<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Sunday, April 10, 2005

Sampah dan daur ulang

Kalau di Indonesia daur ulang baru menjadi trend kira2 beberapa tahun yang lalu, di Swiss daur ulang sudah menjadi gaya hidup. Sebagai negara kecil yang mempunyai sumber energi dan alam yang terbatas, Swiss berusaha untuk menghemat sumber tersebut. Semua serba dihemat, air, kayu, kertas, kain, botol plastik, kaleng, gelas, sampe sampah biologis. Yang namanya tong sampah di sini macem2 bentuk dan warnanya. Banyak tong sampah yang dikhususkan untuk satu jenis sampah saja.

Ngomong2 tentang sampah, Swiss bersih banget!! Gimana nggak bersih, tiap 100 meter ada tong sampah. Tiap pagi ada mobil warna orange (di Jenewa, di kota laen mobilnya laen warnanya) yang ngumpulin sampah dari tong2 sampah di pinggir jalan. Terlebih lagi, beberapa hari sekali, banyak mobil sapu (truk kecil yang ada sapunya buat bersihin jalan atau trotoar) berkeliaran di jalan. Bayangin aja, jalan mobil aja disapu, jadi yang namanya jalan itu jarang banget ada sampah bertebaran. Trotoar juga dibersihin, pake mobil sapu mini (nyokap gue yang clean freak pasti seneng banget kalo dikasih satu..), dan kadang disemprot aer, buat ngebersihin debu yang bandel nempel di sela2 trotoar. Tempat nunggu bus juga dipoles, 2 minggu sekali. Kalau petugas kebersihan udah dateng seru deh. Mereka efisien banget. Maximal 10 menit, halte bis langsung mengkilap, setelah digosok dengan sabun dan disemprot aer. Cuman ya itu, musti hati2 kalo pas kebetulan lagi nunggu bis.

Kadang gue suka ngayal, gimana ya kalo di Indonesia juga diterapin sistem yang sama. Alangkah indahnya. Nggak perlu punya tim kebersihan dan jadwal kayak di sini, paling enggak di pinggir jalan, tong sampah disediakan lebih banyak. Tidak hanya di depan kantor pemerintah atau mall aja. Gue rasa kalo tong sampah banyak, orang pun akan lebih terdorong untuk membuang sampah pada tempatnya.

Gue masih inget dulu di Bandung dijulukin agen petugas kebersihan sama temen2 gue. Abisnya gue langsung ngamuk (beneran ngamuk) kalo ngeliat temen gue ada yang buang sampah sembarang. Gue bakalan ngoceh ampe temen gue mungut sampah yang dibuangnya itu dan nyari tong sampah. Dan sering banget gue berantem ama temen2 gue yang mau buang plastik bekas makanan di dalam angkot, atau ke jalanan dari dalam mobil. Jawaban mereka satu, "...duile pit, eloe segitunya, yang buang sampah kan banyak. Satu plastik lagi nggak akan bikin banyak perbedaan." Pemikiran seperti inilah yang bikin kota2 di Indonesia penuh dengan sampah. Tiap orang berpikir, ah..cuman kecil ini..tapi kalo 100 orang berpikir seperti itu, jadi ada 100 sampah yang bertebaran!! Berhubung gue tetep ngotot, akhirnya temen2 gue jadi punya kebiasaan nggak buang sampah sembarangan kalo lagi jalan ama gue, atau harus menanggung malu dicelotehin ama gue sepanjang jalan.

Jadi kebanyang dong gimana bahagianya gue bisa tinggal di negara yang bener2 memperhatikan masalah sampah dan kebersihan. (Coba deh baca Asterix di Swiss, di sana orang Swiss digambarkan sebagai maniak kebersihan. Stereo type, tapi ada benernya, kebersihan di Swiss beda sekali dengan Perancis ato Italia, negara tetangganya)

Kembali ke daur ulang, sekarang banyak daerah di Jenewa yang memperketat hukum daur ulang. (Yup..ada hukumnya, dan denda kalo melanggar. Hati2, di sini denda jumlahnya bisa bikin dongkol sebulan penuh) Sekarang di beberapa daerah sudah membangun tempat sampah khusus untuk sampah rumah tangga, kaleng, kertas, dan sampah biologis. Setiap rumah tangga harus memisahkan sampah mereka sebelum dibuang ke tempat sampah. Dan kalau ada yang ketahuan tidak memisahkan sampah sebagaimana mustinya, langsung didenda.

