<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Friday, December 30, 2005

It's snowing

It's snowing. Seeing snowflakes rain under streetlights' triangle ray of lights pays makes the itsy bitsy inside your heart warm and want to be romantic. Wrapped in over-sized sweater and old blanket, sipping hot choco, admiring the cold yet beautiful night view makes all the dry skin worthwhile. Wishing so hard to be in front of old huge fire place. Well...there is the radiator. Use your imagination people!

One Xaf will make this night perfect. Another snowy winter night...

Oh...how I love Geneva during winter. I love watching street and trees covered bit by bit with layer of white snow. I love the cold weather that always take the breath out of me and wake me whenever I stepped out from the appartment door. I love the sound of snow crushed under my boots. I love the sight of dogs and children running around in the parks, rushing to play with the snow first. And aren't kids so lovely with all their colorful wool-hat, boots and gloves? Look at that snowman, aren't they all just genious!

It's snowing and I LOVE IT!

New Year

New year's resolution: No more watching a whole Friends season straight in one day. Too much coffee breaks!!

More-make-sense resolutions (and more difficult to be done): Work harder, exercise more, and enjoy life more.

Fun is really not my middle name.

Happy new year everybody. Enjoy the countdowns and may next year will be better in every way.

Saturday, December 24, 2005

Pengen praktis malah sengsara

Saudara-saudari...setelah tidur hampir non-stop selama 2 hari karena langsung jatuh sakit setelah membereskan koper, kayaknya saya kena jet-lag dengan sukses. Lha buktinya jam 6 pagi begini udah melek ayam jago. Nyokap kalau tahu pasti langsung terharu-biru mendengar anaknya akhirnya bisa bangun pagi. Daripada memaksa tidur dan jadi tambah pusing lebih baik mulai cerita dikit-dikit tentang liburan kemaren. Sebelum lupa.

Pulang ke Indonesia pada bulan Desember selalu membuat saya salah kostum. Ya iyalah..di sini lagi musim dingin sedangkan di Indonesia matahari tetap semangat menghangatkan negara kita tercinta (ceile..). Jadi musti berpikir kayak bunglon. Nggak mungkin banget kan saya pergi dengan kostum musim dingin ke Indonesia, yang ada bisa langsung mateng. Mau ngelepas dan nenteng mantel juga repot...udah pernah lihat mantel musim dingin saya belom? Persis kayak sleeping bag, tapi kagak bisa digulung kayak sleeping bag. Pokoknya ngegerahin.

Jadi biasanya saya pergi dengan kostum lengkap musim dingin dan pas di bandara langsung buka-bukaan. Jaket, topi wol dan syal langsung ditinggalin. Berangkat cuma pake sweater doang, dengan pikiran semua airport di Eropa pasti pakai penghangat ruangan. Di pesawat pun pasti suhunya disetel suhu ruangan.

Sampai di Amsterdam ternyata nasib menentukan lain. Ternyata pesawat mendarat nggak di samping gate tapi di tengah2 lapangan! Mampus deh. Itu artinya saya harus keluar pesawat dan kemudian naik bis bandara yang akan mengantarkan penumpang ke gedung bandara. Alamak jan..musti keluar tanpa jaket dan syal...mommy! Dengan gemetar saya pun turun tangga pesawat. Tergesa-gesa masuk ke dalam bis dan duduk sambil berusaha nggak gemeteran. Ibu yang duduk di samping saya sampai ngelirik, ngedenger gigi saya yang gemeletukan dan dengkul saya yang beradu karena kedinginan.

Hati langsung ngedumel. Begini nih hasilnya. Niatnya mau praktis nggak usah bawa jaket yang setebel selimut, jadinya malah kedinginan kayak ayam kecebur kolam. Untung perjalanan ke bangunan bandara cuma 5 menit, kalau enggak mungkin saya sudah dijemput dengan ambulans.

Wednesday, December 21, 2005

Yang punya blog udah balik

Akhirnya, sampai lagi saya di rumah susun mungil yang selalu bikin minder setiap mengingat luasnya rumah ortu yang baru beberapa hari saya tinggalkan. Yup..yang punya blog udah balik di depan komputernya dengan sambungan internet yang nggak pernah bikin dongkol. Kangen pisan mau nulis, sampai baru aja sadar dari kecapean, udah langsung nge-blog.

