<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Saturday, August 26, 2006

Sterilisasi: kejam atau mencegah kekejaman?

Minggu kemarin, teman saya Jennifer menyapa saya dengan wajah penuh kemelut. Ternyata kucingnya, Bidon, hamil! Biasanya si Bidon dikasih pil KB sebelum musim kawinnya kucing, tapi kali ini Jen lengah dan akhirnya terjadilah 'kecelakaan' itu. Haduh...saya yang mendengarnya turut berduka.

Kok berduka? Kok kecelakaan? Bukannya harus disyukuri kalau bakal dapat anak kucing yang lucu?

Berduka dong, karena kalau Jen tidak berhasil menemukan rumah untuk si anak kucing, kemungkinan besar anak-anak kucing itu akan 'ditidurkan'.

Lho..kok segitu drastisnya?

Sebelum para pembaca sekalian menghujat, saya mau menekankan kalau masyarakat di sini sangat cinta binatang, jauh lebih sadar akan hak binatang dari masyarakat Indonesia. 'Peniduran' anak binatang yang tidak diinginkan dipandang sebagai suatu kebijakan yang lebih manusiawi daripada menelantarkan anak kucing/anjing itu di jalan atau tanah kosong dan membiarkannya mati kelaparan, kedinginan, atau tertabrak mobil. Rumah sakit hewan dan dokter hewan pun biasanya menganjurkan para pemilik hewan yang menderita penyakit kronis seperti kanker, paru-paru, ginjal, atau jantung, untuk 'menidurkan' si hewan kesayangannya daripada membiarkannya sengsara menunggu kematiannya pelan-pelan.

Awalnya saya terus terang nggak bisa memahami kebijakan ini. Tapi ketika Frimousse, kucing kesayangan keluarga suami saya yang berusia 15 tahun menderita sakit parah dan tidak bisa disembuhkan karena usianya, saya pun bisa memahami keputusan ibu mertua saya untuk 'menidurkan' teman setianya itu. Dengan mata berkaca-kaca, maman menerangkan kalau lebih baik Frimousse pergi dalam tidur tanpa kesakitan. Maman terus terang nggak tega melihat penderitaan Frimousse dari hari ke hari.

Jadi, bukannya orang sini berhati batu. Jen pun sibuk menahan tangis sewaktu bercerita ke saya, dan sangat berharap saya mau menampung salah satu anaknya Bidon.

Oleh sebab itu, biasanya para dokter hewan menganjurkan para pemilik hewan, terutama yang tinggal di apartemen dan tidak mengkehendaki anak kucing atau anjing, untuk mensterilisasi para hewan kesayangannya. Sterilisasi akan menghindari penelantaran hewan pada kemudian hari, dan lebih baik untuk kesehatan para kucing atau anjing yang tinggal di apartemen dan memiliki ruang gerak yang terbatas. Para hewan pun akan lebih 'tenang' sewaktu masa birahinya muncul. Lagipula, dengan sterilisasi kucing atau anjing betina biasanya akan berumur lebih panjang, karena tidak harus mengalami proses hamil dan melahirkan yang sangat melelahkan bagi para hewan tersebut.

Berbekal pengetahuan inilah saya membawa kucing kesayangan saya, Blony, yang sewaktu itu sudah melahirkan tiga kali ke dokter hewan untuk disteril. Blony, terlepas dari perawatan saya yang cukup telaten, terlihat jauh lebih tua dibandingkan umurnya yang baru 3 tahun. Kekhawatiran saya semakin memuncak ketika Blony mengalami kesulitan sewaktu melahirkan terakhir kalinya. Tidak seperti kucing lainnya, Blony selalu minta ditemani sewaktu melahirkan, dan dulu saya selalu menemani proses melahirkan kucing saya itu.

Tapi apa kata bu dokter? "Maaf, saya tidak bersedia melakukan operasi sterilisasi karena bertentangan dengan agama saya (Islam, red)."

