<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Thursday, March 30, 2006

Cerita sebuah perjalanan singkat

Saya harap ada yang bertanya-tanya, kemanakah si empunya blog selama beberapa hari terakhir? (Terima kasih Ollie, saya terharu jiwa ngedenger ada yang kangen sama saya...hihihi :))

Jawabannya: saya akhirnya harus terpaksa pergi ke negara Paman Sam, selama seminggu, karena menghadiri sebuah konferensi untuk para geek.

Kok terpaksa? Terpaksa, karena dari dulu saya memang tidak ingin menginjakkan kaki di negara yang pemerintahnya memiliki kebijakan luar negeri yang sungguh bertentangan dengan idealisme saya. Juga karena saya banyak mendengar cerita diskriminasi berkaitan dengan imigrasi. Tapi, mau bagaimana juga Amerika memang negara penting, termasuk dalam bidang akademik. Jadi, mau tidak mau, saya harus pergi.

Sungguh banyak pengalaman yang saya dapat gara-gara pergi ke Amerika. Dari yang menunggu di luar gerbang kedutaan selama 2 jam lebih untuk interview visa, terlepas dari kenyataan bahwa saya sudah punya janji yang ditetapkan oleh pihak kedutaan sendiri, sampai harus mendengarkan 3 orang Amerika yang tidak capek-capeknya berbicara di kursi belakang saya di pesawat. Membuat saya sama sekali tidak bisa tidur selama perjalanan dari Amsterdam ke Minneappolis!

Saya harus akui, perjalanan kali ini penuh kesan. Sebal, letih, was-was, dan heran. Dari kunjungan singkat saya selama seminggu, saya akhirnya bisa lebih mengerti para orang Amerika yang saya temui di sini. Saya juga jadi lebih mengerti teman-teman saya yang 'terpukau' akan Amerika, walaupun saya sendiri tidak terpesona akan megahnya negara ini.

Kesan pertama, orang-orang di sana senang sekali berbicara. Seperti yang saya bilang di atas, dalam perjalanan Amsterdam-Minneapolis, tiga orang di belakang saya berbicara non-stop. Selama 8 jam! Ingin rasanya menengok ke belakang dan membentak, can you please shut up! Benar-benar pengalaman total the American small talk.

Banyak yang bilang ini menandakan orang Amerika lebih ramah daripada orang Eropa yang sangat jarang mau berbicara dengan orang yang tidak mereka kenal. Tapi entah kenapa, saya merasa 'keramahan' ini agak agresif dan sangat artifical.

Masuk toko atau restoran, setiap orang langsung dibombardir dengan sapaan (yang kadang memekakkan telinga), Hi, how are you today? Did you have a nice evening? So what can I do to help you? Disambut dengan sapaan bertubi-tubi seperti ini jam 7 pagi dengan jet lag, membuat saya terkaget-kaget!

Nada bicara si penyapa selalu ramah dan cool, tapi menurut saya mengurangi kesopanan yang biasa saya temukan di sini. Belum lagi ketika transaksi diakhiri dengan Thank you honey. Glad to serve you. Walaupun yang ngomong ibu-ibu, saya kok rada risih. Atau ketika yang melayani seorang pemuda, dia akan melontarkan, There you go, thanks a lot, dengan nada yang sungguh santai dan akrab.

Apakah saya sudah terlalu tua dan kaku? Tapi sikap cool dan akrab tidak bisa memberikan justifikasi atas keteledoran dalam memberikan pelayanan. Lebih baik rasanya bersikap formal dan sopan, tapi pelayanan sempurna, daripada cool tapi teledor.

Lucunya, satu kali, ketika saya selesai menyantap hidangan, dan berusaha untuk mengucapkan terima kasih kepada pelayan dalam perjalanan keluar restoran, si pelayan yang super duper ramah dalam menyambut, jadi cuek berat dan tidak mendengarkan sama sekali pernyataan terima kasih saya. Hmmm...jadi ramahnya tadi itu hanya palsu belaka toh?

