." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu abstrak? Saya kasih contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti kuping anda sekalian yang tinggal di kota besar sudah terlalu sering mendengar kalimat yang setengah ular setengah belut. Setengah Indonesia setengah Inggris. Para novel remaja ringan pun dipenuhi oleh gaya berbicara seperti ini. Fenomena apakah ini? Fenomena proses pemelukan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua? Saya pesimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling pantas disebut fenomena pembentukan suatu kelompok yang menganggap dirinya pintar dan berpengalaman dalam bertutur bahasa. Kan keren kalau menyisipkan kata-kata dalam bahasa Inggris, biar kelihatan cerdas dan lebih tahu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh..ideologi pembentukan citra diri metropolitan. Muak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yang setengah-setengah lebih buruk daripada tidak tahu sama sekali. Setengah ini setengah itu, tapi tidak ada yang dikuasai sama sekali. Untuk apa? Yang ada malah kerancuan. Pembelajaran bahasa pun jadi kacau, pengucapan tidak diindahkan, dan otak pun tidak mau diajak untuk total dalam berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada yang protes, kritik ini sudah saya ajukan ke diri saya sendiri. Dan saya sudah merasakan ruginya berbahasa setengah-setengah, atau kalau pakai istilahnya macchi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;franco-anglais&lt;/span&gt;. Kemampuan bahasa Inggris saya menurun dengan drastis, dan kadang kosa kata bahasa Inggris lenyap tergantikan oleh bahasa Perancis. Malu sekali rasanya ketika saya harus berbicara dalam bahasa Inggris dan menyisipkan kosa kata dalam bahasa Perancis. Sedangkan kemampuan bahasa Perancis saya sama sekali tidak bisa dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih parah lagi, sikap pembentukan kelompok menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris memberikan citra buruk bagi bahasa Inggris sendiri. Bahasa Inggris dicap sebagai bahasanya orang sok, bahasa mereka yang seperti kacang lupa sama kulitnya. Kacau sudah. Bahasa pun tercoreng oleh penggunaannya yang dilandasi ideologi tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu anggota milis yang saya ikuti pernah melakukan percobaan sosiologi. Dia dan temannya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris di dalam sebuah angkutan kota. Ternyata benar firasat dia, penumpang lain pun kemudian berkomentar sinis akan percakapan bahasa Inggris mereka. Dengan menggunakan bahasa daerah minang, penumpang lain mengutuk si anggota milis ini sebagai orang yang sok. Untungnya (?) si peneliti nekat ini bisa berbahasa minang, jadi mengertilah dia akan kutukan penumpang lainnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap antipati seperti ini yang menarik bagi saya. Kenapa sampai berbahasa Inggris diidentikkan dengan keangkuhan? Ya jawabannya ada pada penggunaannya yang asal-asalan tadi. Pertanyaan kedua, kenapa masyarakat awam sampai antipati dengan bahasa Inggris? Jawabannya, ketidaktahuan akan berbuah ketakutan, ketakutan akan berbuah kebencian. Jadi bahasa Inggris dibenci karena masyarakat umum tidak bisa mengerti bahasa Inggris, sedangkan pengetahuan bahasa Inggris &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dianggap&lt;/span&gt; hanya bisa didapat oleh mereka yang memiliki uang dan sarana, para kaum elit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi struktural yang membatasi penyebaran bahasa Inggris dan penggunaannya dalam proses pembentukan kelompok para orang keren, membuat bahasa Inggris dibenci tapi ingin dimiliki. Kontradiksi, yang menurut saya, patut disadari oleh mereka pembenci dan pencinta bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan heran ketika saya langsung melotot dan tersinggung berat ketika salah satu teman saya berkomentar, &lt;br /&gt;"Ah Pit, eloe lama di Eropa kok cara ngomongnya masih sama aja sih?" (tidak kebarat-kebaratan, red)&lt;br /&gt;Langsung saya semprot,&lt;br /&gt;"Eloe mau gue ngomong pake bahasa Perancis apa?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cinta bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, jadi saya pun mencoba menghargai keduanya dalam penuturan saya. Lagipula saya menolak untuk dimasukkan ke dalam golongan para gadis/wanita metropolitan, saya tetap sadar kalau saya adalah orang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi halnya dengan mereka yang mencampuradukkan kedua bahasa karena sudah terbiasa. Ini lebih gawat lagi, apalagi kalau mereka mengidap kebiasaan ini secara tidak sadar. Sadarkah mereka kalau kebiasaan ini bisa membiasakan otak mereka untuk rancu dalam berbahasa? Kerancuan yang kadang menghambat perkembangan kemampuan berbahasa mereka. Bagaimana tidak menghambat kalau otak tidak dipaksa untuk meletakkan kosa kata dalam bahasa yang berbeda ke dalam kotak yang berbeda pula? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ambil contoh diri saya sendiri saja. Pernah sekali waktu saya belajar bahasa Perancis dan Jepang secara aktif (les, red) dalam waktu yang bersamaan, dan tetap belajar bahasa Inggris secara rutin. Saya sering merasa kebingungan ketika harus mengingat kosa kata dalam setiap bahasa. Otak saya terkadang letih dan menjadi 'lupa'. Nah, kalau saya menyerah pada keletihan saya dan hanya menggunakan kosa kata yang terlintas di kepala, kosa kata yang saat itu 'terlupakan' akan benar-benar terkubur dan terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mereka yang sadar dalam berbicara campur-campur sih masih mendingan, namanya kan pilihan. Walau pilihannya tersebut didasarkan oleh satu ideologi yang berbeda (dari keren-kerenan), tetap saja mereka akan dipandang termasuk ke dalam kelompok tersebut. Pada akhirnya kemungkinan akan ikut memperburuk citra bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ada mereka yang sudah lama melanglang buana dan menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Kosa kata Indonesia pun sudah usang dan terlupakan. Mereka kadang lebih nyaman berbicara dalam bahasa Inggris atau campur aduk seperti gado-gado. Saya tidak patut protes dalam hal ini. Tapi sayangnya tercorengnya bahasa Inggris pun membuat mereka ikut tercoreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generalisasi. Pilihan mudah dalam memahami mereka yang berbeda. Hasilnya, ya tetap saja pelabelan sebuah kelompok, terlepas apakah pelabelan itu tepat sasaran atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan salah, tidak hanya bahasa Inggris yang ditempeli ideologi tertentu dalam penggunaannya. Bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Latin juga sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114751895288400629?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114751895288400629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114751895288400629&amp;isPopup=true' title='26 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114751895288400629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114751895288400629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/bahasa-saya-bahasa-kamu.html' title='Bahasa saya, bahasa kamu'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114747082151383724</id><published>2006-05-12T22:20:00.000+02:00</published><updated>2006-05-13T09:55:34.203+02:00</updated><title type='text'>Kebaya vs kimono</title><content type='html'>Ada yang tahu persamaannya kebaya dan kimono? Iya, sama-sama pakaian tradisional. Tapi ada yang lebih dari itu, kedua pakaian ini sama-sama terkondisikan oleh gaya hidup tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide iseng ini diawali ketika saya jalan sambil keserimpet kain di trotoar arah ke kantor. Melihat cuaca yang cerah, merasakan suhu yang hangat, saya pun jadi kecentilan, ingin tampil beda. Apalagi yang bisa membuat saya tampil lebih beda dari memakai kain batik tradisional bikinan kampung halaman? Keputusan saya untuk berbatik ria kemudian membuat saya sadar bahwa gaya hidup saya di sini tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;batik-friendly&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang pernah harus memakai kebaya dan kain batik pasti tahu kalau kain batik biasanya dililitkan memeluk tubuh dengan erat. Dan biasanya si pemakai batik hanya diberi sedikit ruang gerak untuk berjalan. Jadi, pemakaian batik akan mengharuskan gaya berjalan yang cukup khas. Langkah yang pendek-pendek dan goyang pinggul yang serasi dengan langkah pendek tersebut. Kalau enggak, pasti kelihatannya ndut-ndutan. Berjalan cepat pun tidak mustahil bagi para pemakai batik kawakan, tapi bagi yang amatir seperti saya, biasanya saya akan langsung mengangkat sarung batik yang saya pakai sampai ke dengkul untuk kemudian melangkah dengan langkah biasa yang leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang terjadi pada diri saya di hari yang cerah itu. Terlambat seperti biasanya, saya pun terseok-seok menggeret kaki saya yang terbalut rok panjang batik. Saya pun jadinya berlari-lari kecil ndut-ndutan. Untung tidak ada orang Indonesia di sekitar, kalau tidak, lakonan saya itu pasti sudah mengundang senyum simpul. Gaya hidup saya di sini, yang mengharuskan saya untuk berjalan cepat atau malah lari-lari tidak memungkinkan bagi saya untuk tampil cantik dengan berbatik ria setiap hari. Saya pun kemudian menggerutu, pantas saja wanita jawa kalau berjalan sangat pelan dan gemulai, wong pakaiannya mengharuskan mereka untuk begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah dumelan saya, tiba-tiba saya berpikir, adakah hubungan antara gaya hidup dan norma dengan pakaian? Lalu saya pun teringat akan berbagai film samurai yang saya tonton berulang-ulang. Di dalam film-film tersebut, para wanita kelas menengah ke atas (istri para samurai dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;daimyo&lt;/span&gt;) gerakannya sangat pelan dan tidak bersuara. Para pelayan pun seakan menari dalam lenggokan langkahnya yang dibatasi oleh kimono mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya bertanya sama Xaf (pengagum dan pengamat budaya Jepang) kenapa para wanita tersebut sangat lamban, Xaf pun dengan sabar menerangkan bahwa di jaman tersebut, gerakan cepat dari seorang perempuan berkelas menandakan ketidak sopanan perempuan tersebut. Para wanita tersebut, dalam setiap gerakannya, memang diwajibkan untuk mempertahankan keanggunannya dengan kelembutan dan pelannya gerakan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menarik lagi, kimono yang mereka kenakan juga mendukung norma sosial ini. Salah satu reportase tentang kehidupan para geisha (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;not the Memoirs of Geisha that does not cover well the life of geisha&lt;/span&gt;) menerangkan bagaimana bentuk kimono dan lapisannya mengkondisikan cara berjalan wanita. Ditambah dengan selop tradisional mereka yang sangat antik. Para wanita pun terkondisikan untuk berjalan dengan kaki yang mengarah agak ke dalam, dengan langkah pendek dimana satu kaki ditempatkan di depan kaki yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kimono pun sama dengan kebaya, dimana para pemakainya harus berjalan dan bergerak dengan cara tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi berpikir kembali, kalau kimono mendukung norma sosial dimana kelambatan gerak seorang wanita dianggap sebagai bentuk keanggunan, apakah bentuk khas kebaya dan kain batik juga mendukung suatu norma?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mengingat satu sifat perempuan Indonesia yang sangat didambakan, lemah-gemulai, tidak mustahil rasanya kalau kebaya mencerminkan suatu norma. Paling tidak norma tentang bagaimana seorang perempuan harus bersikap dan bertindak, dan bagaimana keanggunan dan sensualitas seorang perempuan dapat ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan orang Jawa, dan saya bukan seorang antropolog yang meneliti hal ini, tapi dari pengamatan saya sehari-hari saya menemukan berbagai norma dan arti yang tersembunyi dari sehelai kebaya dan kain batik. Gerakan lemah gemulai teratur dalam tarian bedoyo menunjukkan bagaimana &lt;span style="font-style:italic;"&gt;subtlety&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Merci macchi pour la correction)&lt;/span&gt; dalam bergerak dipandang penting dan indah bagi mereka yang mampu menghargai seni kewanitaan ini (para kaum terpelajar atau aristokrat). Pemakaian kebaya dan batik yang menghargai dan memperindah lekuk tubuh seorang perempuan memperlihatkan suatu bentuk penghargaan akan sensualitas perempuan. Kebaya dan batik seakan berseru, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I am a woman and I am proud of it&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaya dan kimono pun tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tapi juga sebagai pembentuk identitas seorang perempuan dengan mengkondisikan bagaimana seorang perempuan patut melangkah dan bergerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu lagi persamaan antara kebaya dan kimono, sama-sama hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Susan B. Hanley dalam bukunya yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Everyday Things in Premodern Japan: The Hidden Legacy of Material Culture&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kosode&lt;/span&gt; atau yang lebih dikenal dengan kimono, sangat hemat karena tidak ada satu cm pun kain yang terbuang. Kimono terbuat dari kain panjang segi empat yang dipotong dalam 8 bagian segi empat. Berhubung kimono tidak memerlukan kancing dan bentuknya yang sangat sederhana dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;loose&lt;/span&gt;, kimono bisa disesuaikan dengan badan si pemakai. Jadi kimono pun bisa dipakai bergantian oleh beberapa orang, tinggal menyesuaikan eratnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;obi&lt;/span&gt;, ikatan pinggang. Hal ini tidak sama dengan pakaian a la Eropa yang dijahit untuk dan disesuaikan dengan satu orang saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kimono pun bisa dihibahkan dengan gampang, karena tidak ada jahitan yang perlu dibongkar. Walau panjang kimono biasanya disesuaikan dengan tinggi si pemilik, biasanya kimono menyisakan panjang kain yang bisa dilipat di balik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;obi&lt;/span&gt; untuk memberikan panjang yang pas bagi si pemakainya. Ini artinya, orang yang tingginya tidak sama bisa memakai kimono yang sama, cukup menyesuaikan lipatan kainnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dong dengan kain batik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain batik bisa dihibahkan dari generasi ke generasi. Ukurannya yang standar sangat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;user-friendly&lt;/span&gt;, yang penting tinggal bagaimana melipat dan mengencangkan stagen. Kebaya tradisional pun jauh lebih gampang untuk dipermak daripada jas. Tinggal menambah lipitan pinggang atau memotong lengan kebaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang tidak kalau budaya berpakaian yang cerdas ini dilarang oleh suatu undang-undang yang tidak bisa membedakan antara feminitas (sensualitas) dan vulgaritas? Menurut saya, tidak adil bila sensualitas perempuan dikambing hitamkan, ketika masyarakat sendirilah yang menuntut dan membentuk sensualitas tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114747082151383724?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114747082151383724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114747082151383724&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114747082151383724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114747082151383724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/kebaya-vs-kimono.html' title='Kebaya vs kimono'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114745299379016310</id><published>2006-05-12T18:00:00.000+02:00</published><updated>2006-05-13T00:05:57.803+02:00</updated><title type='text'>Kursusan bahasa Inggris: Simple Present Tense</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt; simple present tense vs present continuous tense?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i read a book vs i am reading a book?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;simple present tense kebanyakan dipake untuk sesuatu yang habitual, menjelaskan kemampuan juga menjelaskan sesuatu yang dilakukan berulang-ulang *halah itu habitual yak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;intinya gini waktu bilang i read a book you don't necessarily bilang gitu pas lagi pegang bukunya. bisa aja pas ngobrol kamu sedang gendong koala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lain kalo bilang i am reading a book. you are actually holding the book or the book is in front of you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kayaknya gitu sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*koala dua laporan! selesai!*&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjabaran dari &lt;a href="http://nananias.com"&gt;nana&lt;/a&gt;, si sarjana bahasa Inggris, sangat cerdas dalam menjelaskan kapan kita harus menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt;. Hadiahnya entar ya 'na. Nabung dulu...hihihi. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kebiasaan&lt;/span&gt; (kalau pakai istilahnya nana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;habitual&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kita punya suatu kebiasaan, membaca, mandi, makan, dsb, kita bisa memakai simple present tense. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanya untuk hal kebiasaan pun artinya harus memakai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt;. Caranya, gampang. Tinggal tanya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"what do you do ...?" &lt;/span&gt;Isi titik-titiknya dengan keterangan waktu. Keterangan waktu dalam hal ini bukan cuma jam dan hari, tapi juga suatu keadaan. Ketika kita mau bertanya kebiasaan seseorang di waktu senggang tinggal gunakan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"what do you do in your leasure time?"&lt;/span&gt;, dijawab, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I read&lt;/span&gt;. Sama juga ketika kita mau bertanya apa yang dilakukan oleh seseorang tersebut di kondisi tertentu kita bisa menggunakan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"what do you do when you are bored?"&lt;/span&gt;, dijawab, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I watch a movie&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, arti &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;present tense&lt;/span&gt; dalam hal ini bukan terbatas pada suatu saat dimana si pembicara menerangkan suatu kegiatan (saat ketika sedang berbicara) tapi lebih dalam rentang waktu yang luas, saat ini dalam suatu kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti dari rentang waktu luas dalam menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt; bisa dilihat dari pola pertanyaan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;what do you do?&lt;/span&gt; Ada yang ingat apa arti lain dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"what do you do?"&lt;/span&gt; Kalimat tanya ini bisa digunakan untuk menanyakan profesi atau pekerjaan seseorang. Jadi, jawaban &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I write books&lt;/span&gt; atas pertanyaan seperti ini lebih mengacu kepada suatu profesi, penulis. Menghadapi pertanyaan seperti ini, kita juga bisa menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I am a writer&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini artinya, simple present tense memiliki dua pola:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Subject + do/does + verb + object&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Contoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I study Political Science&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Subject + to be + noun / adjective&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Contoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I am a graduate student&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti lain dari kalimat yang menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt; adalah menggambarkan suatu kemampuan atau kegemaran. Kalimat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I dance waltz&lt;/span&gt; sebagai jawaban pertanyaan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do you dance?&lt;/span&gt; adalah salah satu contoh dimana simple present tense digunakan untuk menggambarkan kemampuan seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya ketika  simple present tense digunakan untuk menjawab pertanyaan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"what do you like?"&lt;/span&gt;. Jawaban &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I like to swim, read and cook&lt;/span&gt;*, adalah contoh dimana &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt; digunakan untuk menggambarkan kegemaran seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana membedakannya dong? Ya tinggal dilihat apakah kalimat tersebut adalah jawaban dari suatu pertanyaan. Kalau iya, tinggal lihat kalimat tanyanya,  kita pun jadi mengerti fungsi kata kerja yang digunakan, apakah sebagai kebiasaan, kemampuan, profesi, atau kegemaran. Yang paling penting, dari uraian saya di atas, kita sekarang tahu, pertanyaan yang bagaimana yang harus dijawab dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;* Perhatian, attention, warning!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;like&lt;/span&gt; harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena kata ini memiliki dua arti yang sangat berbeda ketika digunakan dalam bentuk yang berbeda pula. Tergantung pemakaiannya, kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;like&lt;/span&gt; bisa berarti suka atau seperti. Kerancuan kata ini sering jadi bahan olok-olok dan sudah menjadi salah satu humor langganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang tidak mau kena ejek, ingat-ingat saja peraturan di bawah ini.&lt;br /&gt;- Untuk menggambarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kegemaran&lt;/span&gt; gunakan: &lt;br /&gt;   Subject + do + like + object (ingat, dalam kalimat positif, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;do&lt;/span&gt; tidak     dicantumkan)&lt;br /&gt;  Contoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I like big dogs&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Untuk menggambarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kemiripan&lt;/span&gt; gunakan:&lt;br /&gt;  Subject + to be + like + object&lt;br /&gt;  Contoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;She is like my sister&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114745299379016310?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114745299379016310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114745299379016310&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114745299379016310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114745299379016310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/kursusan-bahasa-inggris-simple-present_12.html' title='Kursusan bahasa Inggris: Simple Present Tense'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114700308441274200</id><published>2006-05-07T12:48:00.000+02:00</published><updated>2006-05-12T19:53:24.830+02:00</updated><title type='text'>Monsieur Ibrahim et les fleurs du Coran from Eric-Emmanuel Schmitt</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;English title: Monsieur Ibrahim and the flowers of the Koran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reading the book in its original version, French, I was mesmerized by the simplicity yet philosophicaly deep writing style of the author. The use of daily words in contemplating daily reality depicts superbly how poetic and ironic human life is.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This book is about a friendship of Moïse, a 13 year old rejected boy, with Monsieur Ibrahim, an old and solitude widow who runs a grocery store. Moïse who has been denied love and affection from his father, hates everything about life. On the contrary, Monsieur Ibrahim, in his solitude and sorrow, embraces a simple philosophy of life that allows him to appreciate everything in his simple life. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After a sequence of conversation exchange spread out in a year, one sentence each time they met, the two of them then become befriended and found refuge in each other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the story unfold, one can easily be captured by simple yet witty understandings on social life structure presented in the book. Like this short paragraph when Momo and Monsieur Ibrahim went to &lt;span style="font-style:italic;"&gt;le joli Paris, celui des touristes&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;- C'est fou, Monsieur Ibrahim, comme les vitrines de riches sont pauvres. Y a rien là-dedans.&lt;br /&gt;- C'est ça, le luxe, Momo, rien dans la vitrine, rien dans le magasin, tous dans le prix.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- It's crazy Monsieur Ibrahim, how the window diplays in the expensive shops are so poor, there is nothing inside.&lt;br /&gt;- That's luxury Momo, nothing in the window, nothing in the shop, everything is in the price.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;- Ca doit être chouette d'habiter Paris.&lt;br /&gt;- Mais tu habites Paris, Momo.&lt;br /&gt;- Non, moi j'habite rue bleue.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- It must be nice to live in Paris.&lt;br /&gt;- But you live in Paris, Momo.&lt;br /&gt;- No, I live in rue Bleue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This short and comic paragraph, succeed in portraying the inequality between "Paris" and the suburb. (Remember the recent event of banlieu riot?) Don't be fooled with the glamour of Parisienne life (or any big city life), behind it often exists a miserable social inequality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monsieur Ibrahim's wisdom does not stop there. Do you know how garbage bins show the wealth of its neighbourhood?  Do you know how your nose can tell you so many things about religion? Do you know the best way to travel? Do you know the simplest way to be happy? If you wish to know, you can learn it from Monsieur Ibrahim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You may also learn to love a woman, as Monsieur Ibrahim says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pour un homme normal ... ta beauté, c'est celle que tu trouves à la femme.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114700308441274200?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114700308441274200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114700308441274200&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114700308441274200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114700308441274200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/monsieur-ibrahim-et-les-fleurs-du.html' title='Monsieur Ibrahim et les fleurs du Coran from Eric-Emmanuel Schmitt'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114694886269720615</id><published>2006-05-06T21:37:00.000+02:00</published><updated>2006-05-10T12:22:37.553+02:00</updated><title type='text'>Surat resmi? Dalam bahasa Inggris? Tolong...</title><content type='html'>Siapa yang pernah berteriak seperti itu di dalam hati, harap angkat tangan. *Angkat tangan tinggi-tinggi dengan semangat*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis surat memang tidak gampang. Terserah mau surat cinta, surat ijin tidak masuk sekolah karena sakit, surat ijin lainnya, dan sebagainya. Saya ingat bagaimana kedua orang tua saya selalu mengerutkan dahi ketika harus menulis surat ijin bagi anak-anaknya. Bagi mereka yang suka meremehkan profesi sekretaris harus cepat berbenah diri. Surat menyurat memerlukan keahlian tersendiri, terlebih lagi untuk membuat surat resmi. Tugas sekretaris tidaklah segampang yang terlihat di permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat resmi memiliki format tertentu, dan menuntut penggunaan kalimat-kalimat khusus seperti kalimat pengantar dan penutup, kalimat ucapan terima kasih, permintaan maaf, permohonan, dan berbagai jenis kalimat lainnya. Dalam bahasa ibu saja saya sering kewalahan, bayangkan menderitanya saya sewaktu diharuskan menulis surat dalam bahasa Inggris. Prosesnya pasti dipenuhi menulis, hapus, menulis, hapus, kucek-kucek kepala, lihat-lihat contoh surat, kucek-kucek kepala, periksa kamus, dan akhirnya berteriak....&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I hate writing letters! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata saudara-saudari, saya bukan satu-satunya yang harus bergulat dengan kata dan kalimat setiap harus menulis surat. Beberapa teman kantor saya pun sering mengeluh ketika harus mengirim surat resmi dan penting kepada orang yang tidak dikenal. Biasanya kita pun jadi bergotong royong, menulis surat bersama-sama. Saling memberikan saran kalimat yang harus digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pentingkah bagi kita untuk bisa menulis surat formal dan sopan dalam bahasa Inggris? Jawaban saya: Ya, sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pekerjaan saya selama ini, saya sering harus berurusan dengan surat menyurat. Tidak hanya harus menulis, tapi juga harus menerima dan membalas berbagai surat. Saya terus terang cukup terkaget-kaget ketika menerima surat yang tidak bisa dikatakan resmi, terlebih lagi sopan. Padahal sudah jelas kalau tujuan surat-menyurat tersebut dalam suatu kerangka yang cukup formal. Biasanya yang menulis kurang indah ini adalah mereka yang bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;English speaker&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;hello there..my name is X,from Y. And i&lt;br /&gt;have some question about Z:&lt;br /&gt;1. When is the deadline?&lt;br /&gt;2. What's the criteria?&lt;br /&gt;3. can u send me the application form?&lt;br /&gt;that's all for now,thanks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya membaca surat ini, saya langsung geleng-geleng kepala. Ini sih namanya menjatuhkan citra diri sendiri. Mungkin maksudnya ingin menulis surat yang singkat dan padat, tapi yang ada malah tidak karuan. Saya pun hanya bisa mengelus dada dan membalas dengan sopan berbagai pertanyaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang ngeles, "ahh..wajar dong. Kan namanya bukan bahasa Ibu"; bukan berarti penulis tersebut tidak bisa dan perlu berusaha untuk bisa menulis dengan baik dan benar. Untung yang membaca orangnya seperti saya, bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;English speaker&lt;/span&gt; dan baik hati (hayyah). Kalau yang membaca adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;English speaker&lt;/span&gt; yang sangat perhatian akan detil, surat seperti ini bisa langsung dihapus dan tidak akan dibalas. Si penulis pun jadi kehilangan kesempatan untuk melamar apapun itu yang ingin dia ajukan lamaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, kali ini saya mau coba berbagi ilmu yang saya dapat dari penderitaan saya selama 2 tahun lebih dalam surat menyurat. Siapa tahu bisa bermanfaat. Kita tidak pernah tahu kapan kita harus menulis surat resmi dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tips pertama:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selalu gunakan kalimat pengantar dan salam penutup yang baku.&lt;br /&gt;Untuk kalimat pengantar cukup gunakan: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dear Mr.&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dear Ms.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila kita tidak tahu siapa yang akan menerima surat tersebut, misalnya mengirim ke alamat email umum suatu instansi bisa gunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dear Madam, Dear Sir,&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk salam penutup, saya paling senang menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sincerely yours,&lt;/span&gt;, sangat sopan. Tapi kalau misalnya surat menyuratnya sudah berlangsung berulang kali dengan orang yang sama, kita bisa menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Best regards,&lt;/span&gt; atau cukup dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Best,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tips kedua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa untuk berterima kasih.&lt;br /&gt;Kalimat penutup andalan saya biasanya: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I am looking forward to hearing from you. Thank you very much.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini memberitahukan kepada sang penerima surat kalau kita menunggu jawabannya atas permintaan kita di surat, dan kita mengucapkan banyak terima kasih sebelumnya. Sangat sopan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengucapkan terima kasih secara umum, bisa juga menggunakan: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Thank you for your kind help.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tips ketiga:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memohonlah dengan sopan.&lt;br /&gt;Caranya gampang sekali, cukup dengan menggunakan kalimat berpola: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I will be very grateful if you could ... &lt;/span&gt; Tinggal isi titik-titiknya dengan permohonan yang ingin diajukan. Sopan dan langsung ke tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh dari koala manolo (lihat komentar), &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;If you could ..., it would be most appreciated. &lt;/span&gt;Isi titik-titiknya dengan permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tips keempat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah menggunakan singkatan, simbol pengganti kata, atau kata yang bernuansa non-formal.&lt;br /&gt;Jadi tulislah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;it is&lt;/span&gt;, bukan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;it's&lt;/span&gt;. Jangan menulis a la ABG dengan menggunakan 4 untuk &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;for&lt;/span&gt; (saya pernah menerima surat yang menggunakan ini. Hampir jatuh dari kursi rasanya) atau u untuk &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;you&lt;/span&gt;; dan tulislah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;thank you&lt;/span&gt; dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tips kelima:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulislah nama dengan lengkap. Kalau bisa cantumkan afiliasi di bawah nama. Tanda tangan seperti ini sangat penting, apalagi bila kita menulis surat dalam kapasitas kita sebagai pegawai kantor tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tips keenam:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gunakan huruf besar dan tanda baca dengan baik. Huruf kecil memang imut, tapi dalam surat lebih penting menunjukkan kemampuan kita dalam menggunakan tata bahasa dengan baik dan benar, daripada menunjukkan jiwa kita yang mencintai keunikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menggunakan tips singkat ini kepada contoh surat di atas, maka hasilnya menjadi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dear Madam, Dear Sir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am X, from Y. I am interested in Z. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will be very grateful if you could inform me the application deadline and eligibility. I wonder if you could also send me the application form. If it is not possible, I will be thankful if you could inform me where I can find it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am looking forward to hearing from you. Thank you very much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerely yours,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Berbeda bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap singkat dan padat, tapi lebih formal dan sopan. Sang penerima surat pun akan merasa tertuntut untuk menjawab surat seperti ini. Paling tidak dalam kasus saya. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Contoh surat dari &lt;a href="http://nananias.com"&gt;nana&lt;/a&gt; a.k.a Koala Manolo di bawah juga cantik sekali. Patut untuk disimpan dalam arsip dan digunakan setiap saat ketika dibutuhkan. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114694886269720615?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114694886269720615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114694886269720615&amp;isPopup=true' title='30 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114694886269720615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114694886269720615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/surat-resmi-dalam-bahasa-inggris.html' title='Surat resmi? Dalam bahasa Inggris? Tolong...'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>30</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114667854927213709</id><published>2006-05-03T19:39:00.000+02:00</published><updated>2006-05-04T08:30:27.876+02:00</updated><title type='text'>Dream on</title><content type='html'>Last night I had a dream. A dream seeing myself writing a book about a story, with me as character, spectator, and creator; while having the story happening around me.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I still can see the images inside my head now (yup...I am one of those unfortunate people who can remember their dreams in detail) and can see how one can make interesting story out of it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Should I write it down now? Or should I let it to fade away?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is it a sign that one day I can actually fulfil my old time dream?  To be a writer of a story that doesn't have 'thesis sign' all over the place. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Or is it just another sign that I shouldn't eat too many cookies before sleeping nor read too many novels at the same time? :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114667854927213709?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114667854927213709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114667854927213709&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114667854927213709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114667854927213709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/dream-on.html' title='Dream on'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114658371487304355</id><published>2006-05-02T16:53:00.000+02:00</published><updated>2006-05-03T10:43:04.683+02:00</updated><title type='text'>Comments : Inside Man</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/movie.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/movie.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Two words (thanks to &lt;a href="http://reno.overworker.com/"&gt;reno&lt;/a&gt; for the correction) to desribe this movie: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;excellent entertainment&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Having &lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0120768/"&gt;The Negotiator&lt;/a&gt; in mind, I was happily surprised with the movie. If you are waiting for a gloomy, hard story depicting "serious" negotiation between the good guys and the bad guys, you'd be as surprised as I was. It's a thriller indeed. It's about negotiation, true, but with side-kicks and black humour. The combination of thriller and comedy is refreshing. This thriller does not only make your heart throbbing all the way through the movie, it also makes you laugh and whisper: "that's a good one". It's like paying one ticket to watch two movies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;indeed&lt;/span&gt;, a bargain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapid rhythm combines with short flash-back and side stories keeps you awake and attentive. Skilled performances from all important characters and witty dialogues do not allow your mind to wander away, even for a second. Sarcastic humour, play on words, and reference-ladden remarks successfully show the irony of the hostage situation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you enjoy seeing rough-talking polices challenge sharp and composed criminals, while having a kicking-ass lady to boss around, you'd definitely enjoy the movie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shall I put a grade on this one? 5.5 out of 6!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114658371487304355?