<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11664549\x26blogName\x3danother+try\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bla3x.blogspot.com/\x26vt\x3d3495200961887991375', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

another try

Friday, July 29, 2005

Puanass!!

Whoa...edan, udara di sini puanas banget! Benar-benar musim panas. Sudah tiga hari ini suhu di kota ini melebihi 30 derajat. Ngalah-ngalahin panasnya kota Lampung. Kalau saya mulai ngeluh orang pasti pada langsung ketawa dan nyeletuk "Aren't you coming from tropical country?"

Saya rasa orang di sini kalau denger kata tropical country pasti langsung mengasosiasikan dengan sinar matahari yang terik, suhu udara yang panasnya berapi-api, dan badan yang selalu berkucuran keringat. Saya kadang sampai pegel menjelaskan kalau di Indonesia itu tidak seluruh tempat sepanas yang mereka bayangkan. Lagipula, kelembapan udara di Indonesia, menurut saya, membuat panasnya udara jadi lebih tertahankan.

Tidak seperti di sini, sudah panas, kering kerontang lagi. Tenggorokan selalu kering dan yang namanya botol air minum harus selalu ditenteng kemanapun. Pernah lihat iklan Sprite Blue (kalau nggak salah), yang menampilkan suatu tempat dimana orang-orang kepanasan sampai mengeluarkan lidah api di punggungnya? Nah Jenewa sekarang rasanya seperti itu. Terik mataharinya benar-benar menyengat dan membakar kulit! Tapi masih aja ada orang yang ngotot berjemur, benar-benar acara panggangan daging manusia.

Panas-panas begini rasanya otak dan badan menolak untuk melakukan apa-apa. Terlebih lagi saya ini memang sensitif sekali dengan yang namanya kepanasan. Rasanya badan ini mau meleleh dan otak pun menolak untuk diajak berpikir.

Huaaa...panas!!..serr..serr..*pipit sibuk berkipas ria kayak nona besar*.

Thursday, July 28, 2005

Kritik dan ralat

Seneng rasanya menerima kritik dari orang lain atas tulisan saya, walaupun serasa menerima tamparan di wajah..*plak*. Tapi lebih baik menerima kritik daripada dicuekin, iya nggak? Paling enggak berarti ada yang baca tulisan saya dan rela meluangkan waktunya untuk menulis komentar.

Setelah menerima kritik dari bukan bang yos, saya rasa memang saya harus meralat satu baris di tulisan saya yang berjudul TV ku sayang, TV ku malang. Pada paragraph 9, (mana ada sih acara TV Indonesia yang original?), saya ralat menjadi (salah satu acara TV Indonesia yang tidak original). Memang betul, ada acara TV Indonesia yang bisa dipandang original, seperti Bajaj Bajuri, Extravaganza, dan Ketoprak Humor. Ketoprak Humor kebetulan adalah acara kegemaran saya, meskipun kadang saya suka bingung kalau kalimat2 dalam bahasa Jawa sudah berluncuran di sana sini. Acungan jempol buat produser acara, tapi sayang kenapa Oneng dan Bajuri dipisahkan?

Terima kasih atas kritiknya bukan bang yos. Bagaimana yang lain, care to slap my face with your critics? :)

Wednesday, July 27, 2005

TV ku sayang, TV ku malang

Salah satu kegiatan favorit gue setiap pulang ke Indonesia adalah nonton TV. "Kesian deh loe pit?" banyak temen gue yang berkomentar. Biarin mau dikomentarin apaan, abisnya gue di sini nggak punya TV (yang membuat gue dicap super melarat, dan bikin gue naek darah! Omelan tentang ini akan dibahas lebih lanjut), dan menurut gue acara TV sebenernya bisa dibilang mencerminkan masyarakat kita, dari pergeseran norma, ketertarikan, dan trend sosial.