Percakapan di dalam restoran pun kadang seperti di pasar ayam. Rusuh! Pagi-pagi, di sini, biasanya orang akan menikmati croissant dan kopi hangat sambil membaca koran, di sana satu restoran sahut menyahut seakan saingan dalam berbicara. Di Jenewa, berbicara di tempat umum pun tidak jerit-jerit, karena pembicaraan antara dua orang harusnya hanya perlu didengar oleh kedua orang tersebut, bukan seluruh ruangan. Saya rasa masyarakatnya memiliki konsep privasi yang sungguh berbeda dengan masyarakat yang saya temui di Jenewa.

Kesan kedua: dibandingkan dengan Jenewa, San Diego kurang 'berjiwa'. Kota San Diego jauh lebih besar, jalan, bangunan dan berbagai infrastruktur jauh lebih besar dan luas, tapi kurang berkesan.

Bangunan selalu besar dan megah, imposing but not impressive. Gaya arsitektur bangunan yang saya temui tidak mempesona, layaknya kota tua Jenewa atau Roma. Memang tidak bisa dibandingkan, yang satu modern yang lain abad pertengahan. Tapi tetap saja, bangunan modern pun kalau memang arsitekturnya indah tetap bisa membuat para pengunjung terpana.

Paling tidak, tata kota cukup menarik dengan berbagai deretan pohon palem di pinggir jalan.

Sewaktu jalan-jalan menyusuri pelabuhan, saya melihat iklan dimana satu restoran sangat bangga dengan kenyataan bahwa ia sudah berdiri semenjak 1945. Saya langsung tersenyum, dan kemudian sadar akan 'muda'nya negara tersebut dibandingkan dengan Eropa. Di sini, iklan yang menampilkan tahun berdiri biasanya diawali dengan 18...atau bahkan 17.. Abad 20 tidak dianggap kuno atau tua.

I think a modern and urban city is really not for me.

Kesan ketiga: kota San Diego penuh dengan mobil tapi tidak mobile. Kenapa? Karena transportasi umum benar-benar terbatas.

Trolley (tram) hanya melayani sebagian kecil daerah, dan jadwalnya sungguh membuat saya nelangsa. 15-25 menit sekali! Dalam hati, di Indonesia saja saya tidak perlu menunggu segini lamanya. Lha di sini, yang katanya negara terkaya di dunia, kok harus seperti ini?

Salah satu teman Amerika saya pun menjelaskan kalau California memiliki budaya bermobil. Mobil merupakan ukuran kesuksesan seseorang, dan setiap orang dianggap punya mobil. Jadi, transportasi umum tidak perlu dikembangkan. Bahkan perusahaan General Mobil (tahunnya dikasih tahu, tapi saya lupa), membeli perusahaan trolley dan menghancurkan sebagian besar trolley untuk 'membujuk' masyarakat membeli dan tergantung akan mobil.

Pantas saja Amerika tidak mau menandatangani Kyoto Protocol. Wong, masyarakatnya saja sangat tergantung akan mobil. Kemana-mana harus menyetir mobil, dan terlebih lagi saya lihat mereka gemar sekali akan mobil besar yang tentunya boros energi. Mobil-mobil di kota ini ukurannya jauh lebih besar dari mobil-mobil yang saya temui di Jenewa. Wajar...mobil ukuran Dodge mana bisa dipakai di jalan kota Jenewa yang jauh lebih sempit.

Satu tanda bahwa orang-orang di San Diego tergantung sama mobil mereka: hampir tidak ada orang yang berjalan kaki. Saya dan Xaf tetep bersikukuh naik transportasi umum dan kemudian berjalan 30 menit ke kebun binatang dari stopan bis. Selama perjalanan tersebut, hampir tidak ada pejalan kaki, kecuali pengemis dan gelandangan!

Berbeda sekali dengan Jenewa, dimana ketika cuaca cerah, trotoar dan taman selalu dipenuhi dengan pejalan kaki yang menikmati pemandangan kota. Saya pun berpikir jahat, pantas saja masyarakat Amerika memiliki masalah obesitas. Jalan kaki saja malas.