Di daerah tempat tinggal gue belom diperketat seperti itu, tapi kita udah dianjurkan untuk memisahkan sampah biologis. Pemerintah melakukan kampanye dengan membagi2kan secara gratis tempat sampah biologis (warnanya hijau dengan gambar landak, lambang sampah biologis), terus di samping tempat pengumpulan sampah ditaruh tong sampah khusus warna hijau. Gue seneng banget pas dapet intruksi dan tong sampah gratis, udah lama sih niatnya, cuman lupa mulu. Tapi rada repot juga, soalnya sekarang tiap mau buang sampah musti mikir2 ini termasuk sampah biologis atau bukan?

Kalo kertas sih memang sudah dipisahkan dari dulu, dan seminggu sekali akan ada mobil truk khusus untuk sampah kertas yang bakal ngangkut. Daur ulang kertas sudah cukup mendarah daging di negara ini. Karena mereka nggak punya hutan yang bisa memasok pabrik kertas (hutan yang ada semuanya dilindungi, bahkan pohon2 di taman kota aja dilindungi, kalo mau ditebang harus ambil suara masyarakat dulu), jadi ya musti daur ulang. Kantor pemerintah dan badan pendidikan diwajibkan untuk menggunakan kertas daur ulang untuk setiap kebutuhan. Dari kertas buat print out, note book, sampe amplop. Dan harga kertas daur ulang pun jauh lebih murah dari kertas yang diproduksi dari pohon. (Kebalikan dari Indonesia dimana pohon di hutan sudah digunduli dan pabrik kayu dan kertas disubsidi besar2an. Subsidi inilah yang menjadi pendorong penebangan hutan di Indonesia dan membuat hutan di Indonesia sebagai salah satu hutan yang terancam di dunia. I can talk a lot about this, I have been studying deforestation problem in Indonesia for four years now. But I better leave the academic talk behind)

Tahun ini ada peraturan baru untuk daur ulang alat2 elektronik. Semenjak Januari, seluruh toko yang menjual alat elektronik harus menerima alat elektronik yang sudah tidak dipakai lagi untuk kemudian didaur ulang, terlepas dari apakah alat tersebut dibeli dari toko yang bersangkutan atau tidak. Kebijakan yang sangat menguntungkan masyarakat dan pemerintah. Kewajiban mendaur ulang alat elektronik, dilimpahkan kepada kelompok bisnis. Alat elektronik tidak akan menggunung menjadi tumpukan sampah, dan pemerintah tidak perlu bingung membuat tempat penampungan sampah. Masyarakat bisnis juga tidak bisa mengeluh, karena di setiap harga penjualan alat elektronik telah disertakan pajak daur ulang.

Ternyata kekurangan sumber daya alam telah membentuk masyarakat Swiss untuk lebih berhemat dan menghargai lingkungan. Sayang Indonesia masih tidak sadar betapa pentingnya pemeliharaan sumber daya alam. Indonesia terus terang jauh lebih kaya daripada Swiss, apa sih yang nggak ada di Indonesia? Tapi karena berlimpahnya sumber daya tersebut, pemerintah jadi tidak punya alasan untuk berhemat. Penghematan sumber daya alam melalui technology upgrading memang mahal, tapi untuk jangka panjang akan memungkinkan penghematan yang sangat berharga.

Kapan ya pemerintah Indonesia mulai memikirkan lingkungan hidup dan mulai berhemat, waktu hutan semua sudah gundul? Waktu binatang dan biomas yang hidup di hutan sudah punah? Waktu seluruh sungai sudah terpolusi dan mata air sudah tercemar? Atau waktu padang rumput sudah menjadi gurun dan pepohonan menjadi barang langka?