Satu hal yang menarik perhatian gue adalah banyaknya acara TV yang bertema 'sosial', dalam arti berusaha menolong golongan miskin atau mereka yang sedang tertimba musibah. Ragamnya dari 'Uang Kaget', 'Bedah Rumah', 'Nikah Gratis', 'Impianku', dan mungkin ada yang lain yang gue nggak tahu. Secara umum mungkin banyak yang bilang, "wah..bagus nih, sudah banyak orang yang mau perduli sama orang miskin dan mau mulai membantu secara lebih konkrit." Tapi mungkin jarang yang mau melihat unsur konsumerisme di balik 'Uang Kaget', pengagungan jurang sosial antara si kaya dan si miskin di 'Bedah Rumah', dan teganya produser acara memainkan perasaan dan harapan anak kecil di 'Impianku'. Kalau orang lain melihat acara tersebut tersenyum bangga akan kemajuan bangsanya dalam menolong orang lain, saya malah miris melihat semakin terpuruknya masyarakat Indonesia dalam kebodohan dan menangis menyaksikan bagaimana kikuknya para orang miskin 'yang beruntung' digiring untuk 'menikmati' mewahnya kehidupan.

Mengenai acara 'Uang Kaget', gue rasa nggak usah panjang lebar ngejelasin acaranya, toh banyak yang sudah kenal. Secara umum gue lihat mereka yang menerima uang kaget benar2 kurang memikirkan bagaimana bisa menggunakan uang tersebut dengan baik. Yang ada mereka malah membeli barang2 yang tidak berguna, hanya karena iri ngeliat tetangga atau biar nge-trend! Padahal uang kaget itu diberi untuk membantu perekonomian mereka yang senin kemis.

Contoh yang paling bikin gue emosi sampai hampir lempar TV pake kursi:

Di salah satu acara uang kaget, si ibu yang diberi uang tersebut menjelaskan bahwa kehidupan mereka sangat miris karena mereka tidak punya uang untuk memasang listrik di rumahnya. Dan para tetangga tidak ada yang mau memberikan aliran listrik ke rumah mungilnya, kata dia.."mana ada yang mau ngebantu saya yang orang melarat ini", dengan nada yang tajam dan penuh dendam.

Sewaktu dia menerima uang kaget, dia malah membeli barang2 yang tidak berguna sama sekali..kulkas, TV, kipas angin, hanya karena dia selama ini mengimpikan barang tersebut! Padahal gimana mau dipakai, wong listrik aja nggak ada. Yang lebih parahnya, dia bilang "...wah..ada handphone, saya musti beli handphone, karena anak saya pernah minta dibeliin handphone karena bagus dan biar punya seperti orang lain!" Ini sih bukannya membeli barang yang bisa membantu dia di kemudian hari, tapi malah membebani suaminya yang bergaji hanya 60.000 sebulan. Ini bagaimana sih? Memang sih si Ibu membeli emas 5 ato 10 gram, untuk biaya anaknya sekolah. Tapi ya itu, sifat irinya melihat tetangga punya ini dan itu malah membuang uang kaget tersebut dengan sia2!

Sudah begini parahkahnya masyarakat Indonesia, sehingga tidak bisa arif dalam menerima keberuntungan? Sudah begitu mendarah-dagingkah sifat konsumerisme di negara ini, sampai2 harus mempunyai handphone biar bisa gaya-gaya an seperti yang lain? Bisakah masyarakat berhenti memiliki sifat pamer dan 'harus lebih baik dari tetangga' sehingga uang yang dipake buat kredit DVD player, handphone, dan mobil, bisa dipake untuk membiayai uang sekolah anak2nya yang semakin meroket? Gue yang nggak punya TV dibilang melarat, anaknya bisa nggak kuliah nanti? Wong uangnya udah abis buat mengisi rumah biar kalau arisan bisa pamer sama ibu2 yang lain. Pathetic!!

Mungkin si produser acara banyak menerima kritikan, karena kemudian pada acara berikutnya, si pembawa uang kaget berpesan pada penerima uang kaget untuk membeli barang2 yang mudah untuk dijual kembali, agar keluarga tersebut bisa menggunakan uang tersebut untuk keperluan yang lebih mendesak.

Kemudian mengenai 'Bedah Rumah', gue rasa mereka mencontoh program-programnya BBC (mana ada sih acara TV Indonesia yang original?) seperti Big Strong Boys, House Invaders atau Changing Rooms. Nggak ada salahnya memang perusahaan cat tembok membiayai renovasi rumah keluarga tak mampu, tapi mbok si pembawa acaranya lebih memasyarakat dan para keluarga itu janganlah dipermalukan dengan ditempatkan di hotel bintang lima.

