<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Thursday, April 14, 2005

Beasiswa dan willpower

Menanggapi komentar atas tulisan saya tentang beasiswa, Anonymous mengingatkan saya satu persyaratan 'untuk mendapatkan beasiswa' yang paling penting: Willpower.

Benar sekali, yang namanya willpower, kemauan dan semangat, itu penting sekali. Dengan adanya kemauan seseorang pun jadi berani untuk mencoba melamar beasiswa. Dan kemauan juga membuat kita menjadi lebih rajin kuliah dan bisa mendapatkan IPK yang baik. Kemauan dan semangat juga yang memberikan kita keberanian untuk bertualang ke negeri orang, belajar bermasyarakat dari nol, dan menyesuaikan diri tidak hanya dengan kehidupan akademis, tapi juga dengan kehidupan sehari2.

Untuk anonymous, terima kasih atas komentarnya. Jadi sekarang saya mau menerangkan willpower saya yang bisa membuat saya mendapatkan beasiswa.

Saya rasa untuk bisa mendapatkan beasiswa kita harus bisa berbahasa Inggris dengan baik. Nggak cuman bisa menyanyi atau merayu dalam bahasa Inggris, tapi membaca, menulis dan berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Sayangnya budaya berbahasa Inggris belum merata di pelajar2 Indonesia. Kita belajar bahasa Inggris hanya untuk ujian saja, tapi tidak untuk benar2 mencoba memahami atau menguasai bahasa tersebut. Beruntung saya cukup bisa berbahasa Inggris, yang tidak hanya membuat saya bisa untuk kuliah di luar negeri tapi juga membuat saya berani mencoba hidup di negeri orang. Percaya atau tidak, kemampuan saya berbahasa Inggris bukan karena pernah ikutan les di luar negeri (tak sanggup biayanya), tapi hanya dari pelajaran di sekolah, les 3 kali seminggu, baca buku, dan chatting. (Yup chatting! Ada gunanya kan..)

Saya dari dulu paling senang pelajaran bahasa Inggris, alasannya sederhana, karena saya ini cadel! Tidak bisa mengucapkan r dengan benar. Tapi kecadelan saya yang sering jadi bahan olok2 teman2 sekolah saya malah membuat saya lebih mudah dalam mengucapkan kata2 dalam bahasa Inggris. Teman2 saya tidak bisa mengejek saya kalau dalam pelajaran bahasa Inggris, terlebih lagi karena saya sangat serius dalam belajar bahasa Inggris. Kalau PR Matematika saya selalu nyontek kakak saya, kalau bahasa Inggris saya selalu mengerjakan dengan semangat. (Note: Saya dapat pelajaran bahasa Inggris dari semenjak kelas 3 SD) Nilai saya selalu bagus, dan saya selalu aktif di kelas (hanya untuk pelajaran ini aja, yang lainnya sih..ah sudahlah)

Ditambah, mama saya punya dendam kesumat sama yang namanya pelajaran bahasa asing. Dulu, sewaktu dia lulus sekolah, dia dapet nilai jeblok, dan semenjak itu dia bertekad anaknya harus pinter bahasa Inggris. Mungkin maksudnya mau bales dendam secara tidak langsung sama guru SMA-nya. Jadilah kita diharuskan les bahasa Inggris semenjak umur 8 tahun. Lha..saya diles-in bahasa Inggris seperti kucing dikasih ikan asin. Senang buanget..nget..nget. Dan saya memang tidak pernah berhenti les bahasa Inggris sampai SMA, dan selalu belajar sendiri di rumah, baik melalui lagu, buku, atau film. Malah sempet ngapalin kamus bahasa Inggris sampe 10 halaman..(terus migraine) Kadang saya suka iri sama teman2 yang bisa ke Australia satu bulan untuk les, tapi ya ortu saya bukan orang kaya. Jadi ya saya cuma bisa belajar di les dan di sekolah.

Kegemaran saya berbahasa Inggris membuat saya jadi bermimpi untuk bisa kuliah di luar negeri. Waktu saya bilang ke papa, papa cuma bisa bilang, "bagus itu..tapi papa terus terang nggak bisa ngebiayain. Gimana kalau pipit sekolah yang pinter, nanti kan bisa dapet beasiswa ke luar negeri? Kalau pipit dapet beasiswa, papa sama mama pasti ngijinin pipit mau sekolah ke mana aja dan setinggi apapun." Dari situlah saya mulai bertekad untuk bisa dapet beasiswa.

Waktu memilih mata kuliah pun saya sengaja memilih jurusan yang bisa membuat saya sekolah dan hidup di luar negeri. Pertama saya milih kehotelan Nhaii Bandung. Ditolak (ini pasti karena saya kurang tinggi..*ngeles*). Akhirnya milih Hubungan Internasional, dengan pikiran..kan ada Internasionalnya, pasti entar bisa keluar negeri. Cetek banget kan pikiran saya. hihihi...