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114658371487304355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114658371487304355&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114658371487304355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114658371487304355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/05/comments-inside-man.html' title='Comments : Inside Man'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114570324017438242</id><published>2006-04-22T12:11:00.000+02:00</published><updated>2006-04-22T13:03:03.046+02:00</updated><title type='text'>Pelajaran English Grammar 1</title><content type='html'>Kali ini saya mau membahas beberapa struktur kalimat dalam bahasa Inggris yang menggunakan verb+ing. Tense yang menggunakan verb+ing ini ada 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Present continous tense : Subyek + to be + verb (ing)&lt;br /&gt;- Past continous tense : Subyek + was/were + verb (ing)&lt;br /&gt;- Past perfect continous tense : Subyek + has/have + been + verb (ing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat ada satu kata yang menunjukkan keistimewaan penggunaan verb (ing), yaitu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;continous&lt;/span&gt;. Artinya, kalimat yang menggunakan verb (ing) ingin menceritakan atau menggambarkan sebuah kegiatan yang kontinu, yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu secara berkelanjutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Present continous tense&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Digunakan untuk kegiatan yang SEDANG dilakukan, yang dimulainya baru saja, dan masih akan dilakukan untuk beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I am eating lunch.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa diartikan, lagi makan siang dan di piring nasinya masih setengah. Jadi masih akan menghabiskan makan siang dalam beberapa menit lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau ceritanya pas malam-malam, tinggal dirubah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I was eating lunch at Japanese restaurant&lt;/span&gt;, misalnya.  Ini artinya makan siangnya kan berlangsung untuk suatu periode waktu di masa lampau, dari jam 1-2 siang misalnya. Pada waktu makan siang pun kegiatan menyantap hidangan berlangsung secara kontinu bukan? Tidak menyuap nasi terus lari ke ruangan sebelah untuk membalas email, terus balik lagi ke ruang makan, menyuap nasi, kemudian disambung dengan mengantarkan teman ke pasar, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;past continous tense&lt;/span&gt; digunakan untuk menggambarkan suatu kegiatan yang berlangsung secara kontinu pada waktu lampau. Kegiatan tersebut dimulai di masa lampau (jam 1 siang) dan berakhir di masa lampau juga (jam 2 siang) dalam sebuah durasi waktu (satu jam, dari jam 1 - 2 siang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bedanya apa dong dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;past perfect continous tense&lt;/span&gt;? Bedanya terletak pada selesai tidaknya kegiatan yang digambarkan. Jadi kalau dikau makan siang dari jam 1 siang, dan ketika jam 3 siang masih juga menyantap berbagai hidangan, ketika ditanya sedang apa harusnya menjawab: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I have been eating lunch since 1 pm.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dimulai di masa lampau (setahun, sebulan, sehari, sejam yang lalu, atau bentuk waktu yang lain) dan masih sedang dilaksanakan saat ini, diceritakan dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;past perfect continous tense&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus gampang untuk mengingat harus menggunakan tense yang mana:&lt;br /&gt;1. Untuk semua kegiatan yang berlangsung secara kontinu, selalu gunakan continous tense.&lt;br /&gt;2. Untuk kegiatan yang sedang dilakukan detik ketika kalimat diutarakan atau ditulis, gunakan present continous tense. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ex&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I am typing a writing on English Grammar&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;3. Untuk kegiatan yang dimulai di masa lampau, lihat apakah kegiatan tersebut sudah selesai atau belum. Kalau sudah selesai, gunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;past continous tense&lt;/span&gt;; kalau belum, gunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;past perfect continous tense&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ex 1.&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I was sleeping last night from 10 pm to 8 am&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ex 2.&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I have been trying to post something new on my blog since this morning&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau pacar tiba-tiba bilang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I was loving you&lt;/span&gt;, jangan keburu seneng dulu. Itu artinya cintanya udah selesai. Yang ingin beromantis ria juga jadi harus lebih berhati-hati dalam merayu. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I have been loving you &lt;/span&gt; berbeda jauh dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I was loving you. &lt;/span&gt;:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang pertanyaannya, apa bedanya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;simple present tense&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;present continous tense&lt;/span&gt;? Kan sama-sama ingin menceritakan kegiatan yang berlangsung pada saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa menjawab dengan memberikan penjelasan yang mantap, tulisannya akan saya pamer di sini, atau silahkan dibahas di blog yang bersangkutan. Kan jadinya seperti berbalas pantun. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114570324017438242?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114570324017438242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114570324017438242&amp;isPopup=true' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114570324017438242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114570324017438242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/04/pelajaran-english-grammar-1.html' title='Pelajaran English Grammar 1'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114562362548994426</id><published>2006-04-21T14:35:00.000+02:00</published><updated>2006-04-22T08:49:29.150+02:00</updated><title type='text'>Adu kerbau</title><content type='html'>Perayaan 17 Agustus di sebuah kantor perwakilan pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang muda saling memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Papa saya kepala/direktur/pejabat .... Papa kamu siapa? Kerja dimana?&lt;br /&gt;B: Orang tua saya hanya pegawai negeri biasa di sebuah kota kecil.&lt;br /&gt;A: Oh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Interpretation: &lt;br /&gt;A: I am part of the elite group. Are you my kind of people?&lt;br /&gt;B: I am a commoner. Shall I call you the fruit of my shire, you little stuck-up boy?)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Kamu kuliah di [sini] bukan?&lt;br /&gt;B: Oh bukan, saya kuliah di [sana].&lt;br /&gt;A: (dengan nada sedikit kaget) wah, kok bisa? Bukannya susah sekali untuk bisa diterima di [sana]?&lt;br /&gt;B: Yang bener? Saya rasa tidak tuh. Saya langsung diterima tanpa ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Interpretation:&lt;br /&gt;A: Do you go to this fancy and expensive school where my kind of people go?&lt;br /&gt;B: Nope, I am in the prestigious school that refuses your kind of people's applications)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arogansi dibalas dengan arogansi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkinkah suatu hari saya akan menjadi seorang yang bisa berlapang dada? Menerima tamparan di pipi kiri malah memberikan pipi kanan. Bukannya langsung menendang dengan sekuat tenaga, berusaha menyakiti yang lain lebih daripada sakit yang saya derita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114562362548994426?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114562362548994426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114562362548994426&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114562362548994426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114562362548994426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/04/adu-kerbau.html' title='Adu kerbau'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114517547791548210</id><published>2006-04-16T09:26:00.000+02:00</published><updated>2006-05-10T12:20:07.226+02:00</updated><title type='text'>Masih tentang perbedaan</title><content type='html'>Menyambung tentang berbagai perbedaan kecil tapi unik antara Jenewa dan Indonesia, saya akan kembali berceloteh tentang pengamatan kehidupan saya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Intimacy and privacy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maaf judulnya tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Susah sekali menemukan kata terjemahannya yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunjukan keintiman pasangan bercinta dan konsep privasi cukup berbeda antara masyarakat Jenewa dan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota asal saya, paling tidak waktu jaman saya mulai pacaran, yang pacaran seperti orang musuhan. Jangankan mau berciuman seperti yang lagi dihebohkan para media tentang pergeseran budaya anak muda (saya pikir media membuat suatu generalisasi yang berdasarkan gaya hidup metropolitan), pegangan tangan di tempat umum saja kadang malunya setengah mati. Belum kalau papasan dengan tetangga, langsung deh pura-pura nggak kenal sama si kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan Xaf pun kalau jalan bersama di Indonesia tidak gelendotan seperti koala liat pohon. Pegangan tangan pun kami jarang. Saya pikir, toh saya bisa jalan sendiri tanpa dipandu sama orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, para muda-mudi yang dimabuk cinta benar-benar serasa dunia milik berdua. Berciuman seperti perangko nempel di amplop di tempat umum bukan sesuatu yang tabu. Anehnya tidak ada yang melototi atau mengamati kegiatan tersebut. Kebanyakan mereka yang di sekitarnya hanya memalingkan wajah atau sama sekali tidak perduli akan keintiman pasangan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, ketika melihat sebuah pasangan yang lagi dimabuk cinta, teman saya yang orang Amerika pernah berkomentar lirih, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"gee, get a room". &lt;/span&gt;Kata teman saya ini, masyarakat Eropa termasuk lebih liberal dalam masalah ekspresi keintiman dari Amerika, dan dia datang dari New York!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jengah rasanya melihat pasangan umur 13 tahun berangkulan dan berciuman di halte bis dan selama perjalanan di dalam bis. Tapi ketidakperdulian orang di sekitarnya, menurut saya mungkin merupakan suatu bentuk penghormatan privasi pasangan yang dimabuk cinta tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang pernah baca &lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/0440178002/qid=1147256207/sr=2-1/ref=pd_bbs_b_2_1/104-5395852-9953528?s=books&amp;v=glance&amp;n=283155"&gt;Shogun&lt;/a&gt; mungkin ingat ketika Mariko menjelaskan kepada Blackthorne tentang bagaimana setiap orang di Jepang terlatih untuk membangun dinding mental dimana dia akan bisa bersembunyi dari apa yang terjadi di sekitarnya. Mariko menjelaskan, rumah tradisional Jepang dimana setiap ruangan hanya dipisahkan oleh dinding kertas tipis, membuat privasi setiap individu tidak dapat mengandalkan perlindungan sebuah dinding atau pintu. Untuk itu, dengan tidak mengindahkan berbagai suara di sekitar yang berasal entah dari mereka yang berdiskusi, bertengkar atau bercinta, privasi yang lain pun akan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat penuturan di buku ini, saya pun jadi berkesimpulan, memalingkan pandangan dari mereka yang sedang berciuman adalah suatu bentuk penghargaan privasi mereka. Jadi bukan cuek dan tidak perduli, tapi justru menghargai kebebasan pribadi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It's their life, just look the other way around&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai privasi, ada satu lagi yang cukup unik dari masyarakat di sini. Keunikan yang bersumber dari kenyataan bahwa kebanyakan orang tinggal di apartemen, dimana kadang pembicaraan tetangga bisa terdengar sampai di rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di apartemen, atau rumah susun, artinya kita harus sadar bahwa privasi kita terbatas dan kita harus selalu menghargai privasi yang lain. Ini berarti kita tidak bisa berbicara terlalu keras, terutama pada saat-saat sepi (tengah malam atau dini hari), dan tidak bisa lari-lari atau melakukan kegiatan apapun yang akan menimbulkan keributan di dalam apartemen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan Indonesia. Di Indonesia, tinggal di dalam rumah yang kadang dikelilingi oleh taman, membuat penghuninya merasa terisolasi dari dunia luar. Pembicaraan keras, suara televisi yang memekakkan telinga, atau suara radio yang cuap-cuap hampir selalu memenuhi suasana. Pertengkaran pun bisa dilakukan dengan selesa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, privasi di Indonesia pun dibatasi oleh tetangga, tapi dalam bentuk lain. Bukan dalam bentuk pasif seperti halnya di Jenewa, kenyataan bahwa tetangga bisa mendengar pembicaraan kita, tapi dalam bentuk aktif di mana tetangga bisa datang dan pergi dengan cukup bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak di daerah tempat tinggal orang tua saya, para tetangga saling mengunjungi kapan saja. Pintu belakang tidak pernah terkunci dan siapa pun bisa masuk dan berkunjung. Tinggal mengucapkan salam, kemudian masuk. Entah hanya sekedar ingin ngobrol atau meminjam sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya tidak pernah merasa terganggu, tapi semenjak saya tinggal di sini, saya pun sadar kalau saya tidak punya 'privasi' seperti halnya di apartemen. Saya harus selalu 'siap' kalau ada tetangga yang mampir, dan kadang tidur siang saya di sofa kesayangan di depan TV pun terusik oleh kunjungan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di apartemen, kami benar-benar sendiri. Pintu apartemen adalah suatu perlindungan privasi akan gangguan 'aktif' atas privasi kami. Hampir tidak ada kunjungan dadakan, saya pun bisa dengan santai membiarkan rumah apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Percakapan dan batas personal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering tidak merasa kalau kadang dalam percakapan santai dengan seseorang yang tidak kita kenal atau tidak begitu dekat, kadang muncul berbagai pertanyaan yang sifatnya sangat pribadi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, sering sekali saya merasa seperti itu. Menanyakan status, agama, sudah punya anak atau belum, umur, menikah kapan, nama orang tua, alat kontrasepsi yang saya pakai, dsb, adalah pertanyaan yang bagi saya adalah suatu yang personal. Tapi entah kenapa, masyarakat di Indonesia merasa berhak tahu dan merasa pertanyaan tersebut wajar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kewajaran mempertanyakan hal-hal yang bersifat pribadi seperti ini sebenarnya adalah bentuk kontrol sosial. Bagaimana bukan kontrol sosial, ketika semua tahu saya pergi dengan siapa, kemana, siapa keluarga pacar/suami saya, siapa orang tua saya, dsb?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, banyak pertanyaan 'biasa' di Indonesia menjadi pertanyaan yang tabu. Jangan sekali-sekali menanyakan apa agama teman ngobrol di bis atau kenapa pasangan asing di depan anda belum menikah. Yang ada anda akan menerima pandangan tajam menusuk dan komentar singkat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;it's none of your business&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dengan teman pun kadang ada berbagai pertanyaan yang tetap tidak pantas untuk diutarakan, kecuali bila teman tersebut yang memberi tahu dan kemudian mengajak berdiskusi. Terlepas dari pandangan kita bahwa teman tersebut ada masalah, kita tetap tidak bisa buka mulut kecuali kalau ditanya pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi, di sini tempat umum diartikan sebagai tempat dimana banyak orang asing di sekitar yang bisa secara sadar maupun tidak sadar menguping pembicaraan kita. Jadi berbicara pun hati-hati, tidak main bergosip panjang lebar dengan semangat seperti ibu-ibu di dalam angkot yang menceritakan skandal tetangganya. Bukan berarti gosip tidak ada ya, masih banyak kok mereka yang suka menggosip, tapi paling tidak frekuensinya jauh lebih sedikit dan tipenya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pembicaraan seperti si bapak A nyeleweng dengan perempuan B, atau si ibu A punya masalah kista dan lagi dioperasi agar bisa punya anak, atau anak si ibu C tidak naik kelas dan dicurigai terlibat narkoba di angkot!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pakaian tidur dan kesopanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di sini, pergi ke luar dan bertemu dengan orang lain dengan masih berpakaian pijama atau daster adalah sesuatu yang tidak sopan dan vulgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Xaf berkunjung ke Indonesia dan melihat banyak mereka yang sudah berpakaian pijama atau daster masih kular-kilir di jalan, dia langsung kaget dan merah padam menahan malu. Saya pun menjelaskan kalau di Indonesia, kita dibiasakan untuk memakai 'pakaian tidur' sehabis mandi sore. Tidak seperti di Jenewa, dimana pakaian tidur hanya digunakan sewaktu mau tidur. Sehabis bangun tidur pun, walaupun belum mandi, mereka di sini dibiasakan untuk memakai pakaian luar. Tidak langsung keluar kamar dengan hanya berlapiskan pijama. Makanya kita sering melihat di tipi-tipi para aktor memakai jubah mandi atau kamar ketika harus mengangkat telpon tengah malam. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mahalnya barang impor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya barang impor memang dimana-mana harganya mahal. Tapi kadang suka mengelus dada ketika melihat berbagai bahan makanan yang dulu bisa saya beli dengan ringan sekarang menjadi bahan mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Indonesia harga apel atau anggur impor membuat kita hanya bisa memakan buah-buah bergengsi tersebut satu kali sebulan, di sini harga mangga golek jauh lebih mahal dari apel atau anggur sekalipun. Lebih nelangsa lagi ketika saya melihat label harga buah pete. Satu baris (atau kalau memakai istilah mama saya, satu papan) pete harganya sampai Rp 30.000! Daun pisang yang kalau di Indonesia kadang bisa main tebas pakai golok, gratis, di sini dihargai Rp 70.000 untuk 3-4 lembarnya! Bayangkan, bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama saya yang otak bisnisnya langsung jalan sampai komentar, "Wah pit, kalau begitu mama pindah ke Jenewa aja ya. Mama tinggal jualan pete, daun pisang sama mangga, pasti jadi kaya kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gubrak*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114517547791548210?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114517547791548210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114517547791548210&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114517547791548210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114517547791548210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/04/masih-tentang-perbedaan_16.html' title='Masih tentang perbedaan'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114512687997506890</id><published>2006-04-15T18:06:00.000+02:00</published><updated>2006-04-22T13:38:26.506+02:00</updated><title type='text'>Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya</title><content type='html'>Yang dulu pernah disuruh menghapalkan berbagai pepatah untuk ujian bahasa Indonesia pasti kenal sama pepatah ini. Kali ini saya mau cerita tentang 'bedanya' hidup di rantau dan di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman saya di Indonesia waktu tahun-tahun pertama saya tinggal di sini selalu semangat 45 nanyain gimana rasanya hidup di Eropa. Saya rasa mereka semua punya bayangan tentang bagaimana hidup di Eropa, serba gemerlap, serba romantis, serba tak terduga, serba trendy, serba keren, serba funky, ya pokoknya serba modern (terlepas bagaimana seseorang mau mengartikan kata ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa mereka mau mendengar pengalaman saya tiba-tiba digoda oleh seorang pemuda tampan asing di sebuah kafe di tengah musik yang mendayu, dan kemudian tukeran nomor telpon atau janjian untuk makan malam romantis di sebuah restoran berkelas. Atau cerita menterengnya gedung-gedung di sini, serba canggihnya peralatan elektronik, dan bagaimana saya tercengang-cengang melihat gaya hidup masyarakat di sini yang dianggap berkelas, berbudaya, atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sophisticated.&lt;/span&gt; Atau mungkin mau mendengar cerita saya yang menikmati musik klasik di opera house atau berdiskusi tentang seni abad pertengahan di sebuah museum seni ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketika saya dengan entengnya menjawab kalau hidup di sini tidak ada bedanya (paling tidak menurut perasaan saya) dengan hidup saya di Indonesia, semua teman saya kecewa dan merengut. Waktu saya menerangkan kalau hidup saya dipenuhi dengan kunjungan ke perpustakaan dan membaca 10-12 jam, mereka pun langsung membalikkan badan sambil menggerutu, "yah..pit. Eloe nggak berubah, kutu buku. Payah. Sudah jauh-jauh ke Eropa malah tidak menikmati hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang benar, hidup di sini tidak ada bedanya dengan di Indonesia. Saya tetap harus ke kampus, tetap harus belanja kalau mau memasak, dan tetap harus naik angkutan umum kalau mau kemana pun. Masak sih saya harus bilang kalau saya di sini selalu menerima ajakan makan siang dari seorang pria bermata biru dan berambut pirang yang papasan di tengah jalan, atau clubbing setiap malam sampai jam 3 pagi dan kemudian diantar pulang oleh sang pangeran yang kebetulan bertubrukan di lantai dansa? Wong kenyataannya tidak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian, setelah menilik dan banyak melamun di bangku taman, saya pun menyadari berbagai perbedaan kecil yang mungkin cukup menarik antara Jenewa dan Indonesia. Sebelum saya bertutur panjang lebar, saya harus menjelaskan kalau saya ini berasal dari sebuah kota kecil di Sumatera. Kalau untuk standar teman-teman saya yang orang Jakarta atau Bandung, saya ini termasuk kampungan. Jadi perbandingan yang saya tampilkan di sini adalah perbandingan antara kehidupan seorang pelajar di Jenewa dan kehidupan seorang pemudi kelas menengah dari sebuah kota kecil di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pasar dan supermarket&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gengsi antara pergi ke pasar dan supermarket adalah satu perbedaan yang mencolok antara Jenewa dan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, bisa berbelanja ke pasar adalah sesuatu hal yang borjuis. Pasar di sini persis seperti halnya di kampung nenek saya, hanya seminggu sekali. Setiap kelurahan punya hari pasar masing-masing. Pada hari pasar, para petani pun datang dengan mobil box mereka untuk menjajakan produk mereka di bawah tenda-tenda berwarna-warni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya bilang borjuis? Karena di pasar, produknya sangat segar, kadang baru dipetik tadi pagi atau sehari sebelumnya. Ini berarti harganya pun menjadi jauh lebih mahal, karena produknya segar dan langsung dari ladang. Tidak seperti halnya supermarket yang produknya merupakan hasil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mass-production&lt;/span&gt; dan kadang harus menumpuk dahulu di gudang sebelum kemudian dikemas dan diantar ke setiap cabang supermarket. Dan kadang, hanya di pasar kita menemui produk bikinan rumah (artisanat) seperti selai, keju, roti, atau kue-kue khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia yang ada malah kebalikannya. Ibu-ibu pada bangga kalau belanja sambil mendorong kereta dorong di antara jajaran rak di supermarket. Terlepas dari kenyataan kalau kangkung dan sayuran hijau lainnya tampak layu, atau kalau harga jeruknya lebih mahal daripada yang dijual di bakul para mbok tukang buah di pasar tradisional. Belanja di pasar dianggap tidak bergengsi, jadi si embok saja yang disuruh pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya bercerita tentang perjalanan saya ke pasar selama saya di Indonesia, semua teman-teman saya di sini langsung iri. Iri ingin bisa punya pasar yang sebesar pasar utama kota saya, dan iri ingin bisa punya banyak pilihan bahan makanan yang segar tapi murah. Ironis kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Matahari dan wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan mendasar yang lain adalah cinta atau bencinya wanita akan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, para perempuan dituntut untuk membenci sinar terik matahari. Kulit sawo matang dipandang sebagai sesuatu yang tidak indah, dan produk pemutih pun membanjiri pasar dan toko-toko kosmetik. Kemana-mana kalau bisa bawa payung, untuk bersembunyi dari matahari. Kalau lupa bawa payung, berjalan pun minggir-minggir, berusaha untuk terus berada di bawah bayang-bayang atap gedung di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini malah kebalikannya. Matahari dipandang sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the beauty maker&lt;/span&gt;. Setiap ada sedikit sinar matahari dan kalau udara memungkinkan, para perempuan langsung menggulung lengan baju dan celana untuk kemudian duduk di tengah taman, berusaha sedapat mungkin membakar dirinya di bawah matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi inget temen saya orang Norwegia. Pernah suatu saat kita janjian ketemuan di sebuah taman kota siang-siang. Pas saya celingak celinguk nyariin temen saya itu, ternyata dia lagi duduk di bawah patung di bunderan jalan di samping taman. Ya amplop..ngapain dia di situ pikir saya. Bunderan jalan itu kalau di Jakarta bisa dianggap seperti bunderan HI. Bunderan yang dikelilingi oleh lalu lintas yang padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas akhirnya dia menghampiri saya yang sudah melambai-lambaikan tangan dengan semangat, dia pun menerangkan kalau dia lagi memenuhi jatah sinar mataharinya. Dia bilang, di negerinya yang kadang musim dingin sampai berbulan-bulan tidak ada matahari, setiap orang selalu berusaha mendapatkan vitamin dari matahari sebanyak mungkin ketika musim semi atau musim panas. Jadi setiap hari dia musti berusaha berjemur selama 30 menit - 1 jam, atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah, di sini kulit sawo matang seperti kulit saya ini dipandang ideal. Semua teman saya ingin punya kulit seperti saya. Sampai berjemur-jemur dan kulit mereka pun menjadi kemerah-merahan, berharap kulitnya bisa menjadi coklat gelap. Musim panas pun penuh dengan adegan berjemurnya para perempuan di taman kota, pantai, pinggir danau, atau di balkon apartemen masing-masing. Bahkan saya pernah menyaksikan perempuan muda bertelanjang dada berjemur di balkon apartemennya sambil membaca novel dengan santainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi lebih senang pulang kampung pada musim dingin. Sampai di Indonesia saya dibilang cantik karena kulit saya pucat kedinginan, dan sewaktu saya balik ke Jenewa teman-teman saya pun berkomentar tentang 'gelap'nya kulit saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keakraban dan homoseksualitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan berpikir aneh-aneh dulu ya. Yang saya maksudkan adalah perbedaan persepi tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;friendly gestures&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini-begini, kalau di Indonesia wajar kan kalau sepasang sahabat perempuan berjalan  bergandengan tangan atau sepasang pemuda berjalan berpelukan bahu. Kalau di sini hal-hal seperti itu tidak wajar. Keakraban antara sesama jenis seperti itu bisa disalah artikan sebagai homoseksualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu teman Amerika saya pernah tiba-tiba ngajak saya ngomong serius. Dia ada ganjalan mengenai teman Korea kami yang kamarnya di sebelah kamar saya waktu saya masih tinggal di asrama. Dia memperingatkan saya kalau dia curiga teman kami itu lesbian. Waktu saya tanya kenapa dia bisa berpikir seperti itu dia bilang karena teman kami itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;touchy&lt;/span&gt; sekali. Senang sekali merangkul lengan teman perempuannya termasuk dia dan saya. Jadi saya musti hati-hati begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang denger langsung ngakak guling-guling. Saya pun menjelaskan kalau di Asia merangkul lengan teman perempuan termasuk hal yang wajar. Berjalan bergandengan tangan pun sesuatu hal yang sangat wajar di Indonesia, jadi bukan tanda-tanda homoseksualitas. Dia baru manggut-manggut dan mengerti, dan berhenti khawatir kalau harus jalan bareng sama teman kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xaf juga pernah komentar sewaktu melihat pasangan pemuda di Indonesia berjalan beriringan bahu, dengan tangan merangkul bahu yang lain. Dia bilang, wah kalau di Eropa itu sudah langsung dicap homoseksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa antara sesama jenis tidak ada bahasa tubuh yang akrab seperti halnya di Indonesia. Bahasa tubuh antara teman berbeda sekali dengan di Indonesia. Tidak ada yang namanya gelendotan sambil cekikikan dengan teman-teman perempuan saya di sini. Cekikikan sih masih, tapi sewaktu main bersama kami berjalan sendiri-sendiri dengan jarak sedikit antara satu dan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan pasangan berbeda jenis. Keakraban pasangan yang dimabuk cinta tidak ditutup-tutupi, kadang cukup membuat saya jengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal yang satu ini akan saya bahas di posting berikutnya saja. Siapa tahu bakal ada yang penasaran dan jadi akan berkunjung kembali. Kesannya seperti sandiwara radio bersambung, hihihi...:)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;bersambung...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114512687997506890?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114512687997506890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114512687997506890&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114512687997506890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114512687997506890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/04/lain-ladang-lain-belalang-lain-lubuk.html' title='Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114435051220378350</id><published>2006-04-06T20:56:00.001+02:00</published><updated>2006-04-06T21:22:14.146+02:00</updated><title type='text'>To you</title><content type='html'>I never thought I could be as happy as I am now. &lt;br /&gt;I never thought I could find this kind of understanding that shields me from fear and tears. &lt;br /&gt;I never thought I could find arms strong enough to guide me through my anger, frustation, and doubt; the same arms so warm that sooth my pain and fill my soul with love and passion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank you for finding me my love, my best friend, my savior. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you Xavier. Happy birthday.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114435051220378350?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114435051220378350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114435051220378350&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114435051220378350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114435051220378350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/04/to-you_06.html' title='To you'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114425533020645514</id><published>2006-04-05T17:29:00.000+02:00</published><updated>2006-04-05T21:07:36.400+02:00</updated><title type='text'>ISA Conference: A note from a newcomer</title><content type='html'>Yup, finally I cannot escape from going-to-conference demand anymore. As PhD student and academic (the horror...), it is a normality to go to conferences. To mingle with other PhDs and promote your own research, not to mention to do lots of networking, as you never know whose name card might be useful to find a job after you have finished your too-long degree. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Exactly for these reasons I always refused to go to conference before. I never think myself or my research as important. How can I promote something when I don't think it deserves any advertisement whatsoever? Plus, I cannot see myself  going to complete strangers to shake their hands, exchange name cards, and try to survive the intellectual small talks. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mon Dieu!&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, I am in an environment where people believe bragging is an inevitable or even a necessary policy in climbing social ladder. I am tired of hearing how important a conference is and that I SHOULD go to one..bla bla bla. I am also tired of hearing people talking about how 'lucky' they are to be accepted in a conference. Acceptance in conference equals to high quality? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, let's go to conference, my little head says. Let's see what the fuss is all about.  So, next time when those people start, "The conference was..I met...how wonderful...how important it was...yada yada yada", I can finally say something that should shut their mouth forever about the subject!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, my paper's abstract was accepted, meaning that I can present a paper in International Studies Association (ISA) conference in San Diego. Hurray *cynical tone*. Plus, they picked me, randomly, to be the chair of panel. Another hurray *still cynical tone*. At least I can go to San Diego gratos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There, one advantage of being PhD student. You can go to conferences around the world for free. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I went to a conference, I come back and gain a new experience. Has ISA converted me to be an enthusiastic PhD student? I don't think so.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISA is one of the biggest (and probably important) conference for academics and students in international studies and social science. The program of the conference is more than 200 pages, full with tens of paralel panels every day. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There were a lot of people, students and professors alike. They come from universities around the world, USA, Europe, Africa, Australia and Asia. Unfortunately, I didn't find any Indonesian scholar there. Most of the Asian scholars come either from Japan or South Korea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The panels covered wide area of interest and research. While the annual theme for this year is North-South Relation and Gender, panels on foreign policy, environmental studies, political theory, security studies, and even intelligent studies provided too many choices that force you to sit down for hours to decide which panel you'll go to.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panels that really attracted my attention was the panels about women trafficking and sexual exploitation. It's a pity that I couldn't come to any, since I had to give priority to environmental studies. Anybody interested in a paper on that issue can contact me. I can download it from the conference website.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As predicted, there were many people, too many. It was interesting to see how you can tell who the people are just by looking at how they are standing or sitting. PhD students usually looked a little bit lost and prefer to stay in group of friends or at least with a friend. PhD graduates usually looked like busy-bees, talking with their established network or book publishers. Professors were relax, sometimes come with their family, enjoying the semi-holiday. Meanwhile, well-known professor would always have group of 'admirers' tailing him/her along the way. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was an intimidating crowd, I must say. If you didn't know anybody, you'd easily feel out of place. Like me...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, it's true that I came with Xaf. But then, being an independent woman, I refused to tail him along. Beside, his research interest is totally different than mine. We wouldn't be able to stay in a same panel without one of us feeling bored after 30 minutes. So, I did what I usually do, going solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was actually quite fun. I could care less about what people think of me, since nobody knew me. I could go to any panel, sat there, listened to others, without feeling obliged to make smart comments. I was still out of place, but then I was an audience of a show.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I guess the reason why some people looked so lost was because they focused so much on making other people listening to them, but not on listening to others. If the main objective was to meet people and do self-advertisement, being alone in such a crowd must be sad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All in all, it was a good experience. I could finally meet some of Xaf's friends, and enjoyed California sun. My panel went fine, I didn't say ummm too often, and didn't have shaky voice. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I did smile a lot, though. Old recipe never dies. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Did I do networking? Nope. I only exchanged card once, and it was a friend of a friend. I am a hopeless case.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114425533020645514?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114425533020645514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114425533020645514&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114425533020645514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114425533020645514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/04/isa-conference-note-from-newcomer.html' title='ISA Conference: A note from a newcomer'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114373477410436272</id><published>2006-03-30T16:51:00.000+02:00</published><updated>2006-03-31T09:59:28.293+02:00</updated><title type='text'>Cerita sebuah perjalanan singkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo3%20032.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo3%20032.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Saya harap ada yang bertanya-tanya, kemanakah si empunya blog selama beberapa hari terakhir? (Terima kasih Ollie, saya terharu jiwa ngedenger ada yang kangen sama saya...hihihi :)) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: saya akhirnya harus terpaksa pergi ke negara Paman Sam, selama seminggu, karena menghadiri sebuah konferensi untuk para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;geek&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok terpaksa? Terpaksa, karena dari dulu saya memang tidak ingin menginjakkan kaki di negara yang pemerintahnya memiliki kebijakan luar negeri yang sungguh bertentangan dengan idealisme saya. Juga karena saya banyak mendengar cerita diskriminasi berkaitan dengan imigrasi. Tapi, mau bagaimana juga Amerika memang negara penting, termasuk dalam bidang akademik. Jadi, mau tidak mau, saya harus pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh banyak pengalaman yang saya dapat gara-gara pergi ke Amerika. Dari yang menunggu di luar gerbang kedutaan selama 2 jam lebih untuk interview visa, terlepas dari kenyataan bahwa saya sudah punya janji yang ditetapkan oleh pihak kedutaan sendiri, sampai harus mendengarkan 3 orang Amerika yang tidak capek-capeknya berbicara di kursi belakang saya di pesawat. Membuat saya sama sekali tidak bisa tidur selama perjalanan dari Amsterdam ke Minneappolis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus akui, perjalanan kali ini penuh kesan. Sebal, letih, was-was, dan heran. Dari kunjungan singkat saya selama seminggu, saya akhirnya bisa lebih mengerti para orang Amerika yang saya temui di sini. Saya juga jadi lebih mengerti teman-teman saya yang 'terpukau' akan Amerika, walaupun saya sendiri tidak terpesona akan megahnya negara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan pertama, orang-orang di sana senang sekali berbicara. Seperti yang saya bilang di atas, dalam perjalanan Amsterdam-Minneapolis, tiga orang di belakang saya berbicara non-stop. Selama 8 jam! Ingin rasanya menengok ke belakang dan membentak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;can you please shut up!