Ini membuat saya beralih ke kesan keempat: saya menemui jauh lebih banyak kasus obesitas daripada di Jenewa atau Indonesia. Melihat gaya konsumsi makanan yang tidak sehat dan berlebih-lebihan, saya pun tidak heran lagi.

Porsi makanan sungguh besar dan kurang sehat. Di menu disebut, burger with salad, onion, tomato slices and french fries. Di piring, daging burger sebesar telapak tangan dan setebal 3 cm diapit oleh 2 potong roti, ditemani oleh satu lembar selada, satu iris tomat dan satu iris bawang yang terletak di samping si burger raksasa, ditambah setumpuk besar kentang goreng, yang panjangnya membuat saya bertanya-tanya sebesar apakah kentangnya.

Saya pun berkomentar, pantas saja banyak masalah berat badan. Daging 100 gram ditemani satu lembar salad kan tidak seimbang. Lagian, perut normal mana bisa memasukkan semua makanan sebanyak ini?

Yang lebih parah lagi, semua makanan Amerika yang saya cicipi benar-benar tidak ada rasa. Kentang goreng tidak ada rasa kentang, telur dadar hambar, kejunya lebih hambar dari mozarella, bahkan kopinya pun hambar. Ternyata kuantitas memang lebih diutamakan daripada kualitas.

Sewaktu profesor saya komentar kalau saya harusnya pergi ke restoran asing, yang menurut dia menyuguhkan makanan yang kadang lebih enak daripada di negara asalnya, saya pun membatin, tidak semua orang punya dompet setebal seorang profesor.

Inilah intinya. Untuk bisa hidup enak dan nyaman di Amerika harus punya uang banyak. Kalau punya uang banyak, bisa makan enak dan bergizi, dan bisa pergi kemana pun kapan pun, tanpa terbatasi oleh jarak. Punya uang sedikit artinya tidak bisa hidup layak. Beda dengan Jenewa. Di sini, punya uang banyak pasti lebih nyaman, tapi tidak punya uang banyak tidak berarti tidak bisa hidup layak.

Makanan sehat dan enak terjangkau oleh kocek pelajar. Mau rekreasi dengan teman dan keluarga tidak perlu membobok tabungan, cukup naik bis atau jalan kaki ke taman kota. Tidak punya mobil pun tidak membatasi seseorang untuk bepergian. Bis menjangkau hampir seluruh pelosok kota. Mau hiking ke gunung tinggal naik kereta 15 menit, langsung sampai.

Seminggu di San Diego membuat saya sadar akan miripnya kota tersebut dengan kota besar di Indonesia. Uang menentukan segalanya, dan kesenjangan antara golongan cukup menyolok mata. Miris rasanya melihat para gelandangan dan pengemis di jalan yang memohon uang kecil untuk makan siang, sedangkan di dalam restoran makanan dihidangkan dengan porsi besar-besaran yang sisanya banyak kemudian berakhir di tong sampah.

Saturday, March 18, 2006

Telepon genggam: telepon yang digenggam atau yang menggenggam?

Mau ngomongin constructed consumption and need, sudah banyak yang koar-koar. Mau ngomongin handphone and trendsetting apa lagi. Tapi bukan berarti saya harus kehabisan kritik tentang telepon genggam.

Catat: saya mengkritik bukan tentang kegunaan telepon genggam. Telepon genggam, seperti layaknya telegram dan telepon, memang sudah membawa komunikasi dan hubungan antar manusia yang terpisahkan oleh jarak to the next level. Bodoh rasanya kalau saya mencoba membangun teori yang menentang persepsi ini. Bukannya mustahil, tapi saya bukan ahli teknologi, filsafat, dan sosiologi, yang memiliki pemahaman mendalam akan hubungan teknologi dan interaksi manusia. Yang mau saya kritik adalah tentang persepsi akan penggunaan telepon genggam.