Selama kuliah saya kerja keras, habisnya masuknya pake berantem sama mama. Menurut dia HI itu nggak ada gunanya. Jadi saya mau nunjukin ke ortu kalau saya serius. Saya pun bisa lulus dengan cepat dan dengan nilai yang bagus. Kesempatan untuk mendapat beasiswa makin terbuka. Dan saya pun iseng2 ngelamar, akhir cerita saya sampai terdampar di sini.

Waktu saya dapet kabar kalau saya keterima dan harus berangkat, saya masih inget mama saya nangis sambil meluk saya. Dia bilang, "ya ampun pit, mama nggak nyangka kalo keinginan kamu dari kecil bisa kesampean begini. Siapa yang nyangka ya nak rejeki kamu bisa bagus begini. Kamu siap nggak pit tinggal di negeri orang?" Papa juga sama tersentuhnya; "aduh pit..kamu beneran jadi hidup di luar negeri, ninggalin papa. Nanti kamu makannya bagaimana, kamu kan kalau makan milih2, kalau sakit bagaimana? Kamu kan penyakitan. Di sana kan dingin, kamu kan alergi dingin." Tapi entah kenapa saya sama sekali nggak takut untuk pergi, saya rasa karena saya sudah mempersiapkan diri semenjak saya berumur 8 tahun. Saya pikir, pasti bisa, harus berusaha!

Tapi ternyata dibutuhkan willpower yang lebih banyak untuk bisa bertahan hidup di sini. Semuanya berbeda, semuanya susah. Saya terseok2 dalam pelajaran, dan stress dan kesepian di kehidupan sehari2. Gimana nggak stress, mau ke kantor pos aja saya deg2an setengah mati, saya harus mempersiapkan diri dengan kata2 dalam bahasa perancis hanya untuk mengirim kartu pos ke teman2. Dan saya pun harus menghadapi berbagai kegagalan di kuliah. Sudah hampir mau ngepak dan pulang, tapi Xaf tetap berusaha menghibur. Dia bilang, wajar kalau kamu kaget, kan namanya semester pertama. Coba satu semester lagi deh, kalau memang kamu nggak mampu dan mau pulang, ya silahkan. Lagian saya pikir2, saya belum pernah menyerah di tengah jalan selama hidup saya, masak mau nyerah sekarang?

Jadilah saya belajar seperti orang kesurupan. Kalau tidak ada kelas saya ngendon di perpustakaan hampir 12 jam. Saya sampai punya tempat duduk langganan, dan temen baca langganan (ini cowok kayaknya tahu kalo saya selalu duduk di tempat yang sama, dan dia selalu duduk di depan saya..*ge er nih ceritanya*). Nggak ada yang namanya keluar maen2, jalan2, pesiar, dsb. Teman2 saya di Indonesia sampai kecewa waktu mereka tanya, pit sudah kemana aja? dan jawaban saya..rumah, kampus dan perpustakaan. Mereka cuma bisa bilang..ya ampun pit, eloe kok makin kutu buku begini. Tapi usaha saya tidak sia2, saya lulus. Nggak nyangka, padahal saya rasanya hampir loncat dari balkon waktu mengerjakan tesis. Nggak nyangka kalo tesis bisa selesai tepat waktu. Dan waktu penerimaan ijasah, mata saya berkaca2. Untung rame, kalo enggak udah sesegukan sambil meluk si rektor.

Kesimpulan, willpower itu kunci untuk bisa meraih impian, termasuk ngedapetin beasiswa. Kembali menjawab anonymous, tidak wajib jadi orang kaya untuk bisa dapet beasiswa dan kuliah ke luar negeri. Saya tidak berasal dari keluarga kaya, dan saya kenal teman2 yang dapat beasiswa ke luar negeri yang tidak berasal dari golongan atas. Yang penting semangat!!

12 Comments:

  • heheh.. menarik, menarik. anda menggunakan kelemahan anda sebagai senjata anda! jarang sekali orang bisa seperti itu :)

    ya, saya secara pribadi juga sangat ingin belajar. tapi saya mempunyai 'pondasi' yang buruk nih dengan bahasa inggris. latar belakang pendidikan agama yang tiada mementingkan bahasa inggris. parahnya lagi, setiap saya mencoba membaca kalimat itu, kepala saya jadi pusiiiing. walau pun sebenarnya saya sangat-sangat-sangat ingin menguasainya. ironis.

    By Blogger imponk, at April 14, 2005 7:49 PM  

  • Jangan patah semangat mas Imponk. Musti keukeuh, kalo kata orang Sunda. Saya punya trik untuk bisa membaca bahasa Inggris, trik yang saya terapkan waktu harus baca teks kuliah dalam bahasa Inggris di Indonesia dulu. Saya juga sama kayak mas, pas baca, pusing..tapi setelah saya pikir2 saya pusing karena banyak kata yang saya tidak mengerti dan saya main baca aja. Dalam hati..yang penting ngerti intinya deh, nggak usah detail.

    Akhirnya saya coba bersabar. Buat apa bisa baca teks ngebut kayak di jalan tol kalau yang dimengerti cuma 20%, itu juga belum tentu benar. Saya jadi menerapkan baca seperti kura2 balapan sama kancil. Pelan2. Setiap ada kata yang tidak saya mengerti saya beri footnote dan saya catat apa artinya. Pegel memang..tapi lama2 saya jadi kenal banyak kosakata baru. Kalau mas ada waktu silahkan dicoba, dan lebih baik dimulai dengan membaca teks ringan.

