<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Friday, December 22, 2006

Masih tentang Paris

Menyambung cerita saya minggu lalu, saya masih akan curhat tentang kesan saya akan Paris. Mumpung masih segar dalam ingatan. :)

Restoran dan budaya gastronomi

Seperti yang saya bilang, di Paris restoran dan kafe bertebaran di mana-mana. Saling bersebelahan dan berdempetan di jalanan kecil. Serunya, jenis makanan, harga, dan pelayanan yang ditawarkan sangat beraneka ragam.

Jadilah saya berwisata gastronomi kecil-kecilan.

Baru sampai langsung bersantap di restoran yakitori. Kecil, semi fast-food, dan cukup terjangkau. Yakitori itu sate-nya Jepang. Kalau di Indonesia biasanya sate hanya untuk daging sapi, kambing dan ayam, untuk yakitori bisa macam-macam. Saya akhirnya mencicipi sate jamur, sate sayap ayam, sate daging bebek, sate daging sapi dan keju, dan sate bakso ayam. Rasanya...ya mirip-mirip sate kecap. (Bumbu yakitori hanya kecap, tidak pakai bumbu kacang seperti sate kambing)

Untuk santap malam, saya mencicipi restoran Italia di Paris. Chez Alexandro. Restoran ini terletak di pusat kota, di jalan kecil yang penuh dengan berbagai restoran dan pub. Suasana di lingkungannya sangat ramai dan meriah! Manusia yang berjubel ditambah dengan hiasan luar restoran dengan lampu dan gaya macam-macam membuat saya mengerti kenapa "kehidupan malam" di Paris sangat terkenal.

Chez Alexandro benar-benar tipikal restoran Paris. Sempit, penuh dengan ornamen personal yang menua, familiar dan hangat. Kursi dan mejanya penuh dengan guratan umur, terkesan usang dan antik. Setiap sudut ruangan berusaha digunakan semaksimal mungkin, membuat meja dan kursi diatur saling berdempetan, dan sudut sempit di bawah tangga masih digunakan untuk satu meja. Tidak jarang antar konsumer bisa beradu sikut. Untuk duduk di atau keluar dari kursi dekat tembok, meja harus digeret-geret dahulu untuk memberikan ruangan gerak dan yang lain harus berdiri.

Acara makan jadi ajang latihan mengendalikan organ tubuh. Sikut harus menempel ke sisi badan, kaki harus diatur sedemikian rupa untuk tidak menendang kaki teman yang duduk di depan saya, mengambil minuman atau garam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati jangan sampai menyenggol botol anggur. Saya merasa sesak.

Dalam hati saya ngedumel, pantas saja orang Perancis senang makan malam tête-à-tête (arti literal: kepala beradu kepala, maksudnya: makan malam romantis dengan candle light dinner, dimana sang pasangan bergenggaman tangan dan memelototi si pasangan dengan lekat ketika kepala hampir beradu), wong memang mejanya kecil banget, cukup mencondongkan badan sedikit ke depan, kepala sudah beradu dengan kepala sang pacar.

Satu hal yang sangat berbeda dengan Jenewa adalah fleksibelnya waktu makan di Paris. Ada pelanggan yang datang jam 11 malam, dan masih dilayani. Kalau di Jenewa, sudah diusir dengan halus. Di Jenewa jam makan sangat teratur dan restoran yang buka setiap saat sangat jarang, paling restoran siap saji atau restoran Asia. Di Jenewa, jangan harap bisa santap siang setelah jam 2 siang dan makan malam setelah jam 10 malam di restoran. Di Paris, kita bisa makan siang sampai jam 4 sore dan makan malam sampai jam 11.30 malam. Restoran tetap akan melayani. Satu hal yang sangat saya hargai.

Wisata gastronomi saya pun berlanjut dari hari ke hari selama saya di sana. Selama 4 hari kunjungan saya di sana, selain masakan Jepang dan Italia, saya sempat mencicipi masakan Libanon, Cina, India, dan Yunani. Lucunya, tidak sekali pun kami ke restoran Perancis. Lagipula, seperti Xaf bilang, saya kemungkinan besar tidak akan suka dengan masakan Perancis yang penuh dengan saus krim.