Dalam semua iklan telepon genggam, seperti layaknya iklan yang bertujuan menjual, keuntungan memiliki telepon genggam digembar-gemborkan dalam berbagai cara dan makna. Satu keuntungan yang ditonjolkan: penghematan waktu, efisiensi, waktu dapat digunakan untuk beberapa kegiatan sekaligus, dan berbagai persepsi modernitas masyarakat berkaitan dengan waktu. Tapi apakah benar?

Satu hari berjumlah 24 jam (let's not go into discussion about time reflectivity or construction of numerical time based on one religion), limitasi waktu ini tidak akan bertambah walaupun punya telepon genggam sepuluh biji. Jadi apa yang bisa dihemat kalau jumlahnya tidak bisa bertambah? Penghematan, kemudian, hanya bisa dilakukan dalam limitasi tersebut. Ini berarti waktu hanya bisa dihemat dengan mengganti penggunaannya.

Bingung? Saya harap tidak.

Contoh gampangnya aja. Katanya (orang lain) punya telepon genggam menghemat waktu dalam pekerjaan dan menciptakan efisiensi. Kata saya: telepon genggam tidak jarang memaksa manusia (secara sadar maupun tidak sadar) untuk memotong waktu pribadinya (waktu santai, waktu bersama keluarga, waktu merenung, dsb) untuk menambah waktu kerja. Jadi tidak ada penghematan waktu, yang ada adalah pengorbanan waktu untuk pekerjaan.

Tidak percaya?

Ingat tidak bagaimana dulu sewaktu telepon genggam belum menjamur? Saya ingat. Tidak pernah saya lihat orang tua saya berbicara tentang pekerjaan setelah mereka pulang kantor. Sekarang, sambil mengendara mobil pun, papa saya kadang sambil berbicara dengan teman sekerjanya tentang berkas ini atau itu. Dulu, pergi jalan-jalan sama papa dalam mobil adalah ajang diskusi saya dengan beliau. Ajang diskusi yang sangat saya hargai, karena saya bisa bicara apa saja tentang apa saja dan siapa saja. Saya bisa bebas mengkritik, dan papa saya akan berusaha memberikan pengertian kepada anak perempuannya yang penuh dengan kemarahan.

Mama juga begitu. Walaupun cuma sekretaris, semenjak punya telepon genggam, ada saja teman sekantornya yang menanyakan apakah bapak A akan masuk kerja besok, atau dimana dia meletakkan berkas A. Padahal berkas tersebut ada di atas meja kerjanya, seperti biasanya.

Bukan saya mengkritik pekerjaan orang tua saya ya. Saat mereka punya telepon genggam, saya sudah punya kehidupan tersendiri, terlepas dari mereka. Jadi saya tidak merasa dirugikan. Ini hanya contoh. Kan lebih baik membicarakan diri sendiri daripada orang lain.

Saya pun kadang merasa waktu pribadi saya diminta semena-mena oleh pekerjaan karena si telepon genggam. Saya ini bukan orang sibuk, cuma seorang asisten kampus yang bekerja paruh waktu. Tapi masih saja terkadang ada yang menelepon saya mengenai pekerjaan. Kesal rasanya ketika waktu merenung saya sambil menikmati pemandangan kota Jenewa dari balik jendela tram atau bis kota dipotong oleh bunyi titt..titt..titt. Lebih kesal lagi ketika pertanyaannya benar-benar tidak berguna.

"Sudah mengirim saya data ini?"
"Lha sudah dong, saya langsung kirim ketika Bapak minta satu jam yang lalu."
"Kok saya belum dapat data B?"
"Ya belum dong, sekarang sudah jam 8 malam dan saya perlu pulang untuk istirahat. Lagipula tenggat waktunya kan akhir minggu ini."
"Oh..ok. Have a nice evening."

Pertanyaan bodoh seperti ini kemudian membuat saya mempertanyakan tuduhan bahwa telepon genggam membuahkan efisiensi. Tidak selamanya! Bukan efisiensi yang didapat, yang ada malah kerancuan akan prioritas.