Kapan ya masyarakat Indonesia akan sadar pentingnya membuang sampah pada tempatnya? Waktu semua sungai sudah ditutupi sampah? Waktu got menggenang dan banjir menjadi kenyataan hidup sehari2? Waktu jalanan sudah dihiasi dengan sampah dan jalan di trotoar sudah harus pake sepatu bot? Atau waktu seluruh pulau sudah tertutup sampah?

33 Comments:

  • Wah wah asik nih ada sumber bacaan2 segar :-)

    Soal sampah gua inget, dulu elo pernah nyubit gua gara2 buang bungkus permen gitu lohhh.. duileehh it's only a tiny little plastic.. tapi lesson taken pit soalnya sumpah cubitan elo pedess hehehe..

    By Anonymous Wira, at April 10, 2005 7:41 PM  

  • Ternyata kita berpikiran sama yah! Bahkan kelakuan kita sama, biasa jengkel liat dan marahin orang yang buang sampah sembarangan. Sampai-sampai saya buat proposal ke pemda untuk menerapkan sistem daur ulang sampah yang diterapkan dinegara-negara lain cuman belum dimasukkan sih :(. Mungkin kita bisa join?

    By Anonymous Anonymous, at June 03, 2005 4:25 AM  

  • Soal sampah ternyata beda pemikirannya di tiap negara. Tolong dong info ttg pembuatan pupuk organik atau media tanam dari limbah dapur. Ma kacih banget deh

    By Blogger abah, at August 09, 2005 10:36 AM  

  • Untuk abah, saya ada beberapa link internet yang mungkin bisa berguna:

    http://www.wvu.edu/~agexten/ageng/resource/utiliow.htm
    http://www.compostireland.ie/docs/quality_wastederived_compost160104.pdf

    Kalau mau mendapatkan informasi yang lebih banyak, silahkan lihat di google, www.google.com

    Kata kuncinya organic waste + compost. Link saya beri hanyalah dua dari puluhan link yang disediakan oleh google sewaktu saya memasukkan kata kunci di atas. Sayangnya semua link memberikan informasi dalam bahasa Inggris.

    Semoga bermanfaat.

    By Blogger Pipit, at August 09, 2005 2:09 PM  

  • Terima kasih banyak for your direct reply. Masalahnya di tempat tongkrongan gw kumuh sekali gitu. Boleh khan orang kayak saya ikut mikirin lingkungannya gak usah nunggu perintah pak lurah. Jadi ada limbah pabrik tahu yang saya pikir bisa diolah jadi nata de soya. Atawa limbah dapur yang bisa jadi media tanam buwat bumbu dapur macem bawang ataw cabe cengek. Katanya ada program Indonesia sehat 2010, gw jadi pengen ngerti juga biar bisa ikutan

    By Blogger abah, at August 09, 2005 3:54 PM  

  • Setuju sekali dengan Abah, setiap orang memang sudah selayaknya perduli sama lingkungan sekitar. Tadi iseng-iseng liat di internet dan ketemu link lain yang mungkin bisa berguna:

    http://www.terranet.or.id/

    Saya rasa Abah bisa kontak mereka (kantornya di Jakarta) secara langsung dan minta informasi tentang pengelolaan limbah organis yang lebih lengkap. :)

    By Blogger Pipit, at August 09, 2005 4:33 PM  

  • Seneng bgt trnyt msh ada yg concern sama kelakuan org2 jorox di negara ini, YOU GO GIRL!!Ayo temen2 kita jaga negara ini, mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil seperti jangan buang plastik permen sembarangan.Be clean, INDONESIAN YOUTH!!

    By Anonymous dee, at January 11, 2006 2:39 PM  

  • wah...gue setuju banget ama "jangan buang dimana aja"..kayaknya gue juga termasuk "Agen Federal Kebersihan Indonesia" nih..,di daerah gue pernah mo diadain tukang sampah...eh pas ditagih uang untuk bayar sampah per bulan..pada gak bayar...alasannya gak ada uang..padahal buat jajan rokok ama anaknya pada mampu tuh..payah...
    Gue sekarang mulai beli2 sampah plastik dari orang2 ama pabrik..Gelas air mineral, kantong plastik Dll pokonya yang berbau plastik...
    gue pengen dunia ini bersih dari limbah plastik!!!!!!Hidup Persib!!!