Si pembawa acara sungguh kaku, seperti asing dengan saudara sebangsanya sendiri yang berpakaian lusuh. Dandanannya yang ala telenovela benar2 out of place dengan suramnya hidup di sekitarnya. Dan kalo kalian merasa bahwa menempatkan orang tak mampu di hotel bintang lima adalah keberuntungan, anda salah besar bung!

Lihatlah mereka yang kikuk untuk duduk di sofa empuk di kamar hotelnya, yang bingung seperti kambing digiring ketika diajak makan malam di restoran yang berkilauan. Lihatlah bingungnya mereka melihat alat makan yang gemerlap di meja di hadapan mereka dan tidak tahu harus pakai apa, dan apa yang mereka sedang makan. Lihatlah dengan seksama mata mereka yang menerawang, mungkinkah mereka sedang berpikir, 'alangkah indahnya hidup yang lain, dan alangkah suramnya hidup saya. Alangkah tidak adilnya dunia kepada diri saya.' Anda pikir mereka senang di tempat yang asing dan mengasingkan mereka? Pikir dua kali bung!

Makanya saya lebih suka program BBC, di program tersebut mereka memfokuskan bagaimana cara memperbaiki rumah dengan biaya yang sedikit, dan menampilkan ide2 kreatif dalam menata rumah, terlepas dari kesederhanaan rumah tersebut. Kenapa tidak dicontoh juga kreativitas yang tidak menonjolkan kemiskinan mereka yang tidak mampu di tengah2 gemerlapnya para jet-set? Lebih baik kalau uang yang dipake untuk hotel diberikan ke mereka untuk memilih alat rumah tangga yang mungkin mereka tidak punya. Saya rasa akan lebih bermanfaat kalau keluarga penerima bantuan tersebut dibawa ke toko mebel daripada hotel bintang lima.

Yang paling mengenaskan adalah acara Impianku. Di sini ditampilkan tiga anak SD yang berasal dari keluarga tidak mampu, dan salah satu dari mereka akan terpilih untuk mendapatkan tabungan sebesar Rp 5.000.000. Selama acara, pembawa acara (yang gue rasa dapat pekerjaan tersebut dari modal tampang dan bodi, no brain and talent whatsoever) mencari tahu keinginan anak2 tersebut yang belum kesampean. Ada yang minta sepeda, meja belajar, atau sekedar uang untuk membeli baju bagi ibunya (gue nangis udah pake gayung). Ok sampe di sini tidak ada masalah..anak2 tersebut senang, dan orang tua pun lega melihat keinginan anak2 mereka akhirnya kesampean.

Tapi kemudian, para guru anak2 tersebut harus menentukan salah satu dari mereka untuk menerima tabungan. Hanya satu!! Para guru pun memberikan 'rekomendasi' mereka sambil dipenuhi dengan sedu sedan. Dan kepala sekolah akhirnya harus memutuskan siapa yang berhak untuk mendapatkan 'beasiswa' tersebut. Kebayang nggak beratnya tugas kepala sekolah untuk memutuskan siapa yang lebih menderita daripada ketiga anak didiknya tersebut, untuk berhak mendapatkan uang 5.000.000. Sewaktu dia mengumumkan keputusannya tersebut di hadapan ketiga anak tersebut, tak pelaklah tangis yang tidak terpilih pun pecah!! Kepala sekolah pun menangis deras sambil meminta maaf kepada yang tidak terpilih.

Kalau maksud si produser acara adalah memeras air mata, sudah berhasil banget! Bantal gue aja ampe lembab. Tapi apa dipikirkan bagaimana perasaan kedua anak yang tidak terpilih tersebut? Gue aja yang kalah balap karung rasanya sedih setengah mati, apalagi mereka berdua yang merasa mempunyai harapan untuk melanjutkan sekolahnya. Teganya mereka mempermainkan perasaan anak kecil yang halus hanya demi rating. Seimbangkah uang 5.000.000 dengan trauma dan kesedihan adik2 kita tersebut? Siapa yang bisa menjamin kalau hati mereka yang patah itu akan bisa tersambung kembali?

Kesimpulan akhir, acara TV yang bernuansa sosial, ternyata tidaklah se-sosial itu.

