<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Sunday, January 01, 2006

Cinta itu universal

Komedi romantis, suka banget. Ada yang bilang dangkal, tapi ketika hati lagi sendu atau sebal dengan dunia, melihat suatu cerita cinta yang happy-ending, membuat hati jadi hangat. Sebentar dan superficial memang, tapi setiap senyum itu permata.

Habis nonton Love Actually jadi mikir betapa seringnya perayaan natal dikaitkan dengan cinta. Christmas is about love. Pernah denger kalimat tersebut? Sederhana, indah, tapi langsung menghangatkan hati. Karena cinta itu universal.

Makanya waktu banyak pihak yang mengeluhkan bagaimana masyarakat non-Kristiani terhayut atau dibilang ikut-ikutan merayakan natal yang nota bene bukan hari rayanya dan berbuat dosa dengan mengucapkan Selamat Natal, saya jadi berpikir, mungkinkah mereka terhayut karena hangatnya perayaan cinta tersebut? Tentu..tentu..selalu ada unsur konsumerisme dibalik perayaan apapun, dan mungkin advertising team berhasil banget dalam 'menggunakan' tema cinta untuk natal. Tapi universalnya cinta membuat perayaan Natal pun jadi lebih universal.

Tinggal di negara yang mayoritas penduduknya beragama nasrani dan perayaan natal merupakan suatu perayaan wajib, membuat saya merasakan suasana Natal. Setiap sudut jalan mengingatkan saya bahwa sebentar lagi tanggal 25 Desember. Dan kegiatan mencari kado atau menebak kado yang akan diterima pun membuat saya ikut-ikutan menanti Santa. Yup..di sini Natal pun sudah jatuh terjerembab di dalam lubang konsumerisme.

Poster-poster natal penuh dengan tema cinta, dan film-film natal pun penuh dengan tema cinta. Makanya saya sampai ke kesimpulan bahwa natal bisa dilihat sebagai perayaan cinta. Indahnya cinta, membuat indahnya natal dapat dirasakan juga oleh mereka yang non-nasrani.

Jadi kalau ada ortu yang komentar ngapain sih nonton-nonton film barat bertemakan Natal, bukannya mereka harus bersukur bahwa tema cinta tetap menyentuh hati anaknya. Bukannya dimarahi dan diceramahi bahwa itu film orang Kristen, tapi lebih baik ditonton tema cintanya.

Kadang saya suka mengeluh dalam hati, kenapa lagu-lagu Islami tidak seperti lagu-lagu natal. Kenapa lagu-lagu Islami tidak ada yang 'fun, funky, and romantic?' (atau saya nya aja yang nggak tahu). Sebagai seorang muda yang terpengaruh berbagai budaya dan perjalanan waktu, musik natal bertema cinta mungkin akan lebih mudah untuk digemari.

Apakah cinta sesuatu yang tidak patut dirayakan dalam Islam? Bukankah Nabi Muhammad sendiri mencintai umatnya dan kita selalu diingatkan untuk mencintai beliau? Dan alangkah indahnya ayat-ayat cinta Khalil Gibran. Islam juga penuh dengan cinta. Atau ini salah budaya Indonesia, yang menabukan pernyataan cinta atau ekspresi cinta? Bukankah cinta yang membuat seorang manusia berbeda dengan binatang. Cinta adalah awal segalanya. Cinta membuat seseorang kuat, tangguh, berjuang, dan berhasil.

Inginnya saya merasakan dan merayakan sisi romantis Islam. Untuk saat ini, biarkanlah saya menikmati "All I Want For Christmas is You".

9 Comments:

  • ekspresi cintanya barangkali yang beda. seorang muslim/muslimah sangat ketat dalam mengekspresikan cinta. artinya, tidak berlebihan sehingga cinta jadi ternoda.

    saya tadi sore agak terkaget dengan sebuah sms dari nomor tak dikenal, dalam akhir kalimat ia berkata: dari saudaramu yang mencintaimu karen allah. dalam hati saya bertanya, apa-apaan ini?

    akhirnya, saya jadi tahu, bahwa sang perngirim adalah lelaki sahabat saya. ah, cinta...

    By Anonymous Imponk, at January 01, 2006 8:17 PM  

  • Bicara soal cinta ini, mau nggak mau kita juga menilai dari persepsi dan budaya. Bukan cuma tentang perayaan natal, apa-apa yang berbau entertainment populer, harus diakui pusat nya ke hollywood dan barat sekarang ini, kita menyukai karya seni mereka, otomatis produk-produk hiburan untuk perayaan besar seperti natal juga memiliki format yang secara umum familiar di indera kita.