    By Blogger ikhsan, at March 15, 2006 4:23 AM  

  • sampah..oh..sampah..
    mudah"an orang" yang ga btanggungJWB ma sampah jadi nyadar, ga NGABALA dimana wae,,apalgi daerah kircon tuh..bauuuu

    By Anonymous pritha, at April 25, 2006 11:25 AM  

  • sampah..oh..sampah..
    mudah"an orang" yang ga btanggungJWB ma sampah jadi nyadar, ga NGABALA dimana wae,,apalgi daerah kircon tuh..bauuuu

    By Anonymous pritha, at April 25, 2006 11:26 AM  

  • Wah keren sekali, gimana g kita mulai dari kita sendiri untuk peduli terhadap lingkungan, seperti bikin pabrik daur ulang kertas sendiri. daripada nungguin pemerintah yang sama sekali tidak peduli dengan lingkungan. lagipula kalau tunggu pemerintah paling-paling duit nya dibuat korupsi

    By Anonymous Anonymous, at May 24, 2006 7:13 AM  

  • It's nice...,tolong dong kasih info tentang proses daur ulang plastik yang bisa dilakukan secara home industry. thanks.

    By Anonymous Anonymous, at October 06, 2006 5:17 AM  

  • di sekolah gue ada program pengolahan sampah plastik, sialnya gue adalah orang yang bertanggung jawab akan keberlangsungan program itu. tapi sampai sekarang gue belom ada ide mau diapain bungkus permen, plastik kresek, dan berbagai macam limbah plastik lainnya yang jumlahnya melimpah di lingkungan sekolah gue. jadi saya mohon dengan sangat, kira2 ada yang punya ide ga?

    By Anonymous Anonymous, at December 03, 2006 1:14 PM  

  • Assalamualaikum...
    Ceritanya kereeen
    jadi pengen ke swiss nih. Oh yaa...
    Aku pernah duduk dipantai ama temen2, di situ ada tulisan 'DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI TEMPAT INI, BERDASARKAN UU PARIWISATA NO..... AKAN DIKENAKAN DENDA Rp 10 JT'
    tapi temen2 aku malah berlomba-lomba buang sampah gila ngga...
    terus terang aku kadang masih buang sampah sembarangan sih... abizzz mo dipikul sampe kapan nih sampah... tempat sampah aja udah jebol...bau lagi....bukannya aku ngga tau ngebedain ygt mn sampah biologis yg mn bukan... tapi.... emang tempat sampahnya satu. Aku harap pemerintah memperhatikan soal sampah ini, tapi.... emang pemerintah mo musingin sampah....ato nungguin ada korban longsor sampah lagi yah.

    By Anonymous amiruddin akbar fisu, at March 06, 2007 11:20 AM  

  • hey..
    salute buat kamu, btw..
    pas nulis keyword 'daur ulang kertas' di google,blog ini langsung muncul..
    kbetulan gw lg ad tugas kul bwt ngembangin alat daur ulang sampah kertas buat rumah tangga. kira-kira kamu source, ato rekomendasi bwt nyari bhn kmana ga? thx b4

    By Anonymous nisa, at March 28, 2007 10:03 AM  

  • waw! aku senang skali membaca nya!! n smoga ini akan jd inspirasi buat byk org! thx! you go girl!!!