Satu lagi, saya sempet mencicipi crêpe dengan saus Nutella. Enak banget! Crêpe itu makanan ringan yang cukup populer di Paris, semacam serabi tipis. Kalau disamakan dengan Indonesia mungkin semacam gorengan. Crêperie ada di berbagai sudut kota, dan kita bisa dengan santai menikmati crêpe sambil jalan.

Untuk yang ingin mencicipi coklat panas, harus mampir ke Angelina. Saya sudah sering mencicipi segelas coklat panas di Swiss, dan saya menurut saya segelas coklat panas di Angelina benar-benar jauh lebih nikmat! Coklat panas yang sangat kental, dibuat dari coklat yang dilelehkan, disajikan dengan krim natural. Nikmat! Tapi sangat mengenyangkan. Saya bahkan tidak bisa menghabiskan satu gelas. Apalagi ketika si coklat panas ditemani dengan kue coklat tiga lapis... :)

Paris, seni, dan museum

Saya ini tidak mengerti seni sama sekali, tapi dari dulu kepengen banget bisa masuk ke Musée Louvre. Gara-gara si Da Vinci Code sebenarnya. :)

Sampai di Louvre, saya tercengang. Besar banget!

Gedungnya sendiri bisa dibilang sebagai karya seni. Piramida pintu masuk sungguh menakjubkan, apalagi di malam hari. Masuk ke dalam, pengunjung dikumpulkan ke ruangan penerimaan, Napoleon Hall, pas di bawah piramida. Dari situ, kita bisa milih mau ke ruangan galeri yang mana.

Galeri dibagi ke dalam tiga bagian besar:
1. Sayap Richelieu, dengan koleksinya:
Lukisan perancis abad 14-17
Lukisan Jerman, Flemish dan Belanda serta Northern Schools
Abad Pertengahan, Renaissance, dan Seni dekoratif abada 17 dan 19
Apartemen Napoleon III
Patung karya seniman Perancis
Mesopotami dan Iran kuno
Seni Islam

2. Sayap Sully, dengan koleksinya:
Lukisan perancis abad 17, 18 dan 19
Gambar dan sketsa pastel abad 17, 18 dan 19
Seni dekoratif abad 17 dan 18
Yunani, Etruscan, dan Romawi kuno
Mesir kuno (Pharao)
Iran, Arabia dan Levant kuno
Sejarah Louvre dan jaman pertengahan Louvre

3. Sayap Denon, dengan koleksinya:
Lukisan seniman Itali dan Spanyol
Lukisan seniman perancis abad 19
Galery Apollo dan perhiasan kerajaan
Patung karya seniman Itali, Spanyol dan Eropa Utara
Yunani, Etruscan, dan Romawi kuno
Roman Egypt, Coptic Egypt
Seni Afrika, Asia, Oceania dan Amerika

Kebayang dong banyaknya karya seni yang harus dikagumi. Sialnya, kami datang agak terlambat dan hanya punya waktu sekitar 4 jam untuk mengunjungi Louvre. Paling tidak saya bisa mengunjungi bagian mesir kuno, Mesopotamia, seni Islam, dan tentunya bagian lukisan seniman Itali dimana terdapat lukisan tenar Monalisa.

Tapi memang tidak akan bisa mengunjungi Louvre hanya dalam satu hari. Paling tidak diperlukan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar bisa menghayati karya seni yang terkumpul di salah satu museum terbesar di dunia itu.

Selain indah dan uniknya karya seni yang terpampang di hampir setiap sudut ruangan, saya juga sangat tertarik akan pengorganisasian museum tersebut.

Louvre sangat ramai! Dari yang turis biasa, kelompok turis, kelompok pelajar dengan guru sejarahnya masing-masing, dan pelajar seni yang membuat sketsa di pojokan museum. Seperti yang saya bilang ke Xaf, Louvre adalah museum yang paling bising yang pernah saya kunjungi.

