<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Thursday, July 27, 2006

Acara Kantor: Keharusan atau Kebetulan?

Selesai bikin presentasi gombal untuk kantor magang gombal otak langsung gatal untuk berkeluh-kesah. Keluh kesah tentang pekerjaan tentunya. Tentang acara 'pesiar' kantor di luar kantor yang menunjukkan bahwa dunia kantor sebenarnya bukan hanya tempat cari duit, tapi kadang lebih sebagai suatu ruang sosialisasi. Acara pesiar kantor yang saya maksud macam-macam, dari makan malam bersama, pesta kecil-kecilan atau pesiar betulan dengan berbagai anak buah dan bos besar.

Saya dari dulu sering melihat atau terpaksa terlibat dalam acara kantor orang tua saya. Waktu itu sebal rasanya melihat orang tua saya memakai 'topeng' kantornya dan saya harus memakai 'topeng' anak bapak x dan ibu y. Sebal melihat orang tua saya berbicara nunduk-nunduk dengan bos besarnya, dan kikuk melihat para bawahan orang tua saya berbicara dengan sangat hati-hati kepada saya, anak atasan. Saya ingat berbagai omelan yang saya utarakan dalam perjalanan pulang atau protes diam saya setelah menyaksikan bagaimana pekerjaan, status, dan jabatan telah membentuk 'kepalsuan' hubungan antar manusia.

Papa biasanya cuma menghela napas dan meminta saya untuk mengerti. Mama biasanya langsung mengeluarkan kalimat ajaib "Memang sudah seharusnya begitu!"

Sekarang setengah kaki saya sudah menapak di dunia kerja, dan ternyata saya 'disodorkan' berbagai undangan acara kantor. Percaya tidak percaya, tidak satu pun yang saya terima.

Sudah lima tahun saya bekerja di kampus, tidak satu pun undangan makan resmi (a.k.a gratis) yang saya terima. Terlepas dari kenyataan bahwa biasanya makan malam tersebut diadakan di restoran bintang empat yang tidak akan mampu teraih oleh dompet tipis saya.

Teman sekantor saya pernah bertanya kenapa saya tidak mau datang. Bukannya undangan tersebut adalah suatu 'keistimewaan' dan harusnya saya bangga diundang. Bukannya kita harus bangga bisa makan 'bersama' dengan direktur kampus yang cuma kita lihat setahun sekali?

Saya langsung menjawab, undangan tersebut bukan diajukan ke Mme. Y tapi ke Mme. Assistante. Undangan fungsional yang sangat tidak personal. Naif sekali kalau kita merasa diundang oleh si direktur, yang diundang adalah fungsi asisten saya, bukan diri saya pribadi. Lagipula, saya tidak pernah merasa nyaman atau tertarik untuk berada di tengah-tengah mereka yang punya kekuasaan dan kemewahan. Untuk apa hadir ke acara makan malam ketika saya tahu saya tidak bisa 'istirahat mental' selama acara. Bagaimana lidah bisa menikmati hidangan mahal di atas meja ketika kepala sibuk mengingatkan diri untuk bersikap dan terdengar pintar?

Teman saya itu langsung terhenyak mendengar jawaban sinis saya. Dia pun cuma bisa senyum kikuk, komentar "kita lain sekali ya" dan kemudian diam seribu bahasa.

Lagipula, capek rasanya kalau saya harus kembali meladeni para teman kerja saya yang sibuk membanggakan dirinya. Sudah harus mendengarkan bualan mereka di jam kantor, masak kuping saya masih harus diisi dengan berbagai omong kosong? Kecacatan saya dalam menjual diri kemudian membuat saya selalu menjadi obyek penderita. Dan saya rasa, diamnya saya membuat mereka yang sibuk membual untuk mengobati krisis kepercayaan dirinya menjadi semangat. Tidak mustahil rasanya kalau dalam hati mereka bersyukur ada yang lebih tidak 'berprestasi' dari mereka.

Musim panas begini pasti banyak sekali undangan acara kantor. Di sini musim panas selalu diisi dengan acara panggang-memanggang. Saya pun sudah menolak 4 undangan kantor untuk panggang-memanggang.

Malas rasanya harus menjelaskan setiap saat kalau saya harus memanggang daging bekal dari rumah sebelum yang lain memulai memanggang berbagai bentuk daging babi. Malas rasanya menerima pandangan aneh dari mereka ketika saya panik melihat ada garpu orang lain yang menyentuh ayam panggangan saya. Malas juga rasanya ketika yang lain selalu bertanya, kok saya tidak menyiapkan bumbu sate.

Tapi entah kenapa kali ini saya jadi merenungi sifat anti-sosial saya.

Mungkinkah pada akhirnya saya harus membayar sikap sosial saya ini? Apakah sikap 'anti-sosial' saya akan menghambat saya dalam 'naik tangga'?

Will a nice work be shadowed by a nice presence?

Inilah susahnya saya. Saya ingin menaiki tangga seperti yang lainnya, tapi lebih suka berada di balik layar. Saya tidak keberatan bergadang seminggu untuk mengerjakan proyek profesor, tapi sangat keberatan kalau harus menghadiri makan malam bersama dengan para anggota loka karya yang saya organisir. Saya lebih senang mempersiapkan berbagai acara kampus, tapi paling enggan kalau harus maju ke depan dan menyambut para tamu acara.

Seorang ambisius yang enggan berbangga diri.

Siap tertinggal dan terinjak? Mungkin. Tapi saya tetap enggan memasang 'topeng sosial' yang sudah sering saya caci.

Tuesday, July 25, 2006

Me...me...and me

Being dragged by my dear friend silverlines, now it is my turn to reveal something about myself (like it has not done enough already?)

Four jobs I've had:
1. Research assistant
2. Personal assistant
3. Event organizer
4. Graduate student (it is a job, trust me!)

Four movies that could watch hundreds of times:
1. All Kurozawa and Mifune samurai movies
2. Lord of the Ring
3. You've Got Mail
4. All Miyazaki animation

Four places I've lived in:
1. Bandarlampung (it is a small city at the very south of Sumatra, nothing fancy but it has tons of delicious sea food)
2. Bandung
3. Fribourg
4. Geneva

Four TV shows I love or loved:
1. Friends
2. CSI
3. Monk
4. BBC house, garden, and anthique related shows

Four places I have been on vacation:
1. West Sumatra
2. Jambi
3. Bandung
4. Roma

Four favorite dishes (why only four?):
1. Meatballs
2. Pempek
3. Sayur pare made by my mom
4. Pizza Truli

Four websites I visit daily:
1. BBC
2. Yahoo Mail
3. Google
4. My blog

Four places I'd rather be right now:
1. Near the lake
2. Bandung in 1997-1999
3. My parent's house
4. City park

I am supposed to tag other people along, but I cannot make up my mind. :)

*going back to email ping-pong with one of the most annoying person I know*

Why did I involve myself into this unpaid slavery and humiliation?!!

*Unpaid intern realizes her big mistake*