<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Thursday, March 31, 2005

Cerita tentang pohon

Saya cinta pohon, dari kecil, dari sebelom merhatiin musim semi. Mungkin karena orang tua saya, terutama papa, seneng sama tanaman dan bunga. Rumah saya yang sederhana dikelilingi halaman yang cukup luas dan rimbun. Waktu kecil, saya selalu main di halaman dan selalu berangan2 bisa manjat pohon. Dan waktu remaja, papa memutuskan untuk memperlebar jendela kamar saya menjadi hampir seluruh dinding. Jadi setiap pagi, saya selalu disambut harum pagi dari taman di samping kamar. Hidung saya dimanjakan oleh harum daun dibasahi embun dan mata saya langsung dipenuhi oleh warna hijau yang menyejukkan. Tidak mengherankan kalau hijau adalah warna kesukaan saya. Warna yang selalu saya liat pertama kali ketika membuka jendela kamar. Warna yang mengingatkan saya akan kenangan masa kecil bersama teman2. Warna yang melambangkan petualangan dan persahabatan.

Setiap liburan panjang, kami sekeluarga biasanya pergi ke rumah nenek. Nenek saya petani dan tinggal di kampung. Di belakang rumah, sawah terbentang luas, empang dengan air keruh penuh dengan ikan untuk dipancing, dan berbagai pohon dan rerumputan liar mengelilingi pohon. Sejauh mata memandang, warna hijau mendominasi. It's absolutely one of my favorite places. Liburan di tempat nenek membuat saya merasakan bagaimana hidup lebih dekat dengan alam. Nenek pun mengajarkan tentang nilai pohon dan tumbuhan. Kalo di rumah, pohon dan tumbuhan hanya sekedar untuk keindahan dan menyejukkan rumah, untuk nenek, pohon itu kehidupan. Sawah dan pohon memberikan sumber kehidupan buat nenek. Untuk membuat kami lebih mengerti, nenek kemudian menanam pohon cengkeh untuk setiap cucunya. Setiap cucunya pulang kampung, nenek akan memberikan laporan tentang panen setiap pohon cengkeh, dan hasil panen nenek berikan kepada pemilik pohon. Setiap mama nelpon nenek ke kampung, saya selalu pengen ngomong ke nenek, untuk menanyakan kabar pohon cengkeh saya. Dan ketika nenek mengabarkan kalau pohon cengkeh saya sakit dan harus ditebang, saya merasa kehilangan sumber penghasilan saya! Nenek berhasil. Saya jadi mengerti apa itu uang, penghasilan, dan pentingnya alam buat kehidupan. Dan saya baru berumur 12 tahun!

To be continued

Musim semi

Akhirnya musim semi tiba, setelah 3 bulan lebih berdingin2 ria dan menikmati salju dari balik jendela. Temperatur sudah mulai hangat, dan nggak ada lagi yang namanya suhu di bawah nol derajat. Dan semua peralatan musim dingin sudah mulai masuk kotak, menunggu musim dingin berikutnya.

Kalo ditanya musim apa yang paling saya sukai, terus terang saya nggak tahu. Setiap musim punya sisi yang saya suka atau benci. Musim dingin dengan suhu yang dinginnya amit2 tetap menjanjikan keindahan salju yang putih bersih. Selimut salju tidak hanya 'membersihkan' kota namun juga bisa menyejukkan hati. Ditambah, debu tidak bertebangan dimana2, jadi nggak perlu nyapu tiap hari. Musim semi menghadirkan kehangatan setelah siksaan musim dingin. Langit pun mulai cerah dan dihiasi oleh matahari. The first sunny day always create smiles on people's faces. . Tapi setiap hari musti siap2 bawa payung, hujan hampir tiap hari dan angin dingin tetap berhembus. Dari balik jendela hari terlihat terang dan hangat, keluar dari rumah, tubuh disambut oleh angin dingin yang bikin merinding. Musim panas, musim yang paling digemari oleh kebanyakan orang. Matahari bersinar terik, hari pun menjadi lebih panjang karena matahari bersinar dari jam 6 pagi sampai 9 malam. Taman2 dipenuhi oleh orang2 yang berjemur, what I call as human barbeque, menikmati panasnya matahari yang sangat langka di benua ini. Taman juga dibanjiri oleh mereka mengisi waktu dengan keluarga atau teman, piknik, main bola, baca buku sambil berbaring di rumput yang hijau, kejar2an dengan anjing kesayangan, atau jalan2 menyusuri taman. Dan untuk para pria, musim panas memamerkan pemandangan indahnya tubuh perempuan yang ditutupi oleh bikini top, mini skirt, or see through pants and tops. Musim gugur, walau dipenuhi dengan angin dingin dan hujan, bisa dipandang sebagai musim yang romantis. Daun2 berubah menjadi coklat keemasan, berguguran diterpa angin, menghiasi taman dan pinggir2 jalan, dan menari2 bersama angin. Duduk di bangku taman, di bawah pohon, menikmati sinar matahari yang hangat dari sela2 daun2 yang keemasan, bisa membuat siapa pun menjadi penyair dadakan.