Kadang orang menelpon untuk hal-hal yang sangat sederhana, just because they can. Otak menjadi malas untuk berpikir, mata malas untuk mencari, atau badan malas untuk berusaha dan bergerak, karena ada yang lain yang bisa ditelpon untuk dimintai tolong. Belum lagi ketika perhatian akan detil pun menjadi lenyap karena kepala beralasan, "ah..kalau ada apa-apa bos atau sekretaris bisa telpon saya di HP."

Inikah efisiensi?

Orang tua saya (terutama mama) selalu menekankan pentingnya detil. Mereka pun selalu menekankan untuk selalu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar. Tuntas atau tidak sama sekali. Jadi tidak ada dalam kamus meninggalkan pekerjaan setengah matang, kecuali kalau memang ada hari esok. Tidak ada dalam kamus meninggalkan meja kerja tanpa membereskan berbagai berkas dalam aturan yang mempermudah saya dalam melanjutkan pekerjaan keesokan harinya.

Lucunya, sering saya mendengar pembicaraan di sekitar saya yang intinya minta maaf karena lupa meninggalkan berkas di meja sebagaimana mustinya. Atau minta tolong teman yang masih ada di kantor untuk menyerahkan map ke sekretaris. Ini sih namanya menganggap gampang segala hal.

Masalah prioritas juga begitu. Kadang kita ditelpon untuk hal-hal yang sangat sepele, seperti contoh saya di atas. Kita pun kadang didesak-desak untuk hal yang bisa dikerjakan setelah makan siang. Waktu makan siang pun terganggu dengan berbagai permintaan atasan atau kebodohan teman kerja, yang bisa disampaikan setelah jam makan siang.

But no, if we can call him/her, why not. Then she/he will know, and we'll save 5 minutes of giving instruction!

Tidak dipikirkan kalau lima menit yang dihemat (walaupun tidak benar-benar perlu) itu mengakibatkan seseorang tergesa-gesa dalam menyantap makan siangnya, dan menyunat waktu istirahatnya.

Mental break is as important as physical break!

Telepon genggam memberikan efisiensi, penghematan waktu? Bukan. Tapi penciptaan masyarakat dengan tingkat stress tinggi, pengorbanan waktu pribadi bagi pekerjaan, dan perbudakan manusia di bawah unnecessary communication demand.

Kalau ada yang workaholic atau capital minded protes, waktu pribadi tidak dikorban tapi digunakan dengan lebih efisien, jawaban saya tetap ada. Waktu merenung dan menikmati lingkungan sekitar memang tidak mengasilkan kapital dan keuntungan bagi perusahaan, tapi memberikan makanan batin untuk kesehatan manusia. Waktu membaca memang tidak menghasilkan kontrak baru dengan partner kerja, tapi memberikan santapan ilmu dan pengetahuan akan dunia dan masalahnya, untuk kemudian bisa lebih mengerti dan tidak mudah untuk dimobilisasi.

Efisiensi seharusnya tidak hanya diukur oleh banyaknya keuntungan material atau saham, tapi juga bagaimana seorang manusia bisa lebih efisien dalam berpikir, bercermin dan bertindak. Sudah saatnya matematika efisiensi memasukkan psychological balance dalam pembukuan, bukan hanya debit dan kredit.

Smart and healthy workers cost you half of the price, as they work faster and better: more efficient.

Sunday, March 05, 2006

Sumbangan dan institusi

Kata sumbangan mungkin adalah salah satu kata paling populer dalam hidup bermasyarakat. Entah di sekolah, RT, kantor atau di jalanan, selalu kita berhadapan dengan "kewajiban" untuk menyumbangkan sedikit uang. Banyaknya musibah bencana alam maupun bencana yang diakibatkan oleh manusia (korupsi, krisis ekonomi, krisis politik) membuat semangat menyumbang kita pun semakin diuji dan patutnya dipertebal.