    By Blogger Pipit, at April 15, 2005 9:04 AM  

  • dari Imponk, ke Pipit, mau bertanya: kok link ke beasiswanya gak kelihatan yak? Mohon bantuannya, saya butuh info beasiswa untuk pegawai [pemerintah]. Thanks...
    -halamanrawa@yahoo.com
    halamanrawa.blogspot.com

    By Blogger ManusiaRawa, at April 16, 2005 6:27 AM  

  • setuju banget.

    when there's a will, there's a way

    By Blogger emil, at April 16, 2005 7:10 AM  

  • saya terharu...
    mba, saya juga punya impian seperti itu... tapi kemampuan dalam bahasa inggris saya lemah... :D

    niat belajar ada.. tapi...

    By Anonymous didats, at April 17, 2005 6:24 AM  

  • baca aja yahoo/google news tiap hari.. (kalau yg offline: novel-novel, tapi jangan yg terjemahannya.. baca inggrisnya) pasti fasih (minimal tulisnya).. kalau cuma teori doang tanpa praktek susah..

    By Anonymous Anonymous, at April 19, 2005 4:45 AM  

  • duh mbak Pipit saya interest banget loh pengen apply, jadi kalo mata kuliah di sana buka januari 2005 kemaren berarti kita udah ga bisa ngelamar di mata kuliah itu ya? atau ikut taun depannya? Please email me ya salsabeel4@yahoo.com

    THanks a lot!

    By Anonymous Ollie, at April 19, 2005 8:40 AM  

  • mbak Pipit, saya udah liat tadi ada yang saya mau di
    University of Lausanne www.unil.ch, pengen ngambil Management of Technology (MoT).

    Duration: 1 year: January 3rd – December 17th 2005

    berarti udah telat ya? ikut yang taun depan, tapi bisa apply dari sekarang kah? wah aku pengen banget ke swiss :D ada contoh surat u/ professor yang di swiss sama yang di indo gak?

    Thanks ya mbak..

    By Anonymous Ollie, at April 19, 2005 11:04 AM  

  • anda hebat. selamat ya. saya sekarang juga sedang memperbaiki bahasa inggris saya yang masih belepotan.tolong bantuan trik/tips untuk belajar bahasa inggrisnya. send to my e-mail:Kisno_Su@yahoo.com

    By Anonymous Anonymous, at July 27, 2005 9:21 AM  

  • mbak hebat ya! mbak kasih point dunk trik-trik mempelajari bahasa inggris. kita-kita kan juga pengen tuh kayak mbak. bisa keliling dunia menimba pengalaman.makasih mbak atas bantuannya. send to my email please! :iwan_mazani@yahoo.co.id

    By Anonymous Anonymous, at July 10, 2006 12:28 PM  

  • mbak, emang jagoan nih....kayak super hero gitu. klo bisa aq minta trik2 juga ya mbak krn mulai dari kecil nilai bahasa inggris aq paling jelek dan memalukan sekali..and klo aq bisa and keluar negeri kyk mbak pasti ku temui dan aq traktir bakso luar negeri deh.....hehehe(nyogok nih)...nikooktavianto@yahoo.com

    By Anonymous Anonymous, at December 06, 2006 6:24 AM  

  • Mba Pipit, sudah hampir setahun ini saya bolak balik membuka blog anda. Selain saya memang suka beberapa tulisannya, saya selalu membuka blog anda kalau semangat saya mencari beasiswa ke Swiss mulai kendur. Saat itulah, tulisan anda menyemprotkan ion-ion semangat kepada saya.
    Sudah lama, saya berharap melanjutkan studi S2 di sana. Sekarang ini saya berprofesi sebagai wartawan di salah satu koran nasional di Jakarta. Harapannya, saya ingin melanjutkan studi komunikasi. Saya sudah mencari-cari beberapa universitas Swiss yang ada jurusan komunikasi. Dan akhirnya saya menemukan Universitas Fribuorg, jurusan Sosiologi Komunikasi. Tetapi sampai titik ini, saya belum tahu lagi langkah yang harus saya lakukan untuk bisa melamar dan diterima universitas sana?
    Insya Allah, tahun ini saya akan mengajukan lamaran beasiswa ke kedutaan Swiss. Mba, tolong beri tahu langkah apa lagi yang harus saya lakukan? Bagaimana saya harus mengkontak profesor di universitas yang saya tuju dan mendapatkan acceptance lettre? Apakah ada universitas lain yang memiliki jurusan komunikasi, selain fribourg ? Sejauh pengalaman anda, bisakah anda menjelaskan tentang universitas Fribourg?
    Merci beaucoup a votre gentillesse Je souhaite que vous puissiez repondre a ma lettre
    Oh ya, est ce que je demande votre email adresse. Peut etre, c'est mieux si je demande quelques questions importantes en envoyant personnel email. Merci!

    By Anonymous rizky, at January 25, 2008 11:07 AM  

Post a Comment

<< Home