Paling tidak gue paling suka sama acara Nikah Gratis. Sungguh ide yang cemerlang dan sangat membantu para pasangan yang sudah siap menikah tapi belum punya biaya untuk pesta pernikahan, untuk akhirnya dapat membangun rumah tangga bersama. Thumbs up buat produser acara!!

Tuesday, July 26, 2005

My blogging type?

Your Blogging Type is Unique and Avant Garde
You're a bit ... unusual. And so is your blog.
You're impulsive, and you'll often post the first thing that pops in your head.
Completely uncensored, you blog tends to shock... even though that's not your intent.
You tend to change your blog often, experimenting with new designs and content.


Pretty accurate, except for the last line. Me..changing the layout? Hello!! It's already a miracle that I can put a shout box on my blog page! I believe I still have stoneage blood in me :)

Monday, July 25, 2005

Kalau ini daging sapi, kalau yang itu beef

Suatu siang saya berniat untuk mengunjungi salah satu teman saya yang baru saja melahirkan. Seperti layaknya orang yang ingin menjenguk saya pun berburu buah tangan. Saya pikir, orang yang menyusui kan bawaannya laper, beliin makanan aja deh. Jadilah saya berkunjung ke toko kue dan roti.

Sekarang di Lampung banyak sekali toko kue dan roti yang baru buka (paling tidak selama saya tidak di sana). Seneng banget, saya kan termasuk gembul, senengnya ngemil dan berburu tempat makan baru.

Sampailah saya di toko, banyak sekali ragam kue dan roti ditampilkan. Saya pun jadi celingukan, rasanya pengen ngebeli semuanya. Berhubung baru sekali ini saya ke sana, saya pun belum begitu kenal dengan produk mereka, untung ada pelayan toko yang dengan ramah menjelaskan setiap jenis roti dan kue yang tersedia. Sewaktu saya tanya kalau mereka menjual roti isi daging, si pelayan pun dengan ramah menunjukkan satu deretan beragam bentuk roti, yang isi ayam dan daging sapi.

Mata saya pun tertarik melihat roti yang permukaannya ditaburi dengan daun-daun, saya pikir wah isinya rempah-rempah nih. Waktu saya tanya si pelayan dengan agak sebal menjawab, 'mbak..yang ini biip (beef red.)'. Dia pikir, ini pembeli bego amat kali ya, udah jelas-jelas di deretan sini untuk roti isi daging. Terus saya tanya lagi 'bedanya dengan yang ini apa?' (sambil menunjuk roti isi daging sapi yang permukaannya ditaburi dengan wijen). Wajah si pelayan toko pun makin jutek, dia dengan sewotnya menjawab 'mbak, kalau yang ini daging sapi, kalau yang itu biip'. Mungkin saya tambah bego di pikiran dia. Lalu saya pun berusaha dengan sabar menjawab, 'mbak, iya saya tahu, beef itu kan bahasa Inggrisnya daging sapi. Jadi apa bedanya?' Si pelayan pun baru tersentak, dan sambil tersenyum malu dia menjelaskan kalau bedanya hanya taburan di permukaan rotinya saja.

Mungkin ada yang komentar, eloe sih pit, bawel banget. Lho, saya kan pengen tahu apa yang mereka jual. Lagian begini-begini saya sudah pengalaman dengan dunia pe-ngemil-an, sudah banyak toko kue dan warung yang sudah saya kunjungi. Satu pelajaran yang berharga, kalau di toko kue biasanya taburan di atas roti itu menunjukkan jenis isi yang ada di dalam roti. Walaupun dua-duanya berisi daging sapi, kalau taburannya berbeda biasanya isi dalamnya pun berbeda. Waktu saya makan yang bertabur wijen ternyata di dalamnya daging sapi masak tomat dicampur jamur! Bukan cuma daging sapi doang. Jadi mungkin yang taburannya rempah berisi daging sapi yang dimasak dengan cara lain. Harusnya pelayan toko lebih menguasai produk yang dijualnya, jangan mentang-mentang tahu 'beef' lantas seenaknya ngomong "kalau ini daging sapi, kalau yang itu beef". Mungkin bagi para pembeli yang tidak bisa berbahasa Inggris akan 'merasakan' perbedaannya, tapi tidak bagi saya.

Jangan remehkan opportunity cost!!