Tapi entah kenapa saya melihat masyarakat kadang sinis dalam melihat konsep sumbangan. Apakah karena kata sumbangan sering digunakan untuk memberikan kedok "iuran"? Atau karena dianggap sumbangan itu akan disalah gunakan? Atau karena menganggap dirinya belum pantas untuk dituntut untuk menyumbangkan sesuatu? Atau karena sudah pasrah akan keadaan dan merasa bahwa sumbangan itu tidak akan memperbaiki keadaan?

Saya masih ingat diskusi saya dengan beberapa teman dan kerabat tentang pentingnya kebiasaan menyumbang. Jawaban mereka macam-macam, dari yang takut dibohongi sampai ke pernyataan bahwa dirinya belum cukup kaya untuk menyumbang. Satu teman saya bilang, "Pit, sebelum kita memberikan makan orang lain, piring di hadapan kita harus dipenuhi dulu."

Tapi apakah dia sadar kalau sebagai manusia kita cenderung tidak pernah puas. Piring tersebut tidak akan pernah penuh karena cenderung ukurannya akan terus membesar. Kalau piringnya tidak penuh-penuh, kapan dong kita akan menyumbangnya? Kenapa bukan standar kepenuhannya yang direvisi?

Lain lagi halnya ketika saya dimarahi dan dibodoh-bodohi karena selalu berusaha memberikan uang kecil kepada mereka yang meminta. Alasan bahwa mereka hanya malas atau ngibulin saya, saya rasa tidak menganulir kebutuhan mereka akan uang tersebut. Kalau ada yang komentar, harusnya pengemis itu bekerja yang halal, komentar balik saya, apakah memungkinkan untuk mereka bekerja? Lapangan pekerjaan kan semakin sempit.

Memang benar lebih baik memberikan kail daripada ikan, tapi ketika saya belum bisa memberikan kail kepada yang lain, tidak ada salahnya saya memberikan ikan dulu, walaupun itu hanya bisa mengisi perutnya untuk satu hari.

Kalau saya cuma ikut-ikutan mengutip pasal 33 UU Dasar 1945, para anak terlantar tersebut tidak akan menjadi kurang terlantar. Kalau pemerintah tidak bisa diandalkan, kenapa kita tidak membantu sebisa kita? Lagipula, pemerintah kita kadang terlalu meremehkan kemampuan rakyatnya sendiri. Kalau masalah sumbangan, tangannya selalu menengadah ke negara kaya, dengan mengekspos kemiskinan negrinya sendiri. Kenapa sumbangan tidak diinstitusionalisasikan? Maksudnya, kenapa sumbangan tidak dijadikan suatu kebiasaan dalam bernegara? Toh selama ini sumbangan sudah menjadi kebiasaan dalam bermasyarakat.

Menurut saya, apabila sumbangan memiliki institusi yang jelas (institusi dalam hal ini tidak hanya berarti kantor dan para ahli buku, tapi lebih ke kebiasaan, peraturan, dan implementasi), kesinisan akan sumbangan sosial saya rasa bisa terobati.

Kembali saya ambil contoh dengan apa yang saya alami di sini.

Di sini, banyak sekali LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan. Dari masalah anak sampai masalah kanker. Setiap LSM ini tentunya sangat mengandalkan sumbangan dari masyarakat untuk biaya operasional mereka. Caranya? Mereka mengirimkan formulir sumbangan sukarela (benar-benar sukarela) ke beberapa orang secara merata. Setiap mereka yang menerima bisa mengisi bisa tidak, jumlahnya pun terserah. Formulir dan uang tersebut cukup dikirim lewat kantor pos, atau lewat internet bagi mereka yang memiliki internet-banking. Gampang.

Tapi bukan masalah gampangnya menyumbang yang sangat menarik (di Indonesia menyumbang bisa kapan dan di mana saja juga), tapi tentang kontinuitas dan kepercayaan dalam menyumbang. Bayangkan, saya tidak pernah merasa ragu atau sinis ketika menuliskan angka dalam formulir sumbangan, karena saya tahu bahwa LSM tersebut terpercaya.

