<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d4702894869577277822', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Wednesday, August 10, 2005

Disayang mertua, siapa yang nggak mau?

Otak sumpek begini mendingan nulis yang enteng-enteng (walaupun diharapkan tidak jadi garing). Kalau banyak penulis perempuan yang berbagi resep masakan di blognya, saya mau berbagi resep yang lain, resep disayang sama mertua. Bukannya nggak mau berbagi resep masakan, masalahnya resepnya terlalu banyak, entar malah jadi seperti blognya Rudi Khaerudin 'wanna be' lagi. :)

Semua teman perempuan saya selalu menanyakan hal yang sama, "Pit, kok bisa sih eloe deket dan disayang sama mertua eloe sampai segitunya? Eloe kasih jampi-jampi apa?" Hampir semua teman saya ingin punya mertua seperti mertua saya, yang berbeda sekali dengan legenda mertua perempuan yang kejam terhadap menantu perempuannya.

Saya biasanya cuma ketawa aja waktu ditanya seperti itu, karena menurut saya nggak ada yang harus dijelaskan. Menurut saya anggapan bahwa mertua perempuan itu rada dingin sama istri anaknya itu hanya bohongan orang jaman doeloe. Tapi setelah mendengarkan kisah kedua teman baik saya yang kerepotan menghadapi mertuanya atau mendekatkan kekasihnya ke ibunya, saya pun jadi berpikir, mungkin ada gunanya berbagi 'trik' untuk menghadapi orang tua pacar.

Harap diingat, saya menulis ini dari sudut pandang perempuan :)

Jadi...

Pertama, harus selalu sopan dan menjaga jarak selayaknya. Ramah dan akrab itu boleh, tapi harus selalu diingat bahwa mereka adalah orang tua pacar kita, bukan orang tua kita sendiri. Jarak itu harus selalu dijaga.

Kalau waktu baru-baru dikenalin bisa dianggap kalau ortu pacar tersebut adalah bos baru di kantor yang kita baru masuki. Kita harus pandai menjaga sikap dan menunjukkan kelebihan kepribadian kita yang membuat dia tertarik untuk 'menahan' kita di 'perusahaannya'. Kalau sudah kenal lama, anggap saja ortu pacar kita tersebut adalah paman atau bibi kita. Orang yang patut kita sayangi dan hormati, namun tetap memiliki jarak yang berbeda dengan halnya kita dengan ortu kita sendiri. Kalau kita terlalu Sok Kenal Sok Dekat, yang ada mereka merasa kita memaksakan kehadiran diri kita di dalam keluarga mereka.

Contoh gampangnya aja deh, jangan nekat manggil ortu pacar mama atau papa kalau belum disuruh. Terlepas dari berapa lamanya pacaran.

Kedua, berusaha untuk selalu tulus. Kalau sebelum dikenalkan kita sudah punya pikiran bahwa calon mertua itu pasti begini pasti begitu, yang ada semua sikap dan pemahaman kita akan calon mertua pun akan bias. Yang namanya ibu itu perasaannya halus lho. Kalau kita bersikap hanya untuk mencari muka, pasti ketahuan. Dan kalau sikap kita sudah didasari oleh sikap enggan, pasti ketahuan juga.

Trik saya untuk berusaha tulus gampang banget. Saya selalu menanamkan di otak saya bahwa pacar atau suami saya bisa menjadi orang yang saya cintai itu kan karena orang tuanya. Kalau tidak ada orang tua dan pendidikan dari mereka, belum tentu orang tersebut akan tumbuh menjadi orang yang menarik perhatian saya. Saya rasa menghormati mereka adalah bentuk terima kasih yang paling kecil yang bisa saya berikan untuk mereka.

Ketiga, perlihatkan rasa cinta kita kepada anaknya. Bukan berarti harus peluk-pelukan atau cium sana cium sini. Cukup dengan perhatian akan hal-hal kecil dan senyum hangat dan pandangan mata dengan rasa sayang. Kadang kalau kita di depan ortu suka kikuk atau grogi, wajar..tapi saya rasa yang namanya rasa sayang itu tidak harus ditutup-tutupi. Kalau kita malu akan perasaan kita sendiri, bagaimana orang lain akan yakin akan 'kuatnya' perasaan kita tersebut? Dan perhatian yang kita berikan kepada pacar atau suami pun pasti tidak akan 'left unnoticed'.

Keempat, yang paling penting, hargailah ibu mertua itu tidak hanya sebagai ibu mertua tapi sebagai seorang perempuan, yang memiliki kepribadian, 'achievements', pengalaman dan sejarah tersendiri. Kenalilah mereka bukan hanya untuk bisa mendapatkan hati mereka, tapi lebih untuk mengetahui siapa mereka, apa yang telah mereka raih dalam hidup, dan bagaimana mereka bisa sampai ke tempat mereka sekarang.

Respect them for who and what they are, and hopefully they will respect and accept you the way you are.

5 Comments:

  • Walah walah... huhuhuhu coba baca ini sebelum ketemu calon mertua. Tips nya mo dicoba ah... Ibu mertua emang paling susah yha (lebih dingin..susah cairnya..he.he..)...dibandingin bapak mertua atau kakak ipar..*ihix* helppp...

    By Blogger qt pie, at August 11, 2005 4:33 AM  

  • Ya cobain atuh, siapa tahu bisa membantu. Fingers crossed! Memang, yang namanya menghadapi ibu mertua bikin deg-degan.. :) Terima kasih sudah mampir qt pie, salam kenal. :)

    By Blogger Pipit, at August 11, 2005 10:25 AM  

  • Hmmm kenapa ya ilmu yang ginian gua kagak pernah dikasih tahu ama nyokap, jadi kan bisa ngarahin calon gua gitu lohh.. atau emang sengaja kali ya biar tahu nature nya he3x

    Plus gua sendiri juga kadang serba salah ama camer, terlalu akrab nanti salah, terlalu jaim nanti dibilang sombong, susah susah.. nah ada juga camer yang emang dasarnya kalo gak suka ya apa aja yang dikerjain jadi celaan, kalo itu gimana hayoo... hal yang ginian nih objektif banget lagi.

    By Anonymous Anonymous, at August 11, 2005 10:57 AM  

  • Wir, selama antara camer tidak ada masalah yang mendasar, cara menghadapi camer yang kurang mendukung, menurut gue, adalah tetap menjadi diri eloe sendiri. Tetap melakukan yang terbaik buat pasangan dan diri eloe sendiri, suatu saat mereka pun akan meleleh, atau paling tidak menyerah dengan keputusan anaknya. Kadang sikap streng mereka itu ujian lho..ujian mental, semacam plonco kampus.

    Yang juga penting adalah sikap sang pacar yang berusaha memberikan pengertian kepada ortunya dong. Sang pacar juga harus pinter-pinter menjaga sikap. Kadang ibu itu takut anaknya 'diambil' orang dan jadi lupa sama dia. Kalau asik pacaran dan jadinya tidak mengindahkan acara keluarga, yang ada ya nyokapnya nyalahin pacarnya. Iya nggak? :)

    By Blogger Pipit, at August 11, 2005 12:41 PM  

  • Aku stress nih ngadepin camer yg gak luluh jg hatinya...
    bukan cma itu, tpi sikap adik calon suami aku jg jutek, nyebelin n susah bget di ambil hatinya..
    kasih msukannya doooonk...

    By Anonymous sri, at November 02, 2010 8:58 AM  

Post a Comment

<< Home