Saya yang mendengar cuma bisa bengong. Terus terang saya tersinggung sekali. Saya dianggap pembunuh apa? Dianggap tidak sayang binatang dan mau menghalangi rencana alam.

Sambil menahan amarah saya pun hanya bisa menggendong Blony yang masih deg-degan sehabis periksa kesehatan dan disuntik. Niat baik saya untuk menjaga kesehatan kucing saya dan untuk menghindari penganiayaan anak kucing malah dipandang hina!

Saya bingung, kejam mana mensterilisasi kucing atau menelantarkan anak kucing? Mama saya penyayang binatang, tapi mana bisa rumah menampung 20 anak kucing? Kalau anak kucing itu tidak ada yang mau menampung bagaimana? Untung Blony kucing campuran, jadi sampai sekarang anaknya selalu mendapat rumah baru. Tapi bagaimana dengan kucing-kucing kampung lainnya? Tidak jarang saya mendengar diskusi 'ringan' tentang membuang kucing, berbagai teknik dan tempat tujuannya.

Terlalu sering saya menangis dalam hati melihat anak kucing jalanan, kurus dan tidak terurus. Belum lagi mereka sering dijadikan obyek penyiksaan anak-anak kecil ataupun orang dewasa. Disiram air, diusir-usir, diusilin pakai ranting kayu, dsb. Saya pun pernah menyaksikan anak kucing tergilas mobil, sampai sekarang saya tidak akan lupa. Sampai sekarang saya tidak akan memaafkan lambatnya saya untuk bertindak, untuk berusaha menangkap anak kucing itu sebelum lari ke tengah jalanan. Si pengendara mobil mewah besar itu, langsung melaju tanpa menoleh. Saya pun hanya bisa meraih tubuh rapuh makhluk kecil itu yang sedang menuju ajalnya. Menaruhnya di pinggir jalan, seperti disarankan oleh orang yang kebetulan juga berada di pinggir jalan itu.

"Udah neng, ditinggal saja. Udah nggak bisa diapa-apain lagi." Begitu kata si bapak melihat saya termangu dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sewaktu batin saya memberontak dan balik lagi untuk melihat keadaan kucing kecil itu dan mau membawanya pulang, walau sekedar untuk menguburkannya, tubuh kecil itu sudah tidak ada lagi.

Anjing jalanan apalagi, tidak hanya mereka harus mengais sampah di sana sini, mereka pun sering jadi sasaran timpukan batu, dimaki-maki, dikejar-kejar, dan kalau perlu diracun!

Sampai sekarang saya masih bermimpi untuk bisa membangun penampungan hewan di rumah saya di Indonesia nanti. Untuk menampung semua kucing dan anjing jalanan, untuk akhirnya bisa berbuat sesuatu dan tidak hanya memalingkan muka dan berharap kenyataan penderitaan para hewan itu akan lenyap seperti lenyapnya mereka dari mata saya.

Kejamkah sterilisasi? Tidak! Sterilisasi, menurut saya, adalah bentuk pencegahan kekejaman. Sterilisasi adalah salah satu bentuk solidaritas manusia sebelum akhirnya dunia ini benar-benar menjadi milik bersama, dimana para hewan akan memiliki tidak hanya tempat untuk bernaung tapi juga di hati manusia, si 'penguasa dunia'.

Paling tidak mereka dan mereka mengerti.

P.S. Sampai sekarang Blony tetap hamil setiap tahun, dan menurut laporan mama saya, kucing kesayangan saya itu semakin kurus dan layu. Saya hanya bisa berdoa untuk bisa tetap bertemu sewaktu saya pulang nanti.

28 Comments:

  • Wah aku baru tahu sterilisasi ada juga buat hewan ya dan dengan niat yang bagus pula :D

    By Anonymous Hedi, at August 26, 2006 5:36 PM  

  • Hi Pipit.
    salam kenal donk
    gak sengaja lagi browsing resep tahu isi, eh malah kebawa ke "sini"
    well, anyway...
    do you chat?
    add me in sundae_velvet@yahoo.com

    see ya!