Cerita apa dulu ya...cerita perjalanan saya aja deh. Ya cuma naek turun pesawat sih, tapi udah pada tahu belum kalau bandara Schiphol di Amsterdam itu kadang sering bikin penumpang yang harus melanjutkan perjalanannya deg-degan takut ketinggalan pesawat. Dan sering terdengar pengumuman begini..."Mr. X you are delaying the flight. Immidiate bording please at gate Y. We will proceed to offload your luggage". Perasaan saya (subyektif abis), bandara ini yang paling sering ngasih peringatan kayak begini. Atau karena memang di antara semua bandara yang saya sempet injak, bandara ini yang paling besar, jadi kemungkinan kasus orang terlambat pun jadi lebih besar?

Tapi ada satu hal yang sempet bikin saya shock, terkaget-kaget melihat tidak efisiennya pihak bandara dalam mengatur prosedur transfer dan pindah pintu penerbangan. Begini, di bandara tersebut ada gate tertentu yang baru bisa diakses setelah melewati imigrasi! Aneh toh, karena biasanya kita baru melewati imigrasi dan pemeriksaan paspor ketika kita akan keluar bandara, tidak ketika kita harus pindah pintu penerbangan di dalam bandara. Gate yang bersangkutan adalah gate B, C dan D 59-87.

Saya pernah hampir ketinggalan pesawat gara-gara penerbangan saya selanjutnya harus melalui salah satu gate sialan ini. Saya waktu itu hanya punya waktu 1 jam 30 menit untuk ganti gate dan ternyata di depan imigrasi sudah ada antrian seperti ngantri beras gratis. Ramai dan semua orang gelisah. Banyak yang minta polisi imigrasi yang menjaga antrian untuk bisa memotong antrian karena pesawat mereka sudah boarding, dan tak sedikit mereka yang berusaha meminta penumpang lainnya yang di depan untuk membiarkan mereka lewat lebih dahulu. Waktu itu bener2 rusuh, komentar2 sinis pun berseliweran. Saya benar2 tak habis pikir, kok bisa2nya salah satu bandara penting di Eropa tidak efisien dan membuat banyak penumpang ketinggalan pesawat seperti itu.

Setelah diteliti-teliti, ternyata gate yang dijagain sama imigrasi tersebut adalah gate dimana terdapat penerbangan ke negara2 Schengen, dimana warganegara Belanda atau mereka yang mempunyai ijin tinggal di Belanda nggak membutuhkan visa untuk berkunjung ke sana. Jadi artinya, mereka yang lolos imigrasi Belanda (artinya punya hak untuk berkunjung ke Belanda) pasti bisa berkunjung ke negara2 Schengen lainnya. Makanya pemeriksaan paspor dilakukan di Belanda bukan di negara tujuan. Mungkin maksudnya menghemat waktu, tapi yang ada malah kisruh.

Tadi pagi buta pun saya sudah sempet ketir-ketir ketika melihat di layar TV kalau saya harus ke gate D46 untuk pindah pesawat ke Jenewa. Waktu itu saya masih belum ingat gate mana saja yang harus melewati imigrasi, ingetnya gate B, C dan D. Untung nggak harus diperiksa ama imigrasi. Bukannya buru2, saya ada waktu 4 jam kok dan waktu itu tidak banyak yang antri (iyalah..jam 4 pagi!). Tapi karena saya capek berat dan badan saya rasanya seperti sehabis gerak jalan 20 km. Kalau udah begini biasanya saya jadi galak abis dan nggak akan bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

Hikmah cerita (uluh..uluh), kalau harus lewat Schiphol Amsterdam untuk menuju negara2 Schengen, lebih baik cari jadwal penerbangan yang memberikan waktu yang lama untuk ganti gate. Lebih baik menunggu sebentar daripada harus lari-lari sambil menggeret-geret koper (pengalaman pribadi..snif).

Akhir cerita, saya sampai di rumah dengan selamat. Badan remuk redam, dan menggigil kedinginan. Buset..shock temperatur, dari 30 derajat menjadi 4 derajat. Well..well..cold is coming soon..huatchi!

Monday, December 05, 2005

Ide penanggulangan sampah

Sebelum mudik dan berpisah dengan sambungan internet ADSL yang nggak bikin hati pengen nendang layar komputer, mendingan saya nulis ide tentang sampah yang udah lama kepikiran.

Setelah "studi banding" di sini yang bersih banget, saya jadi punya ide yang mungkin bisa membantu (walaupun sedikit) masalah sampah di kota2 besar Indonesia.