&lt;/span&gt; Benar-benar pengalaman total &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the American small talk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bilang ini menandakan orang Amerika lebih ramah daripada orang Eropa yang  sangat jarang mau berbicara dengan orang yang tidak mereka kenal. Tapi entah kenapa, saya merasa 'keramahan' ini agak agresif dan sangat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;artifical&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk toko atau restoran, setiap orang langsung dibombardir dengan sapaan (yang kadang memekakkan telinga), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hi, how are you today? Did you have a nice evening? So what can I do to help you?&lt;/span&gt; Disambut dengan sapaan bertubi-tubi seperti ini jam 7 pagi dengan jet lag, membuat saya terkaget-kaget! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada bicara si penyapa selalu ramah dan cool, tapi menurut saya mengurangi kesopanan yang biasa saya temukan di sini. Belum lagi ketika transaksi diakhiri dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thank you honey. Glad to serve you.&lt;/span&gt; Walaupun yang ngomong ibu-ibu, saya kok rada risih. Atau ketika yang melayani seorang pemuda, dia akan melontarkan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;There you go, thanks a lot&lt;/span&gt;, dengan nada yang sungguh santai dan akrab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya sudah terlalu tua dan kaku? Tapi sikap cool dan akrab tidak bisa memberikan justifikasi atas keteledoran dalam memberikan pelayanan. Lebih baik rasanya bersikap formal dan sopan, tapi pelayanan sempurna, daripada cool tapi teledor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, satu kali, ketika saya selesai menyantap hidangan, dan berusaha untuk mengucapkan terima kasih kepada pelayan dalam perjalanan keluar restoran, si pelayan yang super duper ramah dalam menyambut, jadi cuek berat dan tidak mendengarkan sama sekali pernyataan terima kasih saya. Hmmm...jadi ramahnya tadi itu hanya palsu belaka toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan di dalam restoran pun kadang seperti di pasar ayam. Rusuh! Pagi-pagi, di sini, biasanya orang akan menikmati croissant dan kopi hangat sambil membaca koran, di sana satu restoran sahut menyahut seakan saingan dalam berbicara. Di Jenewa, berbicara di tempat umum pun tidak jerit-jerit, karena pembicaraan antara dua orang harusnya hanya perlu didengar oleh kedua orang tersebut, bukan seluruh ruangan. Saya rasa masyarakatnya memiliki konsep privasi yang sungguh berbeda dengan masyarakat yang saya temui di Jenewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan kedua: dibandingkan dengan Jenewa, San Diego kurang 'berjiwa'. Kota San Diego jauh lebih besar, jalan, bangunan dan berbagai infrastruktur jauh lebih besar dan luas, tapi kurang berkesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/pipit6/120611497/"&gt;Bangunan&lt;/a&gt; selalu besar dan megah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;imposing but not impressive&lt;/span&gt;. Gaya arsitektur bangunan yang saya temui tidak mempesona, layaknya kota tua &lt;a href="http://bla3x.blogspot.com/2006/02/old-city.html"&gt;Jenewa&lt;/a&gt; atau Roma. Memang tidak bisa dibandingkan, yang satu modern yang lain abad pertengahan. Tapi tetap saja, bangunan modern pun kalau memang arsitekturnya indah tetap bisa membuat para pengunjung terpana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/pipit6/120611498/"&gt;tata kota&lt;/a&gt; cukup menarik dengan berbagai deretan pohon palem di pinggir jalan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu jalan-jalan menyusuri pelabuhan, saya melihat iklan dimana satu restoran sangat bangga dengan kenyataan bahwa ia sudah berdiri semenjak 1945. Saya langsung tersenyum, dan kemudian sadar akan 'muda'nya negara tersebut dibandingkan dengan Eropa. Di sini, iklan yang menampilkan tahun berdiri biasanya diawali dengan 18...atau bahkan &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/pipit6/120623735/"&gt;17&lt;/a&gt;.. Abad 20 tidak dianggap kuno atau tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I think a modern and urban city is really not for me.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan ketiga: kota San Diego penuh dengan mobil tapi tidak mobile. Kenapa? Karena transportasi umum benar-benar terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/pipit6/120611496/in/photostream/"&gt;Trolley&lt;/a&gt; (tram) hanya melayani sebagian kecil daerah, dan jadwalnya sungguh membuat saya nelangsa. 15-25 menit sekali! Dalam hati, di Indonesia saja saya tidak perlu menunggu segini lamanya. Lha di sini, yang katanya negara terkaya di dunia, kok harus seperti ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teman Amerika saya pun menjelaskan kalau California memiliki budaya bermobil. Mobil merupakan ukuran kesuksesan seseorang, dan setiap orang dianggap punya mobil. Jadi, transportasi umum tidak perlu dikembangkan. Bahkan perusahaan General Mobil (tahunnya dikasih tahu, tapi saya lupa), membeli perusahaan trolley dan menghancurkan sebagian besar trolley untuk 'membujuk' masyarakat membeli dan tergantung akan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja Amerika tidak mau menandatangani Kyoto Protocol. Wong, masyarakatnya saja sangat tergantung akan mobil. Kemana-mana harus menyetir mobil, dan terlebih lagi saya lihat mereka gemar sekali akan mobil besar yang tentunya boros energi. Mobil-mobil di kota ini ukurannya jauh lebih besar dari mobil-mobil yang saya temui di Jenewa. Wajar...mobil ukuran Dodge mana bisa dipakai di jalan kota Jenewa yang jauh lebih sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tanda bahwa orang-orang di San Diego tergantung sama mobil mereka: hampir tidak ada orang yang berjalan kaki. Saya dan Xaf tetep bersikukuh naik transportasi umum dan kemudian berjalan 30 menit ke kebun binatang dari stopan bis. Selama perjalanan tersebut, hampir tidak ada pejalan kaki, kecuali pengemis dan gelandangan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan Jenewa, dimana ketika cuaca cerah, trotoar dan taman selalu dipenuhi dengan pejalan kaki yang menikmati pemandangan kota. Saya pun berpikir jahat, pantas saja masyarakat Amerika memiliki masalah obesitas. Jalan kaki saja malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membuat saya beralih ke kesan keempat: saya menemui jauh lebih banyak kasus obesitas daripada di Jenewa atau Indonesia. Melihat gaya konsumsi makanan yang tidak sehat dan berlebih-lebihan, saya pun tidak heran lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi makanan sungguh besar dan kurang sehat. Di menu disebut, burger with salad, onion, tomato slices and french fries. Di piring, daging burger sebesar telapak tangan dan setebal 3 cm diapit oleh 2 potong roti, ditemani oleh satu lembar selada, satu iris tomat dan satu iris bawang yang terletak di samping si burger raksasa, ditambah setumpuk besar kentang goreng, yang panjangnya membuat saya bertanya-tanya sebesar apakah kentangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berkomentar, pantas saja banyak masalah berat badan. Daging 100 gram ditemani satu lembar salad kan tidak seimbang. Lagian, perut normal mana bisa memasukkan semua makanan sebanyak ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih parah lagi, semua makanan Amerika yang saya cicipi benar-benar tidak ada rasa. Kentang goreng tidak ada rasa kentang, telur dadar hambar, kejunya lebih hambar dari mozarella, bahkan kopinya pun hambar. Ternyata kuantitas memang lebih diutamakan daripada kualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu profesor saya komentar kalau saya harusnya pergi ke restoran asing, yang menurut dia menyuguhkan makanan yang kadang lebih enak daripada di negara asalnya, saya pun membatin, tidak semua orang punya dompet setebal seorang profesor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah intinya. Untuk bisa hidup enak dan nyaman di Amerika harus punya uang banyak. Kalau punya uang banyak, bisa makan enak dan bergizi, dan bisa pergi kemana pun kapan pun, tanpa terbatasi oleh jarak. Punya uang sedikit artinya tidak bisa hidup layak. Beda dengan Jenewa. Di sini, punya uang banyak pasti lebih nyaman, tapi tidak punya uang banyak tidak berarti tidak bisa hidup layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan sehat dan enak terjangkau oleh kocek pelajar. Mau rekreasi dengan teman dan keluarga tidak perlu membobok tabungan, cukup naik bis atau jalan kaki ke taman kota. Tidak punya mobil pun tidak membatasi seseorang untuk bepergian. Bis menjangkau hampir seluruh pelosok kota. Mau hiking ke gunung tinggal naik kereta 15 menit, langsung sampai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu di San Diego membuat saya sadar akan miripnya kota tersebut dengan kota besar di Indonesia. Uang menentukan segalanya, dan kesenjangan antara golongan cukup menyolok mata. Miris rasanya melihat para gelandangan dan pengemis di jalan yang memohon uang kecil untuk makan siang, sedangkan di dalam restoran makanan dihidangkan dengan porsi besar-besaran yang sisanya banyak kemudian berakhir di tong sampah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114373477410436272?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114373477410436272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114373477410436272&amp;isPopup=true' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114373477410436272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114373477410436272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/03/cerita-sebuah-perjalanan-singkat.html' title='Cerita sebuah perjalanan singkat'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114270833900533356</id><published>2006-03-18T19:14:00.000+01:00</published><updated>2006-03-19T17:30:18.280+01:00</updated><title type='text'>Telepon genggam: telepon yang digenggam atau yang menggenggam?</title><content type='html'>Mau ngomongin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;constructed consumption and need&lt;/span&gt;, sudah banyak yang koar-koar. Mau ngomongin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone and trendsetting&lt;/span&gt; apa lagi. Tapi bukan berarti saya harus kehabisan kritik tentang telepon genggam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catat: saya mengkritik bukan tentang kegunaan telepon genggam. Telepon genggam, seperti layaknya telegram dan telepon, memang sudah membawa komunikasi dan hubungan antar manusia yang terpisahkan oleh jarak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;to the next level&lt;/span&gt;. Bodoh rasanya kalau saya mencoba membangun teori yang menentang persepsi ini. Bukannya mustahil, tapi saya bukan ahli teknologi, filsafat, dan sosiologi, yang memiliki pemahaman mendalam akan hubungan teknologi dan interaksi manusia. Yang mau saya kritik adalah tentang persepsi akan penggunaan telepon genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semua iklan telepon genggam, seperti layaknya iklan yang bertujuan menjual, keuntungan memiliki telepon genggam digembar-gemborkan dalam berbagai cara dan makna. Satu keuntungan yang ditonjolkan: penghematan waktu, efisiensi, waktu dapat digunakan untuk beberapa kegiatan sekaligus, dan berbagai persepsi modernitas masyarakat berkaitan dengan waktu. Tapi apakah benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari berjumlah 24 jam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(let's not go into discussion about time reflectivity or construction of numerical time based on one religion)&lt;/span&gt;, limitasi waktu ini tidak akan bertambah walaupun punya telepon genggam sepuluh biji. Jadi apa yang bisa dihemat kalau jumlahnya tidak bisa bertambah? Penghematan, kemudian, hanya bisa dilakukan dalam limitasi tersebut. Ini berarti waktu hanya bisa dihemat dengan mengganti penggunaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung? Saya harap tidak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh gampangnya aja. Katanya (orang lain) punya telepon genggam menghemat waktu dalam pekerjaan dan menciptakan efisiensi. Kata saya: telepon genggam tidak jarang memaksa manusia (secara sadar maupun tidak sadar) untuk memotong waktu pribadinya (waktu santai, waktu bersama keluarga, waktu merenung, dsb) untuk menambah waktu kerja. Jadi tidak ada penghematan waktu, yang ada adalah pengorbanan waktu untuk pekerjaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat tidak bagaimana dulu sewaktu telepon genggam belum menjamur? Saya ingat. Tidak pernah saya lihat orang tua saya berbicara tentang pekerjaan setelah mereka pulang kantor. Sekarang, sambil mengendara mobil pun, papa saya kadang sambil berbicara dengan teman sekerjanya tentang berkas ini atau itu. Dulu, pergi jalan-jalan sama papa dalam mobil adalah ajang diskusi saya dengan beliau. Ajang diskusi yang sangat saya hargai, karena saya bisa bicara apa saja tentang apa saja dan siapa saja. Saya bisa bebas mengkritik, dan papa saya akan berusaha memberikan pengertian kepada anak perempuannya yang penuh dengan kemarahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama juga begitu. Walaupun cuma sekretaris, semenjak punya telepon genggam, ada saja teman sekantornya yang menanyakan apakah bapak A akan masuk kerja besok, atau dimana dia meletakkan berkas A. Padahal berkas tersebut ada di atas meja kerjanya, seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saya mengkritik pekerjaan orang tua saya ya. Saat mereka punya telepon genggam, saya sudah punya kehidupan tersendiri, terlepas dari mereka. Jadi saya tidak merasa dirugikan. Ini hanya contoh. Kan lebih baik membicarakan diri sendiri daripada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun kadang merasa waktu pribadi saya diminta semena-mena oleh pekerjaan karena si telepon genggam. Saya ini bukan orang sibuk, cuma seorang asisten kampus yang bekerja paruh waktu. Tapi masih saja terkadang ada yang menelepon saya mengenai pekerjaan. Kesal rasanya ketika waktu merenung saya sambil menikmati pemandangan kota Jenewa dari balik jendela tram atau bis kota dipotong oleh bunyi titt..titt..titt. Lebih kesal lagi ketika pertanyaannya benar-benar tidak berguna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah mengirim saya data ini?" &lt;br /&gt;"Lha sudah dong, saya langsung kirim ketika Bapak minta satu jam yang lalu."&lt;br /&gt;"Kok saya belum dapat data B?"&lt;br /&gt;"Ya belum dong, sekarang sudah jam 8 malam dan saya perlu pulang untuk istirahat. Lagipula tenggat waktunya kan akhir minggu ini."&lt;br /&gt;"Oh..ok. Have a nice evening." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan bodoh seperti ini kemudian membuat saya mempertanyakan tuduhan bahwa telepon genggam membuahkan efisiensi. Tidak selamanya! Bukan efisiensi yang didapat, yang ada malah kerancuan akan prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang orang menelpon untuk hal-hal yang sangat sederhana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;just because they can&lt;/span&gt;. Otak menjadi malas untuk berpikir, mata malas untuk mencari, atau badan malas untuk berusaha dan bergerak, karena ada yang lain yang bisa ditelpon untuk dimintai tolong. Belum lagi ketika perhatian akan detil pun menjadi lenyap karena kepala beralasan, "ah..kalau ada apa-apa bos atau sekretaris bisa telpon saya di HP."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah efisiensi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua saya (terutama mama) selalu menekankan pentingnya detil. Mereka pun selalu menekankan untuk selalu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar. Tuntas atau tidak sama sekali. Jadi tidak ada dalam kamus meninggalkan pekerjaan setengah matang, kecuali kalau memang ada hari esok. Tidak ada dalam kamus meninggalkan meja kerja tanpa membereskan berbagai berkas dalam aturan yang mempermudah saya dalam melanjutkan pekerjaan keesokan harinya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, sering saya mendengar pembicaraan di sekitar saya yang intinya minta maaf karena lupa meninggalkan berkas di meja sebagaimana mustinya. Atau minta tolong teman yang masih ada di kantor untuk menyerahkan map ke sekretaris. Ini sih namanya menganggap gampang segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah prioritas juga begitu. Kadang kita ditelpon untuk hal-hal yang sangat sepele, seperti contoh saya di atas. Kita pun kadang didesak-desak untuk hal yang bisa dikerjakan setelah makan siang. Waktu makan siang pun terganggu dengan berbagai permintaan atasan atau kebodohan teman kerja, yang bisa disampaikan setelah jam makan siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;But no, if we can call him/her, why not. Then she/he will know, and we'll save 5 minutes of giving instruction!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipikirkan kalau lima menit yang dihemat (walaupun tidak benar-benar perlu) itu mengakibatkan seseorang tergesa-gesa dalam menyantap makan siangnya, dan menyunat waktu istirahatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mental break is as important as physical break! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Telepon genggam memberikan efisiensi, penghematan waktu? Bukan. Tapi penciptaan masyarakat dengan tingkat stress tinggi, pengorbanan waktu pribadi bagi pekerjaan, dan perbudakan manusia di bawah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unnecessary communication demand&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;workaholic &lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;capital minded &lt;/span&gt; protes, waktu pribadi tidak dikorban tapi digunakan dengan lebih efisien, jawaban saya tetap ada. Waktu merenung dan menikmati lingkungan sekitar memang tidak mengasilkan kapital dan keuntungan bagi perusahaan, tapi memberikan makanan batin untuk kesehatan manusia. Waktu membaca memang tidak menghasilkan kontrak baru dengan partner kerja, tapi memberikan santapan ilmu dan pengetahuan akan dunia dan masalahnya, untuk kemudian bisa lebih mengerti dan tidak mudah untuk dimobilisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisiensi seharusnya tidak hanya diukur oleh banyaknya keuntungan material atau saham, tapi juga bagaimana seorang manusia bisa lebih efisien dalam berpikir, bercermin dan bertindak. Sudah saatnya matematika efisiensi memasukkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;psychological balance&lt;/span&gt; dalam pembukuan,  bukan hanya debit dan kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Smart and healthy workers cost you half of the price, as they work faster and better: more efficient. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114270833900533356?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114270833900533356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114270833900533356&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114270833900533356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114270833900533356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/03/telepon-genggam-telepon-yang-digenggam.html' title='Telepon genggam: telepon yang digenggam atau yang menggenggam?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114158770808945901</id><published>2006-03-05T19:32:00.000+01:00</published><updated>2006-03-07T11:14:08.726+01:00</updated><title type='text'>Sumbangan dan institusi</title><content type='html'>Kata sumbangan mungkin adalah salah satu kata paling populer dalam hidup bermasyarakat. Entah di sekolah, RT, kantor atau di jalanan, selalu kita berhadapan dengan "kewajiban" untuk menyumbangkan sedikit uang. Banyaknya musibah bencana alam maupun bencana yang diakibatkan oleh manusia (korupsi, krisis ekonomi, krisis politik) membuat semangat menyumbang kita pun semakin diuji dan patutnya dipertebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa saya melihat masyarakat kadang sinis dalam melihat konsep sumbangan. Apakah karena kata sumbangan sering digunakan untuk memberikan kedok "iuran"? Atau karena dianggap sumbangan itu akan disalah gunakan? Atau karena menganggap dirinya belum pantas untuk dituntut untuk menyumbangkan sesuatu? Atau karena sudah pasrah akan keadaan dan merasa bahwa sumbangan itu tidak akan memperbaiki keadaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat diskusi saya dengan beberapa teman dan kerabat tentang pentingnya kebiasaan menyumbang. Jawaban mereka macam-macam, dari yang takut dibohongi sampai ke pernyataan bahwa dirinya belum cukup kaya untuk menyumbang. Satu teman saya bilang, "Pit, sebelum kita memberikan makan orang lain, piring di hadapan kita harus dipenuhi dulu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah dia sadar kalau sebagai manusia kita cenderung tidak pernah puas. Piring tersebut tidak akan pernah penuh karena cenderung ukurannya akan terus membesar. Kalau piringnya tidak penuh-penuh, kapan dong kita akan menyumbangnya? Kenapa bukan standar kepenuhannya yang direvisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi halnya ketika saya dimarahi dan dibodoh-bodohi karena selalu berusaha memberikan uang kecil kepada mereka yang meminta. Alasan bahwa mereka hanya malas atau ngibulin saya, saya rasa tidak menganulir kebutuhan mereka akan uang tersebut. Kalau ada yang komentar, harusnya pengemis itu bekerja yang halal, komentar balik saya, apakah memungkinkan untuk mereka bekerja? Lapangan pekerjaan kan semakin sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar lebih baik memberikan kail daripada ikan, tapi ketika saya belum bisa memberikan kail kepada yang lain, tidak ada salahnya saya memberikan ikan dulu, walaupun itu hanya bisa mengisi perutnya untuk satu hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya cuma ikut-ikutan mengutip pasal 33 UU Dasar 1945, para anak terlantar tersebut tidak akan menjadi kurang terlantar. Kalau pemerintah tidak bisa diandalkan, kenapa kita tidak membantu sebisa kita? Lagipula, pemerintah kita kadang terlalu meremehkan kemampuan rakyatnya sendiri. Kalau masalah sumbangan, tangannya selalu menengadah ke negara kaya, dengan mengekspos kemiskinan negrinya sendiri. Kenapa sumbangan tidak diinstitusionalisasikan? Maksudnya, kenapa sumbangan tidak dijadikan suatu kebiasaan dalam bernegara? Toh selama ini sumbangan sudah menjadi kebiasaan dalam bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, apabila sumbangan memiliki institusi yang jelas (institusi dalam hal ini tidak hanya berarti kantor dan para ahli buku, tapi lebih ke kebiasaan, peraturan, dan implementasi), kesinisan akan sumbangan sosial saya rasa bisa terobati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya ambil contoh dengan apa yang saya alami di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, banyak sekali LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan. Dari masalah anak sampai masalah kanker. Setiap LSM ini tentunya sangat mengandalkan sumbangan dari masyarakat untuk biaya operasional mereka. Caranya? Mereka mengirimkan formulir sumbangan sukarela (benar-benar sukarela) ke beberapa orang secara merata. Setiap mereka yang menerima bisa mengisi bisa tidak, jumlahnya pun terserah. Formulir dan uang tersebut cukup dikirim lewat kantor pos, atau lewat internet bagi mereka yang memiliki internet-banking. Gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan masalah gampangnya menyumbang yang sangat menarik (di Indonesia menyumbang bisa kapan dan di mana saja juga), tapi tentang kontinuitas dan kepercayaan dalam menyumbang. Bayangkan, saya tidak pernah merasa ragu atau sinis ketika menuliskan angka dalam formulir sumbangan, karena saya tahu bahwa LSM tersebut terpercaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ragu karena LSM itu memberikan laporan akan aktivitas mereka di buletin yang mereka kirim beberapa bulan sekali. Saya pun jadi tahu uang sumbangan itu dipakai untuk apa saja. Terpercaya, karena LSM tersebut adalah anggota institusi publik Swiss dalam pengumpulan sumbangan, &lt;a href="http://www.zewo.ch/version_f/index.html"&gt;ZEWO&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontinuitas menyumbang pun terjaga. Setelah menyumbang sekali kepada suatu LSM, LSM ini akan terus mengirimkan formulir sumbangan dan laporan program setiap beberapa bulan sekali. Tidak hanya untuk menjaga hubungan baik dengan donor, tapi juga untuk selalu mengingatkan kalau masalah sosial yang sedang mereka usahakan untuk perbaiki tidak akan selesai hanya dalam satu tahun atau satu sumbangan. Saya pun jadi banyak tahu tentang berbagai masalah sosial di berbagai sudut dunia, dan tergerak untuk mendukung berbagai kegiatan LSM secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan institusi yang jelas dan terpercaya seperti ini akan menghapus kecurigaan para calon donor. Lagipula, kepastian akan kucuran dana secara kontinu akan memberikan nafas kehidupan bagi para LSM di Indonesia. Para LSM yang idealis tersebut tidak akan mati karena kehabisan dana, dan mungkin suatu saat idealismenya akan tercapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan LSM juga kemudian bisa membangun suatu pondasi dana untuk proyek kemanusiaan. Jalur sumbangan bagi yang membutuhkan pun semakin kuat dan beragam. Jadi sumbangan tidak hanya akan mengucur ketika ada musibah besar, dan menghilang ketika musibah tersebut tidak lagi menjadi topik yang mengisi halaman pertama koran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang sering dilupakan, salah satu musibah kemanusiaan yang paling besar adalah kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini, sumbangan sudah menjadi bagian dari hidup bernegara. Program sosial di sini eksis, walaupun tidak sempurna. Tapi bukan itu yang mau saya tekankan, tapi bagaimana kebijakan pemerintah berhasil "merayu" rakyatnya untuk menjadi lebih dermawan dan membantunya (secara tidak langsung) dalam memelihara rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kebijakan pemerintah di sini adalah memperhitungkan sumbangan dalam matematika pajak penghasilan. Setiap sumbangan selalu dipertimbangkan untuk mendapatkan keringanan atau potongan pajak. Dengan tingginya pajak di negara ini (sekitar 20% dari penghasilan), potongan pajak sangat dicintai. Suatu bentuk penghargaan yang sederhana, tapi efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ini, kembali, institusi berperan penting. LSM, yang sangat teroganisir, wajib memberikan kesaksian tertulis akan jumlah sumbangan yang diterima dari setiap individu. Dengan begitu, kemungkinan penggelapan pajak pun dapat diminimalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, dengan banyaknya sumbangan publik untuk masalah sosial, beban pemerintah pun harusnya menjadi lebih ringan. Pengalihan dana pembangunan tidak berarti mengurangi dana secara konkrit untuk program sosial bagi mereka yang membutuhkan. Jadi ketika pemerintah tidak mampu mengucurkan dana yang sama dengan tahun sebelumnya untuk penelitian penyakit kanker, tidak berarti penelitian terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas menyumbang memberikan hasil ganda. Tidak hanya kita mampu melakukan sesuatu  untuk yang lain, kita pun diberi penghargaan dan pengakuan. Tidak perlu award ini atau itu, setiap sumbangan berarti dan saya pun merasa dihargai, terlepas dari kecilnya uang yang mampu saya sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserah yang lain mau bilang apa, saya tidak puas hanya turut prihatin dan menangis. Sumbangan sudah seharusnya menjadi suatu tradisi, sebuah bentuk solidaritas, bukan hanya karena kasihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114158770808945901?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114158770808945901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114158770808945901&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114158770808945901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114158770808945901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/03/sumbangan-dan-institusi.html' title='Sumbangan dan institusi'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114113455817230669</id><published>2006-02-28T14:17:00.000+01:00</published><updated>2006-02-28T15:53:47.260+01:00</updated><title type='text'>5 Weird Things</title><content type='html'>Well, I consider myself lucky to have to reveal my 5 weird spots. Nehh...&lt;a href="http://andryshuzain.com/journal/5-weird-things"&gt;ndry&lt;/a&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only one thing that bothers me though, why only 5? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So here they are, 5 weird things about me:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Whenever possible, I can be absolutely picky when it comes to food. &lt;br /&gt;One famous example: I have different preferences for egg, depending on how it is done. I only eat the white egg of boiled egg. For &lt;span style="font-style:italic;"&gt;un oeuf plat&lt;/span&gt; or &lt;span style="font-style:italic;"&gt;telur mata sapi&lt;/span&gt; or fried egg, I'll eat the egg yolk, only if it's half cooked. Meanwhile, the white egg should not be burned nor crunchy. For omelette, I only eat the outer part, the crunchy side, not the middle part.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. I am obsessed with &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;clean&lt;/span&gt; public toilet.&lt;br /&gt;I guess it's just a part of my clean-freakiness. I don't mind paying 2 CHF for a clean public toilet (I love you Mr. Clean), and I can be easily impressed by any clean public toliet. I believe that clean public toilet is a sign of clean country, town, or society. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. When I read a book, I read the ending first or after few chapters.&lt;br /&gt;I know it's a shameful thing to do, but I just can't help it! I don't have enough patience whatsoever. Besides, I'll know if a book is a good one when it is able to persuade me not to read the ending before I am supposed to. A good book will capture my heart and soul, and make me eager to follow the ride and not taking the short cut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But it doesn't mean that I will not finish the book after I read the ending. I will read back again, knowing the ending already, and finish it like a good school girl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. I am a mono-maniac.&lt;br /&gt;When I like something, I really like it. I read Harry Potter at least 3 times for each volume in 3 different languages. My favorite books have been read more than 10 times. My favorite movies have been watched more than 10 times, and I even remember the lines! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, this also means that I don't like to try something new. I will stick to the same author, the same food, the same place, the same restaurant, etc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. I am verbally and physically expressive.&lt;br /&gt;Telling a story sometimes can become a solo performance in my case. I'll make noises, gestures, faces, mimicries while doing the story-telling. It's fun to watch and for this some people consider me as funny. But sometimes it makes me look stupid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course I looked stupid when, in my frustation of french vocabulary gap, I described &lt;span style="font-style:italic;"&gt;canard&lt;/span&gt; as quink quink (with flapping gesture)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whose weirdness I wish to read? Definetely &lt;a href="http://nagasundani.blogsome.com"&gt;naga&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://wira.wordpress.com/"&gt;wira&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://espresso.over-blog.com/"&gt;macchi&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://silver-lines.blogspot.com/"&gt;silverlines&lt;/a&gt;. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114113455817230669?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114113455817230669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114113455817230669&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114113455817230669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114113455817230669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/5-weird-things.html' title='5 Weird Things'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114097594668753845</id><published>2006-02-26T18:31:00.000+01:00</published><updated>2006-03-31T09:45:17.703+02:00</updated><title type='text'>Old City</title><content type='html'>As requested by a dear friend, Macchi, I present you the Vielle-Ville de Genève. One reason why I love this city so much. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo2%20059.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo2%20059.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;A peek to the Cathedral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo2%20061.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;"src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo2%20061.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; The Cathedral. The main building of the old city.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo2%20066.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo2%20066.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The Cathedral green tower. It's the highest tower in the city, and can be seen even from the lake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo2%20058.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo2%20058.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; A gate to the old city. You cannot see it from the picture, as I am a lousy photographer, but the Old City is located in a small hill higher than  Geneva city. As the old city is the heart of Geneva city, important institutions are built at the foot of this hill. From where I stand, you can see the university, opera house, music hall, musée Rath, and of course line of mountain far away. :) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo2%20064.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo2%20064.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;One narrow street in the old city. The old city is really a compact city full of old buildings surrounded by a protective wall. We can find all important administrative building inside, as it is the last defence of the city.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114097594668753845?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114097594668753845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114097594668753845&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114097594668753845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114097594668753845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/old-city.html' title='Old City'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114034410891908872</id><published>2006-02-19T10:55:00.000+01:00</published><updated>2006-02-22T15:37:23.743+01:00</updated><title type='text'>Komentar : Good Night, and Good Luck</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/56483.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/56483.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Good Night, and Good Luck adalah salah satu dari segelintir film bertema politik yang sama sekali tidak membuat saya jemu. Kemampuan film ini untuk menghipnotis saya selama satu setengah jam, terlepas dari setting yang sangat sederhana dan kaku, membuktikan kemahiran sang sutradara George Clooney dan aktor utama David Strathairn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Befokus pada pertikaian antara politik dan jurnalisme di awal Perang Dingin, film ini menunjukkan suatu idealisme jurnalisme, yang sayangnya telah terbengkalai, tercampakkan atau tertindas. Waktu pemutaran film ini benar-benar tepat. Suatu sindiran politik, mengejutkan kita akan serupanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;War on Communism&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;War on Terror (Terrorism)&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dikehendaki, film ini juga mampu memberikan satu jawaban akan jeritan mereka yang mengutuk kebebasan berbicara. Penggambaran dedikasi seorang Ed Murrow menunjukkan apa yang bisa dan seharusnya diraih oleh kebebasan berbicara. Suatu kebebasan yang mampu mengoreksi para penguasa, dan merupakan salah satu pilar yang menopang impian jutaan warga negara, demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang suasana tahun 50-an membuat saya terbuai. Gaya hidup, cara berpakaian, tampilan media, dan musik di jaman tersebut, membuat kita sadar akan drastisnya perubahan jaman. Kepulan asap rokok dan kabut tipis abu-abu yang memenuhi adegan film tersebut menampilkan jaman keemasan rokok di Amerika. Sungguh nostalgis, mengingat rokok telah menjadi barang haram di pertelevisian negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggabungan antara dokumentasi dan fiksi sangat menyegarkan dalam kesederhanaannya, dan berhasil menekankan akan kisah nyata yang menginsiprasi film tersebut. Sudut pengambilan gambar sungguh setia dengan jamannya, dan berhasil menonjolkan akting memukau  David Strathairn. Sungguh sebuah film yang artistik, terlepas dari absennya berbagai warna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog tanpa aksi à la Speed tidak pernah membuat bosan, malah memberikan pencerahan. Setting yang terbatas tidak membuat saya sesak, melainkan terpukau akan sekilas gambaran di balik layarnya jurnalisme Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu film yang sangat patut untuk disimak, tidak hanya oleh mereka yang tertarik akan politik, tapi juga oleh mereka yang rindu akan film bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watch it, twice if necesssary. You won't regret it, as I don't. I even found a new idol, Ed Murrow.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114034410891908872?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114034410891908872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114034410891908872&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114034410891908872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114034410891908872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/komentar-good-night-and-good-luck.html' title='Komentar : Good Night, and Good Luck'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114003031304971156</id><published>2006-02-15T19:11:00.000+01:00</published><updated>2006-02-17T11:27:14.333+01:00</updated><title type='text'>Kesalahan umum dalam latihan menulis bahasa Inggris (2)</title><content type='html'>Pindah komputer dan pindah lokasi, tapi tetap akan membahas berbagai kesalahan saya dalam menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grâce à &lt;a href="http://espresso.over-blog.com/"&gt;Macchi&lt;/a&gt; et &lt;a href="http://360.yahoo.com/ilhamwk"&gt;Mahli&lt;/a&gt; yang sudah mengingatkan, kesalahan satu lagi yang sering saya lakukan adalah lupa atau salah menggunakan artikel. Artikel itu terdiri dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a (an), the, at, in, on&lt;/span&gt;. Jadi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;anjuran ketiga&lt;/span&gt;: perhatikan penggunaan artikel dalam kalimat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pemakain &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;the&lt;/span&gt; gampang mengingatnya. Pokoknya hampir semua kata benda memakai kedua artikel ini dalam penulisan. Tapi ingat, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a&lt;/span&gt; digunakan apabila pemakaikan kata benda itu baru pertama kali muncul dalam tulisan atau kalimat. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The&lt;/span&gt; baru digunakan untuk merujuk ke kata benda yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a&lt;/span&gt; juga akan berubah menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;an&lt;/span&gt; ketika diikuti oleh kata benda yang diawali huruf hidup. Hati-hati tidak semua huruf hidup dianggap huruf hidup. Huruf hidup yang dilafalkan seperti huruf mati akan dianggap huruf mati, dan artikel &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a&lt;/span&gt; tidak berubah menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;an&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a university&lt;/span&gt;, bukan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;an university&lt;/span&gt;. Karena university dilafalkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;yuniversiti&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelaslah pentingnya penguasaan pengucapan yang baik bagi penulisan yang baik. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;the&lt;/span&gt; juga digunakan untuk kata benda yang mempunyai makna khusus atau nilai tertentu, seperti institusi atau nama negara. Ya...kata benda yang mempunyai nilai penting deh. Seperti the CIA, the goverment of Indonesia, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak repot dan sampai sekarang masih membuat saya keluar keringat dingin adalah pemakaian artikel (kata depan) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;in, at, on&lt;/span&gt;. Saya akhirnya berhasil menemukan salah satu aturan dalam pemakaian artikel ini. Artikel ini biasanya digunakan untuk menjelaskan suatu posisi. Tapi, artikel ini juga harus digunakan dalam menjelaskan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tempat, saya belum ketemu aturan yang benar-benar menurut saya bekerja. Untuk waktu ada aturan gampangnya. Tanggal (12 February) menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;on&lt;/span&gt;, hari menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;on&lt;/span&gt;, bulan (february) gunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;in&lt;/span&gt;, tahun (2006) gunakan&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; in&lt;/span&gt;; sedangkan jam (12.45) gunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;at&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesalahan lain dalam menulis, biasanya disebabkan oleh terburu-buru atau ingin meringkas berbagai hal dalam satu kalimat. Dari yang lupa menggunakan kata sambung (who, whose, whom, which, dan that), tense waktu yang tidak beraturan, atau menulis kalimat yang terlalu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anjuran keempat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gunakan dengan telaten kata sambung. Kata sambung sangat berguna untuk memberikan penjelasan tambahan dalam kalimat. Lagipula, kata sambung bisa memperjelas kalimat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, setiap kalimat yang menerangkan subyek atau obyek HARUS menggunakan kata sambung. Jadi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a friend running a website provider&lt;/span&gt;, harusnya ditulis &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a friend who is running a website provider&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anjuran kelima:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsisten dalam memilih konteks waktu. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Past tense, present tense, past perfect,&lt;/span&gt; atau... Jangan sampai di tengah-tengah paragraph yang menceritakan masa lalu, terdapat kalimat yang ditulis dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;present tense&lt;/span&gt;. Membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anjuran keenam:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulis kalimat yang singkat-singkat saja. Kalau menulis terlalu panjang, nanti yang membaca bingung. Apalagi kalau ada dua who dan tiga which di dalam satu kalimat. Jadi harus sabar. Tulis kalimat pendek, bertahan di pola subyek + kata kerja + obyek. Semakin lama pasti bisa menulis kalimat yang panjang dan kompleks, dan penuh dengan keterangan tambahan. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anjuran ketujuh dan terakhir (untuk saat ini):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teruslah menulis. Jangan menyerah. Semakin rajin menulis, semakin sering dikoreksi dan dicoret-coret, semakin sadar kita akan kesalahan menulis. Akhirnya kita pun akan semakin luwes dalam menghindari berbagai kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sedikit rangkuman segala macam bentuk kesalahan yang sering saya lakukan. Saya sedang dan akan selalu berusaha giat merdeka untuk bisa terhindar dari mereka. Kalau anda mau, pasti juga bisa. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114003031304971156?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114003031304971156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114003031304971156&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114003031304971156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114003031304971156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/kesalahan-umum-dalam-latihan-menulis_15.html' title='Kesalahan umum dalam latihan menulis bahasa Inggris (2)'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-114002476301769560</id><published>2006-02-15T17:31:00.000+01:00</published><updated>2006-02-17T12:10:34.140+01:00</updated><title type='text'>Kesalahan umum dalam latihan menulis bahasa Inggris</title><content type='html'>Melanjutkan posting saya sebelumnya, kali ini akan dibahas bagaimana menulis bahasa Inggris dengan baik. Sebelum saya dianggap profesional atau apa, saya mau memberi pengakuan kalau saya hanya seorang pelajar ketuaan. Pelajar yang sudah dan selalu berkutat dalam menulis dalam bahasa Inggris. Jadi, tulisan saya ini hanyalah pengalaman pribadi, yang walaupun cetek namun saya rasa ada gunanya untuk mereka yang masih mau membaca omelan saya. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang bilang berbicara dalam bahasa Inggris itu susah, menulis dalam bahasa Inggris itu lebih susah lagi! Saya rasakan sendiri frustasinya saya melihat berbagai coretan editing Xaf, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;my personal editor&lt;/span&gt;, di setiap lembar tugas saya. Dan ketika saya akhirnya sudah tergembleng dalam menulis bahasa Inggris lebih teliti, saya malah sempat dijadikan editor dadakan teman saya. Dari berbagai pengalaman saya ini, saya menemukan pola kesalahan umum dalam tulisan bahasa Inggris yang saya (atau teman) bikin. Kesalahan kecil, namun vital. Kesalahan yang sebenarnya bisa dihubungkan dengan bahasa ibu si penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu perbedaan utama antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah konjugasi kata kerja. Kalau dalam bahasa Indonesia konjugasi kata kerja hanya dipengaruhi oleh fungsi imbuhan; dalam bahasa Inggris, konjugasi kata kerja dikondisikan oleh subjek dan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1 :&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia : Saya pergi (kemarin). &lt;br /&gt;Bahasa Inggris : I go, I went (yesterday), I have gone (yesterday)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2 :&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia : Dia pergi (kemarin).&lt;br /&gt;Bahasa Inggris : She goes, She went (yesterday), She has gone (yesterday)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dilihat tidak bedanya? Dalam bahasa Indonesia kata kerja &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pergi &lt;/span&gt;tidak mengalami perubahan, walaupun subyek dan waktu sudah berbeda. Berbeda dalam bahasa Inggris, kata kerja &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;go&lt;/span&gt; berubah menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;goes&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;went&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;have gone&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;has gone&lt;/span&gt;, tergantung oleh berubahnya subyek dan waktu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Anjuran pertama:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan konjugasi kata kerja dalam menulis. Subyek dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tense&lt;/span&gt; sangat menentukan benar tidaknya suatu kalimat. Untuk ini, anda berarti harus juga berusaha untuk mempelajari konjugasi kata kerja dalam bahasa Inggris. Baik yang teratur (dengan menambahkan -ed dibelakang kata kerja murni), seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;play-played-played&lt;/span&gt;, maupun yang tidak teratur, seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;go-went-gone&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan khawatir, di kamus atau buku grammar bahasa Inggris, biasanya sudah disediakan daftar kata kerja yang tidak beraturan. Cukup disimak dan sering-sering digunakan. Pasti akan terbiasa dengan perubahan kata kerja tersebut. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan mendasar lain yang suka membuat kesalahan dalam penulisan adalah tidak adanya sistem &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;to be&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;auxiliary verb&lt;/span&gt; dalam bahasa Indonesia. Yang dimaksud dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;to be &lt;/span&gt;adalah, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;am, is, are&lt;/span&gt;. Sedangkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;auxiliary verbs&lt;/span&gt; adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;do&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;have&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelengahan dalam menampilkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;to be&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;auxiliary verbs&lt;/span&gt; terutama terlihat ketika dalam menulis kalimat negatif atau kalimat dalam waktu lampau. Kesalahan yang lain adalah dengan salah menggunakan kedua kata penting tersebut. Ketika harus menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;to be &lt;/span&gt;malah menggunakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;auxiliary verbs&lt;/span&gt; dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anjuran kedua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;To be&lt;/span&gt; biasanya digunakan untuk kata sifat, sedangkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;auxiliary verbs&lt;/span&gt; digunakan untuk kata kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seharusnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I intend&lt;/span&gt;, bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I am intend &lt;/span&gt;(ingat, do dalam kalimat positif tidak ditulis kecuali untuk penegasan). Sedangkan kalimat dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;happy &lt;/span&gt;menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I am happy&lt;/span&gt;, bukan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I happy&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika harus menulis kalimat negatif sebenarnya lebih gampang untuk mengingat harus memakai yang mana. Sadar tidak kalau dalam bahasa Indonesia ada tiga macam kata untuk negasi (penolakan): tidak, bukan, jangan. Nah...ini bisa jadi acuan. Kalau ingin mengatakan "tidak" yang diikuti kata sifat, seperti dalam kalimat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;saya tidak cantik&lt;/span&gt;, maka bahasa Inggrisnya menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I am not pretty&lt;/span&gt;. Untuk "bukan" juga seperti itu. Jadi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;saya bukan artis&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I am not an actress&lt;/span&gt; (Thanks to Macchi and Mahli for the correction). Sedangkan kata jangan, menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;don't&lt;/span&gt;; seperti di dalam kalimat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Don't eat!&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat saja formula mudah di bawah ini:&lt;br /&gt;1. Subyek + to be + kata sifat / nama / profesi / tempat&lt;br /&gt;2. Subyek + to be + not + kata sifat / nama / profesi /tempat (untuk kalimat negatif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Subyek + auxiliary verbs (do atau have dan konjugasinya) + kata kerja (konjugasi) &lt;br /&gt;4. Subyek + auxiliary verbs + not + kata kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dulu untuk saat ini. Semoga bermanfaat dan tidak semakin menambah pusing kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Another posting on common mistakes in english writing by Indonesian (at least me) will come soon. &lt;/span&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-114002476301769560?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/114002476301769560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=114002476301769560&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114002476301769560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/114002476301769560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/kesalahan-umum-dalam-latihan-menulis.html' title='Kesalahan umum dalam latihan menulis bahasa Inggris'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113993350748147593</id><published>2006-02-14T16:05:00.000+01:00</published><updated>2006-02-15T16:56:45.826+01:00</updated><title type='text'>Belajar bahasa Inggris dengan gembira dan tetap ada hasilnya</title><content type='html'>Saya akhirnya ikutan milis beasiswa, siapa tahu  nanti bisa dapet rejeki beasiswa. :) Banyak ulasan dalam milis tersebut, informasi dan termasuk curhat. Satu syarat utama untuk mendapatkan beasiswa adalah TOEFL, yang menjadi ukuran canggihnya bahasa Inggris sang pelamar beasiswa. Di milis pun terdapat berbagai trik untuk bisa lulus TOEFL dengan nilai tinggi. Herannya, tidak ada tips untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik, apalagi bagaimana caranya mencintai bahasa asing tersebut. Padahal menurut saya, pentingnya bahasa Inggris itu tidak hanya untuk dapat nilai TOEFL 600 ke atas, tapi untuk bisa berkomunikasi dengan dunia luar dan masyarakat internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang bilang saya pemimpi dan bahwa tidak semua orang punya kesempatan ke luar negeri. Tapi coba bayangkan, kita hidup tidak sendiri, masih banyak orang di luar batas negara Indonesia dan masih banyak kesempatan di luar batas negara Indonesia. Berbekal bahasa Inggris, itu artinya akan membuka kesempatan kita ke luar batas Indonesia. Tidakkah kemungkinan berkomunikasi dengan mereka yang berbeda adalah kenyataan yang mengasyikkan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang harus pertama kali ditanamkan dalam hati, bahasa Inggris tidak hanya untuk lulus ujian, bahasa Inggris adalah pintu komunikasi ke dunia lain dengan manusia lain. Jadi kita tidak hanya harus menguasai bagaimana menjawab soal di lembaran kertas TOEFL tapi bagaimana menggunakannya dalam suatu interaksi sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah membayangkan tersesat di suatu tempat dimana tidak satu orang pun bisa mengerti permohonan tolong kita? Tanamkan dalam hati, bahasa Inggris mungkin bisa membantu kita pada saat-saat tersebut. Pernah frustasi melihat banyaknya lowongan kerja di negara tetangga yang menuntut kefasihan berbahasa Inggris? Tanamkan dalam hati, bahasa Inggris bisa membuat kita terlepas dari jerat pengangguran yang semakin ketat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau relasi antara bahasa Inggris dan ujian sudah bisa diputuskan, beban belajar bahasa Inggris pun akan menjadi lebih ringan. Mari belajar bahasa Inggris untuk bisa berbahasa, bukan untuk mendapatkan nilai. Caranya sangat gampang dan menyenangkan, saya sudah coba sendiri dan tidak pernah merasa bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perbanyak membaca buku, artikel, tulisan dalam bahasa Inggris. &lt;br /&gt;Ingat, pertama-tama membaca pasti akan ada banyak kosa kata yang kita tidak kenal. Jangan menyerah. Artikan setiap kata dengan bantuan kamus, dan tulis arti kata tersebut di bawahnya. Percaya pada saya, dalam beberapa minggu, anda pun akan berhenti membuka kamus setiap 2 menit dalam membaca tulisan sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perhatikan pengucapan kata. &lt;br /&gt;Memang kadang sangat susah mengucapkan suatu kata bahasa Inggris dengan baik, tapi bukan berarti tidak mustahil. Jangan keras kepala dan mengucapkan suatu kata seperti halnya bahasa Indonesia. Logat tidak akan bisa hilang, tapi usahakan untuk memperhatikan pengucapan. Untuk ini yang pertama harus dilakukan adalah menguasai penguasaan abjad, dan kemudian perhatikan phonetik yang sering dicantumkan dalam kamus. Kalau masih juga bingung, bisa lihat di website &lt;a href="http://dictionary.oed.com/services/email-wotd.html"&gt;Oxford English Dictionary &lt;/a&gt;. Penjelasan yang mereka berikan sangat jelas dan mudah dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perbanyak kosa kata anda.&lt;br /&gt;Langkah pertama akan memperbanyak kosa kata anda secara tidak langsung, tapi tidak ada salahnya mendedikasikan 15 menit setiap hari untuk belajar kosa kata baru. Bisa dengan mengulang kosa kata yang didapat dari bacaan, berusaha mencerna lirik dalam musik, atau berusaha untuk menangkap dialog dalam film kesayangan. Tulis kosa kata yang anda pelajari di sebuah buku tulis khusus. Dengan begitu kosa kata tidak akan hilang dan anda akan menyadari kemajuan yang telah anda dapat. Bagi mereka yang memiliki akses email mudah, ikutilah milis Oxford English Dictionary yang akan mengirimkan satu kata dan artinya setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Coba menulis dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Tidak berarti harus langsung menulis karya sastra. Cukup kalimat-kalimat pendek, dan kemudian disusul dengan paragraph pendek. Lalu coba koreksi sendiri tulisan tersebut. Jangan selalu mengandalkan Word Spelling check, karena fungsi ini tidak bisa diandalkan untuk memeriksa kesalahan grammar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuasailah grammar dasar dan ikuti peraturannya dengan telaten. Tidak perlu terburu-buru menulis kalimat yang panjang dan kompleks. Mulai dengan kalimat pendek dengan kosa kata yang simpel. Dengan berjalannya waktu, penguasaan grammar dengan baik dan timbunan kosa kata di bank memori anda, anda pun akan bisa menghasilkan sebuah cerpen atau blog dalam bahasa Inggris. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Cari teman ngobrol dalam bahasa Inggris&lt;br /&gt;Pasti banyak teman anda yang juga sedang berjuang mempelajari bahasa Inggris, kenapa tidak belajar bareng-bareng? Ajak teman anda untuk meluangkan waktu berbicara bahasa Inggris dengan anda, entah sekedar ngegosip, membaca dialog atau cerita, atau berdiskusi. Kalau malu, cari tempat dan waktu dimana anda tidak akan diganggu, taman kota, lorong kampus atau kamar kost. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau enggan, latihan saja sendiri di kamar. Lafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris atau baca novel kesayangan dengan lantang. Dengan melantunkan sebuah lagu kita pun jadi gampang mengingatnya. Sama dengan tulisan, dengan melantunkan sebuah puisi, kita pun akan mengingat bait-baitnya dengan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Artikan lagu kesayangan anda.&lt;br /&gt;Setiap orang pasti mempunyai lagu kesayangan. Kalau kebetulan lagu kesayangan anda dalam berbahasa Inggris, kenapa tidak coba diartikan? Akan bisa lebih menghayati lagu tersebut, dan anda pun akan menambah bank kosa kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Coba menonton film berbahasa Inggris tanpa membaca terjemahan.&lt;br /&gt;Pertama-tama akan membuat pusing kepala, tapi latihan ini sangat penting. Otak anda pun akan terlatih untuk ter-set dalam bahasa Inggris. Bisa berpikir dalam bahasa Inggris akan membantu ketika anda harus mendengarkan, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sedikit tips sehari-hari saya. Kalau yang lain mau berbagi, monggo.. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113993350748147593?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113993350748147593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113993350748147593&amp;isPopup=true' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113993350748147593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113993350748147593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/belajar-bahasa-inggris-dengan-gembira.html' title='Belajar bahasa Inggris dengan gembira dan tetap ada hasilnya'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113991551733481210</id><published>2006-02-14T10:21:00.000+01:00</published><updated>2006-02-14T17:42:33.313+01:00</updated><title type='text'>Komentar: Munich</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/56458.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/56458.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Akhirnya kesampaian juga hasrat hati untuk nonton Munich, salah satu film yang dinomasikan untuk penghargaan Oscar tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar saya tentang film ini: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fast but long, violent, compact but fail to deliver a complex and multi-layered story. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munich bercerita tentang 'pembalasan' Israel akan terbunuhnya sebelas atlit mereka di Olimpiade Munich 1972.  Berfokus pada satu kelompok agen Mossad dalam memburu sebelas tokoh yang dicurigai berada di balik Black September, film ini menampilkan kehidupan (singkat) para agen rahasia, teroris, dan pembunuh bayaran dalam konteks Perang Dingin. Sungguh menarik melihat bagaimana jaringan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;underground &lt;/span&gt;ini eksis, bekerja, dan saling terjerat seperti jaring laba-laba. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The hunter today can be the hunted tomorrow.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pintarnya Spielberg menyoroti motivasi di balik misi balas dendam ini, film ini gagal atau tidak berusaha untuk membangun para karakter penting. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;While we understand the reason behind this mission, there is no or little explanation on what's going on inside the team's member. What reasoning they give to themselves to believe in their own mission? Is it blind faith, nostalgic and historic reason, or nationalistic loyalty?&lt;/span&gt; Jadi ketika akhirnya mereka mempertanyakan 'kebenaran', saya pun merasa seperti melihat akhir tanpa suatu awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan tersesat saya selama menonton film ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan saya akan peristiwa Munich dan rentetan peristiwa yang terjadi setelahnya. Lima belas menit pertama penonton dibombardir oleh ringkasan peristiwa yang terangkum oleh berbagai media internasional, yang disampaikan dalam berbagai bahasa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Quite impressive editing and it conveys cleary the message on how important the event was.&lt;/span&gt; Tapi saya yang tidak familiar dengan peristiwa bersejarah tersebut merasa seperti dicekoki rangkuman sejarah dengan konteks internasionalnya yang sangat berat dalam waktu yang terlalu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan ceritanya pun kurang memuaskan. Penggunaan kilas balik, saya rasa kadang cukup membingungkan, karena tidak jelas dari sisi mana kilas balik tersebut dilihat. Dari media, dari pengalaman pribadi sang karakter, atau dari imajinasi sang karakter. Penyajian kekerasan sangat mentah, mengingatkan saya akan Kill Bill, sedangkan 'hampanya' penggambaran setiap karakter membuat beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;slow pace moments&lt;/span&gt; membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, Munich adalah film dimana konteks latar belakang sama menariknya dengan cerita yang ingin dituturkan. Interpretasi sebuah peristiwa bersejarah yang kemudian membuat kita ingin lebih tahu, terutama ketika sejarah tersebut ikut mengkondisikan kenyataan yang kita hadapi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Munich shows a vicious circle of a too long conflict. In showing the importance of nation and state, and what people are capable to do and sacrifice for their nation; this movie actually questions the justification limit for state's policies pursued in the name of national security. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quoting one phrase from Mononoke Hime, "go and see with unclouded eyes". &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113991551733481210?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113991551733481210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113991551733481210&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113991551733481210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113991551733481210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/komentar-munich.html' title='Komentar: Munich'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113965545804549021</id><published>2006-02-11T10:54:00.000+01:00</published><updated>2006-02-14T10:21:39.696+01:00</updated><title type='text'>To see or to be seen?</title><content type='html'>Wearing a pair of glasses actually teaches me a philosophical lesson. It makes me very aware of how important physical appearance is in one culture; not only that I can see clearly people and what they are wearing in my surrounding, but I can also see glance of my reflection in the eyes of others. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glasses have become more than just a seeing device, it has become part of you. In kids' world it is a tag that differs you from other children. It makes you different and sometimes outcast you. In student world, it is a perceived sign of intellect; labelling you as smart or even a geek. In an objective world, it is a sign of handicap, weakness, or just "bad" reading habit.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But then, time evolves, glasses are not that exceptional anymore. Plus, capitalist's opportunistic talent has created the need for glasses. Why only see with glasses, if you can also be seen with glasses? Trendy, expensive, and branded glasses then become part of clothing gear. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nevertheless, glasses are still not universally welcome. More than once I had to fight for my right to see. Every important event, for which I had to let my face to be remade, had been a reflection moment. Those beauty-maker ladies always fussed about how my glasses would hinder others to see how my eyes were beautifully done, and that I should not wear them. My complaints for not being able to see clearly were dismissed as minor. Who cares if I couldn't see whom I shaked hands with, if people could clearly see how long my fake eye-lashes were, how colourful my eye-lids were, or how dark my eye-lines were! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My head was always full of everlasting debate, during those painful make-over operations. What is more important, to see or to be seen? Are women condemned to be the object of observation? Should women only care about their look but not what is "under the surface"? Should women judge themselves and others on how good-looking they are? Are women condemned to superficiality?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I always wanted to scream, "I don't care about how they would see me, I care about what I can see!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113965545804549021?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113965545804549021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113965545804549021&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113965545804549021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113965545804549021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/to-see-or-to-be-seen.html' title='To see or to be seen?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113905768187761558</id><published>2006-02-04T13:34:00.000+01:00</published><updated>2006-02-04T13:54:41.906+01:00</updated><title type='text'>An answer to baby question</title><content type='html'>Friends:  Why don't you have children?&lt;br /&gt;Me         :  Because I cannot sacrifice a life that I don't yet have.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113905768187761558?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113905768187761558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113905768187761558&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113905768187761558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113905768187761558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/answer-to-baby-question.html' title='An answer to baby question'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113904866618214445</id><published>2006-02-04T11:13:00.000+01:00</published><updated>2006-02-04T11:38:01.860+01:00</updated><title type='text'>Friday afternoon tale</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo2%20051.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo2%20051.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Yesterday was the day when I had to say "see you soon" to a friend. A friend who always towers me and makes me feel like a dwarf. A training partner who has been pushing my limit on tatami and helping me to overcome my fear of falling. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tu vois, je peux faire sauter en avant maintenant. :) &lt;/span&gt;An aikido mentor who makes me believe that size does not matter. Being small does not mean that you cannot be strong, although it still means that you can be lifted up that easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See you soon &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Marc&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. It's been great! Let's keep in touch and do visit us, friend.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113904866618214445?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113904866618214445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113904866618214445&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113904866618214445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113904866618214445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/friday-afternoon-tale.html' title='Friday afternoon tale'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113889853150621032</id><published>2006-02-02T16:28:00.000+01:00</published><updated>2006-02-03T09:01:01.816+01:00</updated><title type='text'>Haruskah blog menjadi media 'serius'?</title><content type='html'>Sehabis baca posting singkat dari &lt;a href="http://www.andryshuzain.com/journal/full-feed-is-not-rocket-science#comment"&gt;Andry&lt;/a&gt; saya pun ketemu dengan sebuah artikel di detik.com tentang blogging. Inti artikelnya mempromosikan tentang pentingnya blogging dan bagaimana seseorang patut untuk melihat blogging sebagai suatu aktivitas yang tidak main-main, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;to take it seriously.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca artikel ini saya pun semakin mendapatkan kesan bahwa blogger benar-benar sedang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;à la mode&lt;/span&gt;, dan ikut senang kalau kegiatan positif ini bisa terus dikembangkan dan disebarluaskan. Tidak mustahil rasanya kalau dari blogger kemudian 'naik pangkat' menjadi penulis kawakan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;But do we need to take ourselves that seriously?&lt;/span&gt; Apakah harus media blog 'diadu' dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mainstream media &lt;/span&gt;dan para blogger patut dan perlu diberi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;acknowledgement&lt;/span&gt; sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;new generation journalists&lt;/span&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang wajar bila pembentukan suatu 'kelompok' baru selalu dibarengi dengan pembentukan suatu identitas kelompok, dan salah satu caranya adalah dengan berusaha 'masuk' sebagai bagian dari identitas kelompok yang sudah ada atau sebagai kontradiksi dari yang sudah ada. Tapi apakah harus selalu seperti itu? Kenapa pembentukan identitas blogger,baik sebagai individu atau kelompok, tidak dicoba untuk terlepas dari mereka para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mainstream&lt;/span&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, kehausan akan pengakuan terkadang tidak dibarengi dengan kesadaran akan tanggung jawab yang mengekor dari sebuah pengakuan. Kalau blogger menuntut untuk disetarakan dengan jurnalis dan hasil bloggingnya untuk dianggap sebagai media yang setara dengan hasil tulisan jurnalis tersebut, apakah mereka siap untuk menerima tanggung jawab atas tulisan mereka sebagaimana para jurnalis harus siap dengan oretan pena mereka? Blogging menurut saya penuh dengan subyektivitas. Dalam menyoroti sebuah masalah atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;phenomenon&lt;/span&gt; seorang blogger tidak akan hanya 'memaparkan' tema tersebut, tapi lebih 'mendiskusikan' tema tersebut. Bahasa yang digunakan berbeda, dan cara penuturan suatu cerita pun berbeda. Jurnalis (seharusnya) akan menulis "apa yang terjadi", sedangkan blogger akan menulis tidak hanya "apa yang terjadi" tapi "apa yang menurutnya terjadi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit untuk dibayangkan kalau blog akan penuh dengan bias norma, kultural, latar belakang maupun prinsip hidup seseorang dalam setiap pembahasan informasi. Kebayang dong kalau ada pembaca yang menelan mentah-mentah apa yang ditulis dalam sebuah blog, pembaca tersebut akan menerima sebuah 'berita' yang telah dibentuk sedemikan rupa dan tidak sadar (atau malas) untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin runyamlah masalahnya. Setiap orang kemudian akan mempunyai pemahaman yang berbeda tentang suatu 'berita' tanpa mengetahui dengan jelas 'berita' asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi teknologi atau sains lainnya, mungkin bias ini akan bisa dihindarkan atau diminimalisasi. Tapi bagaimana dengan tema sosial dan politik? Sebuah tema sosial dapat 'diceritakan' dengan cara yang berbeda dan kemudian akan memberikan 'gambaran' yang berbeda pula. Pemberian kata sifat dan informasi keterangan saja akan sangat merubah inti dari sebuah informasi. Contohnya, "Oslo telah merebut gelar sebagai kota termahal sedunia dari Tokyo." Ditambah dengan kata sifat dan keterangan dari pengalaman pribadi: "Oslo yang dinginnya amit-amit ketika musim dingin dan yang manusianya kurang ramah ternyata telah merebut gelar sebagai kota termahal sedunia dari Tokyo yang super high-tech." Kerasa nggak bedanya? Di kalimat pertama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;it's matter of fact&lt;/span&gt;, di kalimat kedua ada bias terhadap kedua kota. Gambaran 'dingin', 'tidak ramah', dan 'high tech' akan memberikan propaganda berdasarkan opini si blogger tentang kedua kota tersebut.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bagaimana seorang blogger bisa membedakan antara informasi dan opini? Dan apakah para pembaca akan sadar bahwa tulisan yang mereka baca itu adalah opini dan bukan sekedar fakta? Opini adalah salah satu penyajian fakta tapi berbeda dengan fakta. Jurnalisme intinya berusaha untuk menyajikan fakta, paling tidak menurut saya, bukan opini. Jurnalis bisa dituntut bila yang dia tulis tidak sesuai dengan kenyataan, karena mereka seharusnya menulis tentang fakta. Jadi apakah blogger harus sejajar dengan jurnalis? Menurut saya tidak penting mana yang tinggi atau rendah, blog berbeda dengan koran karena blog memberikan 'informasi' yang kaya akan pemahaman tertentu. Informasi yang disajikan berbeda, kenapa harus disama-samakan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, tidak ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;code of conduct &lt;/span&gt;dalam blogging, tidak ada aturan baku tentang apa yang bisa ditulis, bagaimana harus menulis, keakuratan sebuah informasi, atau keakuratan sumber informasi. Semua bebas, bahkan identitas blogger pun tidak jelas. Di dunia maya semua bisa direkayasa, bahkan (terutama) identitas. Bagaimana sebuah tulisan bisa dipertanggungjawabkan kalau yang menulis adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anonymous blogger&lt;/span&gt;? Bisa saja seorang blogger merekayasa sebuah 'fakta' dan ketika 'fakta' ini menyebar dan diterima sebagai kebenaran yang menghebohkan, siapa yang harus mempertanggung jawabkan pada pihak yang dirugikan? Dan ketika seorang blogger hanya iseng2 nyeleneh tentang suatu tema, guyonannya pun akan dianggap serius karena sudah disajikan dalam 'media'. Bisa salah kaprah jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya blog itu terletak pada kebebasan yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Blog menurut saya adalah media untuk latihan menulis, berbagi informasi, memberikan opini dan ajang diskusi. Kalau blogging harus dianggap sebagai kegiatan yang 'serius', sesuatu yang tadinya hobi pun menjadi suatu kewajiban. Suatu kewajiban yang penuh dengan aturan yang menyunat kebebasan yang awalnya merupakan identitas utama dari blogging. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya menurut saya menulis blog tidak serius. Sebaliknya, blogging adalah kegiatan serius. Tapi dalam arti lain. Serius dalam arti setiap blogger akan selalu mengasah kemampuan menulisnya dalam setiap postingannya. Tapi tidak berarti dia terbebani oleh berbagai beban norma masyarakat yang sudah terlalu sering menutup mulutnya sebelum dia berani berbicara. Tidak berarti ia harus terbebani oleh standar penulisan dan penguasaan seluruh topik yang ditulisnya. Blogging adalah ruang untuk menulis apa yang kita pikir menarik untuk diri kita sendiri, tanpa harus terbebani untuk berpikir apa yang lain perlu tahu. Kalau koran itu fakta, blog itu personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya pun akan terus menulis, tanpa berusaha untuk mensejajarkan diri dengan jurnalis. Saya akan terus menulis pemikiran saya, untuk berbagi dengan yang lain atau untuk memancing diskusi atau debat. Pendapat saya akan terus terukir di sini tanpa berusaha untuk mendapatkan dukungan atau pembenaran. Pengakuan yang saya butuhkan adalah dari diri sendiri, bahwa saya akhirnya berani dan mampu untuk menulis.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Blog is one side of a story, not THE side of a story.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113889853150621032?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113889853150621032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113889853150621032&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113889853150621032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113889853150621032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/02/haruskah-blog-menjadi-media-serius.html' title='Haruskah blog menjadi media &apos;serius&apos;?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113862327802215604</id><published>2006-01-30T12:12:00.000+01:00</published><updated>2006-01-30T16:05:44.303+01:00</updated><title type='text'>Comment: Brokeback Mountain</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Does Brokeback Mountain deserve the Golden Globe award?&lt;/span&gt; A debate that mixes film critics with political, moral, and social issues. Some say that it is not the film itself that got the award, it is more the 'controversial' theme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watching the movie, I must say that I cannot make up my mind whether it is a good (interesting) movie or not. While I agree that the movie itself is too long and slow, the way it unfolds a sensitive issue is very subtle. The social context and how it has conditioned homosexuality are superbly shown. The 'absence' of continous interactions between the two main characters (we would see snap shots of their life separately but not the evolution of their relationship) deepen the feeling of frustation that the movie intended to show. This 'void' does not make the movie dull, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;au contraire&lt;/span&gt;, it saddens me. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, magnificent landscapes that, I think, are intended to fill this void are overemphasized. These excellent photographic sceneries, Ang Lee's trademark, are out of place and sometimes are disturbing the emotion build up throughout the movie. Sometimes I was not sure whether I should concentrate on the couple's frustation and rejection or contemplate on the background landscape. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This movie has shown homosexuality from a point of view that reminds us that it is a love story after all. It is not a gay-cowboy movie, it is a movie about tragic love. Tragic, as it was not only a forbidden nor impossible love, but it was a love which should /could not exist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In short, it is a romantic, sad, and moving story. A story that hopefully will create more tolerance in this world.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113862327802215604?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113862327802215604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113862327802215604&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113862327802215604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113862327802215604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/comment-brokeback-mountain.html' title='Comment: Brokeback Mountain'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113845681117858289</id><published>2006-01-28T14:46:00.000+01:00</published><updated>2006-01-28T15:03:22.456+01:00</updated><title type='text'>Tiket cepet kaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/pubHomeJourMil2FR.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/pubHomeJourMil2FR.