    By Anonymous Rona, at August 27, 2006 8:04 PM  

  • tigger divasektomi pas umur 3 bulan, lionel dijadwalkan bulan ini? saya kejam? menurut saya tidak. mana lebih kejam orang2 yang membiarkan anjingnya melahirkan tiap saat lalu membuangnya? atau tidak memeliharanya dengan baik?

    ah sudahlah, yang penting i love tigger and lionel more than anything in the world :D

    By Anonymous nananias, at August 29, 2006 4:05 AM  

  • saya suka kucing...
    kasian aja kl dia di
    sterilisasi...

    By Blogger pippip, at August 29, 2006 10:15 AM  

  • Italia mungkin negeri paling protectoreur terhadap kucing. Di sini ada hukum semua kucing appartiennent à l'état.
    hehee... terutama di Roma yang punya legenda, aduh lupa detilnya, yg pasti kira-kira ttg Roma Antica lepas dari ancaman serangan musuh oleh kucing atau gimana gitu.

    Di Torre Argentina, Roma, ada rumah perlindungan kucing, dg jumlah ratusan dan dibiayai, diorganisasi oleh sukarelawan. Tapi saya blm pernah liat sendiri sih.


    ciauzzz

    bix

    By Blogger MACCHIATO, at August 29, 2006 11:57 AM  

  • pajang dong poto si empus, dirumah ibuku jg jadi tempat pembuangan kucing...tapi seringnya diambil orang lagi setelah menjadi terawat gitu...walopun sekedar kucing kampung

    By Blogger onanymous, at August 29, 2006 2:12 PM  

  • saya juga suka kucing. namun, sebagai orang desa, kucing dipelihara untuk melindungi gabah dari serangan tikus :D

    By Anonymous Imponk, at August 29, 2006 8:38 PM  

  • Pet lover :D! Thanks udah ngasih tau kegunaannya sterilisasi. Pekerjaan saya menjadi lebih ringan.

    By Anonymous tito, at August 30, 2006 6:35 PM  

  • Pit,
    Kita punya cita-cita yang sama, memiliki rumah tempat pemeliharaan hewan, terutama kucing2 yang terlantar. Moga-moga someday cita-cita kita bisa terlaksana. Salam manis.
    dewina66@yahoo.com

    By Blogger Dewina66, at September 01, 2006 11:21 AM  

  • Dear Pipit...

    Hallo bu.. pa kabar? I stil owe you those pictures =)
    G sangat2 tersentuh en setuju bgt sama tulisanmu ttg hewan2 tsb... Di Indo masih sgt kurang kesadaran akan kasih sayang thd binatang... Terbukti dgn keisengan2 thd binatang2 jalanan yang bisa berakhir dgn kesadisan... Mereka masih menganggap binatang hanya sebagai "binatang" dan bukan hewan yang bisa kita curahkan kasih sayang sepenuhnya..
    Cita-cita kita sama.. Someday we have to work on it dan kampanye untuk menghentikan "animal abuse and especially stop eating rare animals".

    Luv,
    Sanny

    By Anonymous Anonymous, at September 11, 2006 9:11 PM  

  • Menurut saya, binatang ya binatang. Pemikiran atau ide untuk sterilisasi terhadap hewan peliharaan, hal itu terlalu berlebihan. Mencegah agar tidak ada anak-anak kucing atau anjing yang terlantar, animal abuse, hewan tidak cepat terlihat tua atau hal lain yang digunakan sebagai alasan untuk melakukan sterilisasi dan pembunuhan terhadap hewan, sekali lagi, buat saya itu sangat berlebihan.