    By Anonymous one, at April 25, 2007 12:28 PM  

  • saya setuju dengan kamu.
    saya dan beberapa ibu2 bikin kelompok, kegiatan kami mengolah sampah jadi berkah. Kelompok kami berjumlah 6 orang. Kami tinggal di jl. Bunga Matraman Jakarta Timur. Di daerah kami masih kumuh sekali, sampah masih berserakan di jalan, gang, got, rel, bahkan sampah dibuang ke kali. saya sedih dan prihatin dengan keadaan ini.

    saat ini kami sudah produksi kertas daur ulang, kompos, tanaman hias, tanaman obat. tapi kami masih kesulitan untuk pemasaran. Kamu bisa bantu kami untuk pemasaran, atau info tentang peluang pasar untuk produk kami.

    nama saya ibu Tiarlin, ini alamat saya:
    *http://kursusagathamoda.multiply.com
    *http://kursusagathamoda.blogspot.com
    *kursusagathamoda@yahoo.com

    pls....saya tunggu jawaban kamu di email saya .

    Thanks

    By Blogger kursusagathamoda, at April 28, 2007 10:07 AM  

  • Alhamdulillahirabbil'alamiin.
    Ternyata banyak juga orang yg peduli lingkungan. Terlebih untuk ibu Tiarlin yang sudah menjalankan apa yang ada di benak saya.
    Untuk ibu Tiarlin saya punya usulan nih, bagaimana kalau ibu mengadakan proyek percontohan dilahan sendiri yang menggunakan kompos Ibu. Atau ibu bisa tawarkan sama orang lain agar mau pakai kompos Ibu, GRATIS...itung-itung promosi aja gitu. Ntar kalo dah terbukti hasilnya baru ibu bisa hitung-hitungan, tapi jangan mahal-mahal ya bu....kasihan para petani kita. Mendingan kita banyakin beramal aja.

    Sekali lagi terimakasih untuk semuanya.

    arhtifa@yahoo.com

    By Anonymous Anonymous, at July 15, 2007 2:27 PM  

  • wuaaaa pipit!! pingin bgt bisa sampe swisss kaya lo!

    ko lo bisa sampe sana si? ngapain tu , kul? ato kerja?

    klo jadi lo gw mending ganti kewarganearaan aj, jd orang swiss.
    dr pd di sini, negara yg ga ad harapan di ajak maju soal peduli lingkunagn.

    kasih tau dong, gmn caranya biar gw jg bisa ke swiss :p

    By Blogger goder, at September 20, 2007 7:46 AM  

  • Humf..tulisan kamu bagus banget..
    Sebenernya sih kalo mau ngaku, aku tuh salah satu orang yang suka buang sampah sembarangan, lagi maem di mobil...trus buka jendela..werrr..gtu deh he...jadi malu..
    Tapi sebenernya ada alasannya loh..
    Pas aku di Singapore otomatis kalo aku makan permen sekalipun aku buang di tas aku dulu baru kalo udah nemu bak sampah aku buang tuh bungkus permen..makanya sampe detik ini kalo temen aku ngomel gara-gara aku buang sampah sembarangan pasti aku bilang" alah..mumpung di Indonesia.." duh jahat bener...tapi emang bener kan???
    Dimana lagi coba kita bisa buang sampah sembarangan...
    Tapi setelah aku baca tulisan kamu, rasanya malu banget deh..aku sendiri ga bisa liat tempat kotor..so..mulai sekarang ga akan lagi deh buang sampah sembarangan..
    Kalo mau merubah dunia harus dari hal yang kecil kan????

    By Anonymous Anonymous, at October 18, 2007 9:07 AM  

  • Tozz~
    Aq juga sama,suka ngomel2 klo liat ada org yg buang sampah serasa dunia ini asbak yang gedhe.Pernah skali waktu aq omelin mbak2 yg mkn kuaci di angkot,dan buang kulit2 kuaci itu di dlm angkot.waahhh,,,biz tu kenyang dy aq omelin.Pernah jga ada sopir taksi yg aq tegur (pdhl udh bpk2 bgd)coz asik bgd tiba2 buka jendela,trus tiuunngg....lempar bungkus permen. bgitu aq ingetin utk ga buang sampah smbarangan krn bisa bikin banjir,dy komentar gini :"halahh,,biarin aja lah mbak,bukan saya ini yg kebanjiran!!"
    Ya ampunnn.....doa banyak2 ya pak supir,biar keluarga bapak,tetangga2 bapak, dan keturunan bapak ga ngalamin paitnya kebanjiran gara2 ada bnyk manusia2 sprt bapak.
    Pff.....