    Sebebanarnya kalau kita jeli, arah kesana ada kok. Misalnya fenomena tokoh-tokoh penceramah baru di televisi kita, yang muda, ganteng, dan funky (taruhan elo pasti juga gak tahu he3x..), lagu2 Islami grup Rap 'Too Phat' dari Malaysia (nanti gua attach di email), dll.

    Gua setuju dengan Imponk, bahwa ekspresi nya yang beda, dalam artian lebih banyak rambu-rambu yang dijaga yang tujuannya untuk kebaikan kita juga dan menjaga kesucian cinta itu sendiri, dan contoh sedikit diatas menunjukkan bahwa bisa banget kok dibuat karya seni dgn format populer yang masuk dalam rambu2 Islam. Mungkin yg seperti ini mesti lebih dimasyarakatkan ya :-)

    By Anonymous Wira, at January 02, 2006 6:27 AM  

  • Gue suka lebaran krn suasana romadan, ketupat, bedug, dan lain2nya. Tp gua juga suka suasana xmas, krn di sini terutama, musim dingin, setidaknya org2 mempunyai ilusi utk. tetap senang dan gembira. Juga bagian tukar menukar hadiah.
    Jadi gue suka dua-duanya. Yg barat dan yg timur...he he

    By Anonymous naga, at January 02, 2006 10:31 AM  

  • Imponk: Memang beda ekspresi, tapi saya kadang suka bertanya dalam hati, apa salahnya mengekspresikan cinta dengan lebih literal. Ekspresi cinta kan tidak berarti harus ceplak ceplok kayak telor ketemu panci penggorengan. Tidak berlebihan tapi tidak berarti harus disembunyikan kan?

    Wira: Yup..yang begituan memang harus lebih dimasyarakatkan. 'Kemasan' yang seperti itu, menurut gue, akan lebih bisa merangkul kaum muda. :)

    Naga: Saya juga...seneng dua-duanya. Khidmat lebaran dan kado-kado natal sama2 bikin hati gembira. :)

    By Blogger Pipit, at January 02, 2006 11:13 AM  

  • salam kenal...

    soal fun & funky, mungkin skrg sisi itu yg lagi mau didekati oleh salah seorang ustad baru, Jefry Al Buchory. pernah denger? cakep sih, mayan :D.

    tapi gw setuju sama kamu, kadang kemasan islami tuh kurang mendekati anak muda. kayaknya yg paling banyak ke arah itu baru sisi fashionnya aja. baju2 muslimah mulai banyak yg 'wearable' buat ABG. lagu2nya, mungkin hrs diperbanyak. yang ngejazz, ngerock, rap, R&B,..

    kan katanya, "berbicaralah dengan bahasa kaummu" :). kalo ga gitu mana bisa 'nyampe' ;)

    By Anonymous yanti, at January 06, 2006 3:35 AM  

  • Yanti: Salam kenal juga 'teh. Terima kasih sudah berkunjung ke sini. :)

    Betul teh Yanti, kalau mau nyambung 'bahasa'nya memang harus disesuaikan.

    Saya belum tahu tentang penceramah Jefry Al Buchori yang teteh bilang. Nanti kalau pulang tak coba dengerin ceramahnya.

    By Blogger Pipit, at January 06, 2006 11:18 AM  

  • mba pipit nan rupawan,kl suka lagunya dewa 19 pasti kenal sm danny yang ciptain banyakan lric2nya dr buku2nya kahlil gibran yg temanya cinta itu..

    By Blogger zae, at January 07, 2006 7:34 AM  

  • Zea yang manis, salam kenal. Saya cukup suka sama Dewa. Pernah denger juga lagunya Danny. Penggemarnya juga pasti banyak. Itu menandakan bahwa "kemasan" cinta dapat diterima dengan mudah kan?

    Maksud saya, kenapa tidak dicoba untuk menampilkan Islam dalam bentuk yang lebih menyentuh kaum muda? Seperti dalam bentuk lagu-lagu yang romantis ala Danny Dewa. :)

    By Blogger Pipit, at January 07, 2006 9:47 AM  

  • Saya masih memburu 'genre' film komedi romantik, meskipun usia udah beranjak, tidak muda lagi. Tak perlu risau, jika orang melihatnya bukan film berat dan tidak bermutu.

    Tapi, menurut saya, pesannya adalah upaya 'menerjemahkan' nilai-nilai yang diusung oleh pemikiran yang berat, rumit dan canggih.

    Dari sekian film jenis ini, kejujuran adalah pesan moral yang ingin ditonjolkan. Bukankah yang terakhir inilah acapkali raib dari diri kita?

    By Blogger Ahmad Sahidah, at May 13, 2006 9:10 AM  

Post a Comment

<< Home