    Tidak ada alasan yang masuk akal maupun manusiawi untuk tindakan sterilisasi dan pembantaian terhadap bayi-bayi hewan yang baru lahir maupun hewan tua yang sakit. Semua alasan yang dikemukakan oleh para pelaku hanyalah kamuflase agar mereka terlihat lebih manusiawi saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Karena alasan yang sesungguhnya menurut saya adalah:
    1. Karena mereka tidak ingin direpotkan oleh anak-anak kucing/anjing lain yang tentunya akan menyita waktu, biaya dan tenaga. Unwanted child pada hewan propaganda untuk melegalkan pembantaian bayi-bayi binatang dan pemandulan binatang (saya sudah lihat kampanye seperti itu disiarkan di televisi).
    2. Tak ingin repot membersihkan bangkai binatang yang mati terlindas, kelaparan atau karena sakit.
    3. Ingin binatang peliharaannya awet terlihat cantik, agar sesuai budget yang telah mereka keluarkan untuk membeli dan pemeliharaan.
    4. Tidak perlu menghabiskan biaya dan tenaga untuk binatang tua yang sudah tidak bagus lagi.

    "Binatang terlantar"? hal itu hanya terjadi pada hewan yang dipelihara dan disia-siakan oleh pemiliknya. Sedangkan untuk binatang yang tanpa majikan/liar kata 'terlantar' tidaklah berlaku bagi mereka, dan LIAR adalah sifat dasar mereka.
    They are animals, they are beast. It's their nature for being wild. Kalo pada akhirnya mereka kelaparan di jalanan, tertabrak mobil atau sebagian anaknya mati karena tak terurus, itu hal yang biasa.

    Saran saya:
    Kalo memang merasa iba saat melihat ada hewan yang kelaparan, ya beri saja mereka makan. Toh salah manusia juga yang merusak ekosistem dan mempersempit ruang gerak mereka.
    Melahirkan keturunan sudah tugas mereka, lalu menjadi tua adalah hal yang wajar, natural.
    Rawatlah mereka hingga ajalnya tiba. Mungkin bagi para pembantai, itu hal yang merepotkan atau menjijikan melihat binatang tua dan sakit-sakitan tergolek di rumah mereka. Tapi tidakkah mereka ingat, bagaimana binatang itu dulu menemani mereka, membuat mereka bahagia... Tidak ingatkah mereka saat pertama mereka jatuh hati untuk memiliki binatang-binatang itu? Dan mereka membuat binatang itu tergantung pada mereka, tapi pada akhirnya mereka membantai binatang itu setelah menjadi tua tak berguna.

    Tidak usah memelihara hewan betina jika tidak mau direpotkan oleh bayi-bayinya.

    Semua keputusan yang diambil pasti ada konsekwensinya, termasuk untuk memelihara binatang. Tapi janganlah melawan kodrat alam dengan mengatasnamakan 'mencegah kekejaman'.

    By Blogger anulucu, at November 13, 2006 4:22 PM  

  • Kalau boleh menjawab komentar Samsul, saya mau menegaskan kalau saya tidak pernah menelantarkan anak kucing ataupun anjing piaraan saya. Kalau menurut Samsul saya termasuk manusia yang tidak mau direpotkan oleh piaraan, baik kotoran maupun bangkainya, terus terang saya menolak dicap seperti itu.

    Dari saya berumur 8 tahun, saya sudah terbiasa mengurus anjing-anjing saya, dari mereka berumur 3 bulan sampai harus menggendong tubuh lunglai mereka ke kuburan di belakang rumah. Saya tahu konsekuensi memelihara binatang dan tidak pernah menolak atau menghindar dari kewajiban saya tersebut.

    Semua anak kucing saya pun tidak rela saya terlantarkan. Saya juga tidak pernah menyiksa binatang, dan selalu berusaha memberi makan kucing kelaparan walaupun harus berantem dengan orang rumah.