Pertama, gunakanlah sampah biologis untuk pembuatan pupuk. Saya rasa sampah biologis atau rumah tangga merupakan salah satu tipe sampah yang terbanyak di Indonesia. Kenapa nggak dicoba untuk memanfaatkan sampah ini untuk pembuatan pupuk tanaman? Salah satu caranya mungkin dengan membangun sistem penimbunan sampah di dalam tanah yang kemudian akan menghasilkan kompos. Mekanisme ini lebih baik dibuat di daerah yang dekat dengan daerah pertanian atau perkebunan. Di dekat setiap kota besar pasti ada daerah luar kota yang dimanfaatkan untuk sawah atau ladang kan? Nah dengan membangun "pabrik" kompos di daerah tersebut, petani pun bisa memanfaatkan kompos yang dihasilkan. Bagusnya sih diberi secara gratis, atau, kalaupun harus dijual cukup dengan harga minimal. Pembangunan mekanisme ini juga bisa menciptakan lapangan kerja lho. Kan bisa memberikan peluang bagi mereka yang mau mengemas kompos untuk dijadikan pupuk tanaman pot atau taman.

Untuk mendukung rencana ini, setiap rumah tangga harus mulai untuk memisahkan sampah biologis. Dan petugas kebersihan pun harus selalu menyiapkan transportasi yang mengangkut sampah biologis ini. Sistem ini pun bisa membantu kebersihan pasar tradisional. Sampah sayuran atau bahan makanan lainnya tidak dibiarkan menggunung di penampungan sampah di tepi pasar, tapi langsung diangkut ke "pabrik kompos". Dengan catatan para pengguna pasar (terutama penjual) sadar kalau mereka harus memisahkan sampah mereka. Cukup diberi penyuluhan tentang keuntungan yang mereka bisa dapat, pasar yang lebih bersih, saya rasa nggak ada ruginya bagi mereka untuk mengikuti program pemisahan sampah. Asal, tidak ada pungli2 liar dan di setiap sudut pasar disediakan tempat penampungan sampah biologis.

Kedua, gantilah kantong plastik dengan kantong kertas. Saran ini lebih bagi pemilik supermarket. Di sini setiap supermarket menyediakan kantong belanja yang terbuat dari kertas. Kuat banget..serius. Saya sering bawa buku kuliah pakai kantong kertas ini dan kadang sampai 20 buku tetap kuat. (Buku saya tebelnya bisa dibuat bantal kadang)

Keuntungan sistem kantong kertas ini ada banyak. 1) Mengurangi jumlah kantong plastik yang beredar di pasaran yang kemudian bertebaran di jalan atau penampungan sampah. Plastik memerlukan waktu yang lebih lama daripada kertas untuk terurai secara alami. 2) Kantung kertas ini berhubung sangat awet, kuat, dan praktis, dapat digunakan kembali. Jadi bagi para pelanggan, mereka bisa menggunakan satu kantong kertas selama berbulan-bulan sewaktu berbelanja. Ini artinya menghemat sumber daya. Pihak supermarket pun bisa mengurangi pengeluaran pembelian kantung plastik. 3) Berhubung kantung kertas ini tidak disediakan secara gratis, pihak supermarket pun nggak akan rugi. Terlebih lagi, di kantung kertas ini bisa dipenuhi dengan berbagai iklan supermarket. Di sini contohnya, setiap beberapa bulan sekali gambar temanya diganti, dan tentu saja logo supermarket sangat mencolok. Artinya, iklan gratis! 4) Apabila kantung kertas didesign dengan apik dan menarik, para pelanggan pun akan menggunakan kantung kertas tersebut untuk berbagai keperluan. Ini tentu saja membantu pemasaran supermarket yang mengeluarkan kantung kertas tersebut tentunya. Contohnya, siapa sih yang nggak bangga kular kilir sambil menenteng kantung kertas belanjaan berlabel Gucci, Armani, atau Manggo. Nah supermarket pun bisa melakukan hal yang sama. Kantung kertas berlabel Matahari, Ramayana, atau Carrefour (ada di Indo nggak sih?) asal apik dan kuat bakal ditenteng-tenteng kemana aja.

Intinya, kantung kertas akan menguntungkan konsumen dan produser. Konsumen bisa mendapatkan media untuk membawa berbagai keperluannya, dan produser mendapatkan uang dan pemasaran gratis. Plus, alam pun jadi kurang terbebani oleh sampah plastik.

Ketiga, kurangi penggunaan atau gunakan kembali kantung plastik. Di sini banyak teman-teman saya yang menggunakan kembali kantong plastik mereka. Terkadang mereka menyimpan kantong plastik dari supermarket untuk belanja mereka berikutnya. Dan bagi mereka yang benar2 perduli lingkungan, mereka menolak untuk memakai kantong plastik. Kadang mereka menaruh belanjaan mereka di tas ransel. Pas saya tanya mereka biasanya menjawab, "gue lupa kantung kertas gue di rumah, dan gue nggak mau pakai kantong plastik pit. Polusi." Jadi kenapa nggak dicontoh? Siapkan selalu kantung plastik di dalam tas, dan ketika berbelanja cukup masukkan belanjaan ke kantong plastik yang sudah disiapkan. Tidak perlu meminta kantong plastik baru. Mengurangi penggunaan kantong plastik artinya mengurangi sampah kantong plastik.