Selama saya di Indonesia, saya benar-benar punya jadwal yang padat. Berhubung saya pulang untuk menghadiri acara keluarga, saya pun harus bolak-balik antar kota. Jadi liburan pun bukannya untuk istirahat, dan sepulang liburan saya malah lebih capek dari sebelum berangkat liburan.

Untuk memberikan gambaran inilah rute saya:

Jenewa - Jakarta - Surabaya - Jember - Surabaya - Jakarta - Lampung. Istirahat seminggu kemudian disambung Lampung - Bandung - Jakarta - Lampung - Jakarta - Jenewa.

Badan rasanya mau rontok karena harus mengalami susahnya transportasi di Indonesia, dan kepala pun mau meledak karena sebalnya saya melihat Indonesia yang tidak bisa dan mau menghargai waktu dan memperhatikan opportunity cost seorang manusia.

Apa sih opportunity cost? Untuk yang pernah belajar ekonomi pasti kenal baik dengan istilah ini, tapi buat yang lain, opportunity cost is :

"...the cost of something in terms of an opportunity foregone (and the benefits that could be received from that opportunity), or the most valuable foregone alternative." (Dictionary.LaborLawTalk.com)

Kalau diterjemahkan adalah suatu biaya dari hilangnya suatu kesempatan dalam menggunakan sumber daya tertentu. Kalau kita melihat waktu sebagai sumber daya (Yup..time is a resource!!) maka opportunity cost adalah biaya memilih untuk melakukan aktivitas A daripada aktivitas B. Lebih konkritnya, kalau aktivitas A adalah menunggu dan aktivitas B adalah membaca, maka dengan menunggu saya pun kehilangan 'kemungkinan' keuntungan dari membaca. Memang ada keuntungan dari membaca? Bagi mereka yang hanya menganggap keuntungan adalah berbentuk materi, gantilah aktivitas B dengan beraktivitas di dunia saham, pasti deh baru ketahuan ruginya membuang-buang waktu.

Tapi tujuan dari tulisan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa keuntungan itu tidak boleh hanya diukur dari berapa jumlah duit yang bisa dihasilkan oleh suatu kegiatan. Pola pikir seperti inilah yang membuat orang-orang di Indonesia kurang menyadari pentingnya untuk selalu menghitung opportunity cost dalam semua tindakannya.

Selama saya liburan di Indonesia, saya merasa telah membuang paling tidak seperempat waktu liburan saya dengan sia-sia! Sewaktu saya mengeluh yang ada saya dituduh sok penting, sok bule atau angkuh. Ini nih yang bikin Indonesia nggak akan bisa maju, masak orang yang mau menghargai waktu dibilang sok bule. Apa sih salahnya mengakui kekurangan bangsa dan berusaha memperbaikinya dengan mencontoh bangsa lain? Apa sih salahnya untuk lebih efisien dalam berpikir dan beraktivitas? Efisiensi adalah salah satu kunci kemajuan bangsa dan negara. Nggak percaya? Tanya sama orang Jepang yang sangat efisien dalam mengelolah sumber daya alamnya yang sangat sedikit. Tanya sama para penguasaha tenar dari mana aja, pasti mereka bilang waktu adalah uang. Tanya sama jenderal tentara dari negara-negara besar, pasti mereka bilang efisiensi dalam melakukan operasi militer menentukan keberhasilan operasi apapun.

Tidak efisiennya Indonesia terutama dapat dilihat dari sistem transportasi. Bayangkan, perjalanan dari Singapura ke Jakarta hanya memakan waktu kurang dari satu jam. Tapi perjalanan dari bandara Sukarno Hatta untuk menuju rumah Wira itu sampai 3 jam!! Kemudian, perjalanan dari Surabaya ke kota Jember itu memakan waktu 5 jam, padahal kalau saja ada sistem transportasi seperti di Jenewa paling banyak akan memakan waktu satu jam, itu juga sudah termasuk perjalanan dari rumah ke stasiun dan dari stasiun ke rumah lagi. Selama saya di Jakarta pun waktu saya habis sekitar 5-10 jam sehari hanya di perjalanan. Kalau di sini 10 jam itu sudah bisa keliling negara Swiss. Sewaktu saya mulai komentar, orang malah mencemooh saya dan hanya komentar 'loe sok sibuk amat sih pit, emang sudah gitu lagi. Sabar aja lagi, tinggal duduk tenang ini.' Pengen saya cakar rasanya waktu diceletukin seperti ini.