    Tapi kalau saya disuruh memilih melihat kucing saya mati melahirkan atau mencegahnya, saya lebih memilih mencegahnya. Satu lagi, saya tidak melihat binatang piaraan sebagai suatu kegunaan, dan kemudian 'menidurkan' karena sudah tidak berguna. Binatang piaraan saya adalah bagian dari saya dan saya sayangi sepenuh hati.

    Dua minggu yang lalu saya mendapat telpon dari mama saya. Blony ternyata harus dilarikan ke dokter hewan karena mengalami komplikasi kandungan. Tiga anak kucing mati di dalam kandungan sebelum dilahirkan dan bangkainya mengancam nyawa kucing saya. Mau tahu akhir ceritanya? Dokter hewan yang dulu menolak mensteril Blony adalah dokter yang sama yang kemudian memvonis kalau Blony harus dioperasi dan disteril.

    Untuk kucing dan anjing liar, saya pun menolak untuk menyetujui alasan "memang sudah nasibnya." Jadi kalau mau mati tertabrak mobil atau dianiaya sama orang lain ya tidak perlu dipikirkan. Pola pikir seperti ini, menurut saya, yang dapat membentuk seorang manusia egois, yang bisa dengan nyaman menikmati hidangan mahal dan berlebih-lebihan di restoran mewah sambil memandangi mereka yang kurang beruntung tanpa merasa tersentuh karena "memang sudah nasibnya."

    Menurut saya batas antara normalitas dan ketidakperdulian sangat tipis. Binatang memang binatang, tapi saya menolak untuk terkukung dalam pola pikir yang melihat binatang sebagai bagian pinggir dari dunia manusia yang tidak perlu untuk dicintai, dilindungi, dipelihara hanya karena mereka hanya binatang. Suatu bagian tidak penting.

    Memang binatang bagian dari alam, tapi ketika manusia telah merubah karakter alam dimana para binatang ini hidup, tidak perlukah manusia untuk mencoba melakukan sesuatu akan kondisi binatang yang terkondisikan oleh perubahan alam tersebut?

    By Blogger Pipit, at November 13, 2006 4:50 PM  

  • Pipit, Saya senang sekali mengetahui bahwa kamu sangat menyayangi binatang peliharaanmu. Saya juga pernah memelihara kucing betina belang tiga, tapi ketika saya tahu dia sudah mulai 'gebetan' dengan kucing-kucing jantan, maka saya 'liarkan' dia. Mulai di titik itu saya tidak ikut campur soal kehidupannya. Tapi dengan cara begitu, sampai saat ini saya masih bisa melihat dia bergerak ke sana-sini atau kadang memberinya makanan (walau tak bisa menyentuhnya lagi) dan anak-anak yang dilahirkanya pun tumbuh besar, sehat dan tangguh. Tak ada yang dibuang, tak ada yang terlantar dan tak ada hal yang perlu didramatisir.

    Ketika seekor kucing mati tertabrak, saya kira sama saja dengan kucing yang masuk wilayah anjing. Bisa menghindar dia selamat, tidak bisa berarti mati.

    Berbeda dengan animal abuse, untuk hal ini saya rasa bisa dibuatkan undang-undang perlindungan hewan dari penganiayaan dan pembantaian.

    Melindungi binatang terutama dari kepunahan sangatlah penting. Menyayangi hewan peliharaan juga penting. Tapi melakukan sterilisasi dan mengumandangkannya sebagai bentuk tanggung jawab atas kehidupan binatang yang tertindas adalah perampasan hak, yaitu hak untuk dapat melanjutkan keturunan ---meski terlihat lebih instant/compact ketimbang harus merelokasi atau meratakan populasi---.

    Kasihan si Meong dan si Bleki, dosa apa yang telah mereka perbuat di masa lalu sehingga mereka harus bernasib seperti ini. Padahal telah ribuan tahun mereka mendampingi manusia, tapi apa yang mereka dapatkan? Sterilisasi as an award?