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Xaf dan teman-temannya lagi kena demam euromillions. Lotre 9 negara Eropa. Setiap minggu hadiahnya utama semakin berlipat kalau setiap minggu tidak ada pemenangnya. Minggu depan saja hadiah utamanya 183 millions euro. Berapa rupiah? Kalikan saja dengan 12.000, saya sendiri ragu akan ada berapa nolnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu juga ngedengerin ocehan Xaf yang ngimpi dapet berjuta-juta swiss franc. Tumben ngeliat orang seperti dia yang realistis dan praktis sampai menghayal nggak karuan begitu. Malah sampai ada diskusi tentang mau dibelanjain apa duitnya kalau memang menang. Ide paling mutakhir adalah ide temannya. Si teman kerjanya yang cukup frustasi dengan tim kepemimpinan kampusnya berhasrat mau menukarkan satu juta franc ke pecahan 20-an. Terus gunungan uangnya mau dibakar di depan universitas! Komentar saya: Kalau bener dia dapet dan dia mau ngelaksanain idenya, kasih tahu tempat dan waktunya. Saya bakal siap di tempat eksekusi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fire extinguisher&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas saya ditanya apa yang mau saya lakukan dengan uang segudang seperti itu, saya pun dengan kalem menjawab, "Bikin undian berhadiah ala nepotisme yang berlaku hanya untuk teman-teman saya. Hadiahnya: tiket pulang pergi Jakarta-Jenewa." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang wangsit nomor kok nggak tiba-tiba, padahal jam tidur sudah diperpanjang. Hihihi..Minggu ini kami pun hanya menang 15 CHF. Nggak balik modal deh. Semoga minggu depan akan lebih beruntung. *khidmat*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113845681117858289?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113845681117858289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113845681117858289&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113845681117858289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113845681117858289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/tiket-cepet-kaya.html' title='Tiket cepet kaya'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113819197075337347</id><published>2006-01-25T11:35:00.000+01:00</published><updated>2006-01-26T09:43:48.273+01:00</updated><title type='text'>Bon appétit</title><content type='html'>Saya sering membaca atau mendengar keluhan tentang cara makan Eropa yang berbeda dengan kita. Terutama ketika kita harus makan di restoran yang memberikan menu lengkap dan di atas meja terlihat tatanan meja yang menakjubkan dengan deretan sendok, garpu, pisau, gelas beraneka ragam, bentuk dan ukuran. Kadang suka liat di film kan orang awam yang kebingungan musti makan pakai garpu atau pisau yang mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali musti masuk restoran yang menyediakan masakan Perancis juga takjub.  Udah takjub sama tatanan mejanya, pas dikasih list menunya jadi lebih takjub lagi. Menu lengkap makan malam biasanya terdiri dari  5 tahap: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;entrée, plat principal, fromage (optional), dessert, café/digestif.&lt;/span&gt; Jadi banyaknya alat makan karena banyaknya hidangan yang akan dihidangkan. Kunci utamanya cuma satu, mulai dari yang paling luar. Dan jangan panik, setiap satu hidangan selesai, alat makan kita pasti langsung diangkut sama pelayan sebelum hidangan yang lainnya diantarkan ke meja kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau makanan pembuka salad, biasanya yang paling luar akan disediakan garpu dan pisau dengan ukuran medium, kalau sup di sebelah kanan piring akan disediakan sendok (mengganti garpu dan pisau). Untuk menu utama, &lt;a href="http://www.thefreedictionary.com/table+knife"&gt;pisau&lt;/a&gt; yang digunakan pun tergantung jenis makanan yang dihidangkan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Steak, fish, pasta, or vegetarian&lt;/span&gt;. Yang menarik kalau kita pesen steak pasti ditanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Quel cuisson desirez-vous, Madame? Saignant, bleu, à point, ou bien cuit?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steak daging di sini dimasak dengan empat tahap kematangan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saignant&lt;/span&gt; itu yang paling 'mentah', cuman dibolak-balik di atas penggorengan sebentar. Kalau pas dipotong masih ada darahnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bien cuit&lt;/span&gt; itu yang paling matang. Tapi hati-hati, tergantung jenis dagingnya, kadang tidak direkomendasikan untuk memilih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bien cuit, &lt;/span&gt;karena daging akan menjadi terlalu keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hidangan utama, biasanya pelayan akan menawarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;plateau de fromage, &lt;/span&gt;keju. Kalau anda memilih untuk mencoba keju yang ditawarkan, pelayan pun akan memberikan sepasang sendok dan garpu khusus. Perhatian, jangan memakan keju dengan tangan. Sangat tidak sopan.  Kemudian disusul dengan pencuci mulut. Siap-siap aja bingung memilih berbagai pencuci mulit yang ditawarkan. Menu Eropa sangat kaya akan pencuci mulut. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;café&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;digestif&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Digestif&lt;/span&gt; adalah alkohol keras yang membantu pencernaan. Biasanya dihidangkan dalam gelas kecil dan langsung menghangatkan tenggorokan ketika diminum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada tata cara yang harus diperhatikan ketika di meja makan. Banyak peraturan tidak tertulis yang sayangnya sekarang sudah mulai hilang. Namun tidak ada salahnya kita selalu berusaha untuk menjaga etika, karena hal-hal kecil seperti ini yang memberikan nilai plus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;To do:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Tutuplah buku menu ketika anda sudah memilih. Pelayan tidak akan datang apabila buku menu anda masih terbuka atau ketika anda masih iseng melihat-lihat menu yang ditawarkan.&lt;br /&gt;2. Meletakkan lap tangan di atas paha atau di depan dada sebelum pelayan menghidangkan makanan.&lt;br /&gt;3. Meletakkan lap tangan dengan rapi di samping piring atau di atas kursi tempat duduk (untuk perempuan) ketika harus meninggalkan meja di tengah-tengah hidangan.&lt;br /&gt;4. Menutup mulut dengan tangan atau lap tangan ketika akan mencabut tulang ikan dari dalam mulut.&lt;br /&gt;5. Ketika memakan hidangan pembuka yang harus menggunakan tangan, cuci tangan di mangkok yang sudah disediakan sebelum diseka dengan lap tangan.&lt;br /&gt;6. Ketika anda akan menuangkan air minum atau anggur ke dalam gelas anda, dan itu artinya akan menghabiskan isi botol yang tersedia, selalu menawarkan pada yang lain untuk berbagi dengan anda. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just in case if others would like to have water or wine as well. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;7. Letakkan garpu dan pisau berdampingan horizontal di atas piring dengan pegangan terletak di sebelah kanan, dan mata pisau menghadap ke diri anda. Posisi garpu dan pisau seperti ini akan memudahkan pelayan untuk mengangkat piring dan memegang pisau dan garpu secara bersamaan (supaya tidak jatuh menggelundung dari piring) &lt;br /&gt;8. Selalu mengucapkan terima kasih ketika pelayan mengangkat piring kotor anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Don'ts:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Memotong roti dengan pisau. Roti yang disediakan biasanya sudah dipotong (Baguette) atau berbentuk bulat. Roti cukup disobek dengan tangan.&lt;br /&gt;2.  Meletakkan sikut di atas meja. Sangat tidak sopan.&lt;br /&gt;3. Bersendawa.&lt;br /&gt;4. Mulai makan ketika yang lainnya belum menerima makanan yang mereka pesan. Selalu tunggu sampai semua menerima makanan dan saling mengucapkan bon appétit, selamat makan.&lt;br /&gt;5. Menjatuhkan makanan yang dalam perjalanan ke mulut kembali ke atas piring.&lt;br /&gt;6. Menyeka hidung dengan lap tangan. Tissue bekas menyeka hidung pun jangan diletakkan di atas meja.&lt;br /&gt;7.  Tidak membayar, tentunya...:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Others:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Biasanya minuman akan datang lebih dahulu dari makanan. Ketika bersulang, gelas harus disinggung dengan gelas teman makan dan mengucapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;santé&lt;/span&gt;. Sewaktu mengucapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;santé&lt;/span&gt;, mata kita harus melihat mata yang disulangi. Ada kepercayaan kalau tidak akan mendapatkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bad sex-life&lt;/span&gt; untuk 7 tahun! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thank you Silverlines for the confirmation&lt;/span&gt; ;)&lt;br /&gt;2. Sewaktu bersulang pun, kalau kebetulan makan ramai-ramai, tidak boleh saling bersilangan. Contohnya kalau saya mau menyulangi teman saya yang diseberang meja, teman sebelah saya tidak boleh menyulangi mereka yang juga duduk di seberang meja, karena itu artinya lengan dia akan 'menyilang' dari lengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S: Ini hanyalah rangkuman dari pengalaman pribadi saya selama di sini. Daftar yang saya tulis di sini jauh dari lengkap. Lagipula setiap tempat memiliki tradisi dan etiket sendiri-sendiri. Mungkin ada yang mau nambahin?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113819197075337347?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113819197075337347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113819197075337347&amp;isPopup=true' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113819197075337347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113819197075337347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/bon-apptit.html' title='Bon appétit'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113811622607523493</id><published>2006-01-24T16:01:00.000+01:00</published><updated>2006-01-24T16:26:55.813+01:00</updated><title type='text'>Niatnya baik, jadinya...</title><content type='html'>Setiap saya harus pulang ke Indonesia, saya selalu merasa 'kikuk' dan bersalah ketika membandingkan pendapatan saya dengan berapa banyak uang bulanan saya bisa memberi makan orang di sekitar saya. Perbedaan relatif biaya hidup di sini dan di rumah sana membuat saya enggan untuk menawar harga, untuk menghemat seribu atau dua ribu rupiah. Mama saya yang pentolan tawar-menawar kadang suka sewot melihat saya yang langsung mengalah ketika berbelanja di pasar tradisional. Sepertinya dia kecewa melihat ilmu menawar saya yang dibangun dengan susah payah olehnya lenyap begitu saja. Atau kadang dia merasa 'dirampok' sama tukang buah ketika saya dengan halus menolak tawaran mama saya untuk menawar harga jeruk satu kilo. Sewaktu dia ngomel-ngomel membodoh-bodohi saya yang mau saja dikibulin tukang buah, saya biasanya langsung bilang, "Ma, uang segitu satu franc pun nggak sampai. Lagian ibu itu lebih butuh uang itu daripada pipit." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya dan teman saya harus pergi ke rumah seorang teman lainnya yang baru saja melahirkan. Rumah mungilnya bisa dicapai dengan angkot (yang muter-muter bikin mabok) atau becak. Berhubung saya tidak kenal daerahnya dan hobi naik becak, saya pun dengan semangat mendatangi pangkalan becak di pinggir jalan. Entah kenapa saya secara otomatis mulai menawar. Ternyata kebiasaan lama memang susah untuk dihilangkan. Lagipula saya tidak tahu berapa jauh rumah teman saya itu dari pangkalan. Akhirnya, setelah tawar-menawar kami pun setuju dengan harga Rp. 7000, turun dari Rp. 10000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata rumah teman saya lumayan jauh. Sudah udara panas terik dan jalanannya menanjak, ditambah berat saya dan teman saya pasti tidak ringan seperti kapas. Hati saya langsung kasihan setengah mati dan merasa berdosa telah tega memotong 3 ribu rejekinya si abang becak. Tangan saya pun sibuk membongkar-bongkar dompet, berharap cemas bisa menemukan uang pecahan sepuluh ribu-an. Sampai di depan rumah teman saya, langsung saya sodorkan uang sepuluh ribu, dan ketika si abang hendak mengaruk kocek memberikan kembalian, saya pun menolak. Muka si abang langsung cerah seperti bulan purnama, dan dia malah menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke pangkalan tadi. Tapi berhubung saya tidak tahu sampai kapan saya akan ngalor ngidul sama teman saya, tawarannya pun saya tolak dengan senyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya saya hendak kembali menjenguk teman saya tersebut. Kali ini saya pergi sendirian. Setiba di pangkalan saya sudah siap memberikan alamat, tapi entah kenapa saya masih juga iseng nanya harga jasa becak dan mencoba menawar. Tiba-tiba semua tukang becak menjawab, "Sepuluh ribu nggak boleh kurang neng!" Haaahhh..saya langsung kaget. Lho kok, kemaren tujuh ribu masih bisa, kenapa sekarang semua ngotot minta sepuluh ribu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun langsung ngedumel dalam hati, ternyata si abang kemaren mungkin curhat sama temen-temennya dan mereka berkesimpulan kalau tarif mereka perlu dinaikkan ke sepuluh ribu. Toh ada yang mau membayar segitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini langsung dongkol. Kok niat baik malah disalahgunakan. Untuk saya uang sepuluh ribu mungkin tidak seberapa, tapi bagaimana dengan pelanggan lainnya yang cuma punya uang pas-pasan. Kalau sampai para pengguna jasa becak harus membayar lebih mahal, ini kan jadi salah saya. Aduh...ini bagaimana ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya demi memprotes saya pun menolak naik becak. Saya memilih naik angkot, walaupun sambil deg-degan takut nggak sampai. Kecewa rasanya melihat niat baik saya malah mungkin menyusahkan orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113811622607523493?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113811622607523493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113811622607523493&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113811622607523493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113811622607523493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/niatnya-baik-jadinya.html' title='Niatnya baik, jadinya...'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113801800169745028</id><published>2006-01-23T12:36:00.000+01:00</published><updated>2006-01-24T09:58:03.203+01:00</updated><title type='text'>500 years of Swiss Guard</title><content type='html'>Yesterday was the 500 years of Swiss Guard, as it was on 22 January 1506 that Pope Jules II requested Swiss Mercenaries to become the defender of the Holy See. Pope Jules II was impressed by the capabilities of Swiss Mercenaries in defending the Conferederation in face of attack from Habsburg Austrian or Duke of Milan. As the Pope felt his authority was weaken by Reformer and corruption and bad finance, the Vatican felt the need to increase its security.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;150 brave mercenaries leaved from Lucerne in winter 1505-1506. Soon, they became indispensable for the Vatican, and their number was increased to 300 in 1512. Already famous as the best troops in Europe at that time, Swiss mercenaries created a legend in their capacity of Swiss Guard. In 1527, attack was launched on Rome. Pope Clément VII made a mistake in aligning himself with French camp against the Emperor Charles Quint. The later destroyed Rome and almost invaded the Vatican-City. The Swiss Guard barricaded the entry to Saint Peter's Basilica and defended the Vatican against thousands of armies. 147 Swiss Guards died, while the 42 survivors succeeded in protecting the Pope Clément's retreat to Castel Sant'Angelo. On that day, 6 May 1527, the Swiss Guard saved the Papacy. This historic glorious act is celebrated every 6 May, when the new recruits take their oath of loyalty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Directly under Pope's order, now Swiss Guards consist of 110 men. To become one, the man has to be Swiss, age of 19-30 y.o, minimum 174 cm, Catholic, single, without criminal record, and succeeded in the Swiss Guard's training. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: L'Illustré, No. 3, 18 January 2006, p. 56&lt;br /&gt;For more information click on &lt;a href="http://www.vatican.va/roman_curia/swiss_guard/"&gt;The Roman Curia: Swiss Guard&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113801800169745028?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113801800169745028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113801800169745028&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113801800169745028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113801800169745028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/500-years-of-swiss-guard.html' title='500 years of Swiss Guard'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113801408733590328</id><published>2006-01-23T11:27:00.000+01:00</published><updated>2006-01-24T09:59:48.746+01:00</updated><title type='text'>Let's talk about human rights</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setting&lt;/span&gt;: 13.30, di sebuah restoran Cina di dekat stasiun kereta api Gare Cornavin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi makan siang agak telat dan sedang lagi hangat-hangatnya berdebat tentang perempuan dan sistem akademik di Indonesia dan Swiss, tiba-tiba kuping saya yang caplang ini menangkap obrolan dalam bahasa Indonesia di meja di belakang punggung saya. Wah...ternyata ada 3 orang Indonesia yang sedang makan di restoran ini juga. Sambil terus berdebat, kuping ini secara setengah tidak sadar ikut menguping pembicaraan para bapak dan ibu-ibu di belakang. Tiba-tiba kuping saya mendengar potongan pembicaraan yang membuat nafsu makan hilang dengan seketika. Tentang tahu formalin atau bakso tikus? Bukan..bukan..tapi tentang pelecehan hak asasi manusia. Berikut potongannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibu 1&lt;/span&gt;: ya...sebenernya pembantunya sudah minta mau pulang, tapi Pak X nggak kasih karena dia dan keluarganya juga memang harus pulang dalam waktu dekat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibu 2&lt;/span&gt;: Bukannya masalah gaji?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibu 1&lt;/span&gt;: Bukan mbak. Memang sih gajinya tidak sesuai dengan standar gaji pembantu di sini yang katanya sekitar 1400 an lah. Lagipula LSM itu biasanya memalingkan muka kalau masalah gaji, karena mereka tahu kalau gaji pembantu di Indonesia itu jauh lebih kecil daripada di sini.&lt;br /&gt;Tapi ya itu MASALAHNYA ada LSM yang bisa mengawasi kalau standar peraturan ini telah dijalankan atau tidak. Jadi para pembantu bisa melapor kepada LSM ini dan mereka akan bertindak...hehehehe (ketawa nyeleneh)&lt;br /&gt;Kalau Pak X ini memang tidak bermasalah karena gaji pembantu yang tidak sesuai dengan standar, tapi karena masalah hak asasi manusia. Jadi Pak X dituntut karena dianggap tidak menghormati hak asasi manusia pembantunya...hahahahaha (ketawa ngakak nyeleneh)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pak 1&lt;/span&gt;: Ooo..begitu toh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang denger langsung naik darah turun kesabaran! Kok ketika ada LSM yang membela kaum kecil (pembantu) dan memastikan kalau hak-hak mereka terpenuhi sebagai seorang manusia dan pekerja malah ditertawakan, dan malah dibilang MASALAH. Apa yang lucu hey Bapak dan Ibu kaum elite Indonesia?!! So what kalau si Bapak X itu mungkin adalah salah satu diplomat Indonesia di sini? Malah bagus kalau dia sampai dituntut ke pengadilan oleh LSM karena dianggap tidak menghargai pembantunya. Mencoreng nama Indonesia, memang! Tapi berapa juta rakyat Indonesia yang akan bersorak gembira kalau para pelanggar HAM di Indonesia juga diperlakukan seperti si Bapak Beliau terhormat. Biar si Bapak dapat malu dan namanya masuk ke dalam rekor kriminalitas di sini, biar si Bapak tahu rasa dan akhirnya sadar kalau nama dan jabatan tidak akan membuatnya kebal hukum seperti halnya dia di 'kandang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu saya..malu...mendengar ocehan para elite terpelajar yang seperti menganggap bahwa pembantu itu tidak punya hak asasi manusia dan melecehkan mereka, kaum asing, bule, yang membela saudara sebangsanya sendiri. Atau mereka merasa kalau pembantu itu bukan saudara, yang saudara malah si bapak X, pejabat diplomat terkenal? Jadi mereka merasa LUCU kalau ada yang menuntut The Mr. X, karena dianggap tidak pantas atau tidak pada tempatnya? Apa yang lucu? Terangkan-terangkan! Apa kalau rakyat kecil tidak punya hak sedangkan kelas kakap selalu punya hak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya malu kalau sampai diplomat yang membawa nama negara sampai bersikap tidak sesuai dengan standar tuan rumah. Nggak usah pakai alasan kalau di Indonesia itu lain, dsb. Ini Jenewa bung! Katanya diplomat, katanya orang terpelajar, kok masalah penting seperti standar buruh sampai diabaikan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When you are in Rome act like Roman. When you are in Switzerland, respect and obey the law!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana penghargaan akan hak asasi manusia di Indonesia akan membaik, ketika usaha pihak asing dalam membela kaum lemah bangsanya sendiri malah dilecehkan dan ditertawakan? Mentalitas hierarkis seperti ini hanya akan membuat seorang buta akan pelecehan hak asasi manusia. Harusnya mereka tunduk sembah kepada LSM ini, karena ternyata pihak asinglah yang perduli sama nasib orang Indonesia di negeri asing. Seandainya ada banyak LSM seperti ini di negara Timur Tengah, mungkin tidak akan ada berita penganiayaan, pemerkosaan, dan pembunuhan para TKW. Terima kasih yang harusnya disembahkan ke LSM tersebut, bukan gelak tawa meledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat seperti ini saya langsung mencampakkan slogan "right or wrong is my country". Kalau saja berita itu masuk koran, pasti sudah saya kliping dan diberi pigura. Kalau saya tahu nama LSM bersangkutan (saya akan cari tahu dalam waktu dekat), akan saya sumbangkan sedikit penghasilan saya dan akan saya kirimkan kartu ucapan terima kasih dari seorang warga negara Indonesia. Satu yang saya sesalkan, kenapa saya tidak berani mendatangi para bapak dan ibu yang sedang ngobrol itu dan memberi tahu apa yang saya pikir tentang tingkah laku mereka tersebut. Ahh..saya memang pengecut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Human rights are universal. It applies accross status, wealth, race, religion, and age, as well as its prosecution. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113801408733590328?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113801408733590328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113801408733590328&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113801408733590328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113801408733590328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/lets-talk-about-human-rights.html' title='Let&apos;s talk about human rights'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113734272251793828</id><published>2006-01-15T15:46:00.000+01:00</published><updated>2006-01-17T10:34:24.043+01:00</updated><title type='text'>Komentar: Bumi Manusia</title><content type='html'>Bumi Manusia adalah buku karangan Pramoedya Ananta Toer pertama yang saya baca. Dulu sewaktu kuliah saya paling takut sama bukunya karangan Bapak Toer ini. Takut tidak bisa menghargai karya sastra kandidat hadiah Nobel untuk sastra ini. Ternyata benar, buku fiksi ini tidaklah sesederhana seperti kelihatannya. Sekilas buku ini adalah sebuah novel cinta dengan latar belakang Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Tapi menilik lebih dalam, banyak kritik sosial dan renungan moral di balik cerita cinta Minke dan Annelies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita, terdapatlah seorang Minke, lelaki Jawa berdarah biru, anak Bupati. Minke yang murid H.B.S kemudian jatuh cinta pada Annelies, seorang Indo, anak seorang gundik Nyai Ontosoroh dengan Tuan Mellema. Penuturan kisah cintanya sendiri cukup sederhana, namun penuh dengan berbagai kejanggalan yang secara tidak langsung memberikan gambaran kompleksitas setiap karakter cerita. Kompleksitas yang berkutat pada kontradiksi antara nilai timur dan barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukanya mata Minke akan ilmu-ilmu Eropa membuat dirinya melihat ketidak-adilan dan penghinaan di balik kultur feodalisme Jawa. Minke pun mengagungkan kebebasan ala Barat dan berusaha melepaskan diri dari sifat ke - Jawa - an. Pemberontakan jiwa Minke tampak jelas di satu adegan dimana ia harus bersimpuh di depan ayahnya sambil mengutuk dalam hati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demu tahun kebelakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu....Sembah--pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini."(p. 182)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, diskriminasi sistem sosial dan hukum Hindia Belanda yang dialami oleh Minke kemudian membuatnya terkadang mempertanyakan keagungan nilai-nilai Barat yang menjanjikan masa depan yang cerah untuk manusia. Dan ketika ia harus tunduk kepada hukum Belanda, yang tidak hanya menginjak harga dirinya tapi juga merampas haknya, ia pun kemudian mengutuk ketidak-adilan sang guru, Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontradiksi antara nilai timur dan barat pun sangat jelas digambarkan oleh karakter Nyai Ontosoroh. Seorang perempuan Jawa, dijual oleh ayahnya demi sebuah jabatan. Seorang gundik yang lebih terpelajar dari Bupati, berkat tuntunan tuannya. Nyai Ontosoroh mengutuk nasibnya, namun menolak untuk dipanggil Mevrow (nyonya) dan selalu meminta untuk dipanggil Nyai (panggilan untuk gundik). Karakter ini penuh dengan kegetiran. Penekanan akan sebutan Nyai menunjukkan sifat terpelajarnya yang membuat dirinya sadar akan kedudukan sosial, tapi menurut saya, dengan meminta untuk dipanggil Nyai, ia juga mengingatkan dirinya sendiri akan nasibnya yang sungguh mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ontosoroh membenci "Jawa" yang selalu menunduk-nunduk dan menjilat untuk mendapatkan kedudukan(yang telah menjadikan dirinya seorang gundik), namun ia pun jijik pada "Belanda", gurunya, yang kemudian menjadi gila dan mentelantarkan dirinya dan keluarganya. Nyai Ontosoroh membenci "Jawa" yang mengutuk kedudukannya sebagai gundik, namun ia pun membenci "Belanda" yang tidak mau mengakui dirinya sebagai ibu sah anak-anaknya dan menghormati dirinya sebagai seorang manusia terpelajar yang fasih berbahasa Belanda hanya karena dirinya seorang gundik, seorang budak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini memperlihatkan pergolakan batin para insan yang terjepit dua budaya, dua nilai, dan dua pemahaman. Novel yang penuh dengan kritik sosial akan kedua nilai tradisional dan modern. Ambiguitas setiap karakter membuat novel ini tidak hanya berhasil menggambarkan revolusi budaya di negara terjajah tapi juga merupakan sebuah penolakan akan pengagungan absolut sebuah nilai budaya dan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaparan akan peranan ilmu pengetahuan dalam mengobrak-abrik tata sosial sebuah masyarakat tradisional membuat saya teringat akan murkanya seorang pendeta akan kemajuan teknologi yang dipandang mempertipis kepercayaan manusia akan Tuhan dan mukjijatnya di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Angels and Demons &lt;/span&gt; karya Dan Brown. Sedangkan tokoh Nyai Ontosoroh, gundik terpelajar seperti halnya permata dari kubangan lumpur, mengingatkan saya akan tokoh utama pelacur di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Supernova 1&lt;/span&gt; karya Dee. Sungguh menarik ketika satu buku mengingatkan kita akan buku yang lain, seakan ada benang merah yang menghubungkan para pengarang yang berada di tempat dan waktu yang berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113734272251793828?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113734272251793828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113734272251793828&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113734272251793828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113734272251793828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/komentar-bumi-manusia.html' title='Komentar: Bumi Manusia'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113732433509149940</id><published>2006-01-15T11:43:00.000+01:00</published><updated>2006-01-15T12:33:24.626+01:00</updated><title type='text'>Maman banane</title><content type='html'>Home sick terkadang muncul tidak diundang dan tidak terduga, tapi susah untuk diabaikan. Rindu dengan keluarga dan teman dapat diobati dengan bincang-bincang di telepon. Rindu dengan berbagai kenikmatan kuliner malah mendorong diri untuk lebih mahir memasak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan rindu akan suasana Indonesia? Rindu  dengan pemandangan sekitar, rindu menghirup udara Indonesia (terlepas dari kadar polusinya), atau rindu akan alam Indonesia tidak akan terhapuskan dengan melihat berbagai laporan di televisi atau ratusan photo. Malah kadang membuat dada semakin sesak dan air mata tergenang di sudut mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20003.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20003.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Obatnya...pohon pisang di dalam pot! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serius, di sini ternyata ada pohon pisang yang bisa tumbuh di dalam pot. Pohon yang saya beri nama "maman banane", karena sudah bertunas 5 dan tetap megah dengan daun-daun lebarnya. Maman banane selalu mengingatkan saya akan halaman belakang rumah. Walaupun tidak bisa berbuah pisang bertandan-tandan, paling tidak mata saya tetap sejuk memandangi ruas-ruas daun pisang yang hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas, duduk-duduk di beranda apartemen, di samping pohon pisang mini, membaca buku kesayangan dan segelas jus jeruk dingin...ah serasa berada di beranda belakang rumah kembali. Yup, tiada rotan, akar pun jadi. Tidak ada yang asli, yang miniatur pun jadi. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113732433509149940?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113732433509149940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113732433509149940&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113732433509149940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113732433509149940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/maman-banane.html' title='Maman banane'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113707297694218393</id><published>2006-01-12T14:15:00.000+01:00</published><updated>2006-01-12T14:51:12.223+01:00</updated><title type='text'>Mama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/mother.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/mother.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Tiba-tiba kangen sama mama; dan jadi terpikir, kalau saya ditanya mau jadi apa kalau sudah besar, sekarang akan menjawab "mau jadi seperti mama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama saya adalah salah seorang perempuan yang menurut saya hampir sempurna (begitu pula dengan ibu mertua saya).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama cantik, sangking cantiknya pernah digodain sama anak kuliah yang umurnya lebih muda dari anaknya sendiri. Cantiknya mama bisa saingan sama Widyawati, artis terkenal itu. Coba saya secantik mama, pasti waktu kuliah dulu nggak akan sering patah hati menerima penolakan cinta. Hihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama kuat, tegar dan tegas, tapi tetap saja saya bisa merasakan kasih sayang mama. Mama bener-bener kuat, bisa menyeimbangkan antara urusan kantor dan rumah. Tegas dalam mendidik anak-anaknya, dan selalu tegar dalam menghadapi setiap kesulitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama sangat pintar masak, terpelajar walaupun nggak suka belajar, berpikiran terbuka walaupun tidak meninggalkan nilai-nilai tradisi, dan selalu memberi kesempatan untuk anak-anaknya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama bukan orator tapi selalu didengarkan kalau angkat bicara, bukan pemimpin tapi hampir semua orang merasakan wibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I love you mom, and I hope I make you proud and happy.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113707297694218393?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113707297694218393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113707297694218393&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113707297694218393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113707297694218393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/mama.html' title='Mama'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113699901638509525</id><published>2006-01-11T17:52:00.000+01:00</published><updated>2006-01-12T10:27:19.126+01:00</updated><title type='text'>Alpha..Bravo..Charlie..hello!!</title><content type='html'>I know that sometimes it is difficult to understand what others are saying on the phone, especially when the person is spelling a word or a code. Thus, for airlines companies, when they answer your phone calling to confirm your ticket, they will expect you not to say ASZ 234 (for example), but Alpha Sierra Zulu 234. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine, when you know that Alpha, Sierra, and Zulu should stand for ASZ. But what is wrong if I say, Alpha Santa Zero 234. Isn't it the same? Why did the person at the end of the line treat me like I am some kind of idiot? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forgive me if I don't work in travel related bussines, but who decided that Sierra stands for S and that Santa cannot stand for the alphabet S anyway. Yes, I said Santa not Fanta...S not F.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How about if I make my own rule? Asterix, Batman, Cubitus, etc. Let's see if you can "spell" my way.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113699901638509525?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113699901638509525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113699901638509525&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113699901638509525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113699901638509525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/alphabravocharliehello.html' title='Alpha..Bravo..Charlie..hello!!'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113656667177005631</id><published>2006-01-06T16:43:00.000+01:00</published><updated>2006-01-07T11:40:10.976+01:00</updated><title type='text'>Kapankah harus mulai mengepakkan sayap?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Birds.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Birds.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Beberapa hari yang lalu sewaktu lewat di depan tempat penyewaan DVD mata saya tertumbuk pada poster film komedi. Poster itu intinya mengolok-olok pemuda berumur 27 tahun masih tinggal di rumah orang tuanya. Sambil nyengir pikiran pun tersentak. Beda, beda sekali dengan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi akan kemandirian sungguh berbeda. Di Indonesia, tinggal bersama orang tua adalah sesuatu yang normal bagi mereka yang belum menikah atau yang baru menikah. Tidak akan ada yang mentertawakan kenyataan bahwa seorang berumur 27 masih tinggal di bawah atap orang tua, walaupun mungkin ada yang berkomentar miring ketika ada perempuan yang belum menikah dengan umur setua itu. Saya pun jadi berpikir, betapa terlambatnya seorang manusia Indonesia dituntut untuk mandiri. Alangkah nyamannya norma masyarakat yang mengijinkan seorang anak berlama-lama menikmati hangatnya sarang induk mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbicara tentang hal secara umum. Saya yakin banyak dari para muda yang harus mandiri karena tuntutan keadaan. Tuntutan keadaan, itu intinya. Mereka yang mandiri dari dini adalah kasus khusus, karena ada tuntutan keadaan. Tapi bagi para muda di sini, mereka yang TIDAK mandiri dari dini adalah kasus yang khusus. Mereka mandiri bukan karena tuntutan keadaan, tapi memang tuntutan hidup. Jalan menuju kemandirian sudah harus mereka tapaki ketika umur menginjak angka 20. Tidak heran kalau para muda di sini jauh lebih mandiri, karena mereka menganggap kemandirian adalah sesuatu yang tidak perlu dikeluhkan tapi untuk dijalani dan dinikmati. Bekerja paruh waktu pun dijalani sejak muda, dan hidup lepas dari orang tua merupakan suatu normalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua kadang terlalu sayang dan khawatir akan kesejahteraan anak-anaknya. Sehingga mereka pun selalu berusaha 'merangkul' putra-putrinya seperti layaknya induk ayam. Banyak orang tua yang tidak mau 'melepas' anaknya untuk hidup jauh dari mereka, dan selalu berjaga-jaga di belakang kalau-kalau si anak jatuh, untuk selalu menolongnya untuk berdiri kembali. Anak pun menjadi terbiasa dengan si &lt;span style="font-style:italic;"&gt;safety net&lt;/span&gt;. Dirinya pun selalu mengandalkan orang tuanya, enggan untuk mencoba terbang dan jatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedihnya, jarang anak yang mempertanyakan perhatian orang tuanya tersebut. Bagi mereka sudah sepantasnya orang tua menuntun mereka sejauh apapun yang mereka mau. Mereka kadang malah mengharapkan orang tua untuk terus mendukung mereka tanpa mau bertanya masih patutkah saya merepotkan orang tua? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tidak mencoba mengepakkan sayap lebih dini? Kenapa tidak diperbolehkan meninggalkan sarang lebih awal? Kenyamanan tidak selamanya baik, kenyamanan kadang berbuah ketidakperdulian. Langkah manusia tercipta karena dorongan dan tantangan, bukan tumpukan bantal nyaman di sudut ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Picture from &lt;a href="http://lava.nationalgeographic.com/cgi-bin/pod/archive.cgi?tid=82"&gt;National Geographic&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113656667177005631?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113656667177005631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113656667177005631&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113656667177005631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113656667177005631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/kapankah-harus-mulai-mengepakkan-sayap.html' title='Kapankah harus mulai mengepakkan sayap?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113655893139451411</id><published>2006-01-06T15:19:00.000+01:00</published><updated>2006-01-06T17:59:06.200+01:00</updated><title type='text'>Katakan dengan kartu pos</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Postcard1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Postcard1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Teknologi katanya memperdekat jarak. Telepon membuat kita bisa ngobrol walaupun terpisahkan beribu kilometer jauhnya. Email bisa membuat kita menulis dan menerima kabar tanpa harus menunggu berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Berbagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;messenger &lt;/span&gt; bisa membuat kita tetap berbincang-bincang dengan yang lain yang berada di seberang lautan, walaupun suara digantikan oleh tarian jari-jari di atas keyboard. Tapi tidakkah ada yang merasa kedekatan jarak yang diciptakan oleh teknologi terkadang memudarkan indahnya komunikasi antar dua insan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email memang memudahkan kita untuk mempertahankan kontak dengan seorang teman. Tapi kemudahan ini kadang malah membuat kita meremehkan arti dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"stay in touch" &lt;/span&gt;. Tak jarang kita sehabis membaca email berkata.."ah entar aja balesnya, gampang ini." Nanti...nanti...dan akhirnya tidak pernah terbalas, karena email tersebut sudah tertimbun dalam inbox. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca email pun rasanya hambar. Kabar tertulis dalam tulisan yang rapi namun mekanis, tidak ada unsur manusia seperti halnya tulisan tangan. Tidak ada emosi yang disampaikan dari tulisan sebuah tangan manusia. Lekukan huruf dan tanda tangan penulis memberikan sentuhan personal dari kabar tersebut, kabar yang ditulis oleh orang yang kita kenal, sayangi, atau bahkan rindukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah lihat surat-surat lama nenek atau orang tua kita? Saya pernah lihat tulisan nenek saya jaman dahulu kala. Tulisan sambung yang terukir seperti cacing di atas kertas yang menguning. Saya masih ingat gemetarnya tangan saya waktu itu, tersentuhnya hati saya, seakan mencoba merasakan sejarah dari surat tersebut. Perasaan yang kurang bisa saya dapatkan dari membaca email-email cinta saya pada beberapa tahun silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Postcard2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Postcard2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Makanya hati saya selalu langsung berbunga-bunga ketika di kotak pos saya ada surat atau kartu dari teman-teman saya. Senangnya hati ini ketika membaca kabar singkat di balik kartu pos lebih daripada ketika membaca cerita panjang lebar di sebuah email. Berhubung saya penganut paham &lt;span style="font-style:italic;"&gt;treat others like you want them to treat yourself&lt;/span&gt;, saya pun selalu berusaha mengirimkan kartu pos ke teman-teman saya; walaupun isinya hanya singkat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;just wanna say hi or thank you for your card.