Yang paling menarik bagi saya adalah kelompok pelajar yang sedang dalam kunjungan museum. Lucu sekali melihat kelompok anak TK dengan gurunya masing-masing mencoba untuk menghargai karya seni dan mendengarkan penjelasan gurunya. Sistem pintar yang diciptakan oleh museum adalah sebuah buku penuh dengan gambar objek penting atau menarik untuk anak-anak kecil tersebut yang dikalungkan ke leher setiap anak. Berhubung mereka mungkin tidak akan tertarik akan unik dan antiknya suatu karya seni, mereka dipancing untuk konsentrasi dengan tugas menemukan obyek-obyek tertentu. Jadi di setiap ruangan, setiap anak harus berusaha untuk menemukan obyek tertentu, entah patung, lukisan, atau obyek peralatan rumah tangga. Kemudian sang guru akan menjelaskan pentingnya obyek tersebut.

Untuk kelompok pelajar remaja, biasanya para guru akan memilih obyek penting dan kemudian menerangkan dengan detil. Di mana-mana akan terlihat segerombolan pelajar duduk di lantai mendengarkan penjelasan guru masing-masing akan obyek di depan mereka. Ramai sekali.

Satu hal penting, berhubung karya seni itu tidak ternilai dan umurnya sudah berabad-abad, ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para pengunjung. Pertama, tidak boleh menyentuh karya seni, termasuk patung dan obyek seni yang terbuat dari batu sekalipun.

Di samping berbagai obyek ada tulisan

"do not touch works of art" yang di beberapa bagian terhapus.

Penjelasan pihak museum:

"Works of art are unique and fragile. They have survived centuries and must be preserved for future generations. Touching, even lightly, a painting, object, sculpture or piece of furniture causes damage. Especially when this gesture is repeated thousands of times. Help us protect our common heritage."

Kedua, sangat tidak dianjurkan untuk memotret dengan flash. Di beberapa galeri lukisan, memotret bahkan dilarang sama sekali. Jadi sewaktu seorang turis meminta saya untuk memotret dia dan temannya di salah satu galeri lukisan saya pun dengan agak ketus menolak:

"It is forbidden to take pictures here"

Si turis kaget dan menjawab, "I think we just cannot use the flash."

Saya masih keukeuh, "Nope, everything is forbidden!" Dan ngeloyor meninggalkan si turis terbengong-bengong.

Ironisnya, lima langkah dari tempat si turis mejeng sama temannya, ada banner besar yang memperingatkan kalau photo dan video dilarang di galeri.

Xaf cuma senyum-senyum simpul melihat sikap tanpa kompromi saya akan peraturan, dan komentar, "Are you from the police?"

Jadi, kalau saya boleh menyarankan, ketika masuk museum atau gedung-gedung penting lainnya, perhatikan peraturan. Flash kamera bisa merusak karya seni yang sudah sangat tua. Lagipula dengan pengaturan cahaya di galeri, poto yang dihasilkan tidak akan memuaskan! Lebih baik membeli buku khusus yang menampilkan koleksi tersebut. Kita pun bisa menikmati keindahan karya seni tersebut tanpa harus ikut andil merusak warisan bersama baik dengan sengaja atau tidak.

Friday, December 15, 2006

Pipit di Paris


Akhirnya..akhirnya, bisa juga saya berkunjung ke kota Paris di negara tetangga. Sudah hampir enam tahun, baru akhir minggu kemarin saya menjejakkan kaki di kota cahaya itu.

Diawali dengan deg-degan, memeriksa visa di paspor setiap 5 menit. Nunggu di antrian loket imigrasi sambil ngedumel melihat kenyataan abadi dimana Xaf cuma perlu 2 detik (serius...petugas imigrasi cuma lihat sampul paspor merah langsung ngangguk) sedangkan saya terhenti di depan loket, membuat laju antrian terhambat, ketika petugas imigrasi memeriksa paspor dan visa dengan amat teliti.

Akhirnya..akhirnya, kesampean juga naik TGV. Dari dulu saya sangat ingin mencicipi pengalaman naik kereta cepat macam ini.

Excusez-moi, excusez-moi, sampai juga ke tempat duduk.

Seperti layaknya kereta api di Indonesia, di TGV karcis menentukan nomor tempat duduk. Tidak seperti di CFF, kereta api Swiss. Karcis CFF (antar kota di dalam Swiss) tidak ada jam dan nomor tempat duduk, jadi kita bisa naik kereta jam berapa pun dan bisa duduk di mana saja, sesuai dengan kelas tiket tentunya.