    By Blogger anulucu, at November 13, 2006 7:17 PM  

  • hallo..ga sengaja baca blognya
    kebeneran seneng binatang juga..
    saya rasa lebih baik binatang kita disterilisasi daripada entar anak2nya ga keurus.
    soalnya sekarang kebeneran lagi menghadapi masalah kucing.
    kucing dirumah udah ada 6 ekor. udah gitu sekrang ibunya hamil lagi..orang rumah jadi bingung harus ngapain..
    soalnya ga mungkin kalo di rumah ada kucing lebih dari 6..
    untuk masalah kaya gini saya rasa sterilisasi lebih baik dari pada nantinya kucing atau binatang tersebut akan terlantar atau malah `ditidurkan`.
    jadi semoga di indonesia ga ada lagi (walaupun sepertinya tidak mungkin) binatang yang terlantar.

    rusty

    By Blogger rusty, at November 16, 2006 11:14 AM  

  • saya mengerti perasaan mba, membaca tulisan mba saya ikut menangis merasakan pedihnya hidup mereka di luar....

    saya memelihara 2 kucing d rumah (kmpung) dan di kos saya ada 4 ekor kucing (1 betina dan 3 jantan), di kos ruang gerak memang sempit, kesehatan pun juga jadi perhatian ....

    maka pemilik rumah kos menyarankan untuk membuang mereka, disini saya bingung bagaimana kucing2 kesayanganku di tempatkan... bagaimana setelah hidup mereka selalu terjamin dengan makanan2 ternytata berbalik mengais sampah.....

    saya bingung bagaimana harus menghadapinya... mereka kucing2 manis meskipun hanya kucing kampung ....

    By Anonymous Anonymous, at March 28, 2007 10:04 AM  

  • Hi mba Pipiet...saya juga penggemar kucing. dirumah ada buanyak..hasil adopsi.
    paling sering dapatnya karena dibuang orang dirumah, mungkin mereka tau kalo saya sayang kucing.pengennya bikin penampungan gitu..tapi belum siap.habiss sering kasihan sich dg hewan yang terlantar..
    kucing2ku suka disuntik kb oleh dr hewan 4 bulan sekali..ya..kalo ndak gitu ntar jadi buanyak anaknya..jadi saya setuju banget dengan KB kucing..karena kalo ndak gitu lebih kasihan lagi ngeliat para miauw pada terlantar.
    pernah saya ditawari Dr hewannya untuk bikin penampungan kucing terlantar yang lebih serius...tapi..ya itu tadi..belon siap..kitakan harus serius dan buanyak persiapannya...yach..butuh waktu dan dukungan..
    hewan2 ditempat saya ada kucing, anjing, ayam, burung...semuanya hasil adopsi..dan..ada juga yang pada datang sendiri..(mungkin sudah kecium hawanya kali' ya...he..he..he..)pernah kedatangan burung hantu...sampai 2 ekor berdomisili dirumah...(sekarang sudah dilepas)musang, Elang, Bebek,juga pernah pada nyasar di rumah.padahal rumah saya ditengah kota lho....
    oce mba Pipiet...kudukung lho..rencana bikin tempat penampungannya...atau setidaknya support buat para penyayang hewan, supaya melakukan tindakan yang nyata untuk menyelamatkan hewan terlantar...jadi bukan hanya teori..saja..lebih baik berbuat sedikit dari pada tidak sama sekali...iya to...

    By Anonymous Anonymous, at May 22, 2007 5:27 PM  

  • gw juga pecinta kucing ... mau nanya dong .. dokter hewan mana ya yg bisa suntik kb? boleh minta alamat dan no tlpnya gak? soalnya selama ini gw udah nanya-nanya kedokter hewan soal suntik kb buat kucing tp kata dokter hewannya kucing gak bisa di kb paling disteril doang ... ga kasiaan kalo disteril ... gw kan juga pingin liat kucing gw punya anak walaupun cuma sekali aja ...


    kalo punya alamat dan tlp dokter hewan yang bisa suntik kb tolong email ke vidya_prahassacitta@yahoo.com thanx u ... ya ...