Tapi kalo dipaksa ngasih jawaban, mungkin jawaban saya adalah musim semi. Kenapa musim semi?

Menurut saya musim semi bisa dipandang sebagai awal dari 'life circle'. Waktu musim dingin tumbuhan dan hewan istirahat dan berhibernasi. Tapi ketika musim semi tiba, mereka bangun dari tidur musim semi, persis seperti kartun2 walt disney, dan warna2 mulai bermunculan. Pohon2 yang gundul mulai menumbuhkan tunas daun, dan di sekeliling mereka, bunga2 liar (yang ditaman oleh tukang kebun kota) mulai bermunculan. Kelopak bunga berbagai ukuran dengan berbagai warna mengiasi hampir setiap sudut kota.

Pernah merhatiin pucuk daun di batang2 pohon? Indah..dan mengharukan. Saya baru mulai menyaksikan dan memerhatikan phenomena ini di sini. Waktu di Indonesia, karena tidak ada musim gugur dan musim dingin, pohon tidak pernah kehilangan daun dan jadi gundul seperti di sini. Jadi pucuk daun pun tumbuh tanpa kelihatan.

Lain dengan di sini. Sekarang dimana2 saya melihat daun2 kecil bermunculan di dahan2 pepohonan di sepanjang jalan dan taman. Saya bisa menyadari 'bangunnya' pohon, melihat bagaimana pohon di depan dan di belakang appartemen saya sedikit demi sedikit dipenuhi dengan daun. Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada. Saya jadi sadar apa itu yang namanya lingkaran kehidupan, saya dapat pelajaran dari alam. Pohon bikin saya sadar bahwa hidup itu seperti roda. Pernyataan klasik memang, tapi dari dulu saya biasanya cuman angguk2 aja, tanpa benar2 memasukkan ke hati. Tapi melihat pohon yang daunnya berguguran, kemudian berselimutkan salju dan menghadapi musim dingin, kemudian menumbuhkan kembali pucuk2 daun, dan akhirnya akan gugur kembali, saya jadi sadar bukan apa itu yang dinamakan hidup seperti roda, tapi bagaimana menghadapi hidup yang seperti roda. Pohon dan musim semi memberikan saya pelajaran yang berharga, jauh lebih berharga dari Ilmu Pengetahuan Alam atau Biologi yang dicekokin oleh guru2 jaman sekolah dulu. Pohon memberikan contoh untuk selalu tegar dan bangkit kembali setelah masa2 sulit, untuk selalu siap melepaskan apa yang hidup telah berikan, namun tetap siap untuk meraih kembali semua yang telah saya lepaskan.

Spring is about hope.

Friday, March 25, 2005

Blogging and language

This is my third tries in blogging. It seems that my old writings were either dry or just nonsense, a completely boring reading. I think writing is a very difficult task. I always have problems whenever I have to write papers for classes, but I thought a non-academic writing should be easier, at least less stresful. But it is not the case!

I have been wondering why I cannot put my thoughts on a nice writing. It is true that my life does not full of wonder and adventure, but some of my favorite books and reading are about daily life, so a daily life story is not doomed to be boring. I believe a good story is not about the content, but rather in the way it is told. And it is not that I don't like telling stories, in the contrary, I LOVE telling stories, too much sometimes. I love talking with my friends about anything, and never running out of stories. But when I finally encourage myself to write something done, my mind went blank. It usually took me minutes to think what should I write, will it be interesting, how should I start, and which language should I use.

Language, I believe, is both beauty and beast in writing. It is beauty as through language one can express oneself fully, complete with emotion and nuances. It is beast as words have a life of its own, it has many interpretation, and different interpretation can completely kill the story it tries to tell.

In my case, language has been a barrier in writing. I am Indonesian and my mother language is Bahasa Indonesia, so one would expect it is easy for me to write story in my mother language. I thought so too, and I try to write in Bahasa Indonesia. But it turns out to be very difficult for me to write something interesting, or to put it better, to write something in an interesting way.