Satu jam pertama perjalanan si TGV belum tancap gas, masih melaju seperti kecepatan kereta normal lainnya. Setelah sampai Belle Garde, barulah kereta cepat ini memberikan bukti bahwa dia bisa melaju sampai 220 km/jam! Perjalanan dari Jenewa ke Paris pun cuma memakan waktu 3 setengah jam, mirip-mirip dari Jakarta-Bandung.

Di setiap stopan kereta, masinis sibuk berkoar-koar mengingatkan kalau tujuan kereta adalah langsung ke Paris, Gare de Lyon (Stasiun Lyon). Si pipit yang setengah budek dan kurang berpengalaman dalam hal perkeretaan di Eropa dengan polosnya nyeletuk, "Ahh...so after Paris this train will go to Lyon. I heard about the centralisation of train in France." (Lyon adalah nama kota di Perancis) Xaf sambil ketawa kecil mengelus kepala istrinya, "no..it's gare de lyon, not lyon".

*malu*

Sampai-sampai di Paris, satu perbedaan menyolok antara Jenewa dan Paris.

Besarnya!

Paris jauh lebih besar dari Jenewa, lebih banyak orang, lebih banyak kemacetan lalu lintas, tata kota lebih megah dengan bangunan dan monumen à la romawi bertebaran di mana-mana, banyak paven road yang sempit dihiasi dengan lampu-lampu jalan tinggi langsing yang membuat malam terang dan romantis, banyak jalan sempit yang semakin dipersempit dengan deretan mobil yang diparkir di kedua sisi jalan, dan lebih berpolusi!

Koper diparkir di kamar hotel, kamera dikalungkan di leher, payung dan botol air minum sudah dipak dengan manis di tas ransel, kaki pun siap menelusuri rute turistik dan menikmati pemandangan kota di Paris.

Paris dan belanja

Sampai di Paris hari Sabtu, dua minggu menjelang Natal membuat siapapun bisa mengerti kenapa Paris sering disanjung sebagai salah satu pusat belanja dunia.

Jalanan Paris dipenuhi oleh deretan toko dan butik. Tidak hanya di jalan besarnya saja, bahkan di jalan kecil yang membuat orang non-Paris ragu untuk menapakkan langkah. Inilah uniknya kota Paris, banyak jalan tikus yang menyembunyikan kejutan menarik. Butik dengan desain toko yang sangat menarik, etalase toko dihias dengan berbagai gaya dan dihiasi dengan tudung berbagai bentuk dan warna, membuat acara lihat-lihat menjadi sangat menyenangkan dan kultural. Produk yang dijual sangat beraneka ragam dan orisinil dengan harga yang terjangkau oleh pelajar sekali pun.

Salahnya saya tiba di hari Sabtu. Jalanan penuh dengan mereka yang berbelanja, baik sebagai bagian dari tradisi turis atau mencari kado natal. Saya pun tidak bisa menikmati berbagai etalase antik sangking banyaknya manusia. Setiap tikungan selalu terjadi kemacetan arus manusia yang disebabkan dengan rampingnya trotoar di Paris. Untuk pasangan yang suka bergandengan tangan, harap siap-siap untuk melepas gandengan karena harus memberikan jalan bagi mereka yang di depan atau di belakang.

Keunikan lain Paris adalah imutnya para butik (kecuali untuk butik merek-merek mahal seperti Armani atau Prada). Ini mungkin yang membuat para pemilik atau pengurus butik untuk sangat memperhatikan desain dan pengaturan produk di dalam butik. Pengaturan produk dan ruang di dalam butik tak jarang menjadi bagian dari desain interior, yang tidak hanya berhasil memanfaatkan ruang tapi juga menonjolkan produk unggulan. Tapi kadang saya merasa seperti gajah di tengah-tengah toko porselen, karena jarak antara produk display kadang sangat sempit bagi para konsumer. Terlepas dari minimnya ruang gerak, permainan warna dan ruang berhasil membuat "tumpukan" menjadi berseni. Kreatif. Saya tidak pernah merasa sumpek di butik sekecil apapun, yang ada hanyalah kekaguman akan kreatifitas manusia.