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kenapa tidak sampaikan kabar dengan kartu pos? Kartu pos yang memberikan sedikit gambaran tempat di mana kita berada, tempat baru yang kita injak dalam pertualangan hidup, photo artistik yang menyampaikan perasaan hati pada saat itu, atau sekedar gambar jenaka yang membuat kita tersenyum merupakan media untuk berbagi dengan mereka yang jauh di sana. Sebuah media untuk memperlihatkan hidup kita saat itu, hidup yang sudah terpisah oleh jarak. Biaya mengirim kartu pos lebih murah daripada surat atau kartu lainnya, harganya pun relatif lebih murah. Kartu pos juga tidak menuntut kita untuk mengarang cerita panjang lebar, sehingga tidak ada alasan seperti, harus menulis apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lama memang mungkin kurang praktis, tapi menulis sepucuk surat dengan sebuah pena dan secarik kertas jauh lebih manusiawi. Cetaklah jejak dalam hidup ini, meskipun itu hanya berupa beberapa bait kalimat yang ditujukan kepada seseorang yang berarti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113655893139451411?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113655893139451411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113655893139451411&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113655893139451411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113655893139451411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/katakan-dengan-kartu-pos.html' title='Katakan dengan kartu pos'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113645650131397620</id><published>2006-01-05T10:49:00.000+01:00</published><updated>2006-01-06T16:33:02.186+01:00</updated><title type='text'>Sekelumit tentang Swiss</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/CathedraleDrapeau3.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/CathedraleDrapeau3.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Mencoba menjawab pertanyaan &lt;a href="http://espresso.over-blog.com/"&gt;Macchiato&lt;/a&gt; tentang Swiss, sekarang saya mau cerita sedikit tentang negara kecil mungil ini. Terus terang saya nggak tahu banyak tentang negara ini. Bukannya tidak tertarik, tapi kewalahan. Swiss negara kecil tapi sistem pemerintahannya sangat kompleks dan rumit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swiss adalah negara federal yang berdiri pada tahun 1848. Swiss menganut sistem demokrasi langsung, dan pemerintahannya terdiri oleh 7 anggota yang dipilih oleh Federal Assembly. 7 anggota ini adalah kepala dari 7 departemen utama pemerintah. Kalau dianalogikan dengan sistem Indonesia, bisa dibilang kalau mereka itu adalah 7 menteri. Lucunya, ketujuh orang ini bergiliran untuk menjadi presiden.* Jadi tidak seperti di Indonesia dimana Presiden kedudukannya lebih tinggi daripada menteri, di sini Presiden lebih berfungsi sebagai perwakilan dari para ketujuh pemimpin negara ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;He or she is one among equals. &lt;/span&gt; Berhubung mereka bergiliran menjadi Presiden, setiap tahun presiden Swiss berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau US terbagi dalam beberapa 'states', Swiss terbagi dalam 26 'cantons'. 17 canton adalah canton Swiss-Jerman (berbahasa Jerman), 4 canton Swiss-Romande (berbahasa Perancis), 1 canton berbahasa Itali (Ticino), 3 canton bilingual Perancis-Jerman, dan satu canton (Graubünden) trilingual Jerman, Italia dan Rumantsch.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul..di negara ini bahasa nasionalnya ada empat. Swiss-Jerman (sedikit berbeda dari Jerman), Perancis, Italia, dan Rumantsch. Tapi hanya tiga yang mempunyai status bahasa resmi, Jerman, Perancis, dan Italia. Setiap canton berhak menentukan sistem pelajaran bahasanya, tapi setiap canton harus mengajarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;second national language &lt;/span&gt; dari sekolah dasar. Jadi di Swiss-Jerman, pelajaran bahasa Perancis wajib dari umur 9 tahun. Di Swiss Perancis, bahasa Jerman juga mulai diajarkan dari umur 9 tahun. Di Swiss-Italia, anak sekolah harus belajar bahasa Jerman dan Perancis, tapi boleh melepaskan bahasa Perancis ketika mulai belajar Bahasa Inggris pada tingkat 8.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang tanya, bagaimana orang Swiss yang berbahasa ibu lain berkomunikasi dengan satu dan lainnya. Idealnya setiap orang Swiss minimal bisa mengerti satu bahasa nasional lainnya, namun banyak orang Swiss-Romande atau Swiss-Italia yang tidak bisa berbahasa Jerman, terlepas berapa lamanya bahasa ini diajarkan di sekolah. Teman-teman saya mengeluh tentang rumitnya bahasa ini dan sistem pengajarannya yang tidak menarik dan edukatif. Kalau sudah begini, biasanya Inggris menjadi alat komunikasi. Penguasaan bahasa Inggris naik pesat, terutama di kalangan pelajar, dan di dunia profesional, Inggris sudah hampir menjadi keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari 'masalah' komunikasi antar canton yang berbeda bahasa, budaya multilangual membuat hampir seluruh produk mencantumkan label dalam bahasa Jerman, Perancis, dan Italia, atau minimal Jerman dan Perancis. Seluruh dokumen resmi selalu diterjemahkan dalam bahasa yang digunakan di canton bersangkutan.  Budaya multilingual ini sangat menarik bagi saya. Tanda-tanda di transportasi antar kota (seperti kereta) selalu dalam 3 bahasa. &lt;a href="http://www.banknotes.com/ch66.htm"&gt;Uang kertas&lt;/a&gt; mencantumkan nilai uang dalam 4 bahasa dan di beberapa pengumuman penting atau dokumen publik, nama negara Swiss pun dicantumkan dalam 4 bahasa,  Schweiz - Suisse - Svizzera - Svizra.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah tinggal di canton yang bilingual, Fribourg. Cukup aneh! Bayangkan, semua tanda di jalan terdiri dari dua bahasa, dan orang dengan gampangnya bicara dalam 2 bahasa. Fribourg pun terbagi dua, antara daerah berbahasa Perancis dan daerah berbahasa Jerman, tanda perbatasannya sebuah jembatan tua. Berhubung canton ini bilingual, biasanya mahasiswa asing yang mau belajar di Swiss akan dikirim ke canton ini untuk belajar bahasa Jerman atau Perancis. Seperti halnya saya waktu baru dateng. Ribetnya, temen sebelah kamar saya di dormitory waktu itu dikirim untuk les Jerman. Dia orang Korea dan tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi sering banget kita berdua mati kutu ketika harus berkomunikasi, saya hanya bisa bahasa Inggris dan Perancis, dia hanya bisa bahasa Korea dan Jerman. Jadi kita pun berbahasa isyarat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem federasi memberikan autonomy buat setiap canton dalam hal pemerintahan. Seperti dijelaskan oleh swissworld.org, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Each canton has its own constitution, its government, its parliament, its courts and its laws, though they must, of course, be compatible with those of the Confederation. The cantons enjoy a great deal of administrative autonomy and freedom of decision-making. They have independent control over their education systems and social services, and each has its own police force. Each canton also sets its own level of taxation."&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda banget kan dengan Indonesia, yang semuanya ditentukan oleh pusat. Di sini canton punya peranan yang sangat penting, dan pemilihan cantonal parliament dianggap sama pentingnya dengan pemilihan anggota kabinet pusat. Lucunya karena pendidikan ditentukan oleh canton, antara canton yang satu dengan yang lainnya kadang lama sekolah tidak sama. Ada yang SMA sampai 4 tahun dan ada yang SMA cuma 2 tahun. Jadi kadang ketika mereka bercampur sewaktu kuliah (karena banyak yang pindah canton untuk melanjutkan kuliah), umur para pelajar baru pun beragam. Jenewa sendiri termasuk salah satu canton yang pendidikan dasarnya cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Narasumber: &lt;a href="http://www.swissworld.org/eng/"&gt;Swissworld.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;**Picture by Ricardo de la Riva at &lt;a href="http://www.geneve-tourisme.ch/?rubrique=0000000002"&gt;Genève Tourisme&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113645650131397620?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113645650131397620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113645650131397620&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113645650131397620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113645650131397620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/sekelumit-tentang-swiss.html' title='Sekelumit tentang Swiss'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113638181468746317</id><published>2006-01-04T14:15:00.000+01:00</published><updated>2006-01-15T12:34:41.236+01:00</updated><title type='text'>Komentar: The Constant Gardener</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/CG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/CG.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemarin habis nonton &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Constant Gardener&lt;/span&gt;, film terbaru Ralph Fiennes dan si cantik Rachel Weisz. Film ini adaptasi dari novel pengarang terkenal berkebangsaan Inggris, John Le Carré. Komentar saya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;6 out of 6&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema cerita yang sangat menarik, gabungan antara thriller dan kisah cinta mendalam dengan latar belakang konspirasi perusahaan obat-obatan dan usaha bantuan internasional di Afrika. Cerita yang berpusat pada usaha seorang diplomat muda Inggris, Justin Quayle, mencari tahu sebab kematian istrinya yang idealis dan berjiwa aktivis, Tessa. Tessa yang sangat passionate akan masalah AIDS di Afrika ternyata menapak satu langkah terlalu jauh dan akhirnya terlibat dalam konspirasi perusahaan obat-obatan, dan dibunuh di tengah-tengah danau gersang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini film yang 'pintar' dan juga 'menantang'. Pintar dalam arti banyak adegan yang terbuka akan berbagai asumsi penontonnya, menantang dalam arti penyajian tema 'berat' sangat mengguncangkan hati dan membuat kita bertanya tentang moralitas manusia. Melihat penderitaan Afrika dari suatu sudut yang dikatakan fiksi namun membuat kita meragukan apakah benar semua ini hanya dalam khayalan belaka. Seperti komentar teman saya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"what is worse, it may not be all that fiction."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan dan musik latar belakang bernuansa Afrika membawa kita ke dunia lain. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Totally superb. &lt;/span&gt;Sedangkan jalan cerita yang campuran flash-back, berhasil mempertahankan suspense dari awal sampai akhir film. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Good cinematography combined with wicked theme and mystery&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watch it, you won't regret any second of it. Although you might find yourself stay sitting there, clutching your seat, few minutes after the movie, look aghast and don't know whether you should feel sad or angry.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113638181468746317?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113638181468746317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113638181468746317&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113638181468746317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113638181468746317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/komentar-constant-gardener.html' title='Komentar: The Constant Gardener'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113620555531458188</id><published>2006-01-02T11:14:00.000+01:00</published><updated>2006-01-03T09:51:39.763+01:00</updated><title type='text'>Selamat datang di Indonesia, siapkan kocek anda</title><content type='html'>Sewaktu roda pesawat mendarat di lapangan terbang Soekarno Hatta, langsung mengucapkan Alhamdulillah. Selamat saya sampai di Indonesia. Ternyata kekuatiran saya sebelum berangkat nggak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melangkah keluar pintu pesawat..wusss..angin panas menerpa wajah dan tubuh. Edan..30 derajat..puanas, silau.. halo matahari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menapakkan kaki di bandara , mereka yang para orang asing langsung berburu visa masuk Indonesia. Kadang malu juga sih ngeliatnya, orang berkunjung kok langsung dimintain uang. Iya..iya..buat pemasukan negara, tapi tetep aja malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepet-cepet ke bagian imigrasi dan langsung pasrah ngeliat antrian yang selalu ramai. Langsung sibuk nyiapin paspor, berbagai formulir yang selalu dibagiin di pesawat jurusan Jakarta, dan formulir waktu saya berangkat dari Jakarta terakhir kalinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia paling jagoan deh kalau masalah formulir. Birokrasi kayaknya paling hobi ngumpulin formulir, tapi kadang kok buang-buang kertas ya. Begini, setiap orang yang mau masuk ke Jakarta harus mengisi formulir, asing ataupun WNI. Formulirnya selalu terdiri dari 2 bagian yang bisa dirobek. Tapi sebenernya waktu masuk ke Indonesia, WNI nggak perlu ngisi formulir, dan formulir yang sudah diisi sambil miring2 di pesawat itu nggak pernah diminta oleh pihak imigrasi! Formulir masuk Indonesia itu penting bagi WNA, karena bagian yang diberikan kembali kepada si pengunjung adalah bukti masuk negara Indonesia yang akan diminta kembali sewaktu pengunjung tersebut meninggalkan Indonesia. Sedangkan formulir yang dibutuhkan bagi WNI yang pulang ke Indonesia adalah formulir yang sama tapi yang diisi waktu WNI tersebut berangkat keluar dari Indonesia! Formulirnya sama persis, tapi waktu pengisiannya berbeda dan maksudnya pun berbeda. Formulir kedatangan dan formulir keberangkatan. Formulir keberangkatan tersebut dijadikan alat kontrol lamanya seorang WNI meninggalkan Indonesia. Jadi buat apa WNI mengisi formulir kedatangan, tidak pernah diperiksa, dan buang-buang kertas kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna formulir keberangkatan juga nggak jelas. Bayangkan, anda harus menyimpan selembar kertas dalam paspor anda selama bertahun-tahun. Kemungkinan hilangnya besar banget! (pengalaman pribadi lagi) Apalagi kalau paspor tersebut sering dibawa-bawa dalam berbagai perjalanan selama anda di luar negeri. Kalau mau mengontrol kapan si pemegang paspor keluar Indonesia kan tidak hanya formulir itu yang dicap, lembar paspor kan juga ikutan dicap. Saya sampai ngedumel sama temen sebangku di pesawat. Kita pun sampai ke kesimpulan kalau formulir sialan itu hanyalah channel buat pihak imigrasi marah-marah dan dapet seseran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang punya kenalan petugas imigrasi, saya mohon maaf, tapi ini beneran. Saya pernah dibentak-bentak di depan orang banyak karena kehilangan formulir kedatangan (iyalah, 2 tahun sudah itu kertas ada di tangan saya). Untung si bapak* masih tersentuh oleh senyum manis dan puppy eyes saya. Pelajaran yang sangat berharga, karena semenjak itu, kertas itu saya klip di paspor. Tapi pas ngantri kemarin, beberapa anak muda yang antri di depan saya ternyata kehilangan si formulir. Saya sudah siap-siap kasihan, tahu kalau mereka bakal dimarah-marahin, tapi saya jadi lebih kasihan lagi karena mereka malah nggak boleh lewat imigrasi sama sekali. Mereka langsung disuruh ke ruang interogasi imigrasi di samping loket pemeriksaan. Saya langsung berpikir buruk, berapa dalamkah mereka harus menguras kocek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah cerita: kalau berangkat ke luar negeri, setiap formulir yang dikasih oleh pihak bandara atau imigrasi Jakarta harus disimpan dengan baik. Kadang selembar kertas bisa memperlancar pemeriksaan imigrasi dan membuat petugas imigrasi yang sudah siap nyemprot jadi menelan berbagai kecaman yang udah diprogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Saya lebih senang berhadapan dengan bapak-bapak petugas imigrasi daripada ibu-ibu. Entah kenapa ibu-ibu kok lebih galak ke sesama perempuan. Tapi sempet sebal juga sih sewaktu digodain sama mas-mas petugas imigrasi, pakai nanya alamat rumah segala. Ya amplop..ini badan udah rontok dan lengket malah diajakin ngobrol!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113620555531458188?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113620555531458188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113620555531458188&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113620555531458188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113620555531458188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/selamat-datang-di-indonesia-siapkan.html' title='Selamat datang di Indonesia, siapkan kocek anda'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113619619657033853</id><published>2006-01-02T09:57:00.000+01:00</published><updated>2006-01-02T11:06:58.860+01:00</updated><title type='text'>Masih tentang bandara</title><content type='html'>Cerita tentang pulang kampungnya dilanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Indonesia kali ini ternyata berbeda dengan sebelumnya. Biasanya kalau saya naik KLM Geneva-Jakarta, rutenya Geneva-Amsterdam, Amsterdam-Singapore, Singapore-Jakarta. Tapi kali ini transit di Asia bukan di Changi Singapore, melainkan Kuala Lumpur Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seneng, karena dapet kesempatan untuk menapakkan kaki di Malaysia, walaupun cuma di bandara. Lumayan. Lagian saya pengen lihat kayak apa sih bandara Kuala Lumpur. Sambil mengantuk saya pun keluar pesawat yang mau dibersihin ke bandara untuk melemaskan kaki selama 30 menit. Sampai di pintu gerbang bandara saya dikagetkan oleh perintah dalam bahasa melayu campur Inggris atau Inggris campur melayu. Buset dah..ini Mbak ngomong apaan sih? Pas dia lihat saya terbengong bingung dia pun mengulang perintahnya dalam bahasa melayu. Bukannya tambah mubeng malah tambah bingung. Saya musti balik ke gate nomor berapa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia katanya serumpun, tapi kalau saya harus mencoba mengerti orang Malaysia, saya angkat tangan langsung tiarap. Kayaknya mereka orang yang sibuk sekali ya, sampai waktu bicara pun disingkat-singkat. Banyak kata yang dipotong dan langsung dirangkai dengan kata berikutnya, rapper musti belajar sama orang Malaysia nih. Bahasa Inggris mereka pun ajaib untuk telinga saya. Udah logatnya kental, ngomongnya cepet banget lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung inget obrolan dengan orang Malaysia yang ketemu di sini. Waktu dia ngeliat saya terpana jiwa ngedengerin dia ngoceh dalam bahasa Melayu, dia langsung ketawa dan mengulang dengan lebih lambat. Terus dia komentar, "Awak, Orang Indonesia, kalau ngomong patah-patah ya..aneh." Kalau ada temen Indonesia saya di situ pasti langsung pingsan. Wong saya ini sering dinobatkan jadi rapper gagal, sangking kalo ngomong cepet banget.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Balik ke pemantauan bandara, bandara Kuala Lumpur designnya cukup futuristik. Lapang, terang, dan minimalis. Lantainya marmer yang mengkilat, bersih dan mungkin juga karena efek lampu. Saya langsung ngacir ke kamar kecil. Saya memang paling hobi meriksa kamar kecil di setiap bandara, mau komentar tentang standar kebersihan tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama ngikik dulu sebentar, karena kamar kecil bahasa Melayunya 'tandas'. Waktu saya masuk si 'tandas', saya cukup kuciwa. Waduh..ternyata lantainya nggak semengkilat yang di depan. Wangi karbol yang selalu menyelubungi kamar kecil Changi diganti sama 'wangi' yang lain. Lantainya pun tidak kering, dan tombol flushnya mana ini? Ini otomatis kayak di Schiphol apa enggak sih? Nemu-nemu ternyata si flush adalah tombol kecil (sumpah kecil banget) di samping &lt;span style="font-style:italic;"&gt;radar wanna-be&lt;/span&gt;. Masalah WC, Changi masih yang paling top se-Asia (tapi saya memang belum pernah ke HongKong atau Jepang sih). Kalau Eropa, persaingan antara Oslo airport sama Zurich airport cukup ketat. Schiphol sih kalah jauh, cuma menang di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;otomatic flush&lt;/span&gt; (yang sebenernya cukup merepotkan dalam segi timing) aja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi punya proyek masa depan nih. Mau motret &lt;span style="font-style:italic;"&gt;interior design&lt;/span&gt; tiap bandara yang saya kunjungi dan bikin studi banding tentang kebersihan kamar kecil di bandara-bandara internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mau berbagi pengalaman tentang bandara? Akan diterima dengan bahagia dan diberi senyum tulus. Kalau ada yang punya poto boleh dituker ama penjepit kertas Swiss. Ayo...cepat kirim untuk menangkan penjepit kertas mungil dan cantik. Kirim 10 bisa dituker dengan gelas...serius.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113619619657033853?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113619619657033853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113619619657033853&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113619619657033853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113619619657033853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/masih-tentang-bandara.html' title='Masih tentang bandara'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113614014390894969</id><published>2006-01-01T18:19:00.000+01:00</published><updated>2006-01-02T09:55:15.956+01:00</updated><title type='text'>Cinta itu universal</title><content type='html'>Komedi romantis, suka banget. Ada yang bilang dangkal, tapi ketika hati lagi sendu atau sebal dengan dunia, melihat suatu cerita cinta yang happy-ending, membuat hati jadi hangat. Sebentar dan superficial memang, tapi setiap senyum itu permata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis nonton Love Actually jadi mikir betapa seringnya perayaan natal dikaitkan dengan cinta. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Christmas is about love. &lt;/span&gt;Pernah denger kalimat tersebut? Sederhana, indah, tapi langsung menghangatkan hati. Karena cinta itu universal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya waktu banyak pihak yang mengeluhkan bagaimana masyarakat non-Kristiani terhayut atau dibilang ikut-ikutan merayakan natal yang nota bene bukan hari rayanya dan berbuat dosa dengan mengucapkan Selamat Natal, saya jadi berpikir, mungkinkah mereka terhayut karena hangatnya perayaan cinta tersebut? Tentu..tentu..selalu ada unsur konsumerisme dibalik perayaan apapun, dan mungkin advertising team berhasil banget dalam 'menggunakan' tema cinta untuk natal. Tapi universalnya cinta membuat perayaan Natal pun jadi lebih universal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di negara yang mayoritas penduduknya beragama nasrani dan perayaan natal merupakan suatu perayaan wajib, membuat saya merasakan suasana Natal. Setiap sudut jalan mengingatkan saya bahwa sebentar lagi tanggal 25 Desember. Dan kegiatan mencari kado atau menebak kado yang akan diterima pun membuat saya ikut-ikutan menanti Santa. Yup..di sini Natal pun sudah jatuh terjerembab di dalam lubang konsumerisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poster-poster natal penuh dengan tema cinta, dan film-film natal pun penuh dengan tema cinta. Makanya saya sampai ke kesimpulan bahwa natal bisa dilihat sebagai perayaan cinta. Indahnya cinta, membuat indahnya natal dapat dirasakan juga oleh mereka yang non-nasrani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau ada ortu yang komentar ngapain sih nonton-nonton film barat bertemakan Natal, bukannya mereka harus bersukur bahwa tema cinta tetap menyentuh hati anaknya. Bukannya dimarahi dan diceramahi bahwa itu film orang Kristen, tapi lebih baik ditonton tema cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya suka mengeluh dalam hati, kenapa lagu-lagu Islami tidak seperti lagu-lagu natal. Kenapa lagu-lagu Islami tidak ada yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'fun, funky, and romantic&lt;/span&gt;?' (atau saya nya aja yang nggak tahu). Sebagai seorang muda yang terpengaruh berbagai budaya dan perjalanan waktu, musik natal bertema cinta mungkin akan lebih mudah untuk digemari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cinta sesuatu yang tidak patut dirayakan dalam Islam? Bukankah Nabi Muhammad sendiri mencintai umatnya dan kita selalu diingatkan untuk mencintai beliau? Dan alangkah indahnya ayat-ayat cinta Khalil Gibran. Islam juga penuh dengan cinta. Atau ini salah budaya Indonesia, yang menabukan pernyataan cinta atau ekspresi cinta? Bukankah cinta yang membuat seorang manusia berbeda dengan binatang. Cinta adalah awal segalanya. Cinta membuat seseorang kuat, tangguh, berjuang, dan berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inginnya saya merasakan dan merayakan sisi romantis Islam. Untuk saat ini, biarkanlah saya menikmati "All I Want For Christmas is You".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113614014390894969?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113614014390894969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113614014390894969&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113614014390894969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113614014390894969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2006/01/cinta-itu-universal.html' title='Cinta itu universal'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113596356422750678</id><published>2005-12-30T18:09:00.000+01:00</published><updated>2006-01-06T12:49:22.733+01:00</updated><title type='text'>It's snowing</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/engelberg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/engelberg.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; It's snowing. Seeing snowflakes rain under streetlights' triangle ray of lights pays makes the itsy bitsy inside your heart warm and want to be romantic. Wrapped in over-sized sweater and old blanket, sipping hot choco, admiring the cold yet beautiful night view makes all the dry skin worthwhile. Wishing so hard to be in front of old huge fire place. Well...there is the radiator. Use your imagination people!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One Xaf will make this night perfect. Another snowy winter night... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh...how I love Geneva during winter. I love watching street and trees covered bit by bit with layer of white snow. I love the cold weather that always take the breath out of me and wake me whenever I stepped out from the appartment door. I love the sound of snow crushed under my boots. I love the sight of dogs and children running around in the parks, rushing to play with the snow first. And aren't kids so lovely with all their colorful wool-hat, boots and gloves? Look at that snowman, aren't they all just genious!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's snowing and I LOVE IT!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113596356422750678?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113596356422750678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113596356422750678&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113596356422750678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113596356422750678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/12/its-snowing.html' title='It&apos;s snowing'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113596146263189688</id><published>2005-12-30T17:45:00.000+01:00</published><updated>2006-01-06T16:17:55.956+01:00</updated><title type='text'>New Year</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20108.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20108.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; New year's resolution: No more watching a whole Friends season straight in one day. Too much coffee breaks!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More-make-sense resolutions (and more difficult to be done): Work harder, exercise more, and enjoy life more.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fun is really not my middle name.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy new year everybody. Enjoy the countdowns and may next year will be better in every way.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113596146263189688?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113596146263189688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113596146263189688&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113596146263189688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113596146263189688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/12/new-year.html' title='New Year'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113540898591285007</id><published>2005-12-24T06:50:00.000+01:00</published><updated>2005-12-24T08:23:05.936+01:00</updated><title type='text'>Pengen praktis malah sengsara</title><content type='html'>Saudara-saudari...setelah tidur hampir non-stop selama 2 hari karena langsung jatuh sakit setelah membereskan koper, kayaknya saya kena jet-lag dengan sukses. Lha buktinya jam 6 pagi begini udah melek ayam jago. Nyokap kalau tahu pasti langsung terharu-biru mendengar anaknya akhirnya bisa bangun pagi. Daripada memaksa tidur dan jadi tambah pusing lebih baik mulai cerita dikit-dikit tentang liburan kemaren. Sebelum lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke Indonesia pada bulan Desember selalu membuat saya salah kostum. Ya iyalah..di sini lagi musim dingin sedangkan di Indonesia matahari tetap semangat menghangatkan negara kita tercinta (ceile..). Jadi musti berpikir kayak bunglon. Nggak mungkin banget kan saya pergi dengan kostum musim dingin ke Indonesia, yang ada bisa langsung mateng. Mau ngelepas dan nenteng mantel juga repot...udah pernah lihat mantel musim dingin saya belom? Persis kayak sleeping bag, tapi kagak bisa digulung kayak sleeping bag. Pokoknya ngegerahin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi biasanya saya pergi dengan kostum lengkap musim dingin dan pas di bandara langsung buka-bukaan. Jaket, topi wol dan syal langsung ditinggalin. Berangkat cuma pake sweater doang, dengan pikiran semua airport di Eropa pasti pakai penghangat ruangan. Di pesawat pun pasti suhunya disetel suhu ruangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Amsterdam ternyata nasib menentukan lain. Ternyata pesawat mendarat nggak di samping gate tapi di tengah2 lapangan! Mampus deh. Itu artinya saya harus keluar pesawat dan kemudian naik bis bandara yang akan mengantarkan penumpang ke gedung bandara. Alamak jan..musti keluar tanpa jaket dan syal...mommy! Dengan gemetar saya pun turun tangga pesawat. Tergesa-gesa masuk ke dalam bis dan duduk sambil berusaha nggak gemeteran. Ibu yang duduk di samping saya sampai ngelirik, ngedenger gigi saya yang gemeletukan dan dengkul saya yang beradu karena kedinginan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati langsung ngedumel. Begini nih hasilnya. Niatnya mau praktis nggak usah bawa jaket yang setebel selimut, jadinya malah kedinginan kayak ayam kecebur kolam. Untung perjalanan ke bangunan bandara cuma 5 menit, kalau enggak mungkin saya sudah dijemput dengan ambulans.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113540898591285007?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113540898591285007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113540898591285007&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113540898591285007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113540898591285007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/12/pengen-praktis-malah-sengsara.html' title='Pengen praktis malah sengsara'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113518603754312820</id><published>2005-12-21T17:52:00.000+01:00</published><updated>2005-12-23T09:45:30.073+01:00</updated><title type='text'>Yang punya blog udah balik</title><content type='html'>Akhirnya, sampai lagi saya di rumah susun mungil yang selalu bikin minder setiap mengingat luasnya rumah ortu yang baru beberapa hari saya tinggalkan. Yup..yang punya blog udah balik di depan komputernya dengan sambungan internet yang nggak pernah bikin dongkol. Kangen pisan mau nulis, sampai baru aja sadar dari kecapean, udah langsung nge-blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita apa dulu ya...cerita perjalanan saya aja deh. Ya cuma naek turun pesawat sih, tapi udah pada tahu belum kalau bandara Schiphol di Amsterdam itu kadang sering bikin penumpang yang harus melanjutkan perjalanannya deg-degan takut ketinggalan pesawat. Dan sering terdengar pengumuman begini...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Mr. X you are delaying the flight. Immidiate bording please at gate Y. We will proceed to offload your luggage"&lt;/span&gt;. Perasaan saya (subyektif abis), bandara ini yang paling sering ngasih peringatan kayak begini. Atau karena memang di antara semua bandara yang saya sempet injak, bandara ini yang paling besar, jadi kemungkinan kasus orang terlambat pun jadi lebih besar? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu hal yang sempet bikin saya shock, terkaget-kaget melihat tidak efisiennya pihak bandara dalam mengatur prosedur transfer dan pindah pintu penerbangan. Begini, di bandara tersebut ada gate tertentu yang baru bisa diakses setelah melewati imigrasi! Aneh toh, karena biasanya kita baru melewati imigrasi dan pemeriksaan paspor ketika kita akan keluar bandara, tidak ketika kita harus pindah pintu penerbangan di dalam bandara. Gate yang bersangkutan adalah gate B, C dan D 59-87.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah hampir ketinggalan pesawat gara-gara penerbangan saya selanjutnya harus melalui salah satu gate sialan ini. Saya waktu itu hanya punya waktu 1 jam 30 menit untuk ganti gate dan ternyata di depan imigrasi sudah ada antrian seperti ngantri beras gratis. Ramai dan semua orang gelisah. Banyak yang minta polisi imigrasi yang menjaga antrian untuk bisa memotong antrian karena pesawat mereka sudah boarding, dan tak sedikit mereka yang berusaha meminta penumpang lainnya yang di depan untuk membiarkan mereka lewat lebih dahulu. Waktu itu bener2 rusuh, komentar2 sinis pun berseliweran. Saya benar2 tak habis pikir, kok bisa2nya salah satu bandara penting di Eropa tidak efisien dan membuat banyak penumpang ketinggalan pesawat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diteliti-teliti, ternyata gate yang dijagain sama imigrasi tersebut adalah gate dimana terdapat penerbangan ke negara2 Schengen, dimana warganegara Belanda atau mereka yang mempunyai ijin tinggal di Belanda nggak membutuhkan visa untuk berkunjung ke sana. Jadi artinya, mereka yang lolos imigrasi Belanda (artinya punya hak untuk berkunjung ke Belanda) pasti bisa berkunjung ke negara2 Schengen lainnya. Makanya pemeriksaan paspor dilakukan di Belanda bukan di negara tujuan. Mungkin maksudnya menghemat waktu, tapi yang ada malah kisruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi buta pun saya sudah sempet ketir-ketir ketika melihat di layar TV kalau saya harus ke gate D46 untuk pindah pesawat ke Jenewa. Waktu itu saya masih belum ingat gate mana saja yang harus melewati imigrasi, ingetnya gate B, C dan D. Untung nggak harus diperiksa ama imigrasi. Bukannya buru2, saya ada waktu 4 jam kok dan waktu itu tidak banyak yang antri (iyalah..jam 4 pagi!). Tapi karena saya capek berat dan badan saya rasanya seperti sehabis gerak jalan 20 km. Kalau udah begini biasanya saya jadi galak abis dan nggak akan bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah cerita (uluh..uluh), kalau harus lewat Schiphol Amsterdam untuk menuju negara2 Schengen, lebih baik cari jadwal penerbangan yang memberikan waktu yang lama untuk ganti gate. Lebih baik menunggu sebentar daripada harus lari-lari sambil menggeret-geret koper (pengalaman pribadi..snif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir cerita, saya sampai di rumah dengan selamat. Badan remuk redam, dan menggigil kedinginan. Buset..shock temperatur, dari 30 derajat menjadi 4 derajat. Well..well..cold is coming soon..huatchi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113518603754312820?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113518603754312820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113518603754312820&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113518603754312820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113518603754312820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/12/yang-punya-blog-udah-balik.html' title='Yang punya blog udah balik'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113377619141406706</id><published>2005-12-05T10:04:00.000+01:00</published><updated>2005-12-05T10:49:51.666+01:00</updated><title type='text'>Ide penanggulangan sampah</title><content type='html'>Sebelum mudik dan berpisah dengan sambungan internet ADSL yang nggak bikin hati pengen nendang layar komputer, mendingan saya nulis ide tentang sampah yang udah lama kepikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah "studi banding" di sini yang bersih banget, saya jadi punya ide yang mungkin bisa membantu (walaupun sedikit) masalah sampah di kota2 besar Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, gunakanlah sampah biologis untuk pembuatan pupuk. Saya rasa sampah biologis atau rumah tangga merupakan salah satu tipe sampah yang terbanyak di Indonesia. Kenapa nggak dicoba untuk memanfaatkan sampah ini untuk pembuatan pupuk tanaman? Salah satu caranya mungkin dengan membangun sistem penimbunan sampah di dalam tanah yang kemudian akan menghasilkan kompos. Mekanisme ini lebih baik dibuat di daerah yang dekat dengan daerah pertanian atau perkebunan. Di dekat setiap kota besar pasti ada daerah luar kota yang dimanfaatkan untuk sawah atau ladang kan? Nah dengan membangun "pabrik" kompos di daerah tersebut, petani pun bisa memanfaatkan kompos yang dihasilkan. Bagusnya sih diberi secara gratis, atau, kalaupun harus dijual cukup dengan harga minimal. Pembangunan mekanisme ini juga bisa menciptakan lapangan kerja lho. Kan bisa memberikan peluang bagi mereka yang mau mengemas kompos untuk dijadikan pupuk tanaman pot atau taman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung rencana ini, setiap rumah tangga harus mulai untuk memisahkan sampah biologis. Dan petugas kebersihan pun harus selalu menyiapkan transportasi yang mengangkut sampah biologis ini. Sistem ini pun bisa membantu kebersihan pasar tradisional. Sampah sayuran atau bahan makanan lainnya tidak dibiarkan menggunung di penampungan sampah di tepi pasar, tapi langsung diangkut ke "pabrik kompos". Dengan catatan para pengguna pasar (terutama penjual) sadar kalau mereka harus memisahkan sampah mereka. Cukup diberi penyuluhan tentang keuntungan yang mereka bisa dapat, pasar yang lebih bersih, saya rasa nggak ada ruginya bagi mereka untuk mengikuti program pemisahan sampah. Asal, tidak ada pungli2 liar dan di setiap sudut pasar disediakan tempat penampungan sampah biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, gantilah kantong plastik dengan kantong kertas. Saran ini lebih bagi pemilik supermarket. Di sini setiap supermarket menyediakan kantong belanja yang terbuat dari kertas. Kuat banget..serius. Saya sering bawa buku kuliah pakai kantong kertas ini dan kadang sampai 20 buku tetap kuat. (Buku saya tebelnya bisa dibuat bantal kadang) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan sistem kantong kertas ini ada banyak. 1) Mengurangi jumlah kantong plastik yang beredar di pasaran yang kemudian bertebaran di jalan atau penampungan sampah. Plastik memerlukan waktu yang lebih lama daripada kertas untuk terurai secara alami. 2) Kantung kertas ini berhubung sangat awet, kuat, dan praktis, dapat digunakan kembali. Jadi bagi para pelanggan, mereka bisa menggunakan satu kantong kertas selama berbulan-bulan sewaktu berbelanja. Ini artinya menghemat sumber daya. Pihak supermarket pun bisa mengurangi pengeluaran pembelian kantung plastik. 3) Berhubung kantung kertas ini tidak disediakan secara gratis, pihak supermarket pun nggak akan rugi. Terlebih lagi, di kantung kertas ini bisa dipenuhi dengan berbagai iklan supermarket. Di sini contohnya, setiap beberapa bulan sekali gambar temanya diganti, dan tentu saja logo supermarket sangat mencolok. Artinya, iklan gratis! 