I think living and studying abroad have influenced my lingustic reflection. I am not english speaker but I have been forced to write and read in english for the past 4 years in university. I am not french speaker but I have been forced to speak french in daily life and understand others in french. Thus, my mind has been trained to process in either english or french. I feel that my mother language is starting to slip away. I always need to think longer whenever I have to talk Bahasa Indonesia to my family and friends. It takes me longer to write email in Indonesian than English to friends. I lost my language 'touch'. I cannot recall many of poetic words and playful words arrangement in Indonesian. Words do not come to me naturally anymore. I need to think hard to find suitable words in Indonesian to include my emotion and understanding in describing and commenting phenomenon. It is a painful task, I assure you, as Bahasa Indonesia is nuance rich and context driven language.

So why not writing in English?

One reason is that I think my english is far from perfect to allow me to write in a comprehensive and satisfying manner. I lack the language 'touch' in finding words to channel my feeling, perception and apprehension. Second, I'd like to keep my brain able to reflect in Bahasa Indonesia. Not only that I want to stay away from label 'sok bule', but also to challenge myself to re-gain the Indonesian 'touch'. Therefore, I'll continue my apprentice and write in Bahasa Indonesia. In my case, blogging is not mainly about showing my identity, thoughts, and comments; it is actually a journey of sustaining my identity and a reminder of who I am and what I have become.

Thursday, March 24, 2005

International Best Seller

Habis baca Da Vinci Code, saya jadi ketagihan baca novel sejenis, padahal buku dan artikel tugas kuliah numpuk berdebu. Akhirnya iseng pengen beli novel baru. Tapi bingung musti beli yang mana, banyak banget!! Dan berhubung udah lama nggak berhubungan dengan dunia novel jadi nggak kenal dengan judul dan pengarang baru.

Ya sudah nekat, milih secara random. Random dalam arti mikir 3-4 kali dan bolak balik di depan rak buku. Mungkin yang jaga toko buku heran ngeliat saya yang komat-kamit sambil milih2 buku. Abisnya di sini buku mahal banget, paling murah 16 CHF, dijadiin rupiah sekitar 100 ribu lebih. Jadi paling enggak musti yakin kalo buku yang dibeli kagak bungkus kacang.

Hemm..udah 30 menit lebih bolak balik, kaki udah pegel dan udah mulai keringetan. Apa musti beli buku karangan Dan Brown lagi? Nanti kayak Terry Pratchett lagi. Saya mulai baca buku Terry Pratchett iseng2, tapi malah ketagihan dan jadi mono-maniac. Nggak deh, kali ini mo coba lebih adventurous (believe it or not, for me trying something new can be considered as adventurous), mo beli buku dari pengarang yang sama sekali nggak dikenal. Tapi kalo entar bukunya kagak bagus gimana? Sama aja buang uang percuma!

Terus gimana bisa tahu kalo buku bagus ato enggak? Masak mo ngendon baca seharian di toko buku (walaupun bisa, tokonya asik banget). Tiba2 otak akhirnya nemuin solusi, buku yang bagus kan biasanya best seller, ya udah cari buku yang best seller, terutama yang international best seller. Nemu deh, judulnya The Rule of Four. Di sampulnya tertulis gede2 International Best Seller, ditambah dengan berbagai komentar positif dari editor2 terkenal. Yakin deh, langsung ke kasir buat bayar, sebelom berubah pikiran.

Sampe rumah langsung buru2 ganti baju dan siap2 mo baca novel baru. Satu bab, dua bab, tiga bab, lho..kok isinya begini? Jalan ceritanya nggak jelas, hubungan antar tokoh hambar dan nggak jelas, dan banyak ilustrasi yang memperlambat cerita. Intinya, bener2 buku bungkus kacang! Kok bisa jadi International Best Seller? Udah gitu kemaren waktu balik ke toko buku, malah jadi Book of the Month! Bingung, ini saya nggak ngerti kualitas buku ato bagaimana?

Waktu ngomel2 ke Xaf, dia dengan santainya bilang, "Kamu sih yang naif. Kadang penerbit nulis International Best Seller untuk menarik perhatian pembeli, belom tentu buku itu beneran Best Seller." Gubrak!! Ini sih namanya penipuan. Sialan..nambah ngomel2 deh. Tahu begini mendingan beli Digital Fortress nya Dan Brown, mau dibilang mono-maniac kek, yang penting saya udah tahu gaya penulis dan nggak akan kena tipu sama International Best Seller.