Untuk masalah toko, ada dua macam toko yang mendominasi wajah kota paris: kafe, restoran, atau toko roti dan kue; dan toko buku atau perusahaan percetakan. Berbeda sekali dengan Jenewa yang didominasi oleh apotek dan bank. Ini, menurut saya, menunjukkan ciri masyarakatnya yang terkenal dengan budaya gastronomi dan sastra.

Bagi manusia pecinta buku seperti saya, sungguh kejutan yang menyenangkan ketika tiba-tiba bertemu sebuah toko buku atau percetakan di tengah-tengah pertualangan di jalan-jalan tikus kota. Tidak jarang toko buku memiliki spesialisasi sendiri. Antik, bekas, sastra, seni (ini masih bisa dibagi-bagi lagi), karya pengarang tertentu, pegunungan Alpen, komik, dsb.

Pemandangan dari balik etalase sebuah toko buku antik yang tidak akan saya lupakan: sebuah ruangan sempit dengan buku antik berlapiskan kulit yang berganti warna memenuhi hampir setiap inci dinding toko, tumpukan buku yang tersusun rapi yang membentuk pilar mengikuti anak tangga, di setiap sudut dan tengah-tengah ruangan, di balik pintu sebuah meja kecil terdapatlah si penjaga toko, bapak setengah baya berkaca mata, menundukkan kepala membaca sebuah buku yang menguning. Si Bapak seperti tidak perduli akan hampanya pengunjung, menikmati buku sebagaimana layaknya dan tenggelam di dalam dimensi sastra yang hening namun tidak pernah membosankan.

Pertanyaan narsis: Belanja apa aja di Paris, kota pusat mode dan belanja? (dengan nada mupeng)
Jawaban: Buku :)

bersambung

Monday, December 04, 2006

To be or not to be

One miserable person condemned me being an Asian who discarded the Asianness just because I can integrate myself in European society. With outmost arrogance and narrow mindedness polished with identity articulation, she claimed to be a superior Asian than me, a shallow Asian leaving in Europe, because she thinks to be prouder of her region as she chooses not to live elsewhere. For this self-proclaimed-true-Asian, a person like me has mental problem of identity denial in embracing European norms and enjoying my life in Europe.

To cap it all, this "supposedly-intelectual" conclusion was drawn after 15 minutes talk during the rush to bus ride!

Complete rubbish! I am not threatened by European norms, belief, or culture like she is, so who has the identity crisis?

Is there any such thing as sanctity of identity? Is there any essentials of one identity? The one that guide them all, the one that rules them all? Is identity inevitably in clash with one another?

A societal inferiority complex, is, ironically strengthened by its own members. A premature and immature defensive mode, preparing oneself to defend a superiority discourse by the "other", is based, first of all, by a perception on the others' belief of superior and inferior relation. Doesn't this "I defend myself first, before the other attack me" strategy remind you of preventive intervention?

To move from this packaging-oriented abstraction, I give you other comments that doubt my identity. It is from my own parents, who are very concern seeing how much I love my life in Geneva. For them, even a story of how good the infrastructure in Geneva was taken as an offense to their own pride. They suddenly felt the need to scold me and to "remind" me of the grandeur part of Indonesia. Being a woman and having a civic discussion with others made my mother complain on how I have become "European" and less "Indonesian". When I reminded her that I still, kiss my parents hands, respectful to elders and neighbors, visit and talk to my old friends, help my mother to clean the house and to do laundry by hands, serve my dad and family, go to traditional market with sendal jepit as I always used to, she was dumbfounded and couldn't really sure of the "Europeanness" label that she just gave me. Even a simple moving away from expected women-theme discussion and articulation of idea has potentially invited a suspicion of identity-transformation.

I am not psychologist and will not pretend to be one, but I have a shrewd idea about this reaction. It is, probably, my too-well-integration in a new society that disconserted them. To enjoy my life in this society probably perceived as a regret or rejection of my life back home. To love one oblige hating the other?

Maybe people wish to hear my tearful story of how I miss home and how I want to go back home as a prove of my identity and love for Indonesia. How sad! I refuse to enter this zero-sum-logic. I refuse to contemplate on how good life back home and how sad my present and future life must be. I choose to love Geneva and to make it my second home. I choose to enjoy both life and will be enriched by it.

I do feel sorry for those who cannot understand what having two homes means.