Keempat, gunakan kertas dengan maksimal. Strategi yang bisa digunakan bermacam-macam. 1) Di kantor, kertas print yang gagal jangan langsung dibuang. Kenapa nggak dikumpulkan rapi-rapi dan bisa digunakan kembali untuk print draft surat atau dipotong2 untuk dijadikan memo? Dengan catatan print out yang di kertas nggak membongkar rahasia perusahaan. Kertas pun tidak terbuang percuma dan perusahaan bisa menghemat membeli kertas2 kecil memo yang harganya cukup bikin geleng2 kepala. 2) Sehabis tahun ajaran baru, kadang buku tulis yang digunakan oleh pelajar tidak habis (pengalaman pribadi). Lembaran buku yang kosong bisa digunakan kembali untuk membuat buku tulis. Saya pernah coba sendiri dan hasilnya lumayan lho. Cukup kumpulkan lembaran2 buku tulis kemudian dijilid. Untuk mereka yang kreatif bisa mencoba membuat sampul buku yang menarik (salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di kelas bersama). Kemudian sisi2 buku cukup dirapikan dengan pisau pemotong kertas. Buku2 daur ulang ini pun bisa dipakai kembali atau dibagikan kepada mereka yang kurang mampu. Mengurangi sampah dan menambah amal.

Sebenarnya masih ada ide2 lain yang terpikirkan. Tapi saya harus siap2 kalau nggak mau ketinggalan pesawat. Nanti disambung lagi deh...atau ada yang mau berbagi ide?

Mudik...liburan...

Siang ini saya musti ngegeret-geret koper di airport. Yup, saya bakal pulang..lagi. Tahun ini bener-bener tahun mudik. Bayangkan, saya pulang kampung 3 kali! Semuanya karena acara kawinan. Temen baik, kakak, dan sekarang temen baik lagi. Seneng..tapi tabungan jadi bolong-bolong. Beginilah nasib perantauan. *snif*

Herannya, tiap saya harus pergi jauh, pasti ada aja sesuatu yang bikin saya terbirit-birit. Kayak kali ini. Jumat pagi saya nerima email dari editor yang nyuruh saya nyari English speaker to proof read artikel saya yang bakal dipublikasiin. Dengan teganya beliau ngasih tenggat waktu Selasa pagi. *gubrak* Untung Jennifer orang Amrik, dan setelah dimohon-mohon dia pun rela menghabiskan akhir minggu buat ngedit tulisan saya. Yang lebih untungnya lagi, dia bisa nyelesain lebih awal dari yang diperkirakan. Tadinya saya sudah capek batin ngebayangin harus meriksa email dan ngoreksi editan di bandara. Baca novel di bandara aja kadang pusing, apalagi baca tulisan sendiri yang udah sebel ngeliatnya? Untung banget Jen selesai ngedit tadi malam. Semalam sebelum berangkat pun bukannya diisi ama spending quality time with Xavier, malah diisi dengan ngoreksi koreksian.

Yang lebih kacaunya lagi, udah tahu musti naik pesawat lebih dari 10 jam, saya malah baca buku dan nonton film yang bikin ketakutan. Baca buku yang isinya membuat saya berpikir tentang "the afterlife" dan nonton film tentang nuclear war!! Oalah..tadi malem sampai nggak bisa tidur, mikir yang jelek-jelek. Bagaimana kalau....(nggak mau diterusin, entar malah takut beneran).

Heran deh, semakin lama saya kok semakin nggak nyaman naik pesawat. Apalagi kalau harus naik pesawat jauh-jauh sendirian. Padahal dulu sih santai2 aja. Apa karena udah keseringan di dalam pesawat 16 jam lebih? Atau karena udah jenuh harus puas duduk di kelas ekonomi yang ruang geraknya minim? Padahal saya termasuk beruntung, nggak pernah harus terjepit waktu duduk di pesawat. Nggak kayak mereka yang berkaki panjang, yang kadang dengkulnya terjepit. Atau karena kebanyakan nonton film dan baca berita yang suram2?

Apapun itu saya hanya bisa berdoa semoga saya bisa selamat sampai tujuan, dan menikmati semi-liburan saya. Pempek, bakso, soto, sate, tahu isi, pecel, somai, pecel-lele, nasi uduk, sayur pare, cincang, martabak telor, rendang, sayur asem dan sambal terasi, saya datang!