    By Anonymous Anonymous, at October 02, 2007 11:30 AM  

  • Maaf, saya sudah desperate cari ke mana-mana. Mungkin di sini ada yang bisa bantu. Saya karyawati, wanita, perlu kos yang boleh bawa kucing laki-laki 1. To cut the story short, saya ketemu kucing cacat (kaki 3) di jalan, sudah tua. Jadi saya harus pindah kos karena merawat dia (sekarang sudah sehat). Saya perlu yang ada halamannya buat dia bermain, syukur-syukur Ibu kos juga pemelihara kucing. Kalau ada, tolong sms saya di 0818 0649 5554. Appreciate so much your help. Jangan mahal-mahal. Maks 1 jt, kamar mandi di dalem daerah Jakarta Selatan (Kemang, Mampang, dan sekitarnya)

    By Anonymous Anonymous, at January 26, 2009 7:26 PM  

  • Saya setuju dg Steril ataupun KB. Sepertinya mmng kejam. Tapi bagi saya, Binatang tuh bukan hal sepele. gak beda jauh dg manusia.. klo hal itu dianggap kejam, lalu bagaimana dg manusia yg ber KB ? kejam juga dong. padahal mereka ber KB utk kebaikan keluarga mereka. anak2 banyak, tp tdk diimbangi dg keadaan keluarga, bagaimana tuh ? sama ajah dg hewan,, memberi makan tuh tdk cukup. perawatan mereka, hiburan mereka, dll,,
    mereka adlh bagian dr keluarga kita. bukan HANYA SEKEDAR hewan !! anak terlantar adlh tanggung jawab warga negara,, begitu pula dg hewan terlantar. heraann !! bisa2 nya dg santai melihat hewan2 yg kelaparan, sakit, terluka, ketakutan, krn di "kerjain" manusia.
    Hah,, sungguh egois, dg " meliarkan hewan ke alam bebas",, bagi saya itu namanya ,, " yaudah, sono gih, loe kan dah besar,, urusan lo ama gw sampe sini ajah yah ",,
    Hhmm,, mana bisa saya tidur nyenyak, dg perasaan cemas, mereka diluar sana lapar dan kedinginan,,

    By Anonymous Anonymous, at December 09, 2011 4:18 AM  

  • bagaimana kabar Bony?

    aku muslim, tapi aku setuju dengan cara pandang kamu. aku punya dua kucing, jantan dan betina. dua-duanya aku steril, karena bukan aku tidak mau mengurus anak-anak kucingnya nanti, tapi aku berusaha meminimalisasi populasi kucing. Supaya tidak ada lagi kucing yang dibuang, ditinggalkan dijalanan, mengeong karna tidak dapat makanan, kucing yang tertabrak atau terlindas. seperti halnya KB, aku menganggap itu bukan suatu kekejaman. akan lebih kejam kalau aku tidak melakukan apa-apa dan melihat saja mereka mati dengan cara yang lebih menyakitkan.
    Bukannya manusia diciptakan untuk memimpin? kucing tidak tahu bagaimana caranya menyelematkan populasi mereka, jika mereka pintar, mungkin mereka juga akan membuat pil KB untuk mengontrol populasi mereka sehingga tingkat kematian mereka berkurang.
    dulu aku sterilisasi si PPS Ragunan. dokternya mau menerima sekalipun agamanya islam juga.
    oh iya, sekalian sharing, ada yang tahu tempat kost atau tempat untuk menampung kucing? aku harus cari kost lain yang memperbolehkan memelihara kucing. Ada beberapa tapi harga nya mahal, rata-rata di atas 800rb.. tolong infonya juga ya..

    By Anonymous Anonymous, at April 29, 2013 5:58 AM  

  • sy dukung cita2 mbak. maju terus... salam pet lovers.