4) Apabila kantung kertas didesign dengan apik dan menarik, para pelanggan pun akan menggunakan kantung kertas tersebut untuk berbagai keperluan. Ini tentu saja membantu pemasaran supermarket yang mengeluarkan kantung kertas tersebut tentunya. Contohnya, siapa sih yang nggak bangga kular kilir sambil menenteng kantung kertas belanjaan berlabel Gucci, Armani, atau Manggo. Nah supermarket pun bisa melakukan hal yang sama. Kantung kertas berlabel Matahari, Ramayana, atau Carrefour (ada di Indo nggak sih?) asal apik dan kuat bakal ditenteng-tenteng kemana aja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, kantung kertas akan menguntungkan konsumen dan produser. Konsumen bisa mendapatkan media untuk membawa berbagai keperluannya, dan produser mendapatkan uang dan pemasaran gratis. Plus, alam pun jadi kurang terbebani oleh sampah plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, kurangi penggunaan atau gunakan kembali kantung plastik. Di sini banyak teman-teman saya yang menggunakan kembali kantong plastik mereka. Terkadang mereka menyimpan kantong plastik dari supermarket untuk belanja mereka berikutnya. Dan bagi mereka yang benar2 perduli lingkungan, mereka menolak untuk memakai kantong plastik. Kadang mereka menaruh belanjaan mereka di tas ransel. Pas saya tanya mereka biasanya menjawab, "gue lupa kantung kertas gue di rumah, dan gue nggak mau pakai kantong plastik pit. Polusi." Jadi kenapa nggak dicontoh? Siapkan selalu kantung plastik di dalam tas, dan ketika berbelanja cukup masukkan belanjaan ke kantong plastik yang sudah disiapkan. Tidak perlu meminta kantong plastik baru. Mengurangi penggunaan kantong plastik artinya mengurangi sampah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, gunakan kertas dengan maksimal. Strategi yang bisa digunakan bermacam-macam. 1) Di kantor, kertas print yang gagal jangan langsung dibuang. Kenapa nggak dikumpulkan rapi-rapi dan bisa digunakan kembali untuk print draft surat atau dipotong2 untuk dijadikan memo? Dengan catatan print out yang di kertas nggak membongkar rahasia perusahaan. Kertas pun tidak terbuang percuma dan perusahaan bisa menghemat membeli kertas2 kecil memo yang harganya cukup bikin geleng2 kepala. 2) Sehabis tahun ajaran baru, kadang buku tulis yang digunakan oleh pelajar tidak habis (pengalaman pribadi). Lembaran buku yang kosong bisa digunakan kembali untuk membuat buku tulis. Saya pernah coba sendiri dan hasilnya lumayan lho. Cukup kumpulkan lembaran2 buku tulis kemudian dijilid. Untuk mereka yang kreatif bisa mencoba membuat sampul buku yang menarik (salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di kelas bersama). Kemudian sisi2 buku cukup dirapikan dengan pisau pemotong kertas. Buku2 daur ulang ini pun bisa dipakai kembali atau dibagikan kepada mereka yang kurang mampu.  Mengurangi sampah dan menambah amal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih ada ide2 lain yang terpikirkan. Tapi saya harus siap2 kalau nggak mau ketinggalan pesawat. Nanti disambung lagi deh...atau ada yang mau berbagi ide?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113377619141406706?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113377619141406706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113377619141406706&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113377619141406706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113377619141406706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/12/ide-penanggulangan-sampah.html' title='Ide penanggulangan sampah'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113377317928226105</id><published>2005-12-05T09:34:00.000+01:00</published><updated>2005-12-05T10:03:05.570+01:00</updated><title type='text'>Mudik...liburan...</title><content type='html'>Siang ini saya musti ngegeret-geret koper di airport. Yup, saya bakal pulang..lagi. Tahun ini bener-bener tahun mudik. Bayangkan, saya pulang kampung 3 kali! Semuanya karena acara kawinan. Temen baik, kakak, dan sekarang temen baik lagi. Seneng..tapi tabungan jadi bolong-bolong. Beginilah nasib perantauan. *snif*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herannya, tiap saya harus pergi jauh, pasti ada aja sesuatu yang bikin saya terbirit-birit. Kayak kali ini. Jumat pagi saya nerima email dari editor yang nyuruh saya nyari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;English speaker to proof read&lt;/span&gt; artikel saya yang bakal dipublikasiin. Dengan teganya beliau ngasih tenggat waktu Selasa pagi. *gubrak* Untung Jennifer orang Amrik, dan setelah dimohon-mohon dia pun rela menghabiskan akhir minggu buat ngedit tulisan saya. Yang lebih untungnya lagi, dia bisa nyelesain lebih awal dari yang diperkirakan. Tadinya saya sudah capek batin ngebayangin harus meriksa email dan ngoreksi editan di bandara. Baca novel di bandara aja kadang pusing, apalagi baca tulisan sendiri yang udah sebel ngeliatnya? Untung banget Jen selesai ngedit tadi malam. Semalam sebelum berangkat pun bukannya diisi ama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;spending quality time with Xavier, &lt;/span&gt;malah diisi dengan ngoreksi koreksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih kacaunya lagi, udah tahu musti naik pesawat lebih dari 10 jam, saya malah baca buku dan nonton film yang bikin ketakutan. Baca buku yang isinya membuat saya berpikir tentang "the afterlife" dan nonton film tentang nuclear war!! Oalah..tadi malem sampai nggak bisa tidur, mikir yang jelek-jelek. Bagaimana kalau....(nggak mau diterusin, entar malah takut beneran). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran deh, semakin lama saya kok semakin nggak nyaman naik pesawat. Apalagi kalau harus naik pesawat jauh-jauh sendirian. Padahal dulu sih santai2 aja. Apa karena udah keseringan di dalam pesawat 16 jam lebih? Atau karena udah jenuh harus puas duduk di kelas ekonomi yang ruang geraknya minim? Padahal saya termasuk beruntung, nggak pernah harus terjepit waktu duduk di pesawat. Nggak kayak mereka yang berkaki panjang, yang kadang dengkulnya terjepit. Atau karena kebanyakan nonton film dan baca berita yang suram2? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu saya hanya bisa berdoa semoga saya bisa selamat sampai tujuan, dan menikmati semi-liburan saya. Pempek, bakso, soto, sate, tahu isi, pecel, somai, pecel-lele, nasi uduk, sayur pare, cincang, martabak telor, rendang, sayur asem dan sambal terasi, saya datang!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113377317928226105?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113377317928226105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113377317928226105&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113377317928226105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113377317928226105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/12/mudikliburan.html' title='Mudik...liburan...'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113320071792192450</id><published>2005-11-28T18:41:00.000+01:00</published><updated>2005-11-28T19:01:59.890+01:00</updated><title type='text'>Gruyère part 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20112.jpg"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/320/Photo%20112.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pameran karya pencipta Alien. Banyak banget the alternatives yang berkunjung, maklum, abisnya pamerannya bener-bener 'suram'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20107.jpg"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/320/Photo%20107.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pohon dan lonceng gereja. Nice combination. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20087.jpg"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/320/Photo%20087.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masih pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20085.jpg"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/320/Photo%20085.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113320071792192450?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113320071792192450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113320071792192450&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113320071792192450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113320071792192450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/gruyre-part-2.html' title='Gruyère part 2'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113318519372024294</id><published>2005-11-28T13:50:00.000+01:00</published><updated>2005-11-28T18:40:06.986+01:00</updated><title type='text'>My first thanks giving dinner</title><content type='html'>Sabtu kemaren saya diundang untuk makan malam di rumah teman Aikido untuk merayakan thanks giving (ini nulisnya bener nggak ya?). Sebenarnya di Eropa tidak ada tradisi thanks giving, tradisi ini adalah tradisi orang Amerika. Berhubung teman saya itu orang Amerika, dia pun keukeuh mau melaksanakan tradisinya, walaupun dia sudah tinggal cukup lama di Perancis. Untung visa saya masih berlaku, jadi saya pun bisa mencicipi masakan khas thanks giving, ayam kalkun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata terkantuk dan badan pegal akibat dari pesta malam sebelumnya, saya pun berangkat. Nggak perlu pakai kereta api atau pesawat, cukup dengan transportasi umum. Saya sudah cerita kan kalau Jenewa itu deket banget sama Perancis. Duduk di tram no 12, sambil tiap 10 menit meriksa paspor dan ijin tinggal, sampai ke perbehentian terakhir: Moillesulaz. Sebentar banget, cuma 20 menit dari tengah kota Jenewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di stopan, saya pun celingak-celinguk. Instruksi arah dari teman siap di tangan, tapi mana pos pemeriksaan paspor? Saya berpikir, berhubung perbatasan negara pasti ada pemeriksaan seperti di bandara, dimana setiap orang harus antri satu-satu untuk diperiksa paspornya. Ternyata tidak teman-teman. Di balik dinding stopan tram, ada semacam jalur untuk mobil, mirip seperti pintu tol. Dan para penumpang tram dengan cuek dan santainya menyebrang jalur ini. Nggak ada antri untuk check paspor, yang ada hanya dua petugas imigrasi, berdiri santai sambil melihat-lihat para pejalan kaki yang menyebrangi perbatasan (yang sama sekali nggak ada ciri-ciri perbatasan). Saya yang sudah siap-siap memamerkan visa, nggak dikasih kesempatan sama sekali untuk nunjukin paspor ke petugas imigrasi. Saya yang mengikuti arus manusia akhirnya menapakkan kaki di negara sebelah tanpa diperiksa sama sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar-sadar saya sudah di Perancis, 15 langkah dari stopan bis. Panik..waduh, apa saya harus balik lagi buat nunjukin paspor ya? Tapi kok orang pada santai aja. Gimana ini? Cepet-cepet telpon Xaf, "Xavier, they did not check my passport. What should I do?". Xaf langsung ngakak, kata dia memang nggak ada pemeriksaan paspor rutin. Wong arus manusia dan mobil dari Jenewa dan Annemass (kota Perancis tetangga) itu setiap menit, jadi repot dong kalau setiap orang harus diperiksa. Biasanya petugas imigrasi hanya memeriksa secara random atau apabila mencurigai sesuatu. Waktu saya menoleh kebelakang ternyata petugas imigrasi sedang memberhentikan seorang gadis berkulit hitam, dan memeriksa dokumen gadis tersebut. Xaf pun berkomentar, memang mereka yang 'berwarna' akan cenderung untuk diperiksa daripada mereka yang berkulit putih. Ah, diskriminasi memang susah untuk dicabut sampai akar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita saya pun akhirnya sampai di rumah teman saya. Jennifer benar-benar mau mengikuti tradisi, dan sudah menyiapkan semua masakan khas thanks giving. Ayam kalkun yang besarnya sering bikin saya ragu kalau mereka itu termasuk spesies ayam; mantang (sweet potatoes) dimasak dengan kayu manis dan rempah, upper topping (corn bread crumbles), cranberries sauce, dan red cabbage and marron. Dari pihak saya, bakmi goreng. Praktis dan murah, walaupun mungkin tidak senada dengan hidangan lainnya. Kan judulnya menyumbang, jadi terserah saya dong..hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan malam dihadiri oleh beberapa teman aikido lainnya (pacar Jennifer itu anak guru aikido dan temen saya di aikido juga), dan dua orang lainnya yang tidak saya kenal. Seorang ibu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;en certain âge&lt;/span&gt;, Ellen, dan seorang petani, Stephan. Stephan juga aktif di aikido, tapi latihan di dojo yang berbeda, jadi saya belum pernah ketemu. Dan kalau dipikir-pikir, baru kali ini saya bertemu dengan petani Eropa. Benar-benar makan malam yang menyenangkan. Bisa meluangkan waktu bersama teman-teman dan bertemu dengan orang baru yang baik hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Stephan was so sweet. &lt;/span&gt;Waktu saya kebingungan bagaimana harus pulang karena saya nggak tega kalau Jennifer harus mengantar saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;all the way to Geneva&lt;/span&gt; tengah-tengah malam, Stephan spontan menawarkan diri mengantarkan saya pulang. Tapi nggak enak rasanya kalau saya merepotkan orang yang baru saya kenal, tapi teman-teman saya malah ngotot minta direpotkan. Jalan tengahnya Stephan mengantarkan saya sampai ke perbatasan, dan saya bisa naik tram sampai rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di perjalanan, Stephan masih ngotot mau nganterin saya pulang, kayaknya dia khawatir ngeliat saya yang mungil ini harus naik transportasi umum sendirian jam satu malam. Berhubung dia nggak begitu kenal dengan jalan di Jenewa dan saya nggak tahu arah dari perbatasan sampai rumah selain jalur tram, akhirnya saya pun bisa tetap mandiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan kami, saya pun akhirnya tahu kalau keluarga dia itu petani sapi perah dan mereka biasanya mulai kerja jam 5 pagi. Saya dalam hati langsung tersipu malu, karena saya biasanya bangun tidur jam 9 pagi. Petani memang profesi yang berat. Saya merasa bahwa kehidupan petani berbeda sekali dengan pelajar atau pekerja kantoran.     Hidup mereka penuh dengan kerja keras dan kesederhanaan. Stephan sendiri seorang yang sederhana, namun baik hati. Sangking baiknya dia mengabulkan impian saya untuk bisa mencoba memerah susu sapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(I know..I know, I am weird). &lt;/span&gt;Dia bilang kapan saja saya mau, saya bisa dateng ke peternakannya dan dia bakal mengajarkan bagaimana memerah susu sapi. Yuppii!! Siapa tahu impian saya yang lain juga bisa kesampaian, mencium hidung sapi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113318519372024294?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113318519372024294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113318519372024294&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113318519372024294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113318519372024294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/my-first-thanks-giving-dinner.html' title='My first thanks giving dinner'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113311540162302700</id><published>2005-11-27T18:21:00.000+01:00</published><updated>2005-11-28T13:17:50.826+01:00</updated><title type='text'>Gruyère</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20093.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20093.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The main church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20090.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20090.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Proyek pariwisata terbaru untuk melestarikan desa Gruyère. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20089.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20089.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Desa Gruyère. Ciri khas Swiss dapat dilihat dari gedung-gedung yang mempertahankan arsitektur originalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20088.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20088.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan dari desa Gruyère. Tipikal Swiss. Gunung, pohon, dan rumah ala country side.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S: Ollie, here are the pictures. More will come. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113311540162302700?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113311540162302700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113311540162302700&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113311540162302700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113311540162302700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/gruyre.html' title='Gruyère'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113311194913402708</id><published>2005-11-27T17:48:00.000+01:00</published><updated>2005-11-28T11:09:47.536+01:00</updated><title type='text'>Autumn</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20008.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20008.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;View from my bed room's window. To wake up in the morning and to be greeted by this view makes my day brighter. Cité des Parcs, that what Geneva is. 310 hectares of parks, 40.000 of trees in public places, and 428.000 of plants are used to decorate the city including 40.000 roses.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20021.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20021.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avenue de la Paix, my usual route. Don't you just love the colorful trees along side the street?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/1600/Photo%20023.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3052/640/200/Photo%20023.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A usual autumn scenary of Lac Leman. Just behind WTO office and my university library. We are so spoiled by natural beauty in this city.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113311194913402708?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113311194913402708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113311194913402708&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113311194913402708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113311194913402708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/autumn.html' title='Autumn'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113283087757557636</id><published>2005-11-24T11:56:00.000+01:00</published><updated>2005-11-24T12:14:37.596+01:00</updated><title type='text'>Happy birthday to me</title><content type='html'>Today is my birthday. I always feel homesick on my birthday. I miss my parents cheering happy birthday to me. I even miss my mom fussing around whenever I decided to celebrate 'my day'. I miss my friends and their surprise parties. I miss their perfect presents, their excitement, and most of all their presence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, the first snow fall. I was woken up by kisses and happy birthday wishes from Xavier. My cell phone has been buzzing all morning, full of wishes from my friends and family. It's not bad after all. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, happy birthday to me. May I gain more wisdom with my new age, and be happy with what life brings me.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113283087757557636?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113283087757557636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113283087757557636&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113283087757557636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113283087757557636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/happy-birthday-to-me.html' title='Happy birthday to me'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113252446706012402</id><published>2005-11-20T22:53:00.000+01:00</published><updated>2005-11-20T23:07:47.080+01:00</updated><title type='text'>Oranye</title><content type='html'>Entah kenapa saya lagi suka warna oranye. Atau karena katanya oranye adalah warna tahun ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada warna oranye yang selalu membuat saya sesak, oranye sewaktu matahari terbit atau terbenam. Sungguh filosofikal rasanya ketika awal dan akhir dari hari adalah waktu yang terindah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya pergi jalan-jalan ke desa kecil mungil namun turistik. Gruyere namanya. Terkenal juga karena merupakan produser keju khas negara ini. Pulang-pulang matahari perlahan-lahan mulai terbenam. Berhubung sekarang sudah musim gugur, terbenamnya matahari dimulai dari jam 5 sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, dalam perjalanan pulang, di depan terbentang luas pemandangan danau yang dikelilingi pegunungan diselimuti salju dan kabut, yang berusaha menelan matahari. Sinar oranye matahari meninggalkan jejak keemasan, dan permukaan air danau pun seakan menjadi lautan emas. Mata saya pun terkagum akan keemasan yang terlihat di sela-sela ranting telanjang pepohonan, sungguh indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin mencoba mengarang puisi, malah jadi berpikir, hari adalah analogi hidup manusia. Terbit dan terbenamnya matahari adalah saat yang paling indah karena awal dan akhir adalah saat terpenting dalam hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu lahir, seluruh dunia dan waktu adalah sesuatu yang baru yang harus ditelusuri dan dijelajahi. Hidup pun memaparkan keindahan dibalik misterinya. Sewaktu usia senja, dunia dan waktu sudah puas digali dan semua sudah dijalani. Pengertian dan kebijaksanaan yang terbangun oleh waktu memberi pengertian akan hidup dan keindahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah waktu oranye saya seindah senja di musim gugur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak kamar mandi saya terlihat ceria dengan tirai bak mandi baru berwarna oranye. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113252446706012402?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113252446706012402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113252446706012402&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113252446706012402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113252446706012402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/oranye.html' title='Oranye'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113195888346554561</id><published>2005-11-14T09:44:00.000+01:00</published><updated>2005-11-14T10:05:08.600+01:00</updated><title type='text'>Self-righteous</title><content type='html'>Don't you feel annoyed when people lecture you about what you should do? At least I do. When it comes to idea and principal, I got very touchy when someone told me that I should do certain things. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who are they to tell me what I should or should not do? I do something because I want to do it, not because people around me think that I should do it. Life is complicated enough, and I don't think anybody needs to guide people around or to constraint oneself to others' perception of life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But then, after all has been said and done, I realize how arrogant I was in rejecting the arrogance of others? Who gave me the rights to be self-righteous in thinking that others do not have the right to lecture me?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Often, in fighting one's enemy, one has become the enemy itself.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113195888346554561?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113195888346554561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113195888346554561&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113195888346554561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113195888346554561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/self-righteous.html' title='Self-righteous'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113195765399267026</id><published>2005-11-14T09:33:00.000+01:00</published><updated>2005-11-14T09:40:54.016+01:00</updated><title type='text'>Gadget baru</title><content type='html'>Hihihi...saya lagi seneng, abisnya week-end kemaren dapet early birthday present. Kamera digital, akhirnya. Sebenernya nggak terlalu butuh, walaupun pingin. Tapi Xaf kayaknya udah jenuh ngedengerin omongan saya yang berangan-angan bisa punya kamera digital biar bisa nyoba potograpi. Mengingat kemampuan motret saya yang minus 15, kamera digital alat yang tepat buat latihan. Jadi kalau out of focus, miring, atau ada gambar jari di tengah2 poto, tinggal di apus dan jepret lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalian biar bisa berbagi pemandangan kota yang sangat saya cintai ini. Biar wira nggak bisa ngomel minta poto, dan biar blog pun bisa jadi lebih ceria (apaan sih?!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tunggu aja ya, saya harus baca buku pengantarnya dulu, baru deh bisa jepret-jepret is Canon IXUS 50 yang mungil (sangking mungilnya saya ampe grogi pas megang, takut jatoh...udik banget kan). Doakan saja semoga kecerobohan saya tidak membuat saya harus kehilangan gadget baru saya ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113195765399267026?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113195765399267026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113195765399267026&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113195765399267026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113195765399267026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/gadget-baru.html' title='Gadget baru'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113180664562187637</id><published>2005-11-12T14:54:00.000+01:00</published><updated>2005-11-12T15:46:38.843+01:00</updated><title type='text'>Liburan</title><content type='html'>Liburan itu bagi saya adalah waktu dimana kita bisa berhenti berada di dalam rutinitas hidup dan melakukan hal-hal yang berbeda yang dapat memberikan energi baru bagi diri yang lelah. Liburan adalah waktu dimana kita seharusnya bisa bebas dalam melakukan apa yang kita inginkan dan bukan apa yang seharusnya kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When did I really have a vacation?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih di bawah umur dan masih di bawah naungan orang tua, liburan pun selalu diisi dengan liburan keluarga. Menjenguk nenek di kampung atau relatif di luar kota. Tapi saya masih ingat sebalnya saya harus dempet-dempetan di mobil selama 24 jam, atau harus tabah duduk di dalam bis antar kota berjam-jam. Berbagi waktu bersama orang-orang asing, dan hanya memiliki ruang antar tempat duduk sebagai ruang gerak dan privasi benar-benar bukan liburan. Hanya bisa ke kamar kecil ketika bis atau mobil singgah di tempat makan, dan tidak bisa mandi seperti biasanya atau sekedar mencuci tangan dan kaki ketika saya merasa mereka perlu dicuci, membuat saya merasa dekil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu tiba pun jiwa tidak bisa bebas. Harus pandai membawa diri menumpang di rumah orang. Harus pandai membawa diri ketika dihadapkan ke om, tante, nenek, kakek, yang asing namun adalah bagian keluarga yang harus diterima dan disayangi sepenuh jiwa dan raga. Harus merasa senang ketika bertemu dengan sepupu dan harus langsung akrab dan main bersama. Terlepas dari apakah terakhir bertemu sepupu itu 5 atau 10 tahun yang lalu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;or the fact that she or he has their nose up in the air and treat you with a distance like you are an alien entity.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat dengan jelas letihnya saya memasang senyum palsu di depan semua orang, atau bermanis-manis ketika yang benar-benar ingin saya lakukan adalah membaca buku dengan tenang di beranda belakang rumah. Juga masih jelas dalam ingatan muaknya saya akan kepura-puraan setiap orang dan jemunya saya menjawab berbagai pertanyaan sanak keluarga dengan kalimat otomatis yang mereka ingin dengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang saya dianugerahi tatapan tajam dari mama saya ketika saya mulai menunjukkan diri saya yang sebenarnya. Dan ketika saya menurunkan tameng sosial dan mencampakkan topeng anak manis, cubitan rahasia pun mendera tubuh samping saya. Saya ingat waktu itu hati saya menjerit.."ini sih bukan liburan namanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dewasa, hidup pun menganugerahkan kesempatan untuk mencoba hidup jauh dari orang tua walaupun tidak berarti lepas dari naungan mereka. Sedikit ruang gerak dalam ruangan yang batasnya tidak beranjak tapi lebih fleksibel. Liburan pun diisi dengan kembali ke ruang pengaruh orang tua, kembali ke rumah yang nyaman namun penuh dengan keteraturan yang menyesakkan. Liburan bukannya diisi dengan 'kebebasan', tapi malah memaksa kebebasan (semu dan sementara) yang baru saja direngguk untuk harus kembali dibatasi oleh kotak yang diciptakan oleh orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kuliah dimana saya bebas untuk pergi kapan saja dan kemana saja memanjakan saya dengan kebebasan yang sungguh manis bagi remaja seperti saya waktu itu. Kunci kamar kos atau rumah kontrakan dirasakan seperti kunci ajaib bagi kebebasan. Saya pun memiliki ruang dan waktu sendiri, tidak hanya untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;having fun&lt;/span&gt; tapi juga untuk terpuruk dan bangkit kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya pun lepas dari naungan orang tua. Di depan saya terbentang kebebasan yang saya impikan, dan tidak lupa tanggung jawab yang menyertainya. Saya pun membatin..."mungkin akhirnya saya akan mendapatkan liburan yang saya idam-idamkan." Tapi tidak segampang itu. Tanggung jawab yang bertubi-tubi dan masa depan yang penuh dengan kesempatan dan tantangan membuat saya terkunci dalam rutinitas baru. Liburan pun menjadi barang mewah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Something that we cannot afford yet. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan saya akhirnya bisa menikmati liburan impian?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113180664562187637?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113180664562187637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113180664562187637&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113180664562187637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113180664562187637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/liburan.html' title='Liburan'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113180227584444342</id><published>2005-11-12T14:30:00.000+01:00</published><updated>2005-11-12T14:54:25.256+01:00</updated><title type='text'>Harus menulis apa?</title><content type='html'>Punya blog rasanya seperti punya debitur baru. Blog sepertinya menuntut untuk ditulisi, seperti layaknya penagih hutang minta dilunasi. Kalau dipikir-pikir nggak masuk di akal, wong nggak ada yang akan menghukum kalau tidak menulis di blog secara teratur. Tapi pertanyaannya, harus menulis apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali sewaktu blogwalking ke popular blog, saya lihat ada yang minta saran ide menulis. Terus jadi berpikir, ohh..ternyata saya nggak sendirian toh. Dan akhirnya jadi merenung, bagusnya menulis apa ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau menulis pengalaman pribadi, kok rasanya nggak ada yang menarik. Jadi frustasi, karena ini artinya hidup saya tidak menarik atau saya sudah menjadi orang yang tidak menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau menulis kesan pribadi, kok jadinya seperti manusia yang menyebalkan. Yang tidak pernah puas akan apa yang saya punya atau tidak mau bersukur. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;It makes me sound like a bitter lonely old grandmother.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mau menulis pengetahuan umum, sastra atau berbagai pengetahuan lainnya, otak saya kosong. Ini malah bikin tambah frustasi, karena jadi mikir.."kuliah selama ini hasilnya apa coba?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau menulis yang lucu-lucu dan menghibur, terus terang kosa katanya tidak memadai. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Poetry is out of question and short story is just beyond my league.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya defense mode muncul, saya bingung mau menulis apa karena takut tidak akan ada yang baca. Normal dong kalau penulis ingin karyanya dibaca orang. Makanya saya jadi seperti anak ayam kehilangan induk, bingung harus berbuat apa, karena tidak tahu apa yang akan berkesan bagi mereka yang tidak saya kenal secara pribadi, atau takut kalau tulisan saya terkesan dangkal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I guess I am just a human being who is longing for acknowledgement and afraid of rejection.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113180227584444342?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113180227584444342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113180227584444342&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113180227584444342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113180227584444342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/harus-menulis-apa.html' title='Harus menulis apa?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113129582724639899</id><published>2005-11-06T17:20:00.000+01:00</published><updated>2005-11-07T09:54:47.886+01:00</updated><title type='text'>Teman lama</title><content type='html'>Siapa yang tidak punya teman lama? Tapi bagaimana rasanya menjadi teman lama atau menyadari bahwa seseorang itu bukan lagi hanya teman, tapi sudah menjadi teman lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman lama bisa berarti teman dari dahulu kala, atau teman pada dahulu kala. Arti yang kedua lebih populer, tapi lebih membuat hati miris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup manusia memang berjenjang-jenjang. Waktu pun terbelah akan beberapa periode, dan orang yang dekat pada kita pun tak jarang terkelompok akan waktu. Teman jaman SD, jaman SMP atau waktu kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar memang ketika hidup melaju mereka yang tadinya berada di satu lingkaran, akhirnya harus berpisah. Terpaksa atau sengaja mengambil arah yang berbeda. Dan akhirnya sebuah ikatan emosi antar teman pun diakhiri dengan, "sampai ketemu lagi. Jangan lupa kirim surat." Tapi lebih sering kabar pun menghilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika bertemu kembali, dua orang teman lama akan tersenyum senang namun merasa asing akan manusia di depannya. Manusia yang dulu sangat dimengerti atau mengerti dirinya. Pembicaraan pun akan didominasi nostalgia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Not only because it was the golden days, but mostly because it was what these friends only have, the past.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan pun tepenjara pada masa lalu. Tidak ada lagi pertanyaan mendalam yang menuntut kepercayaan total bagi yang bertanya dan yang menjawab. Yang tinggal hanyalah pertanyaan basa-basi dan dialog sopan antar dua orang berbudaya. Dialog yang nyaman dan aman, tapi tidak datang dari hati yang mendalam dan tidak akan sanggup mendekatkan kedua hati mereka yang dulu pernah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berpikir, kapan persahabatan yang saya miliki akan berakhir? Saya tidak rela menjadikan seorang pun teman saya sebagai seorang teman lama. Tapi nampaknya hidup dan waktu telah menjadikan mereka yang saya sayangi hanya bagian dari masa lalu. Ketika air mata saya jatuh, saya hanya diingatkan, inilah hidup. Teman datang dan pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menjerit, persahabatan terlalu berharga untuk ditinggalkan, dilupakan, atau disimpan di dalam album poto. Kepercayaan dan cinta yang dibangun di dalam sebuah persahabatan terlalu langka untuk dicampakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, saya hanya menjerit sendiri, tanpa ada yang mendengar atau perduli.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113129582724639899?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113129582724639899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113129582724639899&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113129582724639899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113129582724639899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/teman-lama.html' title='Teman lama'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113094465927648577</id><published>2005-11-02T15:58:00.000+01:00</published><updated>2005-11-02T16:18:38.193+01:00</updated><title type='text'>If only..</title><content type='html'>Got your news today&lt;br /&gt;Usually I was always excited to hear your voice &lt;br /&gt;The voice from my past&lt;br /&gt;Not today, not anymore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life has changed the meaning of our past&lt;br /&gt;No future like we always talked&lt;br /&gt;Your path will not cross mine anymore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If only I didn't love you that much, I'd tell you what I really think.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113094465927648577?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113094465927648577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113094465927648577&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113094465927648577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113094465927648577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/if-only.html' title='If only..'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113094336688262780</id><published>2005-11-02T15:35:00.000+01:00</published><updated>2005-11-02T23:35:00.616+01:00</updated><title type='text'>Headphones: thumbs up or thumbs down?</title><content type='html'>Sekarang lagi nge-trend berat bagi mereka yang muda dan bergaya untuk menutupi telinga atau lubang telinga dengan headphones kecil berwarna putih, menandakan kalau si dia ngantonging iPod atau mini iPod. Atau bagi mereka yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;into&lt;/span&gt; hip hop ala MTV, telinga pun ditutupi headphones yang besarnya menyolok mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bis dan tram, setiap ada anak muda yang naik bis sendirian, pasti telinganya lagi disumpelin berbagai lagu kesayangan. Berusaha mengisolasi dirinya dari dunia sekitarnya, yang dianggapnya menyebalkan, berisik, atau mengganggu. Tanpa sadar kalau musik yang didengarnya malah mengusik orang di sebelahnya. Jess..jess..atau auuooo..auooo..atau ala hip hop sexy..ahhh..ahhh..Belum kalau telinga dicantelin headphones tapi mulut masih mau ngoceh sama ganknya, kuenceng, kayak mereka yang kurang mendengar berceloteh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Headphones memang alat murah meriah untuk mengisolasi diri dari sekeliling, selain untuk menikmati musik tanpa mengganggu yang lain. Seperti halnya mereka yang punya fasilitas komputer kantor yang bisa dipakai untuk memutar CD atau mendengarkan radio, saya pun menyediakan headphones di laci kantor. Siap untuk dipakai ketika hati ini rindu akan lantunan lagu kesayangan atau sekedar untuk tidak mendengar suara orang yang menyebalkan di kantor sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat rasanya bisa bekerja sambil mendengarkan dendang, bukannya obrolan sekretaris kantor yang ngomongin orang kantor atau gosip-gosip murahan lainnya. Tapi sebagai seorang yang impulsif dan senang menari (berjoget tepatnya), menikmati lagu dengan headphones pun sempat membuat profesor saya menaikkan alis. Bagaimana tidak..dia ketok pintu, saya nggak denger, dia masuk dan melihat saya sedang berliuk-liuk di kursi mengikuti dendang lagu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Put on serious face, click stop music, take off headphones, and asked "Yes Professor, what can I do for you?", with the sweetest smile that I could manage. Thank GOD I have dark skin, he couldn't notice the blush.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pipit is with her headphones on, listening to Kala Cinta Menggoda by Chrisye.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113094336688262780?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113094336688262780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113094336688262780&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113094336688262780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113094336688262780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/headphones-thumbs-up-or-thumbs-down.html' title='Headphones: thumbs up or thumbs down?'