    By Anonymous chittatozz, at January 24, 2008 10:00 AM  

  • buuuuuu, how can i contact u personally yahhh?

    u seem to have concerns about recycle thing... kebetulan, sekolah ku mo ngadain seminar ttg daur ulang, mo ikutan share gak?

    if possible, initiate to contact me doooong... miskol or sms.. ntar i'll call u back!

    trims..
    Melita
    02198867307

    By Anonymous Anonymous, at March 10, 2008 1:26 AM  

  • iya ya mb. kapan ya Indonesia bisa berbenah diri. tapi gimana pun kondisi bangsa ini kita harus tetap bangga kan mb sebagai bangsa Indonesia. bukan berarti kita harus diam dengan kondisi ini. Ya mungkin harus dimulai dari diri kita sendiri ya mb. Mb walaupun mb tinggal disana pasti masih punya perasaan kan mb dengan Indonesia, sebuah Negara besar yang begitu indah dan suat saat aku percaya bahwa Bangsa akan menjadi Negara yang sa nandingi Negara lain, tentunya bukan karena kedigdayaannya tapi karena budayanya. Salam kenal ya mb

    By OpenID wiwit05nov87, at May 08, 2008 11:41 AM  

  • hi..hi semua mo tanya nih..
    sebagai sesama lingkungan aku mo nanya nih..ada ga yg nerima sampah kantong plastik bekas? soalnya aku punya banyak dirumah..selama ini aku kumpulin doang. abis bingung mo dibuang kemana? kan katanya sampah plastik bertahan selama bertahun2 di tanah. ada yg tau ga harus dibuang kemana? atau yg punya bisnis daur ulang plastik mau g nerima kantong palstik bekas?

    By Anonymous Anonymous, at May 28, 2008 5:30 AM  

  • Duh senengnya ternyata masih banyak orang yang paling tidak di dalam hatinya sadar akan lingkungan. Saya juga salah satu yang sering berkoar kalau lihat orang dekat membuang sampah sembarangan... jangankan buang sampah, meludah sembarangan aja bisa aku ceramahin hehehe....
    aku setuju banget untuk memulai memilah sampah dsb, daripada harus nunggu pemerintah yang urusannya begitu banyak jadi ga peduli urusan begini...
    aku sebenernya lagi pengen bikin kerajinan or apalah gitu dari sampah plastik dsb... contoh plastik bungkus2 refill detergen, pelembut dsb dibuat keranjang dsb...
    yuks mari yang mau bersama2 bikin sesuatu untuk negara ini... kontak2 ya.... siapa tau kita bisa sama2 tuker pikiran gimana caranya membuat Indonesia khususnya JAkarta lebih bersih, aku yakin kok yang seperti Anda2 semua yang peduli ini masih banyak lagi... jadi kenapa kita ngga gabung aja untuk saling menularkan ilmu misalnya bagaimana membuat kompos dari sampah organik... kl perlu dibuat mailing list..(atau sudah adakah?) supaya lebih banyak lagi orang yang bisa kita saling tularkan dalam kebaikan. Amin..kontak aku via email di faridakenya@gmail.com.

    By Blogger farida, at June 09, 2008 3:52 AM  

  • sebelumnya aku mau ngucapin makasih karena aku udah ngesave page kamu tentang sampah dan daur ulang.. aku nggak copy paste lho, cuma ngesave.. hehehe thanks anyway for the article..
    peace n respect!!

    By Anonymous angga, at August 04, 2008 4:01 PM  

  • saya seorang remaja yang bercita-cita mengubah indonesia menjadi hijau kembali.
    kami mengajak siapapun yang ingin tergerak untuk menjadikan inonesia menjadi hijau kembali walaupun di atas gedung yang menjulang tinggi sekalipun.
    saya sepakat dengan anda,namun hal itu akan menjadi power yang besar apaa bila kita bergabung.
    kami aakn menyediakan tanaman hias secara cuma-cuma kepada anda dan akan mengantarnya sampai ketempat tujuan,bila anda tergerak dalam hal ini,anda dapat memanfaatkan ruangan kantor anda dan ruangan yang lainnya,tentunya dengan komunikasi terlebih dahulu dengan kami.
    e-mail:rahadian86@yahoo.com
    contact person : 081932274510
    terimakasih jika anda mau merubah negara kita menjadi hijau kembali.