Tidak ragu karena LSM itu memberikan laporan akan aktivitas mereka di buletin yang mereka kirim beberapa bulan sekali. Saya pun jadi tahu uang sumbangan itu dipakai untuk apa saja. Terpercaya, karena LSM tersebut adalah anggota institusi publik Swiss dalam pengumpulan sumbangan, ZEWO.

Kontinuitas menyumbang pun terjaga. Setelah menyumbang sekali kepada suatu LSM, LSM ini akan terus mengirimkan formulir sumbangan dan laporan program setiap beberapa bulan sekali. Tidak hanya untuk menjaga hubungan baik dengan donor, tapi juga untuk selalu mengingatkan kalau masalah sosial yang sedang mereka usahakan untuk perbaiki tidak akan selesai hanya dalam satu tahun atau satu sumbangan. Saya pun jadi banyak tahu tentang berbagai masalah sosial di berbagai sudut dunia, dan tergerak untuk mendukung berbagai kegiatan LSM secara berkelanjutan.

Pembangunan institusi yang jelas dan terpercaya seperti ini akan menghapus kecurigaan para calon donor. Lagipula, kepastian akan kucuran dana secara kontinu akan memberikan nafas kehidupan bagi para LSM di Indonesia. Para LSM yang idealis tersebut tidak akan mati karena kehabisan dana, dan mungkin suatu saat idealismenya akan tercapai.

Keberadaan LSM juga kemudian bisa membangun suatu pondasi dana untuk proyek kemanusiaan. Jalur sumbangan bagi yang membutuhkan pun semakin kuat dan beragam. Jadi sumbangan tidak hanya akan mengucur ketika ada musibah besar, dan menghilang ketika musibah tersebut tidak lagi menjadi topik yang mengisi halaman pertama koran.

Satu yang sering dilupakan, salah satu musibah kemanusiaan yang paling besar adalah kemiskinan.

Dan di sini, sumbangan sudah menjadi bagian dari hidup bernegara. Program sosial di sini eksis, walaupun tidak sempurna. Tapi bukan itu yang mau saya tekankan, tapi bagaimana kebijakan pemerintah berhasil "merayu" rakyatnya untuk menjadi lebih dermawan dan membantunya (secara tidak langsung) dalam memelihara rakyatnya.

Salah satu kebijakan pemerintah di sini adalah memperhitungkan sumbangan dalam matematika pajak penghasilan. Setiap sumbangan selalu dipertimbangkan untuk mendapatkan keringanan atau potongan pajak. Dengan tingginya pajak di negara ini (sekitar 20% dari penghasilan), potongan pajak sangat dicintai. Suatu bentuk penghargaan yang sederhana, tapi efektif.

Untuk ini, kembali, institusi berperan penting. LSM, yang sangat teroganisir, wajib memberikan kesaksian tertulis akan jumlah sumbangan yang diterima dari setiap individu. Dengan begitu, kemungkinan penggelapan pajak pun dapat diminimalisasi.

Terlebih lagi, dengan banyaknya sumbangan publik untuk masalah sosial, beban pemerintah pun harusnya menjadi lebih ringan. Pengalihan dana pembangunan tidak berarti mengurangi dana secara konkrit untuk program sosial bagi mereka yang membutuhkan. Jadi ketika pemerintah tidak mampu mengucurkan dana yang sama dengan tahun sebelumnya untuk penelitian penyakit kanker, tidak berarti penelitian terhenti.

Aktifitas menyumbang memberikan hasil ganda. Tidak hanya kita mampu melakukan sesuatu untuk yang lain, kita pun diberi penghargaan dan pengakuan. Tidak perlu award ini atau itu, setiap sumbangan berarti dan saya pun merasa dihargai, terlepas dari kecilnya uang yang mampu saya sisihkan.

Terserah yang lain mau bilang apa, saya tidak puas hanya turut prihatin dan menangis. Sumbangan sudah seharusnya menjadi suatu tradisi, sebuah bentuk solidaritas, bukan hanya karena kasihan.