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113092053431353492</id><published>2005-11-02T09:28:00.000+01:00</published><updated>2005-11-02T09:35:34.313+01:00</updated><title type='text'>Lebaran</title><content type='html'>Besok lebaran, jadi saya pun mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin, mohon maaf kalau ada salah-salah kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat begini baru deh kerasa sedihnya berada di negeri orang jauh dari keluarga. Sudah 4 tahun nggak bisa mudik pas lebaran. Sudah 4 tahun nggak merasakan suasana lebaran yang meriah dimana berbagai makanan lezat dan nikmat bertebaran dimana-mana (ini kok makanan melulu sih pikirannya?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok pun harus bermaafan dengan orang tua dan keluarga hanya lewat telpon. Menahan haru ketika mendengar suara mama yang mendayu bercampur air mata. Menahan tangis mendengar suara nenek, yang saya harap masih bisa bertemu di suatu lebaran nanti. Menahan dongkol ketika mendengar adik saya memberikan daftar makanan yang tersedia di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat lebaran semuanya. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113092053431353492?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113092053431353492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113092053431353492&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113092053431353492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113092053431353492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/lebaran.html' title='Lebaran'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113086265326387997</id><published>2005-11-01T16:52:00.000+01:00</published><updated>2005-12-24T08:45:40.920+01:00</updated><title type='text'>Minimalis versus maksimalis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengantar: Ini adalah sebuah misuh-misuh seorang maksimalis yang harus bekerja dengan seorang yang minimalis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya mengakui bahwa saya adalah seorang maksimalis pasti banyak yang nuduh...idih..serakah deh eloe. Padahal maksimalis kan nggak cuma masalah memaksimalkan untung, yang dikonotasikan dengan menginjak, menyikut, atau mendorong yang lain. Saya maksimalis dalam bekerja, dalam arti selalu berusaha melakukan suatu tugas (sesepele apapun bentuknya) dengan maksimal. Banyak mungkin yang disebut perfeksionis (ini bahasa Indonesia bukan sih?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susahnya saya punya temen kantor yang minimalis banget. Dia sih bilangnya memprioritaskan yang lebih penting, kalau saya bilang sih, perhitungan! Bayangkan, kita ini sama-sama asisten (babunya dosen, red.), tapi giliran ada tugas apa-apa dia dengan anggunnya mengelak atau memberikan raut wajah enggan. Herannya dia nggak malu mencantumkan label &lt;span style="font-style:italic;"&gt;R******h Assistant&lt;/span&gt; padahal kalau diminta bantuin saya (yang nyuruh Profesor, bukan saya) yang sudah hampir kelelep sama berbagai tugas penelitian, beliau cuek atau pura-pura nggak tahu. Dia ngotot mau fokus ke thesisnya dan yang lain-lain itu nomor 2 atau 3 atau berapalah. Nah, memang saya nggak punya thesis apa? Terus kerjaan siapa yang musti nyelesain? Mungkin dia masih percaya ama peri-peri atau kurcaci ala dongeng yang dateng tengah malam untuk menyelesaikan tugas mereka yang tertidur di atas meja kerja. Oalah..guemes...pengen ngejitak, tapi takut dituntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat saya yang sudah stress pisan, lari-lari ke sana kemari (saya mungkin yang paling sering lelarian di kantor ini), rambut acak-acakan dan ngomong sudah pake 2 bahasa, dia cuma senyum tipis dan geleng-geleng kepala sambil komentar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"You know what your problem is, you want to do everything too well. Why do you spent too many times on that? Just make it simple, the most important thing is that it is done."&lt;/span&gt; Hah!! Saya yakin saya waktu itu melotot waktu dikomentarin kadal kayak begini. Saya jawab dengan diplomatis kalau saya nggak betah menyelesaikan sesuatu ala kadarnya, nggak sesuai dengan etika kerja saya. Dia cuma senyum miring. Sempet mikir...kerasa kesindir nggak ya..ah pasti nggak. Saya yakin dia ini tipe orang yang baru kesindir kalau udah dicium ama bajaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia benar, mungkin saya terlalu perduli sama detil, tapi inilah saya sebagai seorang pekerja. Buktinya dia juga sadar kok kalau hasil kerja saya terlihat rapi dan profesional. Dia sering komentar setelah melihat hasil tarian jari-jari saya di depan komputer untuk merapikan daftar atau dokumen dari para bos. Tapi ya itu, cuma komentar doang, dia tetap keukeuh dan nyaman dengan gaya minimalisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya suka heran sama mereka yang sekadarnya. Kurang sadarkah mereka kalau perhatian akan detil dan sedikit waktu lebih untuk mengerjakan sesuatu akan memberikan hasil yang jauh lebih baik. Kalau saya boleh membela tipe kerja saya yang penuh dengan stress, jerawat dan rambut rontok, menjadi seorang maksimalis itu banyak untungnya. Setiap orang yang pernah kerja bersama kita akan memberikan rekomendasi yang positif. Siapa tahu kalau bekas dosen kamu ternyata temen baiknya kepala perusahaan yang kamu kirimin lamaran. Temen kerja pun bisa menjadi referensi. Kita kan nggak pernah tahu bagaimana masa depan nanti. Tidak mustahil temen kita sekarang akan menjadi kunci untuk diterima atau tidaknya kita di suatu pekerjaan nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya tidak pernah menyesal menjadi seorang maksimalis. Dosen yang super killer (dan saya selalu ngacir kalau melihat si profesor di tengah jalan) jadi super baik sama saya. Sampai mau mendengarkan curhat saya yang diiringi mata berkaca-kaca dan berproklamasi kalau dia bakal siap mendukung saya kapan saja. Mungkin dia merasa bersalah karena proyek penelitian dia telah membuat saya harus berganti kaca mata. Kepala fakultas (yang tidak saya kenal baik) pun sampai berdiplomasi dengan direktur bagian post-grad untuk memberikan saya dispensasi, setelah melihat perjuangan saya yang pontang-panting ngebantuin beliau untuk satu proyek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, ingat nggak lokakarya yang harus saya urusin? Sebelum pulang ke negara mereka masing-masing, para peserta lokakarya yang uangnya pas-pasan itu sempet-sempetnya urunan membelikan kado perpisahan buat saya. Duh..terharu, saya nggak pernah mengharapkan apa-apa. Tapi temen baru saya bilang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"it's just a simple gift from us, as we really appreciate all of your hardworks. You have done far beyond your duty call." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul kan, jadi maksimalis ada hikmahnya. Reputasi kerja yang baik, atau bahkan Swatch Skin baru. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113086265326387997?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113086265326387997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113086265326387997&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113086265326387997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113086265326387997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/11/minimalis-versus-maksimalis.html' title='Minimalis versus maksimalis'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113077794583446002</id><published>2005-10-31T17:37:00.000+01:00</published><updated>2005-11-02T09:20:45.186+01:00</updated><title type='text'>Ganti jam</title><content type='html'>Kemaren akhirnya kami masuk ke jam musim dingin (l'heure d'hiver), itu artinya jamnya diundur satu jam. Tidur pun bisa dapet satu jam ekstra, tapi seluruh jam di rumah harus diganti, diundur satu jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya masih sering kagok kalo disuruh gonta-ganti jam kayak gini. Jam musim dingin sih enak..nah pas musti ganti jam musim panas (l'heure d'été), tidur pun jadi berkurang satu jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas jam musim panas, waktu pun dimajuin satu jam. Jadi yang tadinya jam 7 pagi jadi jam 8 pagi. Artinya, kalau harus bangun jam 7, musti bangun jam 6 pagi..rugi kan. Tapi enaknya, hari pun menjadi lebih panjang. Sering denger kan kalau di Eropa musim panas harinya (saat dimana kita masih bisa melihat matahari) itu dari jam 6 pagi sampai 9 malem. Pergantian jam itu salah satu yang mempengaruhi kenapa hari terasa lebih panjang (di samping letak benua Eropa pada globe bumi tentunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarahnya gonta-ganti jam ini belum lama lho. Awalnya dimulai pada saat krisis minyak pada tahun 1970-an (jaman-jaman jayanya Indonesia dan berbagai negara pengekspor minyak lainnya). Waktu krisis minyak tersebut, harga minyak menjadi berlipat ganda dan minyak pun menjadi barang langka. Berhubung minyak diperlukan untuk seluruh industri dan berbagai keperluan sehari-hari lainnya, pemerintah Swiss (dan beberapa negara Eropa lainnya, kalau nggak salah) memutuskan memajukan satu jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pengaruhnya apaan? Banyak. Bayangkan, itu berarti negara ini menghemat satu jam pemakaian minyak, kan satu jam dianggap hilang. Jadi kalau ditetapkan pada tanggal sekian waktu dimajukan satu jam pada jam 12 malem, pada waktu jam menunjukkan 24.00, semua jam dimajukan menjadi jam 01.00. Ini artinya waktu antara 24.00-01.00 tidak eksis. Tapi kemudian 'hilang'nya waktu ini pun diganti pada waktu pergantian jam di musim dingin, dengan diundurnya waktu selama satu jam. Artinya kalau tanggal X harus ganti waktu musim dingin pada jam 12 malam, sewaktu jam menunjukkan pukul 24.00, seluruh jam diundur menjadi 23.00. Artinya waktu 23.00-24.00 berulang dua kali, dua jam. Impas kan. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari alasan di balik kebijakan tahun 1970 an tersebut, pergantian jam ini cukup merusak ritme biologis. Ya..mirip-mirip jet-lag deh. Untuk manusia dewasa mungkin hanya berpengaruh pada waktu tidur atau ketika merasa lapar. Efek pergantian jam ini lebih berpengaruh pada hewan dan anak kecil. Contohnya, sapi yang memiliki jadwal perah teratur suka kaget kalau prosedurnya terlambat satu jam atau lebih awal satu jam. Ini dikarenakan hewan hanya memiliki satu pengertian akan waktu, biologis.   Kan sampai saat ini belum ada hewan yang bisa membaca jam tangan. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113077794583446002?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113077794583446002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113077794583446002&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113077794583446002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113077794583446002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/ganti-jam.html' title='Ganti jam'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113075847694499127</id><published>2005-10-31T11:48:00.000+01:00</published><updated>2005-12-24T08:45:00.546+01:00</updated><title type='text'>Sport can be fun!!</title><content type='html'>Setelah setahun lebih absen dari dunia permajalahan, akhirnya kemarin merelakan diri merogoh kantong untuk membeli Cosmo (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;also because the new Donald Duck has not out yet&lt;/span&gt; :P). Seperti sudah dibahas di &lt;a href="http://nagasundani.blogsome.com/2005/10/26/female-magazine/"&gt;sini&lt;/a&gt;, majalah ini isinya indoktrinasi tentang bagaimana seorang perempuan menjadi atau untuk bisa dipandang cantik. Nggak semua nasehatnya jelek (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;check out the *** tips&lt;/span&gt;), tapi tips untuk mengecilkan ukuran celananya kok didominasi oleh makanan sehat dan gym. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan sehat memang penting, tapi kalo saya harus mencoret bakso, pizza, duck sandwich, dan berbagai makanan berlemak lainnya dari list makanan yang harus sering-sering disantap..hati ini bisa hancur berkeping-keping. Prinsip hidup saya, makan enak itu penting dan tidak harus membuat diri merasa bersalah, asalkan kalorinya langsung dibakar. Olah raga..itu kuncinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cosmo juga setuju, isi majalahnya cuap-cuap mengenai pentingnya olah raga dan bagaimana memotivasi diri untuk berkeringat. Sayang, olah raga diartikan sebagai pergi ke gym. Nggak ada olah raga lainnya apa? Menurut saya, memotivasi diri bukannya cuma masalah mengendalikan rasa malas, tapi kalo olah raganya lari-lari tanpa tujuan di treadmill, atau ngegenjot sepeda yang nggak kemana-mana, tak mengherankan motivasinya kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih perempuan modern itu dipandang harus ke gym atau aerobik? Giliran saran buat you guys, pilihannya pasti yang seru-seru, mountain-climbing, snow board, surfing, ski ekstrem, dan berbagai X-sport lainnya. Kok perempuan diharapkan puas dengan berpakaian minim, leloncatan nggak karuan, atau mengoperasikan berbagai alat untuk mengencangkan pantat, dada, paha, lengan, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir pergi ke gym itu nggak cuma membosankan, tapi juga bikin frustasi. Gimana nggak frustasi, udah berbulan-bulan ngegenjot berbagai perabotan gym, badan kok masih nggak sekeren yang di iklan. Lagipula, pemandangan kiri dan kanan memberikan stimulasi persaingan tidak sehat...seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"when will I have that buttom? or maybe I should get breat transplant". &lt;/span&gt;Pergi ke gym didominasi oleh satu tujuan, berbadan indah. Olah raga tidak dipandang sebagai kegiatan yang menyenangkan, tapi untuk memperbaiki 'kecacatan' tubuh. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;My God, don't you think it's frustating?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wahai kaum hawa, kalau anda-anda sekalian malas berolah raga bukan berarti dunia berakhir dan tidak ada lagi harapan. Cukup mencoba melihat olah raga sebagai sesuatu yang menyenangkan. Coba dan pilih olah raga yang sesuai dengan minat diri. Pilih olah raga yang membuat kita belajar sesuatu yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It's easier and faster to master one aikido technique than having a flat stomach. You'll get satisfaction easier and your mind will stop thinking about those extra pounds that you need to get rid off. Plus, without noticing (or weigh yourself every 2 hours), you'll loose weight and gain muscles. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti cerita, cari olah raga yang fun. Olah raga yang interaktif dan menantang banyak banget. Pilih olah raga yang memberikan kepuasan lain selain 'membentuk' badan. Kalau sudah ketemu, nggak bakal deh ada masalah memotivasi diri untuk pergi ke olah raga. Ingat, olah raga nggak cuma harus berlari keliling lapangan dengan celana pendek sambil diteriakin sama guru olah raga (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;my school time's total nightmare&lt;/span&gt;), olah raga juga berarti ajang bertemu teman baru atau belajar sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gym may not be fun, but sport can be fun.&lt;/span&gt; :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113075847694499127?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113075847694499127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113075847694499127&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113075847694499127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113075847694499127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/sport-can-be-fun.html' title='Sport can be fun!!'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113058920888829454</id><published>2005-10-29T14:08:00.000+02:00</published><updated>2005-10-29T14:35:52.256+02:00</updated><title type='text'>Menikah itu...</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu salah satu teman bertanya: "Pit, menikah itu seperti apa sih? Kapan eloe tahu kalau eloe siap untuk menikah? And knowing you, what made you change your mind and step into the mysterious partner-for-life kind of thing?" (yup..I was that kind of person who freaked out whenever I heard the word 'commitment')&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jawaban yang lazim adalah, semua karena cinta. *oalah* Tapi setelah sempat dipikirkan beberapa detik, kok kesannya abstrak sekali. Dan saya rasa, temen saya yang sedang berada dalam keadaaan gonjang-ganjing itu nggak akan puas dengan jawaban yang super sederhana tapi universal tersebut. Dia itu tipe orang yang praktis dan pragmatis, jadi jawaban yang berisi kata-kata seperti intuisi, feeling, "you just feel it", etc., akan ditolak sama pemikirannya, seperti halnya spam filter memblokir spammers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya pun menemukan analogi yang cukup sederhana untuk menggambarkan menikah itu seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah itu seperti bermain kaki tiga. Itu lho, permainan jaman 17 Agustusan ketika kita harus memilih partner yang kaki sebelahnya diikat ke salah satu kaki kita dan berdua musti mencoba berlari sama-sama, sambil nahan malu dan berusaha nggak jatuh di tengah-tengah ibu-ibu satu RT yang histeris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's like the game in the sense that your partner and you understand each other perfectly where to go. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your partner and you understand that you need to walk together without anyone left behind, dragged behind, tailed behind, or holding you from behind. You know that you need to harmonize your path together. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your partner and you agree on how tight the rope should be tying your legs together, either loose, considerably tight, or barely feel it; and understand that the rope is there not to keep either of you from doing something else, but to give you a chance to do it together and win the day.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, both of you agree that when something got rough, blaming the other for falling down will not do any good. Picking up the other's shoulder and support him/her to keep on walking is the only way to get to the finish line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*another discussion which, in my humble opinion, needs to be written down.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113058920888829454?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113058920888829454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113058920888829454&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113058920888829454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113058920888829454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/menikah-itu.html' title='Menikah itu...'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113058620995134352</id><published>2005-10-29T13:32:00.000+02:00</published><updated>2005-10-29T13:45:50.790+02:00</updated><title type='text'>Between the lines</title><content type='html'>I did blogwalking quite a few, I read quite many books (for fun or because I didn't have any choice), and I did a silly book baton when it was the trend to do it. But then I have just realized that the readings that I enjoy the most are the ones that have something between the lines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love analogy, it's a smart puzzle; because you don't only need to fill the corners first, but you also have to know where the corners are in the first place. Thus, I always enjoy  witty &lt;a href="http://herstory.nananias.com/"&gt;comments from nana&lt;/a&gt;,the can-be-complicated &lt;a href="http://blogs.andryshuzain.com/"&gt;programmer's language&lt;/a&gt; (even though sometimes I felt a slight brain damage when I had to try to understand the 'alien' computer related vocabularies), and story from &lt;a href="http://nagasundani.blogsome.com/"&gt;a life spectator&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wonder if I'll be able to write something that have a sign somewhere saying "read between the lines". Nahh..probably not. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;C'est pas grave, n'est-ce pas?&lt;/span&gt; :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113058620995134352?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113058620995134352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113058620995134352&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113058620995134352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113058620995134352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/between-lines.html' title='Between the lines'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113058554232198052</id><published>2005-10-29T13:31:00.000+02:00</published><updated>2005-10-29T13:32:22.336+02:00</updated><title type='text'>Precious moment</title><content type='html'>What is the most unforgettable moment in life?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The moment that could have happenned. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pipit in her nostalgic mood.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113058554232198052?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113058554232198052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113058554232198052&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113058554232198052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113058554232198052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/precious-moment.html' title='Precious moment'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-113051315930605697</id><published>2005-10-28T17:04:00.000+02:00</published><updated>2005-10-28T17:25:59.333+02:00</updated><title type='text'>Bebas!!</title><content type='html'>Akhirnya paper selesai. Lega banget rasanya. Jadi inget perasaan tiap abis selesai ujian jaman sekolahan dulu. Rasanya dunia jadi indah, senyum selalu menghiasi wajah, dan kepala sibuk mikir...hemm...where should I (shop/eat/date/hang out/pick up guys) today?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just come back from my "unintended" autumn shopping. Feel a little bit guilty, but hey..I deserve 2 sweaters and 2 new tops after writing 60 pages in 10 day, don't I?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So now, just going to spend the rest of afternoon watching Friends, and try to re-call all the blogs idea that I had to put aside during the 10 days of living nightmare. Soon will be writing again, not for any "why did I decide to do a PhD anyway" kind of paper, just for fun and for my sanity...hehehe. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-113051315930605697?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/113051315930605697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=113051315930605697&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113051315930605697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/113051315930605697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/bebas.html' title='Bebas!!'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-112962544792104863</id><published>2005-10-18T10:35:00.000+02:00</published><updated>2005-10-18T10:50:48.150+02:00</updated><title type='text'>Kecil itu...</title><content type='html'>Kecil itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melelahkan...bagaimana nggak melelahkan, satu langkah temen sebelah berarti satu setengah atau dua langkah untuk si kecil. Jadi harus sering jalan cepet atau lari-lari kecil untuk menyamakan langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bikin minder...setiap berada di kerumunan selalu merasa di 'kelek' in, wong kepala cuman sampai di bahu orang-orang di sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbahaya...di tengah-tengah konser atau keramaian, siap-siap aja kena sikut sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, kecil itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyehatkan...ya karena harus sering lari-lari kecil dan jalan cepat jadi sehat kan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hemat...kan bisa beli baju untuk anak kecil. Harganya 30% lebih murah dari baju orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mewah...mewah mana, walkman yang sebesar batu ulekan atau mini IPod?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disayang sama tukang jahit...kan langganan motong celana atau ngecilin baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menggoda...pick up line: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Excuse me, could you please help me? It's too high for me."&lt;/span&gt; *twink twink*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungil...yeeee tautological..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gesit...di tengah-tengah pasar bisa selip sana selip sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aman...jarang orang yang merasa terancam sama orang imut. Aman dari praduga polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nyaman...kaki nggak perlu terjepit di kursi pesawat kelas ekonomi. Bisa guling sana guling sini di kursi bis antar kota, dan bisa tidur terlentang di kursi mobil mana aja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Ide yang muncul ketika harus berdiri tersudut di tengah-tengah bis yang penuh sesak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-112962544792104863?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/112962544792104863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=112962544792104863&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112962544792104863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112962544792104863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/kecil-itu.html' title='Kecil itu...'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-112936675051789945</id><published>2005-10-15T10:42:00.000+02:00</published><updated>2005-10-15T11:01:00.956+02:00</updated><title type='text'>Istimewa</title><content type='html'>Ada satu ungkapan yang selalu saya ingat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It is nice to be important, but it is important to be nice.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlakukan secara istimewa memang enak dan nyaman, tapi entah kenapa saya malah suka risih dan enggan. Saya merasa kadang diperlakukan istimewa secara tidak langsung memperlakukan orang lain secara tidak adil. Banyak yang komentar, jadi kenapa? Nikmati saja, kenapa harus memikirkan orang lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kita diperlakukan 'berbeda' secara negatif kita selalu bertanya, "Kenapa saya diperlakukan seperti ini? Apa bedanya saya dengan yang lain?" Tapi ketika kita diberi perlakuan istimewa, jarang kita bertanya, "Kenapa saya diberi pengecualian atau perlakuan istimewa? Apa bedanya saya dengan yang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini saya benar-benar disibukkan oleh sebuah lokakarya yang diselenggarakan oleh kampus. Saya sudah terlibat sejak 3 bulan yang lalu, membantu para dosen yang bertanggung jawab akan lokakarya tersebut. Sialnya, lokakarya ini bertepatan dengan seminggu sebelum batas waktu penulisan draft skripsi saya. Saya sebelumnya berpikir bahwa saya hanya bertugas untuk mengurus persiapan lokakarya, tidak harus hadir atau terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan (saya lebih suka bekerja di balik layar, tidak suka tampil di depan). Tapi ternyata, para dosen itu menyadari bahwa saya harus selalu hadir selama lokakarya berlangsung. Mereka perlu seseorang yang menjamin (tepatnya menjadi seksi sibuk merangkap bibik) semua berjalan dengan lancar. Berhubung mereka sadar bahwa saya harus menyelesaikan draft skripsi, mereka pun menjanjikan perpanjangan batas waktu untuk saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, saya pun menerima surat resmi yang memberikan perpanjangan waktu untuk satu minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersukur, artinya saya punya waktu 2 minggu untuk menulis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(too short, but it's better than nothing)&lt;/span&gt;. Tapi saya merasa memperlakukan teman-teman saya secara tidak adil. Banyak diantara mereka yang harus bekerja dan juga mempunyai kesulitan untuk menulis draft skripsi mereka, tapi hanya saya yang mendapatkan kelonggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya patut untuk mendapatkan keistimewaan ini? Mungkin. Tapi saya tetap merasa bersalah kepada yang lain. Mungkin saya tolol, sok perhatian atau sok adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, satu yang pasti. Saya hanya punya waktu 2 minggu untuk mempertahankan status pelajar saya. Gambatte!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-112936675051789945?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/112936675051789945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=112936675051789945&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112936675051789945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112936675051789945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/istimewa.html' title='Istimewa'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-112936545634521674</id><published>2005-10-15T10:02:00.000+02:00</published><updated>2005-10-17T17:17:12.100+02:00</updated><title type='text'>Terdampar di Amsterdam</title><content type='html'>Setelah deg-degan menanti datangnya visa, akhirnya saya dapet kesempatan berkunjung ke negara lain. Seneng banget, hati berbunga-bunga seperti musim semi. Seneng karena ternyata se-tua ini saya masih dikasih kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru. Jadi inget iklan Emirates: "When did you do something for the first time?" Saya dan Xaf pun bisa menikmati akhir pekan jauh dari rumah dan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam perjalanan pulang kita berdua sempat terdampar di Amsterdam satu malam. Pesawat menuju Amsterdam terlambat 30 menit, padahal saya dan Xaf cuma punya waktu 40 menit untuk ganti 'gate'. Pilot sih cuap-cuap kalau dia akan mencoba ngebut, agar bisa sampai di Amsterdam tepat waktu, tapi apa daya mesin jetnya kurang kenceng. Akhirnya saya dan Xaf pun ketinggalan pesawat lanjutan ke Jenewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbirit-biritlah kami ke Transfer Desk (sesuai instruksi pramugari), berharap bisa naik pesawat berikutnya ke Jenewa. Ternyata pesawat yang ninggalin kami itu pesawat terakhir..*gubrak*, dan tidak ada penerbangan lain yang melayani rute Amsterdam-Jenewa, kecuali Easy Jet. Tapi kami harus membayar 350 euro satu orang. Edan, harganya hampir sama dengan tiket kami pulang balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung kesalahan berada di pihak penerbangan, akhirnya kami pun dijanjikan kamar untuk menginap. Xaf sudah ngamuk-ngamuk karena dia harus bekerja dan mempunyai janji penting hari Senin. Tapi ya mau bagaimana lagi? Masak mau nyikil ke Jenewa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun diarahkan ke 'Arrival office' untuk melapor, menerima 'Toilet package' dan reservasi kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya untuk sampai ke 'Arrival Office', kami berdua ternyata bisa langsung ke tempat penerimaan bagasi dan pintu keluar TANPA melewati pemeriksaan imigrasi. Tidak ada polisi atau petugas keamanan yang menjaga pintu. Saya jadi berpikir kriminal, wah ini gampang amat menyelundupkan diri ke Amsterdam. Kayaknya pihak bandara harus lebih memperhatikan segi keamanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu 'Toilet Package'? Tas kecil yang berisi berbagai keperluan mandi dan satu T-shirt bersih. Untung!! Wong bagasi kami entah berada dimana. Isi tasnya: , sikat gigi, odol, sabun cair, shampoo, sisir kecil, body lotion, pisau cukur dan krim cukur, sabun cuci, dan kaus kaki; semuanya dalam kemasan plastik yang mungil dan manis. Tasnya juga manis, patut untuk disimpan. :) Seperti layaknya orang Indonesia, saya pun sempet berpikir: wah ada untungnya ketinggalan pesawat, bisa dapet tas imut kayak begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas penerbangan pun langsung memesan kamar untuk kami berdua. Xaf masih dalam 'mode' ngedumel, saya sih sudah pasrah, yang penting bisa menginap di hotel nggak harus tidur di kursi bandara. Lagipula, saya kan belum pernah menginjakkan kaki di kota Amsterdam!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu keluar dari bandara, hidung saya langsung diserang bau tak sedap. Wah, bener ternyata, kota Belanda beraroma kandang! (pernah baca di blog yang saya lupa namanya) Setelah menunggu beberapa menit akhirnya bis hotel tiba, Xaf masih ngomel, pesimis akan kamar hotel yang menanti. Sampai di hotel, saya persis kayak orang udik...celingak celinguk sambil terpana. Hotelnya bagus banget, hotel internasional bintang 4! Interior designnya apik dan mewah, semuanya mengkilap sangking bersihnya, kami bahkan diberi pilihan "Would you like to have double-bed or king-size bed?" Astaga, seumur-umur saya belum pernah ngeliat king-size bed di depan mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak penerbangan ternyata cukup efisien dan sudah lama bekerja sama dengan pihak hotel, jadi kami pun langsung diberi kunci kamar tanpa banyak pertanyaan. Sampai di kamar, saya langsung terkagum-kagum, mimpi apa bisa menginap di hotel semewah ini gratis?! Coba saya belum menghabiskan film di kamera saya, pasti saya sudah sibuk jepret sana sini. Isi kamarnya persis seperti katalog toko perabotan ternama di Eropa. Saya kagum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ternyata terdampar di Amsterdam tidaklah seburuk yang kami kira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It was the first time for me to exit an airport without passing through passport control. It was the first time for me to see Amsterdam. It was the first time for me to sleep in King-size bed. It was the first time (and hopefully not the last time) for me to stay in 4 stars hotel for free. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-112936545634521674?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/112936545634521674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=112936545634521674&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112936545634521674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112936545634521674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/terdampar-di-amsterdam.html' title='Terdampar di Amsterdam'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-112862852980198753</id><published>2005-10-06T21:50:00.000+02:00</published><updated>2005-10-06T21:55:29.810+02:00</updated><title type='text'>Kalang kabut</title><content type='html'>Sudah lama banget saya nggak sempet nulis di blog, tapi saya memang lagi kalang kabut. Paper penting harus diselesaikan dalam 2 minggu, kalau nggak selesai kartu pelajar bisa langsung dibuang ke tempat sampah. Profesor juga bukannya kasihan malah ikut-ikut ngasih beban. Jadi saya pamit dulu sebentar. Nanti kalau sudah nggak gemeteran dan Nash -syndrom (ref. A Beautiful Mind) sudah sembuh saya akan coba isi blog lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon doa untuk pelajar yang sedang di ujung tanduk banteng berlabel 'drop out'.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-112862852980198753?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/112862852980198753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=112862852980198753&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112862852980198753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112862852980198753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/10/kalang-kabut.html' title='Kalang kabut'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-112696177201926921</id><published>2005-09-17T14:22:00.000+02:00</published><updated>2005-09-17T15:01:18.786+02:00</updated><title type='text'>Sudut lain</title><content type='html'>Bagi penggemar Harry Potter semua pasti ingat di volume ke 4 Hermione memutuskan untuk mengambil mata pelajaran Muggle's study. Pelajaran tentang kehidupan para non-penyihir. Ketika Ron mengingatkan 'tidak perlunya' Hermione yang nota-bene lahir dan berasal dari keluarga penyihir untuk belajar tentang kehidupan mereka (wong itu adalah kehidupan dia sehari-hari bersama keluarganya) Hermione dengan sewotnya menjawab, akan sangat menarik mempelajari bagaimana para penyihir memandang kehidupan kami para non-penyihir. Akan sangat menarik melihat kehidupan 'normal' saya dari sudut pandang penyihir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sekarang merasa seperti Hermione. Saya meneliti tentang Indonesia, bangsa dan negeri saya sendiri, dari literatur karangan mereka yang bukan orang Indonesia. Sungguh menarik ketika membaca bagaimana salah satu pengarang menggambarkan 'saving face policy' (jaga gengsi) sebagai salah satu budaya di masyarakat Indonesia. Menarik pula menyadari peranan pendidikan, terutama sejarah dan Bahasa Indonesia, dalam 'menciptakan' bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak saya pun seperti tersentak ketika membaca tulisan tentang budaya kekerasan di Indonesia. Budaya kekerasan yang diciptakan dan didukung, tidak hanya oleh para preman, tapi juga oleh 'kelemahan' institusi kemasyarakatan dan kuatnya pengaruh para elite dalam memobilisasi masyarakat yang frustasi menghadapi berbagai perubahan cara hidup, imigrasi mereka yang 'sebangsa' tapi dari etnis yang lain, krisis ekonomi, kehilangan tanah dan mata pencaharian, dsb. Tulisan yang menganalisa tentang berbagai peristiwa kekerasan di Indonesia tidak hanya membuka mata saya tentang 'parahnya' kejadian berdarah di berbagai daerah, tapi juga bagaimana bangsa ini akhirnya jatuh ke lingkaran setan yang penuh dengan diskriminasi, kekerasan, kesenjangan sosial dan ekonomi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ignorance and indifference&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya malu, sadar bahwa selama ini sedikit sekali yang saya ketahui tentang negeri dan bangsa saya sendiri, sedangkan mereka yang orang asing tahu lebih banyak. Saya baru tahu kalau di Sumbawa peternak hanya boleh membiakkan sapi Bali, sedangkan di Lombok peternak bebas untuk memilih jenis sapi yang mau dipelihara. Saya baru tahu kalau ada monopoli dan rayonisasi yang sangat merugikan para petani kapas di Sulawesi Selatan. Saya baru tahu kalau monopoli kopra telah menguntungkan pabrik minyak goreng Bimoli tapi membuat petani kopra di Sulawesi Utara mengelus dada, menerima dengan pasrah harga kopra yang sangat rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat sewaktu salah satu petugas perpustakaan di kampus bertanya tentang tema skripsi S1 saya. Sewaktu saya menerangkan bahwa saya meneliti tentang politik luar negeri Amerika Serikat ke RRC, dia dengan sendunya berkomentar, "Saya heran kenapa jarang ada mahasiswa yang mau meneliti tentang negaranya sendiri." Waktu itu saya hanya diam, tapi akhirnya saya menyadari filosofi di balik komentar bapak pustakawan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalau saya berhasil menyelesaikan thesis saya yang berkutat dengan efek 'nation-building' dan 'state-building' pada konflik tanah di hutan Indonesia, saya akan memberikan hasil penelitian saya kepada bapak tersebut. Saya harap suatu saat saya akan bisa dengan tulus dan jujur menyatakan bahwa saya telah mengenal bangsa dan negara saya, walaupun mungkin hanya untuk satu aspek saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-112696177201926921?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/112696177201926921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=112696177201926921&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112696177201926921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112696177201926921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/09/sudut-lain.html' title='Sudut lain'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11664549.post-112650684414650871</id><published>2005-09-12T08:32:00.000+02:00</published><updated>2005-09-12T08:34:07.556+02:00</updated><title type='text'>Belum lupa</title><content type='html'>Lupa mungkin menunjukkan batasan manusia, namun tak jarang juga menandakan lapangnya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakanlah untuk melepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun.*&lt;br /&gt;Saya belum lupa. Mungkin nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*To health and happiness, cheers.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11664549-112650684414650871?l=bla3x.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bla3x.blogspot.com/feeds/112650684414650871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11664549&amp;postID=112650684414650871&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112650684414650871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11664549/posts/default/112650684414650871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bla3x.blogspot.com/2005/09/belum-lupa.html' title='Belum lupa'/><author><name>Pipit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654227678307838238</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img231.imageshack.us/img231/7769/2005b24zb.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