    By Anonymous Anonymous, at July 13, 2013 10:27 AM  

  • Saya mendukung jg klo ada tempat penampungan bwt binatang....pgn juga krja dpenampungan bwt binatang,domisili sy dbogor....inform me by email detik_indrayanti@yahoo.com

    By Anonymous Anonymous, at September 27, 2013 3:10 PM  

  • Saya punya kucing betina dengan 1anak(noni). Tanpa sepengetahuan saya mereka di buang suami ke lokasi perumahan. Begitu tahu saya menangis sambil berusaha nyari dari pagi, siang, hingga jam 1malam... kejadian tsb terjadi hingga 2minggu..
    Tanpa diduga jam 11 malam induk nya pulang dengan badan nya yg kurus saya langsung menangis, dan seketika itu saya bergegas mencari kelokasi yg berjarak 1km dr rumah. Mungkin beberapa orang heran melihat saya karna berlebihan menyayangi binatang. Mata saya bengkak sela berminggu-minggu, suami saya pun merasa sangat bersalah dan ikut mencari berhari-hari.
    Sampai saat ini noni tidak pernah kembali, udah 4bulan tapi saya tidak bisa melupakan
    sekarang induk nya yang kami panggil dengan nama belang udah punya bayi 2 ekor.
    Suami berjanji tidak akan membuang lagi karna dia tidak tega lihat saya begitu sedih.

    Saya berharap noni bahagia bersama pengasuh nya yg baru...
    Seandai nya dia kembali dalam keadaan apa pun akan saya tetima
    maaf sebelum nya klu tulisan saya tidak beraturaN, ngga konsen nich..
    Abis nya air mata netes terus... I love NONI

    By Anonymous Anonymous, at October 26, 2013 5:51 PM  

  • Emangnya siabang ANULUCU memelihara hewan peliharaan/pet gitu?.

    By Anonymous ciwidey, at November 29, 2013 1:12 AM  

  • kamu berhak memilih second opinion, kalau dirasa dokter yg melayani kamu tidak memuaskan/tidak bersedia dgn konsep pribadinya (bertentangan dengan agama). kamu gak berhak marah dengan dokter yg memiliki prinsipnya.. karena dokter didunia ini tidak hanya satu. sama seperti pemilik hewan, tidak semua mau kucingnya di sterilkan. steril adalah pro kontra bagi pemilik hewan, begitu juga dengan dokter hewan (yg menganut prinsip agama).

    By Anonymous Anonymous, at November 25, 2014 9:57 PM  

  • Dokter hewanku juga gk menganut sterilisasi karena bertentangan dengan prinsip pribadinya. Hanya bersedia suntik KB. Tapi beliau bersedia memberi nomor kontak dokter yg pro steril. Jadi kita gk berhak marah pada dokter yg antisteril. Mereka punya alasan sendiri. Toh mereka gk memaksakan pendapatnya ke kita.

    By Blogger Gunarsih Murdhasiwi, at July 12, 2016 4:10 AM  

  • kisah-kisahnya menyentuh sekali. saya juga punya beberapa kucing yang diambil dari sekitar rumah karena dibuang atau tersesat. kalau punya dana dan waktu yang banyak serta tempat yang luas, tidak masalah kucing-kucing yang banyak itu tidak dikebiri atau di steril. tapi seperti saya yang untuk makan saja sering cuma makan sama kerupuk, hal itu tidak bisa dilakukan. saya pernah steril salah satu kucing, tapi karena kucingnya ga bisa diam, sampai dijahit tiga kali. jadi saya lebih memilih suntik KB saja setiap tiga bulan. saya juga bercita-cita ingin punya penampungan kucing. semoga semakin banyak yang sadar untuk tidak membuang kucing yang masih kecil karena sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan.

    By Blogger Triana Setiyarini, at February 27, 2017 12:41 AM  

  • Saya setuju steril, kasian anak2 pasti terlantar

    By Blogger Rosliana Ratumurang, at April 10, 2017 1:16 PM  

Post a Comment

<< Home