    By Blogger salam sukses untuk semua orang, at October 12, 2008 5:41 AM  

  • Lihatlah sungai di Indonesia (yang manapun)! airnya pasti tidak terlihat karena permukaannya penuh sampah. Katanya sungai emang tempatnya buang sampah. Salah kaprah or budaya kah?.

    Saya pernah nonton pagelaran band di Kuta. Bandnya sih ala kadar, gak perlu dibahas. Yang unik, di sepanjang pantai itu banyak orang bule mungutin sampah. Sementara orang lokal, dengan tenang malah buang sampah. Entah pura-pura lupa bekas kotak makanan dan gelas plastiknya ditinggal di pasir, entah dilempar kelaut, entah ditumpuk kayak mau bikin api unggun. Malu gak sehhhh....

    Tapi yang paling bikin prihatin itu stereofom. Kotak putih ala gabus yang biasanya dipakai buat bungkus makanan. Benda satu ini butuh 20tahun buat terurai di tanah. Selama itulah dia akan jadi sampah!. Hati-hati, bila terurai dia akan mengeluarkan racun, demikian bila dibakar. Mungkin karena praktis,atau harganya relatif lebih murah, stereofoam naik daun. Warung nasi bahkan pedagang gerobakan pun pakai ini. Belum lagi resto besar bermerk macam Hoka-hoka Bento. Siapa yang harus tanggung dampaknya yah?.

    By Anonymous Dua Beruang, at February 03, 2009 10:26 AM  

  • Wooow...good Girl...kayaknya kita punya pandangan yang sama tentang sampah..btw ay ma temen2 jg lg jalanin project tuk mengurangi sampah, dengan menggunakan konsep 4R..klo makin banyak orang yg peduli dinas terkait ga akan terlalu dipusingkan toooh...ayuuuu kita bergerak untuk LINGKUNGAN yang lebih baik...salam kenal mO_wacilla@yahoo.co.id mungkin kita bs kerjasama toooh.....HIJAU KEMBALI INDONESIA....

    By Blogger mOmO, at March 23, 2009 5:52 AM  

  • gimana kalo sampah kita anggap sebagai barang yang berharga aja, jadi ketika kita mau membuangnya dimana aja, kita merasa sayang. jadi kita simpen aja ditempatnya=>tempat sampah tea,,,

    By Anonymous Anonymous, at May 29, 2009 8:25 AM  

  • wah ada bacaan bagus. . memang kl perbandingannya dengan swiss sungguh sangat jauh. .

    tapi mungkin akan diberi jalan kl kita memulai dari diri kita masing2. .

    gw baru aja iseng2 memulai daur ulang tas dari bungkus kopi. .

    http://malicemrc.wordpress.com/2009/04/04/kreasi-daur-ulang-1-good-day-vanilla-late/

    semoga banyak yg tergerak untuk bisa sedikit 'membantu' lingkungan . . .

    :D

    By Anonymous malice, at June 23, 2009 10:39 AM  

  • lets go green
    keep our earth still green

    By Anonymous danue, at August 26, 2009 12:14 AM  

  • klo cuman sampah d buat kreasi..lma kelamaan juga bkal jadi sampah.
    yang sya harepin pengolahan sampah tu bisa bersirkulasi...jadi gmbarannya : sampah->diolah->barang->dipake->sampah.
    shingga SDA yang da tetap kita bisa nikmatin sampai anak cucu kita..

    gmna klo kita bkin sebuah wadah tentang linkungan sehingga pihak pemda mo membantu kita...

    By Blogger syagil, at June 15, 2010 6:22 AM  

Post a Comment

<< Home