Itulah, menurut teman-teman dan keluarga saya duduk-duduk itu tidak ada biayanya. Padahal otak saya sudah sibuk menghitung-hitung kerugian saya menunggu pesawat, bis, kapal, teman yang terlambat, atau sekedar pelayan toko yang tidak cekatan sama sekali. Bayangkan, saya kehilangan 10 jam sehari waktu yang bisa saya pakai untuk membaca. Padahal saya mungkin bisa membaca paling tidak satu atau dua artikel selama 10 jam, artinya 10 - 20 artikel selama 10 hari. Kalau pelajar yang menghadapi ujian, itu berarti kehilangan atau mengurangi kemungkinan saya mendapat nilai bagus, atau kehilangan kesempatan menulis paper yang (lebih) bermutu. Kehilangan kemungkinan mendapatkan nilai bagus berarti kehilangan kemungkinan memiliki ijasah yang dapat bersaing, dan artinya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang memuaskan. Besar kan biayanya?!

Kalau waktu yang terbuang itu dipakai untuk istirahat, keuntungannya juga besar banget. Bayangkan saya bisa istirahat 5 jam sehari, itu berarti saya bisa melepaskan lelah, melepaskan lelah berarti mengurangi kemungkinan saya jatuh sakit, itu berarti mengurangi kemungkinan saya mengeluarkan 100 - 200 ribu rupiah (di Indonesia) atau 850.000 - 1.500.000 rupiah (di Jenewa) untuk perawatan saya sakit. Dengan istirahat yang cukup pun saya bisa balik dengan badan dan jiwa yang segar, yang memungkinkan saya beraktivitas lebih maksimal, memenuhi CV saya dengan berbagai pengalaman yang menarik dan menguntungkan, dan berarti menaikkan kemungkinan saya untuk mendapatkan kerja yang berpotensi selesai kuliah.

Jadi mengertilah kalau saya benar-benar marah waktu teman-teman saya di Indonesia selalu 'ngaret' sewaktu janjian dengan saya. Mereka dengan tenangnya minta maaf dengan tersenyum dan beralasan..beginilah di Jakarta. Coba deh ya..waktu saya ini sedikit sekali di Indonesia, dan banyak sekali yang mau saya lakukan, teman yang ingin ditemui, restoran dan warung yang ingin dihampiri, atau sekedar istirahat di rumah menonton acara TV yang tidak saya lihat selama setahun. Saya benar-benar merasa waktu saya tidak dihargai.

Beda sekali dengan di sini. Waktu sangat dihargai, dan setiap orang (paling tidak yang saya kenal) selalu berusaha untuk memaksimalkan waktunya sebaik mungkin. Tidak heran negara ini bisa maju. Contoh gampangnya aja, bisnya aja tidak pernah atau jarang sekali telat. Ini berarti banyak orang bisa dengan nyaman dan tenang naik bis, menghemat biaya mengendarai mobil dan berinvestasi untuk yang lain. Udara kota pun tidak berpolusi seperti Jakarta, itu berarti memungkinkan warga kota terhindar dari penyakit batuk, bengek, dan sebagainya, dan menghemat uang biaya rumah sakit.

Mulailah menghargai waktu sendiri dan orang lain. Waktu itu mahal sekali, dan sekali terbuang nggak akan kembali lagi. Saya masih heran melihat orang bisa santai-santai, itu kan sama saja membuang 'uang' atau bahkan tidak perduli dengan masa depan.

Siapa bilang hidup di Indonesia itu murah? Selama sebulan saya di sana, saya merasa 'diperas'. Kalau opportunity cost dimasukkan dalam hitung-hitungan biaya hidup di Indonesia, saya tidak akan kaget kalau biaya hidup itu akan berlipat ganda.

Saya pulang...

Liburan sudah usai...pipit pun harus kembali ke dunia kecilnya yang tenang namun penuh tantangan di negeri seberang. Blogging pun harus kembali dijabani, wong kepalanya sudah penuh dengan ide-ide tulisan, baik yang konyol, manja, ataupun bisa dibilang kontroversi. Untung sambungan internetnya nggak bikin si pipit jadi pasang muka jutek dan ngomelin penjaga warnet seperti di Indonesia.

So, write on...